NovelToon NovelToon
Operasi Sandi Kala

Operasi Sandi Kala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Tentara / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabut Belerang dan Candi di Atas Awan

[Dua Hari Kemudian]

Kawasan Gunung Prau, Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah - Pukul 05.30 WIB.

Udara di ketinggian dua ribu lima ratus meter di atas permukaan laut tidak hanya dingin; udara itu menusuk tulang, merampas oksigen dari paru-paru, dan membekukan jari-jari. Kabut putih tebal menggantung pekat seperti selimut kapas basah, membuat jarak pandang menyusut hingga kurang dari tiga meter. Bau belerang yang tajam menyengat hidung, mengingatkan siapa pun yang menginjakkan kaki di sana bahwa mereka sedang berdiri di atas perut bumi yang masih aktif mendidih.

Dr. Lyra Andini menghembuskan napas, menghasilkan kepulan uap putih tipis di udara beku. Giginya bergemeletuk halus.

Namun, tidak seperti misi perdananya yang bagaikan bencana mode militer, kali ini Lyra menjadi jauh lebih… proporsional.

Kolonel Rayyan Aksara rupanya menepati janjinya dengan tingkat presisi yang mengerikan. Lyra kini mengenakan rompi taktis hitam berbahan serat karbon ringan yang melekat pas di tubuh mungilnya, tidak lagi membuatnya terlihat seperti kura-kura yang terbalik. Sepatu bot gunungnya memiliki sol bergerigi tajam khusus untuk medan vulkanik licin, dan yang paling membuatnya bersyukur; sebuah helm taktis ringan dengan tali dagu empuk yang mengunci posisi kacamata bulatnya agar tidak terus-menerus melorot ke ujung hidung.

Di depan Lyra, menembus kabut putih layaknya hantu pencabut nyawa, Kolonel Rayyan memimpin formasi.

Pria itu mengenakan perlengkapan tempur musim dingin penuh, senapan serbu tersandung siaga di dadanya. Udara beku Dieng seolah tidak memiliki efek apa pun pada Rayyan. Langkah kakinya konstan, mantap, dan tanpa suara. Setiap kali Rayyan menyingkirkan ranting pinus basah yang menghalangi jalan, ia akan menahannya sejenak, memastikan dahan itu tidak memukul wajah Lyra yang berjalan tepat di belakang bayangannya.

“Suhu minus dua derajat Celcius,” Letnan Jati merinding di barisan belakang, berbisik melalui saluran radio internal yang mendesis statis. “Saya lebih memilih dihujani peluru di hutan tropis daripada mati membeku menjadi es serut di gunung ini, Kolonel.”

“Simpan napasmu, Jati,” balas Rayyan datar tanpa menoleh. “Oksigen menipis. Dan anomali magnetik membuat radio kita sebentar lagi hanya akan menjadi pajangan mahal.”

Rayyan menghentikan langkahnya, mengangkat kepalan tangan ke udara. Seluruh tim yang terdiri dari enam personel inti Satgas Sandi Kala langsung membeku di tempat, mengambil posisi waspada melingkar.

Rayyan memutar tubuhnya, menghadap Lyra. Meski wajah pria itu terbungkus balaclava(topeng ski) hitam yang hanya menyisakan mata obsidiannya, Lyra bisa merasakan intensitas tatapan itu menembus kabut dingin.

“Kita sudah berada di koordinat terakhir sebelum satelit buta total malam tadi,” Rayyan melangkah mendekati Lyra, menurunkan suaranya hingga hanya bisa di dengar gadis itu. Tangan Rayyan yang bersarung tangan termal terulur, memeriksa sabuk pengaman ransel Lyra dengan satu tarikan singkat. “Bagaimana napasmu? Asmamu tidak kumat karena belerang?”

Lyra menggeleng pelan, menengadah menatap Rayyan. “Saya sudah meminum obat pencegahnya. Rompi ini sangat membantu, Rayyan. Maksud saya… Kolonel.” Ia buru-buru mengoreksi panggilannya karena sadar mereka sedang berada di tengah operasi militer, bukan di balkon restoran L’Atelier.

Mata Rayyan sedikit menyipit—sebuah tanda bahwa pria itu sedang tersenyum di balik topengnya. “Bagus. Sekarang giliranmu bekerja. Kemana kita harus mencari struktur batu seukuran candi di tengah lautan kabut vulkanik ini?”

Lyra mengangguk, insting akademisnya langsung menyala. Ia menekan tombol lampu senter di bahunya, lalu mengeluarkan peta topografi berlapis plastik anti-air dari saku dadanya.

“Candi-candi di Daratan Tinggi Dieng dari abad ke-8 dan ke-9–seperti kompleks Arjuna—selalu dibangun dengan orientasi kosmik,” jelas Lyra dengan suara nyaring namun tertahan. Ia menunjuk ke arah tebing curam di sebelah kiri mereka yang nyaris tak terlihat karena kabut. “Mereka tidak membangun candi sembarangan. Struktur suci penganut Siwa selalu disejajarkan dengan sumber air dan ventilasi gas bumi, karena mereka menganggap gas vulkanik sebagai napas dewa.”

Lyra melangkah maju, melewati Rayyan, dan berlutut di tanah yang tertutup lumut es. Ia meraba permukaan batu andesit kasar yang menyembul dari tanah.

“Kolonel, lihat ini,” Lyra mengarahkan senternya ke batu tersebut. “Ini bukan batu alam. Sudutnya dipahat sembilan puluh derajat. Ini adalah umpak, batu fondasi kuno penunjuk jalan bagi para peziarah.”

Rayyan berjongkok di samping Lyra, mengamati batu tua itu. “Menunjuk ke arah mana?”

Lyra mengeluarkan kompas analognya. Seperti yang terjadi di misi sebelumnya, jarum kompas itu berputar liar tak tentu arah akibat medan magnet aneh dari dalam tanah. Namun Lyra hanya tersenyum tipis. Ia mengabaikan kompas itu dan merogoh saku lainnya, mengeluarkan sebuah pendulum tembaga kecil yang diikat dengan benang.

“Belerang memiliki berat jenis tertentu di udara yang dingin,” Lyra menggantung pendulum itu, membiarkan angin gunung yang membawa uap belerang meniupnya pelan. “Umpak ini sengaja di pahat menghadap celah angin termal. Kita tidak mengikuti mata angin bumi, Kolonel. Kita mengikuti arah asap.”

Rayyan menatap profil samping wajah Lyra yang serius. Gadis yang biasanya canggung itu selalu berubah menjadi sosok yang begitu karismatik dan memukau saat ia sedang memecahkan teka-teki sejarah. Rasa bangga menyelinap hangat di dada Rayyan, mengusir dinginnya udara Dieng.

“Kita ikuti asapnya,” komando Rayyan sambil berdiri. “Jati, Dito, buka jalan sesuai arah yang di tunjuk Dokter Lyra. Jaga jarak pandang.”

Mereka kembali bergerak mendaki lereng curam yang semakin berbatu. Medan berubah menjadi ekstrem. Tanah gembur berganti menjadi bebatuan beku berlapis lumut licin dan celah-celah yang menyemburkan uap panas.

Di satu titik, jalan setapak itu menyempit, diapit oleh jurang yang tak terlihat dasarnya karena tertutup kabut di sebelah kanan, dan tebing batu vertikal di sebelah kiri. Kemiringannya nyaris empat puluh lima derajat.

Langkah Lyra mulai goyah. Meski sepatu botnya menempel kuat, otot kakinya yang tidak terbiasa mendaki gunung mulai menjerit protes. Saat ia mencoba melangkah naik ke atas sebuah batu besar yang basah oleh embun beku, sol sepatunya tergelincir.

“Ah!” Lyra terpekik pelan, tubuhnya merosot ke belakang, meluncur menuju bibir jurang.

Namun, sebelum gravitasi bisa menariknya lebih dari setengah meter, sebuah lengan sekeras batang baja melingkar erat di pinggangnya, sementara satu tangan besar lainnya mencengkeram kerah belakang rompi taktisnya.

Rayyan menahan seluruh berat badan Lyra dan ranselnya hanya dengan satu tangan tanpa sedikitpun terhuyung.

“Tertangkap,” bisik Rayyan rendah tepat di dekat telinga Lyra. Pria itu menarik Lyra ke atas, menempelkan punggung gadis itu ke dada bidangnya sejenak untuk menstabilkan posisinya. “Kau baik-baik saja?”

Lyra menelan ludah, jantungnya berdegup gila-gilaan bukan karena nyaris jatuh, melainkan karena pelukan protektif pria itu. “T-terima kasih. Otot betisku rasanya mau putus.”

Rayyan tidak melepaskan pinggang Lyra. Ia malah memutar tubuh gadis itu hingga menghadapnya. Mengabaikan medan yang berbahaya, Rayyan membungkuk sedikit, menyelipkan tangannya di bawah lipatan lutut Lyra, dan mengangkat tubuh gadis itu dalam satu gerakan mulus (bridal style).

Lyra memekik tertahan, refleks mengalungkan kedua lengannya ke leher Rayyan. “K-kolonel! Turunkan saya! Anda membongkar formasi! Pasukan Anda bisa melihat kita!”

“Mereka ada sepuluh meter di depan dan kabut ini terlalu tebal untuk melihat punggung mereka sendiri,” jawab Rayyan datar, sama sekali tidak terpengaruh oleh beban Lyra di lengannya. Ia mulai melangkah naik mendaki tebing curam itu seolah sedang berjalan di taman. “Dan tugasku adalah memastikan ahli sejarah utamaku tidak terjun bebas ke dalam jurang vulkanik sebelum ia menemukan candinya. Ini murni taktik operasional, Dr. Andini.”

Lyra menyembunyikan wajahnya yang merona merah ke ceruk leher Rayyan. “Alasan militer Anda sangat tidak masuk akal, Aksara.”

Dada Rayyan bergetar oleh kekehan pelan. “Aku adalah komandannya. Aku yang buat aturannya.”

Rayyan menggendong Lyra melewati bagian tebing yang paling curam dan licin itu. Kehangatan tubuh pria itu menembus lapisan jaket tebal Lyra, memberikan rasa aman yang tak tergantikan. Tepat saat medan mulai mendatar kembali, Rayyan menurunkan Lyra dengan hati-hati.

“Kolonel! Kontak visual!”

Suara Letnan Jati mendadak memecah keheningan melalui radio, nadanya tegang. “Jam sebelas! Berhenti bergerak!”

Sikap santai Rayyan seketika menguap, digantikan oleh mode pembunuh berdarah dingin. Ia langsung mendorong punggung Lyra ke balik batu besar, melindunginya dengan tubuhnya sendiri, sementara senapan serbunya terangkat secepat kilat.

Di depan mereka, kabut tibba-tiba menipis karena hembusan angin gunung yang kuat.

Pemandangan yang tersingkap membuat napas Lyra tertahan.

Mereka telah mencapai sebuah kaldera kecil yang tersembunyi. Di ujung kaldera, terpahat langsung ke dalam dinding tebing batu andesit padat, berdiri sebuah candi Hindu yang megah namun tampak sangat purba. Arsitekturnya berbeda dengan candi-candi di Jawa Tengah pada umumnya; atapnya melengkung tajam ke atas, menyerupai taring dewa raksasa.

Namun, bukan kemegahan arsitekturnya yang terlupakan itu yang membuat Rayyan menggertakan rahangnya.

Di pelataran Candi, terdapat tiga buah benda taktis kamuflase musim dingin. Lampu sorot halogen berkekuatan tinggi menyorot langsung ke arah pintu candi yang gelap. Terlihat sekitar delapan orang pria bersenjata laras panjang berlalu lalang. Mereka bukan warga lokal. Mereka adalah tentara bayaran paramiliter, terlihat dari seragam dan perlengkapan mahal mereka.

Lebih buruk lagi, di depan gerbang candi, dua orang sedang mengoperasikan sebuah bor hidrolik raksasa yang diarahkan tepat ke ukiran relief kuno di pintu masuk.

“Mereka merusak situsnya,” bisik Lyra horor, cengkeramannya menguat pada lengan jaket Rayyan. Air matanya nyaris jatuh melihat sejarah tak ternilai itu dibor secara paksa. “Relief itu adalah kunci mekanismenya! Jika mereka mengebornya, candi itu akan memicu runtuhan tebing pelindung untuk mengubur dirinya sendiri!”

Mata obsidian Rayyan menyipit tajam, menghitung jumlah musuh, sudut tembak, dan arah angin dalam sepersekian detik.

“Sindikat ini sangat putus asa untuk mencari apa pun yang disembunyikan di dalam sana,” desis Rayyan. Ia menoleh ke arah Lyra, tatapannya membara oleh api pertempuran.

“Kau tunggu di sini, Lyra. Jangan keluar dari balik batu ini apapun yang terjadi,” Rayyan menggeser tuas pengaman senapannya ke mode tembak otomatis. Bunyi klik logam itu terdengar mematikan di udara pagi yang sunyi,

Rayyan menekan radio komunikasinya. “Jati, Dito. Target terkonfirmasi. Mode senyap dibatalkan. Lindungi situs budaya itu. Kita ratakan mereka dengan tanah.”

Tanpa menunggu balasan, Kolonel Rayyan Aksara melesat keluar dari balik batu, menerjang lautan kabut layaknya iblis yang menuntut balas, meninggalkan Lyra yang jantungnya kembali berpacu untuk menghadapi kenyataan bahwa dunia sejarahnya kini resmi menjadi zona perang yang sesungguhnya.

1
nur atika
suka bangettt dahh seruuu 🥰🥰🥰🥰♥️♥️♥️
nur atika
🥰🥰🥰
NP: 🥰🥰🥰🥰😍
total 1 replies
nur atika
lanjut author
NP: Inshaallah makasih semangatnya 🥰
total 1 replies
Lutfiah Tunnissa
kerenn Thor
NP: Makasih ya kak, ikuti terus ceritanya ya🥰
total 1 replies
nur atika
😍😍😍
nur atika
🤭🤭🤭🤭🤭
𝗝𝗔𝗧𝗜ᴾᵁᵀᴿᴼ
debar2 cinta
NP
Mas Rayyan, melindungi Lyra banget😍
Akbar Aulia
lyra kamu sangat beruntung dilindungi mas rayan
Akbar Aulia
beruntung lyra kamu direkrut jadi tim alpha,
Akbar Aulia
mungil mungil si cabe rawit tapi pedas rasanya,awas mas Rayyan nanti kamu tersepona
Akbar Aulia
aih...sepatu kesayangan mas Rayyan kena kopi,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!