Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Danau Kematian dan Tulang Punggung Naga
Suar hijau neon yang dilemparkan Letnan Jati mendesis pelan sebelum akhirnya padam saat menyentuh permukaan air hitam di ujung tangga. Ruangan raksasa itu kembali di telan kegelapan pekat, menyisakan hanya pendar merah redup dari senter taktis Tim Alpha.
Bau di bawah sana tidak lagi sekedar tanah lapuk. Ada aroma tajam belerang purba yang bercampur dengan bau manis yang memuakkan—bau pembusukan yang telah terkurung berabad-abad.
“Kita turun,” perintah Rayyan, suaranya memecah gema air yang menetes dari stalaktit. “Jati, Dito, pimpin formasi. Lyra, tetap di belakangku.”
Mereka menuruni undakan batu licin yang di tutupi lumut setebal karpet. Setiap langkah harus diperhitungkan. Lyra memusatkan seluruh perhatiannya pada punggung lebar Rayyan. Pria itu bergerak lebih kaku dari sebelumnya. Meski perban tekan telah menghentikan pendarahannya, Lyra tahu luka robek di perut Rayyan pasti berdenyut menyiksa setiap kali otot intinya berkontraksi untuk menjaga keseimbangan.
Namun, postur sang Kolonel tetap tegak, menolak menunjukkan kelemahan di depan pasukannya—atau di depan Lyra.
Begitu mereka mencapai dasar tangga, ruang gerak mereka terhenti. Sebuah danau bawah tanah membentang luas menghalangi jalan. Permukaan airnya setenang kaca hitam, memantulkan cahaya merah senter mereka bagai genangan tinta pekat. Di seberang danau, berjarak sekitar lima puluh meter, samar-samar terlihat sebuah altar batu bundar tempat beberapa peti logam berlogo VOC abad ke-18 tergelatak begitu saja.
“Itu target kita,” Letnan Jati menunjuk ke arah peti-peti logam kusam di seberang. “Tabung biokimia. Tapi bagaimana kita menyeberang? Air ini… terlihat salah.”
Kopral Dito berjongkok di tepi air. Ia memungut sebuah kerikil batu kapur sebesar kepalan tangan dan melemparkannya ke tengah danau hitam tersebut.
Byur.
Bukannya tenggelam dengan suara kepak air biasa, batu itu mengeluarkan suara mendesis yang mengerikan. Gelembung-gelembung putih berbuih naik ke permukaan, dan dalam hitungan detik, batu kapur padat itu melarut sepenuhnya, meninggalkan asap tipis berbau belerang yang perih di mata.
Lyra tersentak mundur, secara refleks menabrak dada Rayyan di belakangnya. Tangan Rayyan langsung menahan pinggang Lyra agar tidak terjatuh, cengkeramannya hangat dan protektif.
“Asam sulfat pekat,” gumam Lyra dengan suara gemetar, menatap buih mematikan itu. “Danau ini bukan air. Ini kolam asam alami yang dipekatkan oleh reaksi geotermal. Jika kita melangkah masuk, daging kita akan terkelupas dari tulang dalam hitungan menit.”
Keheningan mencekam menyelimuti Tim. Prajurit Black Ops dilatih untuk menahan rasa sakit dari peluru dan pisau, tetapi tenggelam dalam kolam asam bukanlah cara mati yang ada di buku panduan militer mana pun.
“VOC abad ke-18 tidak punya teknologi untuk membangun kolam seperti ini. Mereka hanya memanfaatkan apa yang sudah ada,” Rayyan melangkah maju, melepaskan pinggang Lyra untuk berdiri di tepi danau. Matanya menyapu kegelapan. “Orang-orang Belanda itu berhasil menyebrang untuk menyimpan peti-peti itu. Pasti ada jalan.”
Rayyan menoleh ke arah Lyra. “Dokter, giliranmu. Apa yang dikatakan sekte pemuja kematianmu tentang kolam ini?”
Lyra menelan ludah. Ia memaksakan kakinya melangkah ke tepi, berdiri berdampingan dengan Rayyan. Ia mengarahkan senter kepalanya ke relief dinding di sisi kiri dan kanan tangga. Ukiran kerangka manusia yang bersujud itu tampak hidup di bawah bayangan cahaya merah.
Matanya menelusuri ukiran ular naga raksasa yang melilit tulang-belulang tersebut.
“Naga… dalam mitologi kuno, naga adalah penjaga keseimbangan air dan bumi,” gumam Lyra cepat, otaknya kembali berputar mencari korelasi sejarah. Jari telunjuknya mengikuti alur pahatan sisik naga di dinding. “Lihat ukiran ini. Naga ini tidak memakan manusia yang bersujud. Ia memakan mereka yang berlari.”
Lyra mengalihkan cahaya senternya ke permukaan danau hitam yang tenang. “Sekte ini percaya pada ujian keimanan. Asam ini adalah hukuman bagi para pendosa. Tapi bagi pendeta tinggi mereka, harus ada jalan menuju altar penyucian.”
Lyra memejamkan mata, memanggil kembali setiap teks Sanskerta dan Kawi yang pernah ia hafal. Sang pendeta berjalan di atas air, ditopang oleh tulang punggung naga.
“Tulang punggung naga,” Lyra tiba-tiba membuka matanya, menatap Rayyan dengan binar penemuan. “Ada jalan setapak di bawah sana, Kolonel. Sebuah jembatan batu yang terendam persis di bawah permukaan asam ini, dirancang agar tidak terlihat dari atas!”
Jati mengerutkan dahi. “Terendam? Tapi asam itu melarutkan batu kapur.”
“Batu andesit vulkanik,” potong Lyra. “Kuil ini dibangun dari andesit yang sangat padat dan tahan terhadap korosi asam tingkat sedang. Pembuatnya memahat tiang-tiang pijakan selebar setengah meter, berkelok-kelok menyilang danau ini seperti bentuk tubuh naga.”
Rayyan menatap permukaan hitam itu. “Bagaimana kita menemukan pijakan pertama tanpa mengorbankan kaki kita?”
Lyra kembali menatap relief di dinding. Di dasar ukiran ekor naga, terdapat simbol teratai kecil. Lyra berjalan menyusuri tepian danau ke arah kanan, menghitung langkahnya sesuai jarak antar pilar di dinding. Pada langkah ketujuh, ia berhenti.
“Di sini,” Lyra menunjuk ke arah permukaan air yang hitam pekat, persis di depan ujung sepatu botnya. Sama sekali tidak ada tanda-tanda apa pun di sana.
Rayyan tidak banyak bertanya. Ia memerintahkan Dito untuk mengambil senapan laras panjang salah satu tentara bayaran yang mati tadi. Menggunakan popor senapan polimer yang tebal, Rayyan menusuk permukaan air hitam tepat di titik yang ditunjuk Lyra.
Hanya masuk sekitar lima sentimeter, popor senapan itu membentur permukaan batu yang keras dan datar.
“Dia benar,” ucap Rayyan, menarik senapan itu kembali. Ujung polimernya sedikit berasap karena asam, tetapi utuh. Pijakan itu ada.
“Polanya berkelok zig-zag, Kolonel,” Lyra memperingatkan, suaranya tegang. “Jarak antar pijakan sekitar satu meter. Anda tidak bisa melihatnya. Anda harus merasakannya dengan ujung sepatu sebelum memindahkan berat badan. Satu langkah meleset, Anda jatuh ke dalam asam.”
“Tim, kita menyebrang satu per satu. Jarak antar personil tiga meter. Pastikan titik pijakan sebelum melangkah,” komando Rayyan tanpa ragu.
Jati dan dua prajurit lainnya maju lebih dulu. Dengan gerakan lambat dan penuh konsentrasi, mereka menempatkan kaki mereka di dalam air hitam yang membakar ujung sol sepatu bot mereka, meraba batu pijakan yang licin, lalu melompat kecil ke pijakan berikutnya. Asap tipis mengepul dari sepatu mereka, tetapi sol militer kelas berat itu mampu menahan korosi sementara.
Kini giliran Lyra dan Rayyan.
Lyra menatap air hitam yang mendesis itu, lalu menatap sepatu bot kanvas pinjamannya. Sepatu ini tidak dirancang untuk menahan asam sulfat yang pekat. Tangannya kembali gemetar. Rasa takut yang sejak tadi berhasil ia tekan, kini menguasainya. Kakinya terpaku di lantai batu.
“Lyra,”
Suara berat dan pelan itu menariknya dari kepanikan. Rayyan berdiri di sampingnya. Pria itu menatapnya tidak dengan tatapan komando yang mendikte, melainkan tatapan seorang pelindung.
“Sepatu saya tidak akan bertahan, Kolonel. Dan jika saya kehilangan keseimbangan karena ransel ini…” suara Lyra tercekat di tenggorokan. “Saya… saya tidak bisa melompat sejauh itu dalam kegelapan.”
Tanpa sepatah kata pun, Rayyan mencopot sabuk senapannya dan menyerahkannya pada Lyra. “Pegang ini.”
Sebelum Lyra bisa protes, Rayyan memosisikan dirinya di depan Lyra. Pria itu melepas sarung tangan taktis kirinya, lalu menjulurkan telapak tangannya yang besar dan kapalan ke arah Lyra.
“Letakkan tangan kirimu di pundak kananku. Tangan kananmu, genggam tanganku,” perintah Rayyan, nada suaranya berubah menjadi sangat lembut namun sarat akan otoritas mutlak. “Aku akan melangkah lebih dulu mencari batunya. Saat aku sudah stabil, kau akan melangkah tepat ke tempat kakiku berada. Aku akan menarikmu dan menahan berat badanmu. Ranselmu tidak akan menjatuhkanmu karena aku yang menahanmu.”
Lyra mendongak, matanya bertemu dengan obsidian milik Rayyan. “Tapi luka Anda… Menarik saya akan merobek jahitan kasar Anda, Kolonel.”
Otot di rahang Rayyan mengeras, sebuah seringai tipis yang nyaris tak terlihat muncul di sudut bibirnya. “Rasa sakit membuatku tetap terjaga, Dokter. Sekarang berikan tanganmu.”
Lyra ragu sejenak, lalu meletakkan tangan kanannya yang mungil ke dalam telapak tangan Rayyan. Kehangatan kulit pria itu seketika menjalar, mengusir dinginnya gua bawah tanah. Tangan kiri Lyra mencengkeram erat bahu Rayyan yang terbalut rompi taktis.
“Langkah pertama,” bisik Rayyan.
Rayyan melangkah ke dalam air hitam. Sepatu botnya mendesis pelan. Pria itu menemukan pijakan batu andesit di bawah air, menstabilkan kakinya yang panjang, lalu mengangguk pada Lyra.
“Sekarang.”
Lyra melangkah. Saat kakinya menyentuh batu licin di bawah air, berat ranselnya nyaris menariknya ke belakang. Namun genggaman Rayyan di tangannya sekuat besi. Pria itu menarik Lyra mendekat hingga mereka berdiri di atas satu batu pijakan yang sama. Jarak mereka begitu dekat hingga Lyra bisa merasakan embusan napas Rayyan di atas kepalanya. Dada Lyra bersentuhan dengan dada Rayyan setiap kali mereka menarik napas.
“Pijakan kedua, ke arah jam sebelas,” bisik Lyra, merujuk pada pola di kepalanya.
Rayyan melangkah lagi. Saat pria itu merenggangkan kakinya yang terluka untuk menjangkau batu berikutnya, Lyra bisa merasakan tubuh Rayyan menegang hebat. Napas pria itu tertahan. Namun genggamannya pada tangan Lyra sama sekalit tidak mengendur.
“Ayo,” geram Rayyan menahan rasa sakit.
Lyra melompat kecil, ditarik oleh kekuatan lengan Rayyan. Mereka mengulangi proses yang menegangkan itu. Melangkah, menarik, menahan keseimbangan.
Di tengah danau asam yang gelap gulita, dunia Lyra menyusut hanya sebesar genggaman tangan pria di depannya. Ketakutan akan asam mematikan di bawah kakinya tergantikan oleh debar jantungnya yang tak karuan setiap kali tubuhnya merapat ke dada Rayyan di atas batu pijakan yang sempit. Aroma peppermin, mesiu, dan darah dari Rayyan menjadi satu-satunya realitasnya.
“Setengah jalan,” napas Rayyan mulai memburu, tubuhnya berkeringat dingin menahan perih luar biasa di perutnya.
“Kolonel, kita bisa berhenti sejenak di batu ini,” bisik Lyra panik, melihat wajah pucat pria itu dalam remang cahaya merah.
“Tidak. Asamnya mulai menekan sol sepatumu. Terus bergerak.” Paksa Rayyan.
Tiga langkah terakhir adalah yang terberat. Pola batunya melebar. Rayyan harus melompat sejauh lebih dari satu meter. Pria itu menggoreskan gigi, melompat ke batu pijakan terakhir sebelum altar. Ia berhasil mendarat, tetapi rasa sakit di perutnya membuat lututnya goyah.
Rayyan nyaris terpeleset ke belakang, tepat ke arah kolam asam.
“Rayyan!” Pekik Lyra tanpa sadar memanggil nama depan pria itu.
Refleks, Lyra membuang senapan laras panjang yang ia pegang ke arah altar, lalu menggunakan kedua tangannya untuk mencengkeram kerah rompi Rayyan dengan sekuat tenaga, menarik pria besar itu kearahnya. Momentum tarikan Lyra dan tekad Rayyan yang tersisa membuat pria itu kembali mendapatkan keseimbangannya di atas batu.
Napas mereka memburu hebat. Rayyan menunduk menatap Lyra yang masih mencengkeram erat kerahnya. Dada gadis itu naik-turun dengan cepat. Di balik kacamata yang berembun, mata cokelat Lyra menatap Rayyan dengan kepanikan dan kepedulian yang membakar.
“Aku baik-baik saja,” bisik Rayyan parau, jarak bibir mereka hanya terpisah hitungan sentimeter. Jari-jari Rayyan naik perlahan, menyentuh sisi wajah Lyra sejenak—sebuah sentuhan rapuh yang bertolak belakang dengan sifat aslinya—sebelum ia menurunkannya kembali. “Lompat. Ini langkah terakhir.”
Rayyan melompat ke pelataran altar yang kering, lalu berbalik dan menangkap pinggang Lyra dari udara saat gadis itu melompat menyusulnya. Keduanya mendarat dengan selamat di atas altar bundar berbatu kering.
Asap berbau belerang mengepul dari sepatu bot mereka yang separuh meleleh, tetapi mereka selamat. Jati dan dua prajurit lainnya sudah lebih dulu mengamankan perimeter altar.
Lyra merosot duduk di lantai batu, kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Ia menatap ke belakang, ke arah danau hitam mematikan yang baru saja mereka seberangi. Mereka berhasil.
“Kolonel!” Suara Dito memecah kelegaan mereka.
Rayyan segera menegakkan tubuhnya, mengabaikan rasa sakitnya, dan berjalan mendekati tumpukan peti logam berlogo VOC di tengah altar. Dito sedang menyorotkan senternya ke arah salah satu peti yang sudah terbuka.
Di dalam peti itu, memang terdapat puluhan tabung kaca tebal kuno berisi cairan kehijauan yang diduga sebagai senyawa biokimia peninggalan era kolonial.
Namun, bukan itu yang membuat wajah Dito pucat pasi.
Tepat di samping tumpukan peti VOC itu, teronggok sebuah balok panjang berbahan baja modern yang berkedip-kedip dengan lampu LED merah kecil. Kabel-kabel tembaga menjalar darinya, terhubung langsung ke sebuah unit radio transmisi jarak jauh yang ditancapkan ke lantai batu.
“C4 modern, Kolonel,” lapor Jati tegang, memeriksa detonatornya. “Sindikat itu tahu mereka mungkin tidak bisa menembus pintu hidrolik di atas. Jadi mereka mengebor lubang ventilasi kecil dari atas tebing, menurunkan peledak ini dengan tali, dan memasang timer pemicu jarak jauh.”
Rayyan menatap layar digital kecil di peledak itu. Angka merahnya terus berdetak mundur tanpa henti.
00:14:59.
“Lima belas menit,” rahang Rayyan mengeras, tatapan membunuhnya kembali. Jika peledak ini meledak, seluruh isi tabung biokimia akan hancur dan gasnya akan merambat naik melalui lubang ventilasi yang telah dibor musuh, menyebar ke seluruh hutan dan pemukiman warga terdekat.
Rayyan menoleh ke belakang, menatap Lyra yang masih terduduk lemas di tepi altar.
“Dokter,” panggil Rayyan, suaranya kembali dingin dan penuh urgensi. “Seberapa ahli kau memotong kabel bom modern?”
Lyra membelalakan matanya ngeri. “Saya arkeolog, Kolonel! Bukan penjinak bom!”
“Bagus,” Rayyan mencabut pisau taktisnya, menatap layar bom yang berkedip merah. “Berarti kita berdua harus menebak kabel mana yang tidak akan membunuh jutaan orang dalam empat belas menit ke depan.”