“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Saat Kesetiaan Berubah Arah
Fahri menghela napas pelan.
“Termasuk.”
Ia memejamkan mata sejenak.
“Kalau suatu hari dia tidak bahagia…” lanjutnya, “…itu bukan berarti aku punya hak untuk masuk.”
Kalimat itu… bersih. Tidak dibuat-buat. Dan justru itu… yang membuatnya terasa kuat.
Rahman akhirnya menyandarkan tubuhnya lebih rileks. Tatapannya berubah sedikit.
“Bagus.”
Satu kata. Namun kali ini… berbeda. Bukan menguji, tapi menilai.
Rahman melanjutkan, lebih pelan.
“Ayah tidak mau dengar kamu ikut-ikutan seperti kakakmu.”
Fahri menatapnya.
“Aku bukan Kak Reza.” Jawaban itu tenang, tapi tegas.
“Iya,” ucap Rahman pelan. “Makanya Ayah tanya kamu, bukan dia."
Rahman menggeser duduknya sedikit. "Kalau suatu saat kamu lihat sesuatu yang tidak benar di sekitar Ayza, kamu tetap diam… atau kamu akan bertindak?”
Pertanyaan itu berubah arah. Bukan lagi soal perasaan. Tapi… posisi.
Fahri tidak butuh waktu lama.
“Aku tidak akan diam.”
“Cukup.”
Rahman berdiri. Percakapan selesai. Namun sebelum pergi—
“Jaga jarak itu,” ucapnya tanpa menoleh. “Karena begitu kamu sekali melangkah keluar… kamu tidak akan bisa kembali ke posisi semula.”
Langkahnya berhenti sebentar.
"Dan Ayah tidak mau kamu jadi seperti Reza.”
Lalu ia berjalan pergi. Meninggalkan Fahri sendirian di ruang tengah.
Ruangan itu menjadi sunyi. Namun kali ini… bukan kosong.
Melainkan penuh dengan batas yang… semakin jelas.
***
Ridho membawa beberapa berkas di tangannya, langkahnya terarah menuju ruang rawat Kaisyaf.
Namun beberapa meter sebelum sampai, ia melihat pintu ruangan itu terbuka.
Nara keluar dari dalam.
Awalnya Ridho hendak langsung menghampiri. Menanyakan kondisi Kaisyaf seperti biasa. Tapi langkahnya terhenti.
Di lorong sepi, Nara berdiri sendirian. Bahunya sedikit turun. Kepalanya menunduk. Tangannya terangkat menutup sebagian wajahnya.
Menangis.
Ridho diam sejenak. Lalu, dengan langkah yang lebih pelan, ia mendekat.
“Dok…” panggilnya hati-hati.
Nara tersentak kecil. Punggungnya langsung tegak. Tangannya buru-buru mengusap wajah, seolah ingin menghapus jejak yang jelas masih tertinggal.
Namun saat ia menoleh… matanya tetap merah.
“Ridho,” ucapnya pelan. Tatapannya sempat turun ke map di tangan pria itu. “Mau minta tanda tangan lagi?”
Ridho mengangguk. Tapi kali ini, ia tidak langsung bicara soal itu.
“Dok… bagaimana kondisinya?”
Nara menggeleng pelan.
“Lebih buruk.”
Jawaban itu pendek, tapi cukup.
Ridho bertanya dengan nada hati-hati. “Dokter…menangis karena beliau?”
Nara menarik napas dalam.
“Aku…” suaranya sempat terhenti. “...aku bukan siapa-siapa buat dia.”
Ia tertawa kecil. Pahit.
“Bukan keluarganya. Bukan istrinya. Bukan orang yang mencintainya. Dan... bukan juga orang yang punya hak untuk merasa seperti ini.”
Ridho memalingkan wajahnya.
“Tapi…” lanjut Nara, lebih pelan, “...dia orang yang pernah menarikku keluar dari titik paling bawah.”
Matanya jatuh ke lantai.
“Dan sekarang… aku cuma bisa berdiri di sini, lihat dia pelan-pelan hancur… tanpa bisa ngelakuin apa-apa.” Suaranya retak.
Ridho mengencangkan rahangnya sedikit.
Nara menggeleng pelan.
“Dia keras kepala,” gumamnya. “Masih saja ingin menyembunyikan semua ini… dari orang-orang yang jelas akan hancur kalau kehilangan dia.”
Ia menatap Ridho lebih serius.
“Kamu orang yang dia percaya.” Nada suaranya turun lebih dalam. “Tolong… bujuk dia.”
“Setidaknya… jangan biarkan dia sendirian di akhir.”
Tangan Ridho yang memegang map itu sedikit mengencang.
Nara menunduk sejenak, lalu menambahkan pelan—
“Kemarin… ayahnya sempat menelepon.”
Ridho menegakkan punggungnya.
“Aku yang angkat.”
Ia menarik napas berat.
“Aku pura-pura jadi sekretarisnya. Tapi…” suaranya melemah sedikit, “…ada perawat yang masuk. Bicara soal pasien kritis.”
Ia menutup mata sejenak.
“Itu terdengar.”
Kalimat terakhir itu pelan, tapi cukup.
“Jadi… ini mungkin tidak akan lama lagi tertutup,” lanjut Nara lirih.
Ia kembali menatap Ridho.
“Sebelum semuanya benar-benar terlambat…”
Kalimat itu menggantung.
Tatapan Ridho perlahan bergeser ke arah pintu ruangan di ujung lorong. Lalu—
“Saya mengerti.”
Satu kalimat pendek. Namun kali ini… bukan sekadar jawaban. Lebih seperti… keputusan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Ridho berbalik. Langkahnya mantap menuju ruangan Kaisyaf.
Beberapa saat kemudian, ia sudah berdiri di depan pintu. Tangannya menggenggam gagang pintu itu. Ia tidak langsung masuk, seolah menimbang sesuatu.
Dari dalam, suara batuk itu terdengar lagi. Lebih berat dan pelan dari sebelumnya. Tapi justru itu… yang membuatnya tidak tenang.
Ia mendorong pintu.
“Pak.”
Kaisyaf tidak menoleh. Masih bersandar. Wajahnya pucat.
“Ada apa?” tanyanya singkat.
Ridho melangkah masuk. Tidak langsung bicara. Matanya turun ke tisu di samping ranjang.
Merah.
Giginya mengatup kuat.
“Ini harus dihentikan.”
Kalimat itu keluar tegas. Tidak seperti biasanya.
Kaisyaf akhirnya menoleh. Alisnya sedikit terangkat.
“Apa?”
“Saya tidak bisa terus ikut menutupinya," jawab Ridho.
“Kamu sudah sejauh ini, Ridho.” Nada suara Kaisyaf rendah. Tidak marah, tapi mengingatkan.
Kalimat itu seharusnya menahannya dan membuatnya mundur… seperti biasa.
Namun entah kenapa, kali ini tidak. Karena untuk tetap diam…
artinya ia harus ikut membiarkan semuanya berakhir seperti ini. Dan itu… bukan lagi pilihan yang bisa ia ambil.
“Justru itu, Pak,” jawab Ridho cepat.
Tangannya mengepal di samping tubuhnya.
“Karena saya sudah sejauh ini… saya tahu ini salah.”
Kalimat itu… berani. Untuk pertama kalinya.
“Kamu tahu kenapa aku lakukan ini,” ujar Kaisyaf.
“Tahu.” Ridho mengangguk. “Tapi Bu Ayza dan orang tua Anda juga berhak tahu. Bukan saya yang berhak bilang,” lanjut Ridho. “Tapi bukan berarti saya harus terus diam.”
Kaisyaf menatapnya lama. Tidak marah. Tidak juga setuju. Namun ada sesuatu yang berubah di matanya.
“Kamu mau apa?” tanyanya akhirnya.
Ridho menarik napas.
“Saya tidak akan bilang apa-apa… kalau Bapak yang bilang.”
Ia tak langsung melanjutkan.
“Tapi kalau Bapak tetap diam…”
Ridho berhenti sejenak. Bukan karena ragu. Tapi karena ia tahu… setelah ini, tidak ada lagi jalan kembali ke posisi sebelumnya.
Namun tetap—
“Saya tidak janji akan tetap menutupinya.”
Kalimat itu jatuh berat.
Batuk Kaisyaf kembali terdengar. Lebih dalam dan berat. Dan kali ini… tidak berhenti secepat biasanya.
Ridho tidak bergerak. Hanya berdiri di sana. Menyadari satu hal, waktu mereka… tidak sebanyak
...🔸🔸🔸...
...“Kesetiaan bukan berarti diam saat kebenaran disembunyikan.”...
...“Ada rahasia yang tidak hancur karena waktu, tapi karena terlalu lama dijaga.”...
...“Menjaga seseorang tidak selalu berarti menyembunyikan kenyataan.”...
...“Ketika semua orang mulai curiga, kebenaran hanya tinggal menunggu waktu.”...
...“Diam bisa menjadi bentuk perlindungan… tapi juga awal dari kehancuran.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fatima bertanya - Om Fahri ngga ke sini ? Ayza yang menjawab.
Alvian tahu Umi bohong dengan jawabannya.
Alvian sampai tak ada selera untuk makan. Padahal lapar.
Alvian...big hug 🥲
Tega sekali Ayza.
Ayza. Coba resapi apa kata kedua mertuamu.
Fatima di sini baru tahu yang terluka yang paling kecil.
Fahri juga terluka.
Husain mesti ketemu dengan Fahri ini. Bicara dari hati ke hati. Apa Fahri setuju dengan jalan yang di pilih Ayza.
Mesin tidak dimatikan.
Fahri matanya terus menatap gerbang sekolah.
Fahri hanya bisa melihat Alfian dari jarah jauh. Alfian yang terlihat tidak ceria.
Alfian tidak capai Umi. Tapi kangen sama Om Fahri. Andai Alvian boleh jujur.
Benar-benar jarak yang dipilih Ayza - membuat dua pria saling merindu.
Husain dan Fatima berkunjung ke rumah Ayza.
Tak ada sambutan dari Alvian.
Bertemu calon yang dijodohkan.
Di awal pertemuan - reza maupun Fahri cuma sekedar menjalankan. Bertemu, tak ada niat untuk melangkah serius.
Kasihan sekali Naila. Reza sudah merasa cukup mengenal Naila dari data yang dikirim ke orang tua Reza.
Reza tidak menolak perjodohan - tapi sikap dan kalimat yang terucap sudah jelas tak bisa diharapkan.
Naila - mundur saja.
menjaga bukan berarti MEMPERISTRI 👻🤣
Kasihanilah Alvian yang kehilangan figur ayah
aku setuju Ayza nikah dengan Fahri demi Al..yang sudah kehilangan seorang Ayah...