NovelToon NovelToon
Dalam Dekap Bayangmu

Dalam Dekap Bayangmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08

Pagi itu kanaya memutuskan memasak sarapan untuk kala, pagi-pagi sekali setelah salat subuh, kanaya sudah berjibaku mempersiapkan olahannya.

Ia memutuskan untuk membuat hidangan sederhana, nasi goreng kampung dengan taburan ayam suwir diatasnya, tak lupa telur ceplok dan sedikit lalapan kanaya hidangkan diatas meja.

Setelah kanaya menata meja dengan rapi, iapun bergegas ingin memanggil kala ke kamarnya, belum sempat ia beranjak hendak memanggil, pria itu sudah berdiri di belakang kanaya.

"Selamat pagi.....", sapa kala, menatap kanaya dengan senyum ramahnya.

Kanaya tersenyum menyambut kala, mempersilahkan pria itu duduk, dan mulai melayani kala layaknya seperti seorang istri, sementara kala hanya melihat apa yang dikerjakan kanaya, mereka makan dengan tenang dan sesekali terdengar tawa lucu dari mereka.

Sesekali kala memeriksa notifikasi diponselnya, menyendok sesuap nasi goreng ke mulutnya, kala terhenti sesaat ketika mengunyah nasi gorengnya.

"Hmmmmm, ada yang beda dengan rasa nasi goreng ini?"

"Kenapa?", cemas kanaya bertanya, takut ternyata masakan dia tidak sesuai dengan selera kala.

"Enak...." sahut kala, melanjutkan kunyahannya, kanaya tersenyum, hatinya berbunga, dia tahu ia memang bisa masak, tapi ketika masakannya dipuji oleh kala, hatinya berbunga-bunga.

"Kamu yang masak?"tanya kala, melihat kanaya yang tersenyum indah, kala pun tahu tanpa perlu jawaban.

"Hari ini, mungkin saya pulang sedikit larut, ada banyak proyek yang harus saya kontrol langsung", jelas kala, menatap kanaya yang sudah selesai makan.

"Jadi tak perlu repot-repot menyiapkan makan malam",

"Baik...", angguk kanaya paham

" dan kalau kamu ada kegiatan lain, diluar rumah, lakukan saja dengan santai yah"

"Iya...dan sepertinya hari ini, saya hanya akan berbelanja bulanan menemani mbak sri, persediaan di kulkas juga sudah menipis", jelas kanaya, mengiringi langkah kaki kala menuju ruang tengah.

Pagi ini kala terlihat segar, pakaian kerja formal yang dikenakannya mengeluarkan aura maskulinnya, tanpa perlu bersusah payah untuk tampil ganteng, karena apapun yang dikenakan kala membuatnya selalu tampil tampan dan maskulin.

Kanaya menatap 'suaminya itu' tanpa kedip, dan kala menyadari itu, tapi ia berpura-pura tidak tahu.

Kala sangat menyukai tatapan mata kanaya, kevin suka ketika kanaya menatapnya seperti itu, dan entah kanaya sadar atau tidak, sudah beberapa hari ini, kala sedikit memperhatikan penampilannya, agar  'istrinya ' ini menatapnya dengan tatapan yang sedang kanaya berikan saat ini.

Tatapan kagum kanaya, masih berlanjut sampai mobil kala hilang dari pandangan, sampai bayangan mobil itu benar-benar pergi, baru dia berbalik ke dalam rumah, untuk bersiap-siap pergi belanja bulanan, seperti yang ia jelaskan ke kala tadi.

Kanaya turun dari kamarnya, dibawah ia melihat mbak sri juga sudah rapi, tapi kanaya melihat mbak sri sedang berbicara dengan seorang wanita.

Siapa wanita itu pikir kanaya sambil melangkah mendekati mereka, karena perempuan itu berdiri di ambang pintu, cahaya matahari yang masuk menyinari tubuhnya, dan wajahnya tidak kelihatan jelas dari jauh.

Semakin dekat, kanaya memperhatikan wanita itu, dan yah, dania yakin kalau wanita itu adalah syafira, mau apa perempuan itu.

Mbak sri menyambut istri majikannya itu,

"mbak kanaya sepertinya tidak bisa ikut saya belanja, mbak ada tamu", jelasnya Ke istri majikannya tersebut, dan pamit untuk pergi belanja yang diiringi dengan anggukan dari kanaya.

Kanaya menyambut uluran tangan wanita itu, dan mempersilahkannya untuk duduk, ada rasa tak nyaman dalam hatinya, rasa yang sangat mengganjal di hati. Kanaya duduk dengan tenang, menatap tamunya yang duduk dengan anggun dan sedikit arogan, menurutnya.

"Saya syafira..."ujarnya mengenalkan diri, dengan tatapan mata, yang menurut kanaya sedikit mengintimidasi.

"Kanaya...."sahut kanaya singkat tak kalah tegas.

"Sebelumnya, selamat yah atas pernikahannya", ucapnya menatap kanaya dengan intens, ucapan itu bagi kanaya kedengaran tidak tulus.

"Terima kasih....., tapi ada perlu apa yah?", tanya kanaya tanpa basa-basi, menatap langsung ke mata wanita itu, dan tetap berusaha duduk dengan tenang.

Sementara wanita itu juga menatap kanaya dengan serius.

"Saya teman kak kala, saya hanya ingin memperkenalkan diri ke istri kak kala, dan saya juga ingin kenal dengan perempuan  yang menjadi istri kak kala.", jelasnya sembari menatap kanaya dari atas kebawah.

Tidak sopan...

Kanaya jengah dengan tatapan wanita itu, dia menangkap sinyal-sinyal berbahaya dari wanita yang masih mengedarkan pandangannya ke seisi rumah.

"Rumah ini, masih sama....", ujarnya tanpa menunggu respon kanaya akan ucapannya tadi.

"Ternyata kak kala masih mempertahankan dekorasi interior dari saya"

Entah mengapa ucapan itu di telinga kanaya, terdengar seperti pernyataan kehak pemilikan, dan kanaya sangat tidak suka mendengarnya.

Kanaya tidak menyahut, dia hanya menatap wanita itu, yang mulai berdiri. Berjalan ke arah dinding dan berhenti tepat di depan foto pernikahan kanaya dan kala, memandang lama ke foto itu dengan bertolak pinggang, kemudian berjalan kembali ke sofa, duduk kembali, menatap kanaya yang masih menatap serius kearahnya.

"Hanya foto itu yang bertambah dari dekorasi diruangan ini"

tunjuknya kearah foto pernikahan yang tergantung di dinding itu.

kanaya masih saja diam, melihat tingkah tamunya, yang kelihatan mulai salah tingkah, karena tidak mendapat tanggapan apapun dari kanaya.

"Oh yah....apakah kamar khusus diatas, masih tetap rapi?"

Kanaya sedikit terkejut dengan pertanyaan wanita itu, mengapa wanita ini sampai tahu kalau ada ruangan khusus di atas.

Wanita itu tersenyum melihat keterkejutan kanaya, ia seperti mendapat celah untuk mengguncang hati kanaya.

"Biasanya saya yang merapikan kamar itu, paling tidak  dua kali dalam sebulan saya merapikannya, karena kak kala tidak pernah mengijinkan orang lain masuk kedalam kamar itu" jelas wanita itu panjang lebar, dan sengaja menekankan kata orang lain dalam penjelasannya. Dengan senyum licik dibibirnya melirik kanaya yang mulai gelisah.

Kanaya tercekat, dia iri, ia merasa kalah telak.

Siapa wanita ini sehingga bisa leluasa masuk kedalam ruangan yang kanaya tidak boleh masuk.

Kanaya kecewa.

"Apakah kamu belum pernah masuk ke kamar itu?", tanyanya penuh selidik, dengan nada yang menurut kanaya ada ejekan disana.

kanaya berusaha menetralkan hatinya kembali, menatap wanita itu dengan senyum manis dibibirnya.

"Saya istri kala, bukan art, bagaimana bisa ia membiarkan istrinya membersihkan kamar tidak penting itu", sahut kanaya tenang dan elegan.

"Apa...?",

teriakan melengking terdengar dari mulut wanita itu, yang kelihatan gusar dengan jawaban kanaya.

"Jadi kamu pikir aku art?", tanyanya sewot, melotot kearah kanaya yang hanya mengedikkan bahunya.

"Saya gak bilang begitu, kalau kamu berpikir seperti itu, itu yah salah kamu", sahut kanaya tenang, senyum dengan manis.

Walaupun didalam hati kanaya sudah ingin memaki-maki wanita yang duduk didepannya itu.

Kanaya melihat tamunya mulai tak nyaman, kegusaran sangat jelas terpatri di wajah cantik itu, dengan kulitnya yang putih, merah di wajahnya karena menahan emosi terlihat jelas.

Kanaya tersenyum penuh kemenangan, wajah cantik didepannya mendengus kesal, berdiri menyandang tasnya, melangkah pergi dengan menghentakkan kakinya kelantai dengan kesal.

"Apakah kamu tidak meninggalkan pesan apapun untuk suami saya?" tanya kanaya menahan langkah wanita itu, yang menoleh kearah kanaya cemberut, melengos melangkah pergi, menghentakkan kaki jenjangnya.

"Dasar wanita kampung", ucapnya penuh kebencian.

Kanaya menarik nafas, kesal, yah hati kanaya kesal. Sakit, iri, semua rasa berkecamuk di hati dan pikirannya.

Apa hubungan yang dimiliki kala dan wanita cantik sombong itu, kanaya tidak tahu dan tidak mau tahu.

Kanaya masih sangat kesal, sangking kesalnya kanaya ingin menjerit, ingin rasanya ia memaki tapi tak tahu siapa yang akan dimaki, setitik air menggenang di sudut mata indahnya.

Tak bisa dipungkiri, kanaya cemburu kepada wanita cantik itu, walaupun kanaya belum tahu hubungan apa yang kala punya dengan wanita itu.

Tapi hatinya tahu bahwa kala punya hubungan spesial dengan syafira, dan itu semakin membuat hati kanaya sakit, ketika ia sadari ternyata ia tak sespesial itu bagi kala.

Tersedu kanaya akhirnya, meluapkan sakit di dada.

Air matanya tak kunjung berhenti, kanaya memukul dadanya yang mendadak sesak dan sakit—yah sakit sekali.

'Oh tuhan....ternyata sesakit ini mencintai seseorang yang tidak mencintaiku'

*********

Kala masih tersenyum di dalam mobilnya, tatapan dari kanaya tadi membuat kala senyum-senyum sendiri, dan itu tak luput dari pandangan supirnya, pak ardi.

Pak ardi ikut senang melihat majikannya sedang bahagia, dan pak ardi tak ingin berkomentar apapun. Sudah lama senyuman itu hilang dari wajah majikannya.

Pagi ini kala melihat kanaya begitu manis dengan rambutnya yang dicepol, jemari lentiknya juga tak luput dari pandangan kala.

Ketika menyiapkan sarapan dipiringnya tadi, aroma yang keluar dari tubuh kanaya pun tak luput dari perhatian kala, dan ia sampai detik ini penasaran dengan aroma kanaya, aroma parfum yang belum pernah kala kenal.

Hati kala selalu menghangat jika melihat senyum kanaya, ia sadar ada sesuatu yang terjadi dihatinya.

Kala ingin melihat senyum itu terus,

bolehkah...

Bersambung.......

1
Bungatiem
boleh kala boleeeh
Bungatiem
boleh dooong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!