NovelToon NovelToon
Enam Serangkai

Enam Serangkai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejar-kejaran di parkiran dan pelukan yang pecah

Suasana gedung yang tadinya elegan mendadak berubah jadi pasar kaget. Para pejabat yang tadi asyik tertawa sambil pegang gelas kristal sekarang sibuk nutupin muka pakai tangan atau map, takut wajah mereka masuk ke rekaman yang disebar Juna.

Pak Gunawan nggak tinggal diam. Dia bukan tipe orang yang bakal nunggu diborgol sambil minta maaf. Begitu lihat situasi nggak kondusif, dia langsung kasih kode ke dua ajudannya buat bikin barikade.

"Amankan mobil! Sekarang!" teriak Pak Gunawan sambil lari ke arah pintu belakang.

"Eh, mau kabur ke mana si bapak?!" seru Eno yang masih pakai seragam pelayan ngetat. Tanpa pikir panjang, Eno ngelempar nampannya kayak frisbee ke arah kaki salah satu ajudan. PRANG! Nampannya nggak bikin pingsan, tapi cukup bikin si ajudan kepeleset sisa minuman.

Bagas dan Laras langsung lari ngejar ke arah parkiran. Di sana, mesin mobil Mercedes hitam milik Pak Gunawan udah menderu.

"Gas! Jangan biarin dia pergi!" teriak Laras.

Bagas lari secepat atlet lari sprint. Dia berhasil nahan pintu mobil sebelum Pak Gunawan sempat narik tuas kunci otomatis. Bagas narik kerah jas pria itu sampai keluar dari mobil.

"Lo pikir uang bisa beli segalanya, hah?!" bentak Bagas. Tinjunya udah melayang, tinggal dikit lagi mendarat di rahang Pak Gunawan.

"Bagas, jangan!" Laras narik tangan Bagas kuat-kuat. "Kalau lo pukul dia sekarang, lo yang bakal masuk penjara. Lo yang bakal kalah! Jangan jadi kayak dia!"

Tangan Bagas gemetar hebat. Dadanya naik turun karena emosi yang udah di ubun-ubun. Dia natap mata Pak Gunawan yang penuh rasa takut—pemandangan yang selama ini pengen dia lihat. Perlahan, Bagas nurunin tangannya.

"Gue nggak akan mukul lo," bisik Bagas dingin. "Karena itu terlalu enak buat lo. Gue mau lo lihat gimana kerajaan yang lo bangun pakai darah orang lain runtuh total malam ini."

Nggak lama, suara sirine polisi beneran terdengar masuk ke area parkiran. Tapi kali ini bukan polisi yang bisa disuap. Ayah Bagas, Pak Surya, keluar dari mobil paling depan dengan wajah tegak. Meski seragamnya nggak dipenuhi bintang, tapi auranya malam itu jauh lebih besar dari Pak Gunawan.

"Gunawan, Anda ikut kami ke kantor," kata Pak Surya tegas. "Dan kali ini, atasan saya nggak bisa bantu Anda. Bukti yang disebar anak-anak ini udah terlanjur viral di seluruh grup WhatsApp kepolisian dan media nasional."

Saat Pak Gunawan digiring masuk ke mobil polisi, dia sempat natap Laras dengan pandangan benci. Tapi Laras nggak buang muka. Dia berdiri tegap di samping teman-temannya.

Setelah mobil polisi pergi, suasana parkiran jadi sunyi. Gia, Juna, Rhea, dan Eno nyusul ke luar dengan napas tersengal-sengal.

"Kita... kita beneran menang?" tanya Rhea nggak percaya, sambil ngelap air matanya pakai seragam pelayan.

"Kita menang, Rhe," jawab Gia pendek, sambil nutup laptopnya yang baterainya sisa 1%.

Eno tiba-tiba duduk di aspal, selonjoran. "Sumpah, celana gue beneran robek di bagian belakang pas tadi ngejar. Ada yang punya peniti nggak?"

Tawa kecil pecah di antara mereka. Tawa yang rasanya jauh lebih lega dari tawa-tawa sebelumnya.

Bagas masih berdiri diam, natap aspal. Laras pelan-pelan jalan mendekat. Dia tahu hubungan mereka masih 'beku' sejak kejadian di rumah sakit.

"Gas..." panggil Laras ragu.

Bagas nengok. Matanya nggak sedingin kemarin. Dia narik napas panjang, lalu tiba-tiba dia narik Laras ke dalam pelukannya. Erat banget. Laras sempat kaget, tapi kemudian dia bales meluk Bagas sambil nangis sesenggukan.

"Sori, Ras," bisik Bagas di telinga Laras. "Sori gue sempet benci sama lo. Gue cuma... gue nggak tahu cara ngadepin rasa sakitnya."

"Gue tahu, Gas. Gue tahu," sahut Laras di sela tangisnya.

Eno yang lihat pemandangan itu dari aspal langsung nyeletuk, "Woy! Kita yang bantuin dari tadi nggak dipeluk juga nih? Minimal kasih makan lah, gue laper banget jadi jerapah sama pelayan dadakan!"

Gia nyubit lengan Eno. "Diem lo, No. Biarin mereka dulu."

Malam itu, di bawah lampu parkiran yang remang-remang, mereka berenam duduk melingkar di atas aspal. Capek, kotor, dan terancam nggak punya uang kuliah, tapi mereka tahu satu hal: selama mereka masih bareng-bareng, nggak ada monster yang nggak bisa dikalahin.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!