Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap di Balik Kelembutan
Mansion keluarga Dirgantara—markas besar The Void—terasa lebih seperti makam daripada sebuah rumah. Di sini, setiap langkah kaki bergema di atas marmer, dan setiap bisikan seolah diawasi oleh dinding-dinding tinggi yang bisu. Liana, yang kini dikenal sebagai 'Ana', telah menghabiskan tiga hari pertamanya dengan mempelajari rutinitas sang monster.
Arkan adalah manusia mesin. Ia bangun pukul lima pagi, berlatih tanding dengan pengawal pribadinya hingga bersimbah peluh, lalu menghabiskan sisa harinya di ruang kerja tertutup yang dijaga dua pria bersenjata. Ia hampir tidak pernah makan di ruang makan besar; ia lebih suka menyesap kopi hitam pekat sambil memeriksa laporan pengiriman logistik yang Liana yakini adalah selundupan senjata atau narkotika.
"Ingat, Ana," tegur Bibi Martha, kepala pelayan tua yang wajahnya sekaku semen. "Jangan pernah menyentuh meja kerja Tuan Arkan. Bersihkan lantainya saja. Jika ada selembar kertas pun yang bergeser, kau tidak akan keluar dari ruangan itu hidup-hidup."
Liana menunduk patuh, memegang erat gagang sapu. "Baik, Bibi. Saya mengerti."
Namun, di dalam kepalanya, Liana sedang memetakan sesuatu yang lain. Ia telah menyembunyikan sebuah alat penyadap kecil—bantuan dari Pak Hendra—di balik jahitan rok pelayannya. Hari ini, Arkan dijadwalkan menerima tamu penting: seorang petinggi kepolisian yang korup. Ini adalah kesempatan emas bagi Liana untuk mengumpulkan bukti pertama guna menghancurkan reputasi Arkan sebelum ia menghabisi nyawa pria itu.
Sore harinya, kesempatan itu datang. Arkan sedang berada di sasana tinju di lantai bawah. Liana menyelinap ke lantai dua, menuju ruang kerja Arkan. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.
Satu menit. Aku hanya butuh satu menit, batinnya.
Dengan tangan gemetar, ia mendorong pintu jati besar yang tidak terkunci rapat. Ruangan itu berbau maskulin—campuran kayu ek dan aroma dingin yang aneh. Liana segera merangkak di bawah meja kerja kayu mahoni yang luas. Ia hendak menempelkan alat penyadap di bawah laci meja ketika sebuah suara menghentikan aliran darahnya.
Tap. Tap. Tap.
Langkah sepatu bot kulit yang berat mendekat. Liana membeku. Itu bukan langkah pengawal. Langkah itu berirama, tenang, namun penuh tekanan.
Arkan.
Liana tidak punya pilihan. Ia meringkuk di celah sempit di bawah meja, menahan napas hingga paru-parunya terasa panas. Pintu terbuka. Ia bisa melihat sepasang sepatu hitam mengkilap berhenti tepat di depan kursi.
Arkan duduk. Kursi kulit itu berderit pelan. Liana bisa mendengar helaan napas berat pria itu. Tiba-tiba, suara denting logam terdengar di atas meja—suara pistol yang diletakkan dengan kasar.
"Aku tahu kau di sana," suara Arkan memecah keheningan. Rendah, dingin, dan mematikan.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Liana. Apakah ia ketahuan secepat ini?
"Keluar. Sebelum aku melubangi kepalamu melalui kayu meja ini."
Liana merangkak keluar dengan perlahan, tangannya terangkat ke atas. Ia memasang wajah ketakutan yang paling meyakinkan. Air mata mulai menggenang di sudut matanya—sebuah akting yang ia asah selama berbulan-bulan.
"Ma-maaf, Tuan! Saya... saya hanya ingin mengambil anting saya yang jatuh!" isak Liana, tubuhnya gemetar hebat.
Arkan menatapnya datar. Pria itu tidak memakai kemeja, hanya kaus dalam hitam yang ketat, memperlihatkan otot-otot lengannya yang bersimbah keringat pasca latihan. Yang mengejutkan Liana bukanlah todongan pistolnya, melainkan sesuatu di dada kiri Arkan.
Ada sebuah bekas luka bakar besar yang mengerikan di sana. Bukan luka tembak, tapi luka yang tampak seperti sisa-sisa trauma masa kecil yang hebat.
"Anting?" Arkan mendengus sinis. Ia berdiri dan mendekati Liana, memojokkan gadis itu ke dinding. Ia meraih dagu Liana lagi, kali ini lebih keras hingga Liana meringis. "Kau pikir aku bodoh, Ana? Wanita sepertimu selalu punya motif tersembunyi. Entah itu uang, atau perintah dari musuhku."
"Saya hanya butuh pekerjaan, Tuan! Saya yatim piatu, saya tidak punya siapa-siapa lagi!" teriak Liana, mencampurkan rasa sakit aslinya ke dalam kebohongannya. "Keluarga saya... mereka semua tewas terbakar! Saya hanya ingin bertahan hidup!"
Mendengar kata 'terbakar', kilatan aneh melintas di mata Arkan. Cengkeramannya sedikit melonggar. Untuk sesaat, Liana melihat sesuatu yang menyerupai rasa sakit di balik mata elang itu, sebelum kembali tertutup oleh topeng es yang tebal.
"Tewas terbakar?" gumam Arkan pelan. Ia menatap Liana dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dunia ini memang tempat yang busuk, Gadis Kecil. Tapi jika kau berbohong padaku, aku sendiri yang akan memastikan kau menyusul keluargamu ke neraka."
Arkan melepaskan dagunya dan berbalik memunggungi Liana. "Pergi. Dan jangan pernah masuk ke ruangan ini tanpa izin lagi. Jika Bibi Martha tidak bisa mengajarimu, biarkan peluruku yang melakukannya."
Liana segera berlari keluar, jantungnya masih berpacu gila. Namun, sesampainya di koridor yang sepi, ia menyadari sesuatu. Saat Arkan memojokkannya tadi, ia berhasil menempelkan alat penyadap itu di bagian bawah bingkai foto di samping pintu.
Ia berhasil.
Namun, bayangan bekas luka di dada Arkan tidak mau hilang dari pikirannya. Mengapa seorang pembantai berdarah dingin memiliki luka trauma seperti itu? Dan mengapa Arkan tampak bereaksi saat ia menyebutkan soal kematian keluarganya yang terbakar?
Liana menyeka air matanya. "Jangan tertipu, Liana," bisiknya pada diri sendiri. "Dia tetaplah pembunuhnya. Dia tetap harus mati."