Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Pikiran itu mengalir begitu saja, memecah keheningan sebelum telinganya benar-benar menangkap suara bising lalu lintas pagi kota Qilin di luar jendela.
"Ini bakal merepotkan," pikir Ren.
Ia mengusap pelipisnya yang masih berdenyut. Sisa rasa besi dari muntahan darah semalam masih bersembunyi di pangkal lidahnya, pahit dan amis.
Apartemen kumuh ini memang bukan istana. Bau apek dari karpet basah berpadu dengan aroma ozon sisa sirkulasi udara yang rusak parah. Namun, dinding-dinding mengelupas ini sukses menyembunyikan eksistensinya dari radar dunia luar. Cukup layak untuk sekadar meletakkan punggung dan melupakan betapa kacaunya hierarki manusia di luar sana.
Bungkus plastik berkeresek pelan. Jemarinya menarik selembar roti tawar gandum dari atas meja dapur yang berdebu.
Kering. Terlalu padat. Hambar.
Gigitan pertamanya terasa seperti mengunyah serbuk gergaji. Ia memejamkan mata, menelan paksa, mendorong karbohidrat murahan itu melewati tenggorokannya yang kering kerontang.
Rasa lapar adalah konsep yang makin mengabur di kepalanya. Semenjak struktur tubuhnya beradaptasi secara absolut dengan manipulasi "Tidak Melakukan Apapun", lambungnya berhenti mengirimkan sinyal protes. Asam lambungnya statis. Saraf-sarafnya diam.
Kondisi yang tak kunjung datang itu perlahan menggerogoti kewarasannya. Apakah ini sekadar kekebalan biologis, atau tubuhnya mulai lupa cara beroperasi sebagai manusia fana?
Ia tidak ingin mengambil risiko. Melepaskan kebiasaan makan dan minum sama saja dengan mengiris sisa kemanusiaannya sendiri hingga putus.
Mata Ren menatap noda kopi yang mengeras di meja laminasi. Cokelat gelap, bentuknya menyerupai peta kepulauan mati. Otaknya tiba-tiba melantur, teringat pada sisa Nasi Goreng Nenek Lin semalam yang nyaris dibuangnya karena hampir basi.
"Untung saja aku sempat makan," gumamnya pelan, suaranya parau bergesekan dengan sepi ruangan.
Roti di tangannya tandas tanpa sisa. Ia menyapu remah-remah kasar dari pahanya, lalu berjalan menuju sudut ruangan. Ia menyilangkan kaki di atas lantai vinyl yang dingin retak.
Waktunya pemanasan. Latihan pagi rutin.
Matanya terpejam lambat. Napas ditarik panjang, menembus paru-paru, menekan sekat diafragmanya ke bawah.
Alih-alih menyerap energi ambien seperti para Awakened kelas bawah di luar sana, ia membuangnya. Ia menciptakan kehampaan. Membangun ruang hampa mutlak di dalam rongga dadanya sendiri.
Perlahan, detak jantungnya seolah memudar dari persepsi ruang. Hawa tubuhnya merosot drastis. Jika ada alat pemindai termal menyorotnya saat ini, siluet Ren akan terlihat sama dinginnya dengan dinding beton di belakangnya. Ia mengaburkan garis batas antara makhluk hidup dan benda mati.
Teknik tak melakukan apa-apa. Sebuah ironi sinting, mengingat butuh fokus komputasi otak luar biasa untuk meyakinkan alam semesta bahwa ia tidak eksis di koordinat ini.
Ketiadaan itu berputar, mengisi pembuluh darahnya bak merkuri cair. Dingin, menekan, namun secara aneh justru menguatkan. Sel-selnya yang aus akibat eksperimen penciptaan api semalam perlahan tenang kembali.
Selesai. Kelopaknya terbuka sempurna.
Dunia kembali berisik. Dengung kulkas tua di sudut dapur terdengar lagi, mengakhiri ilusi kesunyian. Badannya terasa jauh lebih ringan, otot-ototnya melonggar seakan baru saja diinjeksi cairan relaksan berdosis tinggi.
Kekuatan ini merayap seperti parasit yang sangat penurut. Menggerogoti esensinya, tapi sekaligus menopang tulang punggungnya.
"Baiklah. Sudah selesai," ucapnya singkat.
Ia bangkit berdiri. Air dari keran wastafel yang berkarat membasuh wajahnya. Dingin menusuk kulit pori-porinya. Matanya menatap tajam ke pantulan cermin yang buram.
Kini, ia harus bersiap menghadapi rentetan birokrasi dan omong kosong yang menunggunya di luar sana.