Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 9. Menagih Janji
Ganis menghentikan laju mobilnya di depan kantor milik sang suami. Ia turun dari mobil dan sejenak ia tatap lekat nama perusahaan di sebuah neon box yang terpasang di depan kantor. Dynamics Deliveries, satu perusahaan turun temurun milik sang suami yang sebelumnya masih belum banyak orang tahu dan belum banyak khalayak umum memakai jasa itu. Hingga ketika sang suami terjun langsung untuk mengelola, nama Dynamics Deliveries perlahan mulai dikenal dan akhirnya bisa sukses di tangan Krisna.
Ganis mengayunkan tungkai kakinya. Di bagian depan kantor kedatangannya sudah disambut oleh para kurir yang sedang menyortir paket kiriman.
"Bu Ganis!" sapa seorang wanita bernama Dewi yang merupakan resepsionis di kantor milik Krisna.
"Dew, bagaimana kabarmu?" ujar Rengganis seraya tersenyum manis.
"Alhamdulillah baik Bu. Bu Ganis tumben datang kemari. Rasa-rasanya sudah lama bu Ganis tidak ke sini."
"Ini aku tadi kebetulan lewat Dew dan akhirnya mampir kemari." Ganis mengulurkan barang bawaannya. "Ini ada beberapa kue, nanti kalian makan ya."
Senyum manis tersungging di bibir Dewi. Salah satu keberuntungan bagi karyawan di kantor milik Krisna jika Ganis bertandang ke sana. Pasti selalu membawa sesuatu yang bisa dinikmati oleh semua yang bekerja di sana.
"Wah... Terima kasih banyak Bu Ganis. Sampai repot-repot seperti ini."
"Tidak repot kok Dew. Kebetulan ini semua sudah ada di toko kue milikku," ucap Ganis seraya terkekeh pelan. "Oh iya Dew, aku mau tanya sesuatu, boleh?"
Dewi menganggukkan kepala. "Boleh Bu, apa itu?"
"Apa benar, salah satu armada milik kantor cabang di Magelang kemarin ada yang mengalami kecelakaan?" tanya Ganis langsung pada poinnya. Ia tidak ingin berlama-lama larut dalam prasangka yang ia khawatirkan bisa memperburuk suasana hatinya.
Kening Dewi justru nampak berkerut dalam. Ia seperti yang dibuat kaget mendengarkan pertanyaan yang disampaikan oleh Ganis.
"Kecelakaan? Kecelakaan di mana Bu? Sampai saat ini saya tidak mendengar kabar apapun."
"Kecelakaan di tol Semarang, Dew. Dan kabarnya karena kecelakaan itu membuat distribusi kiriman terhambat karena ada banyak paket yang hilang dan terbakar."
Dahi Dewi semakin mengerut. Ia pun menggelengkan kepala. "Tidak ada Bu. Sama sekali tidak ada kecelakaan armada. Kiriman dari Magelang tujuan Jogja lancar-lancar saja, Bu. Bahkan baru semalam truk armada Magelang masuk Jogja."
Ganis tersenyum sumbang. Meskipun berita yang disampaikan oleh Dewi ini cukup membuat Ganis terkejut, namun nampaknya wanita itu hanya menampakkan ekspresi yang biasa-biasa saja. Karena sejatinya ia hanya memastikan bahwa berita yang disampaikan oleh sang suami adalah berita bohong.
"Oh seperti itu ya Dew? Berarti aku salah dengar. Atau berita yang disampaikan kepadaku keliru. Mereka mengira yang kecelakaan adalah ekspedisi ini tapi ternyata bukan," ucap Ganis berkilah. Ia tidak ingin Dewi sampai tahu jika kabar itu justru disampaikan oleh suaminya sendiri.
"Saya yakin itu keliru Bu, karena jika mengalami kecelakaan pasti sudah viral di media sosial. Zaman sekarang kan apapun masik sosmed."
"Betul juga ya. Ya sudah kalau begitu, aku pamit dulu ya Dew, masih ada banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan."
"Baik Bu, hati-hati di jalan. Terima kasih banyak untuk
makanannya."
"Sama-sama Dew. Semoga pekerjaan kalian lancar selalu."
"Aamiin Bu. Terima kasih."
Perlahan, tungkai kaki Ganis terayun. Ia menuju mobil yang terparkir di bahu jalan dan kemudian masuk ke dalam sana. Sejenak, Ganis terdiam di kursi kemudi. Pandangannya menerawang ke depan. Entah apa yang saat ini dirasakan oleh wanita itu. Namun ada satu kecewa yang bercokol dalam dada saat menerima satu kenyataan bahwa sang suami tega membohonginya.
Apa yang sebenarnya dilakukan oleh mas Krisna sampai tega membohongiku seperti ini? Apakah ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku? Ya Allah, mengapa untuk saat ini rasa percayaku perlahan mulai runtuh?
****
Dinda duduk santai di beranda rumah. Sembari menscroll aplikasi tok-tok, wanita yang tengah hamil lima bulan itu menikmati buah potong segar yang tersaji. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat didambakan oleh para wanita, apalagi seorang istri di mana ia bisa bersantai ria ketika menjalani masa-masa maternity.
Nasib baik seakan berpihak pada Dinda. Ia yang sebelumnya harus bekerja keras dengan menjadi sales rokok demi mendapatkan pundi-pundi rupiah, kini ia hanya tinggal meminta, maka uang itu bisa langsung masuk ke rekening pribadinya. Ia yang sebelumnya harus keliling ke sana kemari untuk bisa kejar target, kini wanita itu hanya tinggal ongkang-ongkang kaki maka semua yang ia mau terpenuhi. Sungguh satu nasib yang membuat wanita-wanita di luar sana begitu iri.
Dinda mengedarkan pandangannya kala sayup-sayup terdengar suara deru mesin mobil yang semakin lama semakin terdengar jelas. Tak berselang lama sebuah mobil merk Ayla berhenti di pelataran rumah dan muncullah sosok wanita paruh baya dengan pakaian yang nampak sedikit heboh.
"Mama!" pekik Dinda kala melihat sang ibu turun dari mobil.
Wanita paruh baya itu tersenyum kemudian berjalan lenggak-lenggok menghampiri Dinda yang masih setia duduk di beranda. Sedangkan mobil itu bergegas pergi setelah menurunkan pelanggannya.
"Hallo anak Mama yang paling cantik! Bagaimana kabarmu dan kabar kehamilanmu?" tanya wanita itu seraya cipika-cipiki dengan sang anak.
Dinda tersenyum simpul. "Baik Ma. Mama kenapa tidak kasih kabar dulu kalau mau kemari? Tahu gitu kan bisa dijemput sama mas Krisna."
"Mama sengaja bikin surprise Sayang. Oh iya memang suamimu ada di sini? Bukannya ada di rumah istri pertama?"
"Tidak Ma, sejak kemarin mas Krisna ada di sini. Katanya ia selalu merindukan anak dalam kandunganku. Jadi, ia tidak bisa lama-lama jauh dariku."
"Baguslah kalau begitu Sayang. Itu artinya anakmu tidak akan pernah kekurangan perhatian dan kasih sayang dari ayahnya," ucap wanita itu penuh kelegaan. "Lalu, sekarang di mana dia?"
"Mas, mas Krisna! Mama datang!" teriak Dinda memanggil sang suami. Tak berselang lama Krisna pun keluar dari dalam.
"Loh mama Rika. Kok tidak kasih kabar dulu Ma?" sambut Krisna yang sedikit terkejut karena sang mertua yang tiba-tiba datang.
"Pokoknya surprise untuk kalian!" ucap Rika sembari terkekeh pelan. "Oh iya Kris, Mama ingin bicara sesuatu sama kamu," sambungnya pula.
Krisna duduk di bangku kosong di sebelah Dinda. Lelaki itu nampak begitu intens menatap wajah sang mertua yang sepertinya ingin menyampaikan satu hal yang sangat penting.
"Ada apa Ma?"
"Begini Kris, Dinda kan sudah hamil besar, kapan kamu mau menepati janjimu untuk mengenalkan Dinda pada orang tua dan keluarga besarmu? Ingat, Dinda juga butuh pengakuan dari mertuanya lho ya. Karena bagaimanapun juga Dinda sedang mengandung cucu orang tuamu."
Krisna sedikit canggung mendengar pertanyaan sang mertua. Karena memang sampai saat ini keluarga besarnya yang berada di Jakarta belum tahu perihal dirinya yang menikah lagi dengan wanita lain.
"Nanti pasti akan saya kenalkan Dinda ke orang tua saya, Ma. Tenang saja."
"Iya, Mama tahu itu, tapi kapan? Kapan kamu mau mengenalkan? Mama tidak mau jika Dinda terus digantung seperti ini. Ia pasti juga ingin mengenal mertuanya dan keluarga suaminya." Rika melirik ke arah sang anak. "Benar begitu kan Din?"
"Iya Ma," jawab Dinda seraya menganggukkan kepala sebagai isyarat jika ia sependapat dengan ucapan sang ibu.
"Iya Ma, aku janji secepatnya akan aku kenalkan Dinda ke orang tuaku."
"Begini saja Kris, pokoknya Mama tidak mau kamu mengulur-ulur waktu lagi. Mama mau selama Mama ada di sini, kamu datangkan orang tuamu kemari. Dan kenalkan kami kepada mereka!"
Krisna sedikit terperanjat. Ia hanya terdiam tak dapat memberikan jawaban apapun. Namun desakan dari sang mertua merupakan satu keniscayaan yang seharusnya ia lakukan.
.
.
.