NovelToon NovelToon
Legenda Api Yang Menghilang

Legenda Api Yang Menghilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Absonen

Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5 [Nama yang berbeda]

Pagi di desa Hinomura selalu dimulai dengan suara yang sama.

Ayam berkokok dari halaman rumah warga. Angin pagi bertiup lembut melewati ladang gandum yang menguning. Dari kejauhan, suara anak-anak terdengar riang saat mereka berlarian di jalan tanah yang membelah desa kecil itu.

Bagi kebanyakan orang, pagi ini tidak berbeda dari hari-hari lainnya.

Namun bagi Shiranui Akihara, suasana terasa sedikit lebih berat.

Ia berdiri di depan sebuah gerobak kayu milik seorang petani desa, memegang palu dan paku. Roda gerobak itu sempat rusak kemarin sore, dan seperti biasa, Akihara menawarkan diri untuk membantu memperbaikinya.

Dentang palu mengenai kayu terdengar beberapa kali.

Tok.

Tok.

Tok.

Gerobak itu akhirnya berdiri kembali dengan kokoh.

“Wah, cepat sekali selesai!”

Petani pemilik gerobak tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya.

“Kamu ini benar-benar serba bisa, Akira.”

Akihara hanya tersenyum tipis.

“Tidak juga.”

Di desa Hinomura, semua orang mengenalnya sebagai Akira.

Seorang pemuda sederhana yang tinggal sendirian di rumah kecil dekat pinggir desa.

Tidak ada yang tahu siapa dirinya sebenarnya.

Tidak ada yang tahu bahwa dua tahun lalu, ia pernah berdiri di medan perang sebagai salah satu manusia terkuat di dunia.

Akihara menaruh palu di atas gerobak.

Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di sini.

Sejak kemarin, satu hal terus terlintas di kepalanya.

Seorang petualang dari Solvaria.

Nama itu saja sudah cukup membuat kenangan lama kembali muncul.

Kerajaan tempat ia dulu bertarung.

Kerajaan yang percaya bahwa ia telah gugur dalam peperangan melawan Raja Iblis.

Akihara menarik napas pelan.

“Tenang saja,” gumamnya dalam hati.

“Dia hanya kebetulan lewat.”

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa kedatangan seseorang dari Solvaria bukanlah kebetulan sederhana.

Pada saat yang hampir bersamaan

Pintu penginapan desa terbuka.

Seorang pria muda keluar dari bangunan kayu itu.

Dialah Rheinhardt Valen.

Petualang dari Solvaria yang tiba di desa ini kemarin.

Ia menutup pintu penginapan di belakangnya dan memandang sekeliling desa dengan tenang.

Desa Hinomura terlihat damai di bawah cahaya matahari pagi.

Rumah-rumah kayu berdiri sederhana.

Beberapa warga sudah mulai bekerja di ladang.

Anak-anak berlarian di jalan tanah.

Tidak ada tanda-tanda bahwa desa ini pernah tersentuh oleh perang besar dua tahun lalu.

Rheinhardt berjalan perlahan.

Langkahnya santai, tetapi matanya mengamati sekeliling dengan teliti.

Ia melihat setiap wajah yang lewat.

Seolah-olah sedang mencoba menemukan seseorang.

Seseorang yang mungkin telah lama menghilang.

Beberapa warga desa menyapanya dengan ramah.

Ia membalas dengan anggukan sopan.

Namun fokusnya tetap sama.

Mencari.

Saat ia melewati jalan utama desa

Matanya tiba-tiba berhenti pada satu sosok.

Seorang pemuda sedang berdiri di samping gerobak kayu.

Pemuda itu baru saja selesai memperbaiki roda gerobak.

Rheinhardt memperhatikan beberapa detik.

Ada sesuatu yang terasa aneh.

Wajah itu…

Entah kenapa terasa familiar.

Tidak persis sama.

Tetapi ada kesamaan samar yang sulit dijelaskan.

Rheinhardt menyipitkan sedikit matanya.

“Hmm…”

Ia memutuskan untuk mendekat.

Di sisi lain, Akihara sudah menyadari keberadaan petualang itu bahkan sebelum ia mendekat.

Instingnya sebagai mantan pejuang membuatnya selalu sadar terhadap lingkungan sekitar.

Namun ia tetap berpura-pura tidak menyadari apa pun.

Akihara mengambil kain kecil dari sakunya dan mengelap tangannya.

Langkah kaki Rheinhardt akhirnya berhenti di depannya.

“Permisi.”

Suara petualang itu terdengar tenang.

Akihara mengangkat kepalanya sedikit.

“Ya?”

Rheinhardt memandangnya dengan ekspresi ramah.

“Boleh aku bertanya sesuatu?”

Akihara mengangguk pelan.

“Tentu.”

Pertanyaan pertama yang keluar ternyata sangat sederhana.

“Siapa namamu?”

Akihara menjawab tanpa ragu sedikit pun.

“Akira.”

Nama itu keluar dengan alami.

Seolah memang itulah identitasnya sejak lahir.

Rheinhardt mengangguk kecil.

“Akira, ya.”

Ia masih menatap wajah pemuda itu dengan cukup lama.

Akihara tampak seperti pemuda desa biasa.

Pakaiannya sederhana.

Tidak ada senjata.

Tidak ada aura sihir yang terasa kuat.

Namun tetap saja

Ada sesuatu yang terasa aneh.

Rheinhardt memutuskan untuk bertanya lagi.

“Apakah kamu selalu tinggal di desa ini?”

Akihara menoleh sebentar ke arah ladang sebelum menjawab.

“Sudah beberapa tahun.”

Jawabannya singkat.

Tenang.

Tidak terlihat gugup sedikit pun.

Angin pagi bertiup melewati mereka.

Beberapa detik berlalu tanpa kata.

Rheinhardt memperhatikan wajah Akihara sekali lagi.

Ia mencoba mengingat deskripsi seseorang yang pernah ia dengar di Solvaria.

Shiranui Akihara.

Grandmaster Api.

Pahlawan yang memimpin perang besar dua tahun lalu.

Orang yang dikabarkan telah gugur.

Pemuda di depannya memang memiliki wajah yang cukup mirip.

Namun ada beberapa hal yang terasa berbeda.

Rambutnya sedikit lebih panjang.

Ekspresinya lebih tenang.

Dan yang paling penting

Tidak ada aura seorang penyihir besar.

Namun tepat ketika Rheinhardt hendak mengakhiri percakapan

Matanya tertuju pada tangan Akihara.

Tangan itu terlihat kuat.

Bukan tangan seseorang yang hanya bekerja di desa.

Ada bekas luka lama di bagian punggung tangan.

Bekas luka yang tampak seperti luka dari peperangan.

Rheinhardt terdiam sejenak.

Akihara menyadari tatapan itu.

Tanpa terlihat mencurigakan, ia segera mengambil alat kerja dari tanah.

Gerakan itu membuat tangannya tidak lagi terlihat jelas.

Rheinhardt mengangkat alisnya sedikit.

Namun ia tidak mengatakan apa pun.

Sebaliknya, ia tersenyum tipis.

“Maaf sudah mengganggu.”

Akihara mengangguk.

“Tidak masalah.”

Rheinhardt berbalik dan mulai berjalan menjauh.

Namun ketika ia berjalan beberapa langkah

Satu pikiran muncul di kepalanya.

“Akira… ya.”

Ia menoleh sedikit ke belakang.

Pemuda itu sudah kembali membantu petani dengan gerobak kayu.

Terlihat sangat biasa.

Terlalu biasa.

Rheinhardt melanjutkan langkahnya.

Namun kali ini ekspresinya jauh lebih serius.

Sementara itu, Akihara memperhatikan punggung petualang itu dari kejauhan.

Ia tahu.

Percakapan barusan tidak sepenuhnya meyakinkan orang itu.

Akihara menarik napas perlahan.

“Dia curiga…”

gumamnya pelan.

Ia bisa merasakan insting seorang pencari dalam diri Rheinhardt.

Petualang itu bukan orang sembarangan.

Jika ia terus tinggal di desa ini, kemungkinan identitasnya terbongkar akan semakin besar.

Namun Akihara tetap berdiri di tempatnya.

Ia menatap langit pagi yang cerah.

“...Aku hanya ingin hidup tenang.”

Hari berlalu dengan lambat.

Matahari mulai tenggelam di balik perbukitan.

Di penginapan desa Hinomura

Rheinhardt kembali ke kamarnya.

Ia menutup pintu dengan pelan.

Kemudian berjalan menuju meja kecil di dekat jendela.

Ia membuka tasnya dan mengeluarkan buku catatan kecil yang sama seperti kemarin.

Halaman dengan nama itu masih ada.

Shiranui Akihara.

Grandmaster Api Kerajaan Solvaria.

Status: Menghilang setelah perang dua tahun lalu.

Rheinhardt menatap tulisan itu cukup lama.

Lalu ia mengambil pena kecil dari sakunya.

Ia menambahkan satu kalimat baru di bawah catatan itu.

Tulisan tangannya rapi dan jelas.

“Pemuda desa bernama Akira.”

Ia berhenti sejenak.

Kemudian menambahkan kalimat berikutnya.

“Perlu diamati.”

Rheinhardt menutup buku itu perlahan.

Di luar jendela, malam mulai turun di desa Hinomura.

Lampu-lampu rumah warga mulai menyala satu per satu.

Desa kecil itu terlihat damai seperti biasanya.

Namun di balik ketenangan itu

Dua orang kini saling memperhatikan dalam diam.

Seorang petualang yang sedang mencari legenda yang hilang.

Dan seorang legenda yang hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.

Untuk sekarang, nama Akira masih cukup untuk menyembunyikan masa lalu.

Namun pertanyaan yang sebenarnya adalah

Untuk berapa lama lagi?

1
Awkward
flbck kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!