NovelToon NovelToon
Hotnews: I Love You

Hotnews: I Love You

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Kantor / Action
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Andrean Wibisono dikenal sebagai jurnalis paling perfeksionis, disiplin, dan menegangkan —menurut para rekan kerjanya. Hidupnya diatur oleh data dan struktur berita yang rapi.

Masalah hidup Andrean muncul setiap kali dia harus berurusan dengan Alena Maharani yang santai, spontan, percaya insting, dan entah bagaimana selalu selamat meski hobi sekali mepet deadline. Bagi Andrean, Alena adalah clickbait berjalan yang selalu santai menghadapi apapun, sedangkan bagi Alena, Andrean adalah robot jurnalistik yang siap mengingatkan Alena tentang kode etik jurnalistik dalam situasi apapun.

Ketika sebuah proyek liputan spesial memaksa mereka menjadi partner, bencana pun dimulai. Bagaimana kelanjutan kisah dua jurnalis yang saling bertolak belakang ini? Simak dalam Hotnews: I Love You

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alena dan Masa Lalu

Alena meletakkan tas kamera di atas meja kerjanya. Ranselnya diletakkan begitu saja di samping tempat tidurnya. Alena kemudian ambruk di atas kasurnya dengan posisi tengkurap. Dia membenamkan wajahnya ke dalam kasurnya sesaat lalu memiringkan kepalanya ke kanan.

Alena menatap foto wisudanya. Lulusan Ilmu Komunikasi universitas negeri ternama kota sebelah. Menjadi jurnalis adalah mimpinya sejak dia mengenal fotografi. Tidak seperti Aldi, Alena ingin menuliskan apa yang dia foto berdasarkan pengalaman yang dia rasakan sendiri.

Tetapi, berat bagi Alena. Setelah lulus kuliah, papanya tiba-tiba memberikan surat lolos fase pertama perekrutan karyawan baru di Phoenix Digital Group. Alena sungguh terkejut. Ternyata, tanpa sepengetahuan Alena, papanya mengirimkan berkas-berkas lamaran dengan nama Alena ke PDX. Hasilnya, berkas-berkas Alena lolos dan diminta untuk datang di fase kedua yaitu wawancara.

Alena sempat menolak. Namun, ayahnya berkata itu demi masa depan Alena. Meski Alena sudah berkali-kali menjelaskan bahwa dia tidak tertarik bekerja di perusahaan sebesar PDX, papanya tetap tak mau tahu dan akhirnya, Alena memutuskan untuk mengikuti seleksi berikutnya.

Meski setengah hati mengikuti seleksi, Alena berhasil di terima menjadi salah satu anggota tim public relations dibawah komando Setiaji Darmawangsa. Alena masih ingat tugas pertamanya sebagai public relations di PDX. Dia ditunjuk sebagai brand specialist dan berhasil merancang strategi branding dan meningkatkan awareness dan posisi aplikasi-aplikasi luncuran PDX.

Berkat kinerjanya yang memuaskan, Alena kemudian diangkat menjadi juru bicara perusahaan setiap kali perusahaan mengalami masalah dan butuh klarifikasi pada media. Awalnya, klarifikasi yang mereka buat hanya seperti membuat publik mengasumsikan sendiri tentang apa yang sedang terjadi pada perusahaan mereka. Lambat laun, Alena diminta memutarbalikkan fakta terkait dengan isu-isu atau pemberitaan yang beredar di kalangan pers.

Merasa semakin jauh dari visi misinya bekerja semula, Alena memutuskan untuk keluar dari perusahaan besar itu. Alena bahkan masih ingat kata-kata Aji padanya sebelum dia benar-benar meninggalkan PDX.

"Kejujuran itu naif, Alena. Kamu akan lihat bagaimana dunia ini bekerja. Bukan kejujuran yang menang, melainkan siapa yang punya kuasa,"

Kalimat itu terus terpatri dalam ingatan Alena, membuat Alena bergidik setiap kali Alena mengingatnya. Namun, malam ini, Alena tak lagi takut. Setelah menceritakan semua pada Andrean, entah mengapa, Alena seperti mendapat kekuatan untuk membuktikan pada Aji, bahwa kejujuran akan selalu menang.

'Gue bakal buktiin ke lo, Ji. Gue bakal buktiin. Meski butuh waktu puluhan tahun, gue bakal buktiin ke lo,'

***

Jam 06.57 mobil Andrean sudah terparkir di depan gerbang Alena. Beberapa kali Andrean melirik ke arah jam tangannya memastikan dirinya datang tepat waktu.

"Kenapa gue jadi deg-degan gini sih?" gumam Andrean saat menatap pintu gerbang rumah Alena.

Diliriknya lagi jam tangan di tangan kirinya. 06.59. Terdengar bunyi clenthang dari gerbang. Andrean menegakkan posisi duduknya. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahunan keluar dari gerbang. Andrean menduga itu adalah papa Alena. Papa Alena terlihat mengerutkan kedua alisnya saat melihat mobil Andrean. Andrean memutuskan keluar dari mobil untuk memberi salam.

"Anda siapa? Ngapain parkir di depan rumah saya?" tanya papa Alena saat Andrean turun dari mobil.

"Saya Andrean, Om. Temen sekantor Alena," kata Andrean, dengan nada datarnya, memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.

"Hh. Temen sekantor. Jadi ini alesan dia semalem pulang nggak bawa mobilnya sendiri. Biar bisa dijemput cowok, mesra-mesraan sebelum kerja. Hh. Kerja apa?" kata Pak Adipati sinis. Andrean hanya diam.

"Udah lama, An?" tanya Alena yang berjalan dari gerbang. Andrean hanya mengangguk.

"Sorry. Yuk berangkat," kata Alena tanpa sedikitpun menyapa papanya. Andrean melirik ke arah Pak Adipati.

"Saya pamit dulu, Om," kata Andrean lalu masuk kembali ke mobilnya.

Pak Adipati melihat Andrean dan Alena dengan pandangan sinis. Andrean tahu Alena sedang berusaha tidak menatap ke arah papanya. Mobil Andrean melaju perlahan meninggalkan rumah Alena diiringi pandangan sinis Pak Adipati.

"Sorry," kata Alena saat mobil Andrean sudah melaju jauh dari rumah Alena. Andrean menggeleng.

"Sorry itu diucapin kalo lo salah. Menurut gue lo nggak salah," kata Andrean. Alena tersenyum.

"Thanks," kata Alena.

"Sama-sama," kata Andrean.

Hening.

Hanya terdengar sayup-sayup lagu Coldplay - Fix You dari music player Andrean. Alena melemparkan pandangannya keluar jendela. Andrean sesekali menoleh ke arahnya.

"Lo nggak ada rencana liputan hari ini?" tanya Alena.

"Gue ada ide soal kasus kemarin," kata Alena. Andrean mengangguk.

"Gue masih punya kontak salah satu temen gue di PDX. Kita bisa tanya-tanya ke dia soal yang kemarin," kata Alena.

"Bisa dipercaya?" tanya Andrean.

"Mmmm..."

"Kalo lo ragu, mending kita cari orang lain," kata Andrean. Alena terdiam.

"Kita jangan buru-buru, Al. Jangan gegabah. Gue tau lo pengen cepet ungkap kebenaran ini. Tapi kita harus bikin strategi yang mateng," lanjut Andrean. Alena masih terdiam.

"Kalo kita coba nanya seputar aplikasi terbaru mereka gimana? Mungkin kita bisa masuk lewat situ," kata Alena. Andrean diam sejenak.

"Sayangnya kita nggak punya whistleblower (pelapor atau informan rahasia) yang bisa kasih kita informasi penting dari dalem perusahaan tanpa menimbulkan kecurigaan," kata Andrean.

Hening.

Andrean dan Alena tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sebenarnya Alena masih sering berkomunikasi dengan Renald, rekan PRnya di PDX. Hanya saja, Alena masih ragu-ragu apakah Renald bisa dipercaya untuk ditanyai tentang hubungan antara Aji dengan pejabat pemerintahan itu.

Andrean sedang memikirkan cara bagaimana mereka bisa mengorek informasi dari dalam PDX yang sangat hati-hati itu. PDX sepertinya sulit dijangkau meski mereka melakukan penyamaran sekaligus. Sistem keamanan PDX sudah dapat dipastikan tak mudah ditembus hanya dengan tipuan wajah.

"Sulit," gumam Andrean. Alena menoleh ke arah Andrean.

"Lo nyerah?" tanya Alena. Andrean mengerutkan alisnya.

"Gue cuma bilang sulit, Al. Bukan nyerah," kata Andrean.

"Asal lo tau, beberapa hari yang lalu gue sempet nyari artikel berita tentang PDX, tapi nggak ada apapun. Bersih. Bahkan terlalu bersih," kata Andrean. Alena terdiam.

"Kalo mereka bisa men-takedown artikel negatif tentang mereka dengan mudah, kita nggak bisa bergerak tanpa rencana," lanjut Andrean.

"Gue rasa, lo yang paling tau sekotor apa permainan mereka," tutup Andrean.

Menurut Alena, apa yang dikatakan Andrean benar. PDX bukan perusahaan yang bisa dengan mudah ditaklukkan. Mereka memang harus membuat rencana untuk mengungkap kebusukan PDX.

Mobil Andrean sudah terparkir di area parkir kantor redaksi Hotnews.com. Saat Andrean dan Alena memasuki kantor, resepsionis di lobi menghentikan mereka.

"Mbak Lena, ada tamu," kata Sarah, resepsionis Hotnews.com.

Andrean dan Alena menoleh ke arah kursi di lobi yang ditunjuk Sarah. Kedua alis Alena mengerut melihat seorang pria yang mengenakan topi dan masker yang menutupi sebagian wajahnya.

'Siapa?'

***

1
Nanaiko
Aaaa bersambung😅
Nanaiko
Bisa tidak yaa sehari updatenya 5 bab sekalian, Thor? hehehe
ceritanya menarik, selalu dinanti.
🥰❤
Purnamanisa: kapasitas author sehari nulis cuma 3 bab kak 😅😅😅 2 bab disini, 1 bab di I Love You, Miss!!!🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!