"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibalik Layar {2}
Suasana di lorong Sektor B berubah menjadi sunyi yang mencekam, kontras dengan gemuruh pengelasan dari kejauhan. Hanya ada suara napas Yuuichi yang berat dan teratur, serta bunyi denting alat bedah logam yang disiapkan oleh Chika Kudou. Cahaya merah dari lampu darurat memantul pada keringat dingin yang membasahi dahi Chika. Tangannya, yang biasanya begitu stabil saat membalut luka siswa di UKS, kini gemetar halus.
"Elisa, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Darahnya terlalu pekat karena sisa energi es hitam," bisik Chika, suaranya hampir tidak terdengar di tengah desis pendingin udara.
Elisa Amagi menempelkan alat pemindai ultrasonik portabel ke dada kiri Yuuichi. Di layar kecil itu, sebuah titik hitam kecil berbentuk seperti lintah mekanis tampak berdenyut, menempel kuat pada dinding arteri subklavia.
"Dia bergerak, Chika-sensei! Lintah itu merasakan ancaman!" seru Elisa. "Dia mencoba merayap lebih dalam menuju jantung. Jika dia sampai ke ventrikel, kita tidak akan bisa mengeluarkannya tanpa membuka seluruh rongga dadanya!"
"Peringatan Sistem: Objek Asing mulai melepaskan neurotoksin pelumpuh. Detak jantung Kakak meningkat menjadi 130 denyut per menit. Tekanan darah melonjak. Jika tidak segera dihentikan, pembuluh darah arteri akan pecah dari dalam."
"Sakura, tahan bahunya! Jangan biarkan dia bergerak sedikit pun!" perintah Chika.
Sakura Hoshino memeluk tubuh Yuuichi dari belakang, mengunci kedua lengan Yuuichi dengan kekuatannya yang sudah melampaui manusia biasa. Ia bisa merasakan otot-otot Yuuichi yang mengeras seperti baja. "Yuuichi-kun... tolong, tahan sedikit lagi. Aku di sini. Aku tidak akan membiarkanmu pergi."
Yuuichi menggeram, giginya beradu hingga mengeluarkan suara gemeretak. Rasa sakitnya bukan seperti sayatan pisau, melainkan seperti ada besi panas yang merayap di dalam aliran darahnya.
"Miu... bekukan... jalur pelariannya..." batin Yuuichi dengan sisa kesadarannya.
[ MANIPULASI ENERGI INTERNAL DIAKTIFKAN ]
[ PENURUNAN SUHU LOKAL PADA ARTERI SUBKLAVIA: -5 DERAJAT CELSIUS ]
Tiba-tiba, jaringan di sekitar luka sayatan Chika mulai membeku, membentuk kristal es putih yang menghentikan pendarahan secara instan. Titik hitam di layar pemindai Elisa berhenti bergerak. Lintah organik itu terkejut oleh penurunan suhu yang mendadak dan masuk ke mode dorman sementara.
"Sekarang, Chika! Ambil penjepitnya!" teriak Elisa.
Chika memasukkan penjepit bedah ke dalam sayatan kecil di dada Yuuichi. Dengan ketelitian yang luar biasa, ia merogoh ke dalam celah otot yang membeku. Keringat menetes dari hidungnya, jatuh ke lantai beton yang hancur. Detik-detik terasa seperti jam bagi mereka semua.
"Dapat!" desis Chika.
Ia menarik penjepit itu keluar. Di ujung logamnya, sebuah parasit hitam kecil berukuran butiran beras menggeliat-geliat, mengeluarkan cairan ungu yang berbau kimia menyengat. Elisa segera menyambar benda itu dan memasukkannya ke dalam tabung kaca berisi cairan penetralisir.
Klang!
Begitu benda itu terisolasi dalam tabung, lampu merah di ruang kendali yang tadinya berkedip panik seketika berubah menjadi hijau stabil. Sinyal pelacak telah terputus.
Yuuichi tersentak hebat, tubuhnya melemas di pelukan Sakura. Napasnya mulai melambat, dan es yang menutupi lukanya perlahan mencair, digantikan oleh aliran darah merah yang hangat. Chika dengan cepat mulai menjahit luka tersebut dengan benang medis khusus.
"Selesai... dia aman," Chika terduduk lemas di lantai, air mata kelegaan akhirnya jatuh membasahi masker medisnya.
"Misi Medis Darurat Berhasil. Pelacak Biologis Dilenyapkan. Pemulihan Energi dimulai. Kakak, kau baru saja melewati lubang jarum kematian untuk ketiga kalinya."
Yuuichi membuka matanya dengan sayu. Ia melihat wajah Sakura yang penuh air mata dan Elisa yang sedang menatap tabung berisi lintah itu dengan tatapan penuh kebencian. Di kejauhan, Takeshi dan para siswa lainnya tampak berlari mendekat setelah mendengar bahwa operasi telah selesai.
"Shiro! Bagaimana keadaannya?!" teriak Takeshi dari ujung koridor.
Yuuichi mencoba mengangkat tangannya, memberikan isyarat jempol yang lemah kepada teman-temannya. Ia melihat mereka—orang-orang yang tadi membencinya, kini menatapnya dengan kekhawatiran yang tulus.
"Bunker ini... masih milik kita," bisik Yuuichi parau.
Elisa berdiri, memegang tabung itu tinggi-tinggi. "Data dari lintah ini akan aku gunakan untuk membuat vaksin pelumpuh bagi unit Black Ops berikutnya. Kagawa telah memberikan kita senjata untuk melawannya tanpa dia sadari."
Yuuichi tersenyum tipis. Meskipun tubuhnya hancur dan energinya terkuras habis, ia tahu bahwa malam ini adalah titik balik. Ia bukan lagi sekadar subjek eksperimen yang melarikan diri; ia adalah pemimpin dari sebuah faksi yang baru saja lahir dari darah dan es.
"Bawa aku ke kamar..." gumam Yuuichi sebelum kesadarannya benar-benar hilang karena kelelahan ekstrem.
Sakura menggendong Yuuichi dengan penuh kasih sayang, dibantu oleh Takeshi yang kini dengan bangga memanggul kaki pemimpinnya. Mereka berjalan melewati reruntuhan Sektor B menuju area inti yang lebih aman. Di belakang mereka, bunker Level 2 terus berdengung, melakukan perbaikan mandiri di bawah pengawasan Miho dan Rina, bersiap untuk menghadapi badai yang lebih besar yang pasti akan dikirimkan oleh Chimera saat matahari terbit nanti.