"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Kakak Cantik
"Deana... Tunggu, tunggu sebentar!" dengan langkah panjangnya, Arya berhasil menggenggam tangan Deana erat.
Deana sekuat tenaga mencoba menepis tangan Arya yang sudah menggenggamnya, tapi tenaga Arya lebih kuat darinya. Deana hanya bisa menangis lirih, bahkan ia enggan menatap Arya yang sedang membujuknya itu.
"Sayang, maafkan aku... Aku... Khilaf." Arya memeluk Deana.
Deana langsung menghindar, ia mengusap air matanya dengan kasar, menatap lekat wajah laki-laki di depannya yang lesu itu, "Mas Arya jahat! Padahal aku... Aku sudah bergantung besar sama kamu, hiks, hiks...."
"Kamu gila Mas! Hal selama hidup yang paling aku sesali cuman kenal sama kamu, hiks, hiks... Hubungan kita selesai, kita putus!" lanjut Deana lalu mendorong Arya dengan tangannya. Arya yang belum siap siaga itu, terdorong begitu saja ke belakang, untung saja ia bisa menahannya dan tidak jatuh ke aspal.
"Dea, Mas mohon!" Arya kembali berdiri dan mengejar Deana.
Deana sudah lebih dulu menaiki motornya dan melajukannya dengan cepat.
Arya mengusap wajahnya kasar, "Aarghh! Bod*oh!" umpatnya menyesalinya.
"Sekarang aku harus bagaimana?" tanyanya bergumam. Tangan kanannya mencengkram erat dagunya sendiri, seolah-olah baru menyadari semua kesalahannya.
***
Berkendara dengan pikiran melayang jauh, Deana sudah sampai di rumah, bahkan ia lupa sedang mengendarai sepeda motornya.
"Lho Dea? Kenapa menangis?" Ibu Hesti yang sama-sama baru datang ke rumah itu kaget melihat putrinya sesenggukan.
"Ibu...." Deana berbalik badan ketika mendengar suara Ibunya. Tanpa berkata apapun, Deana menangis dalam pelukan Ibunya, "Ibu... Mas Arya hiks hiks... Mas Arya selingkuh...." lirihnya.
Ibu Hesti yang mendengarnya langsung sesak, napasnya seolah tertahan, "Apa?!"
"Selingkuh? Selingkuh bagaimana maksudnya?" tanya Ibu Hesti, ia membawa Deana masuk ke dalam rumah untuk duduk di dalam rumah.
"Dea... Dea sudah memtuskannya, Mas Arya jahat, Bu." Deana menjelaskan dengan tetesan air mata yang mengalir di kedua pelupuk matanya.
Hampir dua tahun bersama, suka maupun duka dilalui bersama, justru Arya yang sudah membuatnya menumpahkan semua rasa cinta dan sayangnya pada seorang laki-laki, tapi sekarang, Arya juga yang membuatnya sakit.
"Astagfirullah... sudah, minum dulu." Ibu Hesti meremat tangan putrinya yang gemetar dan dingin itu.
Ibu Hesti bergegas bangun dari duduknya untuk mengambilkan segelas air berisi air putih untuk diminum Deana.
Deana meminumnya hanya satu tegukan, setelahnya, ia letakkan kembali gelas itu di meja yang ada di depannya.
Dengan langkah lemas, Deana melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Ibu Hesti ingin membiarkannya lebih dulu agar putrinya tenang, karena sekarang Deana seperti malas untuk mengungkitnya.
"Bagaimana bisa Nak Arya menyelingkuhi Dea, bukannya dia berjanji akan menikahi Dea... Berikan putriku kesabaran yang luas dan pengganti yang lebih baik ya Tuhan." gumam Ibu Hesti berdoa. Menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya perlahan.
***
Reno baru saja pulang dari kantornya. Wajahnya lesu dengan rambut yang acak-acakan.
"Daddy!" seru Vellena memekik ketika melihat sang Daddy datang dari arah pintu rumah yang terbuka lebar.
Vellena sedang bermain menyusun puzzle bersama Suster Ina, "Yeay Daddy datang!" Lena berlari ke arah Reno sambil merentangkan kedua tangannya ke atas.
Reno tersenyum melihatnya, ia menyambut kedua tangan putrinya dan segera menggendong tubuh kecil putrinya, "Bagaimana hari ini sayang?" tanya Reno lalu mencium pipi Lena dengan lembut.
Kaki Reno melangkah mendekati Mommy Ellen yang sedang membaca majalah new collection itu.
"Hari ini, Lena hilang di Mall, Ren." ucap Mommy Ellen. Ia tidak bisa fokus hari ini karena kejadian tadi pagi yang menimpanya.
Kening Reno berkerut, "Hilang? Bagaimana bisa...." Reno menatap Suster Ina yang kini menundukkan kepalanya itu.
"Eum... maafkan saya Tuan, saya salah, saya sudah lalai menjaga Nona Lena." Suster Ina angkat bicara. Lebih baik ia meminta maaf daripada harus kena masalah dengan para majikannya.
"Jangan mengulanginya lagi, aku tidak akan bisa memaafkan siapapun jika Lena hilang." ujar Reno santai namun tegas.
"Iya Tuan, maafkan saya, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi." balas Suster Ina mengangguk.
"Kenapa Daddy memarahi Suster? Suster nggak galak kok." ujar Lena membuat Reno mendelik, lalu tersenyum.
"Daddy tidak memarahi Suster Ina, Daddy hanya ingin Suster Ina selalu menjaga Lena agar Lena tidak hilang. Kenapa Lena bisa pergi tanpa Suster atau... Oma? Bunda? hm?" Reno mendudukkan Lena di sofa yang sedang diduduki oleh kedua orang tuanya juga.
Lena menggeleng, "Len lupa, Dad." Lena tertawa kecil.
"Tapi... Len ketemu sama Kakak Cantik, Kakak Cantik yang membawa Len menemui Suster, Oma dan Bunda. Kakak Cantik baik sekali Dad, Len juga dibelikan es krim sama Kakak Cantik." lanjut Lena lagi menceritakan.
"Kakak Cantik?" tanya Reno mengulangi ucapan putrinya.
"Iya, Kakak Cantik. Iya kan Oma?" jawab Lena lalu meminta bantuan Omanya untuk menjelaskannya pada sang Daddy.
"Iya sayang Kakak Cantik. Mommy tidak tahu dia siapa Ren, tapi dia yang membantu Lena saat Lena hilang. Mommy sudah menawarkan dia sesuatu, tapi dia menolaknya katanya ingin pulang, mungkin dia sedang buru-buru." jelas Mommy Ellen pada putranya.
"Iya Mom, syukurlah masih ada orang baik yang membantu Lena. Kalau ada orangnya, Reno sudah banyak berterima kasih padanya."
Mommy Ellen mengangguk, "Iya Ren, Mommy juga hampir pingsan. Hampir lima belas menit mencari, untungnya perempuan itu datang dan menghampiri kita seolah mengerti kalau kita itu keluarganya." jelasnya lagi.
"Lain kali jangan jalan sendiri, harus dengan Suster Ina ataupun Oma." ucap Reno memperingati putrinya lembut.
"Iya Dad. Tapi... Len mau ketemu Kakak Cantik lagi." Lena menatap penuh harap pada Reno.
Reno tersenyum lalu membelai kepala putrinya, "Daddy dan Oma tidak tahu rumah Kakak Cantik, semoga saja nanti Len bertemu lagi dengan Kakak Cantik ya."
Wajah Lena langsung cemberut, tapi kepalanya mengangguk. Membuat Reno terkekeh dan langsung memangkunya, "Tapi Len tetap hati-hati dengan orang yang belum Len kenal, untung saja Kaka Cantik itu baik... Coba kalau jahat, bagaimana?"
"Tapi Dad, Kakak Cantik itu baik." ujar Lena.
"Iya, iya." Reno mengalah dan memilih untuk mengangguk, "Suster Ina, bawa Len tidur, ini sudah malam."
Suster Ina menghampirinya, "Baik Tuan. Mari Nona kecil...." Suster Ina mengajak Lena.
Lena turun dari pangkuan Reno dan menggenggam tangan Suster Ina, "Sus Ina, nanti kalau ada Kakak Cantik ke rumah, Len mau tidur ditemani Kakak Cantik." ucapnya bercerita pada Susternya sambil berjalan.
Mommy Ellen terkekeh menatap wajah putranya seperti orang kebingungan itu, "Lihatlah, putrimu begitu menginginkan sosok Ibu dalam hidupnya, walaupun Suster Ina selalu menemaninya tetap saja rasanya berbeda di hati kecilnya, Ren. Cepat bawa Deana kemari dan kenalkan pada putrimu bahwa Deana adalah Mommynya, pasti Lena akan senang Ren."
Reno menoleh dan menatap wajah Mommy Ellen, "Deana masih sibuk."
"Deana atau kamu yang sibuk?"
"Dua-duanya." balas Reno.
"Benarkah? Mommy tidak percaya."
Reno menghela napasnya panjang, "Hm. Nanti besok Reno coba ajak Deana kemari untuk bertemu Daddy dan Mommy."
"Ya, ya, Mommy sangat setuju." balas Mommy Ellen tersenyum puas mendengarnya.