NovelToon NovelToon
BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mata Batin / Horor
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."


Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.


Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Partitur yang Terbakar

Lokasi: Rumah Lama Keluarga Pratama – Pukul 02.00 Dini Hari

Hujan turun rintik-rintik, membasahi rumah tua yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan Reyhan. Di dalam ruang kerja ayahnya yang berdebu, Reyhan berdiri di depan sebuah brankas baja yang tertanam di dinding. Hanya ada cahaya dari senter kecil yang ia gigit di mulutnya, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding.

Dengan tangan yang stabil, ia memutar nomor kombinasi yang baru saja ia pecahkan—tanggal kematian ayahnya di tahun 2011.

Klik.

Pintu baja itu terbuka. Isinya bukan emas atau uang, melainkan tumpukan berkas kasus yang sudah menguning dan sebuah kaset tape lama bertuliskan: "Simfoni Terakhir".

"Rey..." suara Kiara terdengar dari ambang pintu. Ia melangkah ragu, tangannya memeluk tubuhnya sendiri seolah udara di ruangan itu mendadak membeku. "Kamu yakin mau melakukan ini? Energi di ruangan ini... sangat menyakitkan. Ayahmu menyimpan rahasia yang seharusnya tidak pernah dibuka."

Reyhan tidak menoleh. Ia memasukkan kaset itu ke pemutar tape tua di atas meja. "Dia meninggal demi rahasia ini, Ra. Kalau aku tidak menyelesaikannya, kematiannya hanya akan jadi angka di laporan polisi yang terlupakan."

Suara statis terdengar dari tape, disusul suara napas berat yang sangat familiar di telinga Reyhan. Itu suara ayahnya.

"...Jika ada yang mendengar rekaman ini, berarti saya sudah gagal. Benang merah itu bukan sekadar takdir, itu adalah kutukan yang dirajut oleh keluarga lama. Mereka menyebut diri mereka 'Orkestra Bayangan'. Mereka tidak membunuh dengan senjata, tapi dengan frekuensi suara yang bisa menghancurkan jiwa..."

Tiba-tiba, melodi biola yang sama dengan yang dimainkan Vanya terdengar dari rekaman itu. Sangat pelan, tapi cukup tajam untuk membuat Kiara jatuh berlutut sambil menutup telinganya.

"Matikan, Rey! Matikan!" teriak Kiara kesakitan.

Reyhan segera menekan tombol stop. Ia menghampiri Kiara, memegang bahunya dengan kuat untuk menenangkan gadis itu. "Mereka bukan sekadar hantu, Ra. Mereka adalah organisasi yang menggunakan kekuatan ini untuk mengontrol orang-orang berpengaruh. Arthur hanyalah salah satu pionnya."

Wahyu di Layar Laptop

Di ruang depan, Rendy yang biasanya tidak bisa lepas dari kamera vlog-nya, kali ini duduk mematung di sofa tua. Wajahnya pucat pasi menatap layar laptop.

"Pak... Kiara... kalian harus lihat ini," panggil Rendy dengan nada yang sangat serius.

Reyhan dan Kiara keluar dari ruang kerja. Rendy memutar rekaman dari drone yang sempat ia terbangkan secara ilegal di luar gedung konser tadi malam. Di sana, dalam kegelapan di atap gedung, terlihat Sang Konduktor berdiri menghadap ke arah kamera.

Pria itu melepas topeng porselennya sejenak sebelum menghilang di balik bayangan.

Reyhan terpaku. Wajah pria itu... meskipun terlihat lebih tua dan dingin, memiliki garis wajah yang sangat mirip dengan foto ayahnya yang baru saja ia temukan.

"Itu tidak mungkin," bisik Reyhan. Rahangnya mengeras menahan gejolak emosi. "Ayah sudah dikremasi tahun 2011. Gue sendiri yang melihatnya."

"Tapi mata itu, Rey," Kiara menunjuk ke layar dengan jari gemetar. "Mata itu tidak berbohong. Itu mata seorang Pratama. Dan dia... dia sedang menunggumu di konser berikutnya."

Tiba-tiba, dari luar rumah, terdengar deru mesin mobil yang berhenti tepat di depan gerbang. Lampu sorot mobil menyinari jendela rumah tua itu, menciptakan siluet yang mengancam di dinding.

Reyhan mencabut pistolnya, mengokangnya dengan suara klik yang dingin di tengah kesunyian malam. Ia mematikan senternya.

"Rendy, tiarap di bawah meja. Kiara, tetap di belakangku," perintah Reyhan. Suaranya datar, tanpa getaran sedikit pun. "Sepertinya 'Orkestra' itu tidak sabar untuk mengirimkan undangan langsung ke rumah kita."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!