NovelToon NovelToon
Garis Khatulistiwa

Garis Khatulistiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Kisah cinta masa kecil
Popularitas:934
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Saputra 0416

Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.

Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.

Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.

Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.

novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21. Kisah tersembunyi bunga mawar

Happy Reading

"Bintang?" Ucap Aily tegang.

Alderza rasanya tidak suka melihat ada orang yang terang-terangan memegang bahu Aily di depannya.

Tidak bisa menahan lagi, Alderza langsung menarik tangan Aily agar lepas dari cengkraman Bintang dan beralih ke sisinya.

"Jangan pegang-pegang. Dia punya gue!" Ucap Alderza pada Bintang dengan tatapan penuh kebencian.

Aily menatap mereka berdua penuh keheranan, ada apa ini? Apa mereka berdua bolos begitu saja dan meninggalkan pelajaran hanya demi pergi ke mall?

Tapi ada hal lain yang membuat jantungnya berdegup kencang. Ya, ketika Alderza mengatakan bahwa Aily adalah miliknya.

Tidak, sekali lagi ia yakinkan dalam hatinya sendiri untuk tidak boleh terlalu berharap.

"Aily, pulang. Lo lagi sakit." Bintang seolah tidak peduli lagi dengan Alderza, dia hanya menatap Aily dengan sendu.

"Aku cuma ke mall, aku gak papa kok."

Alderza yang mendengar perkataan Bintang berdecak kesal, menandakan kalau dirinya memang tidak suka jika ada orang yang mengatur Aily.

"Gue juga tau kalo dia lagi sakit, gak usah sok care deh!" Alderza sedikitpun tidak melepaskan Aily dari cengkramannya. Entah apa yang terjadi pada dirinya, dia tidak peduli lagi tanggapan Bintang padanya.

Sementara Bintang hanya bisa mengembuskan napas, tatapannya masih sendu, tidak seperti biasanya. Kedua tangannya tersisip di saku celananya.

"Kalo ada apa-apa, bilang gue. Kalo dia berani macem-macem, bilang gue." Ucap Bintang sembari tersenyum kecil kepada Aily.

"Maaf." Ucap Aily sembari menunduk.

"Gak papa, lo bilang pergi ke mall sama Alderza aja udah cukup, biar bang Tama juga gak usah khawatir lagi." Ucap Bintang sambil berlalu begitu saja.

Aily langsung mengigit bibir bawahnya. Menyebalkan, kenapa Bintang harus memberitahu Alderza?

Di sisi lain, Alderza memicingkan matanya pada Aily sekaligus memasang wajah curiga. Bibirnya cemberut, seperti anak-anak yang sedang kesal.

"Jadi... Lo yang bilang sama Bintang?" Tanya Alderza dengan tatapan menyelidik.

Sementara Aily hanya menunduk kaku. Oke, kali ini dia yang salah, kepalanya semakin menunduk dan tak berani melihat Alderza.

"Lo masih takut sama gue?"

Aily menggelengkan kepalanya. Sungguh, dia tidak takut pada Alderza, yang mengganggu pikirannya hanyalah buku peraturan itu.

"Buku peraturannya." Ucap Aily pelan, seperti orang yang sedang berbisik, tapi apapun itu Alderza masih bisa mendengarnya dengan jelas.

Dia hanya mengembuskan napasnya. Tentu saja Aily takut padanya, pada buku peraturan itu, Alderza tentu saja sudah ambil andil dalam ketakutan Aily.

Jadi korban bullying, tidak ditemani, dan bukan hanya itu, Aily bahkan selalu menjadi korban dalam segalanya.

Rasa bersalahnya semakin besar, selama 3 tahun dia sudah membuat Aily ketakutan seperti ini.

Alderza membuka ponselnya, lalu membuka WhatsApp. Dia pun langsung mengirim pesan kepada Bintang.

Alderza:

Tang, gue janji gak bakal macem-macem. Jadi, pergi dari sini, jangan awasin gue terus.

Bintang:

Sampe lo macem-macem, gue gak bakal tinggal diem.

Mendapat ancaman dari Bintang, sedikitpun Alderza tidak takut. Dia tidak ingin menyakiti Aily bukan karena ancaman itu, tapi karena dia memang tidak ingin. Ini benar-benar keluar dari hatinya.

Tiba-tiba saja, Alderza memegang tangan Aily, lebih tepatnya telapak tangannya. Ia merekatkan jarinya semakin dalam, membuat rasa hangat mulai terasa di tangan mereka.

"Alderza?" Tanya Aily kaget.

Tentu saja, eratan tangannya berbeda pada saat Bintang berada di sini. Tadi Alderza menggenggam tangannya dengan keras, tapi sekarang benar-benar terasa hangat dan lembut.

"Kita pura-pura pacaran aja ya. Gue kesel banyak cewek yang liatin gue."

Aily masih tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya masih kaku atas perlakuan Alderza yang tiba-tiba berubah.

Benarkah ini Alderza?

Alderza berjalan menuju ke jajaran outlet baju-baju yang sedang hits saat ini. Alderza sadar baju-baju yang dipakai Aily sepertinya hanya sebatas kaus atau jaket, modelnya pun itu-itu saja, tidak seperti cewek lain.

"Cobain deh baju gelap. Lo pasti cocok."

"Bukannya kita mau cari persiapan camping?" Tanya Aily.

"Camping kan harus pake baju."

"Iya sih."

"Pas camping gak mau pake baju gitu?" Tanya Alderza.

Wajah Aily merah padam. Pasti selalu dia yang kalah. Pada akhirnya, Aily hanya bisa diam atau sekedar memutar bola. matanya.

"Ini bajunya bagus, Aily. Nurut sama gue."

"Kata sahabat aku, aku gak cocok pake baju gelap."

Alderz menghela napas panjang. Dia amat sangat kesal karena Aily terus menyebut mereka sebagai 'sahabat', padahal mereka sudah jelas-jelas sering membuat Aily terluka.

"Apa gue harus jadi sahabat lo dulu, biar lo nurut sama gue?" Tanya Alderza serius.

"Percaya sama gue. Lo cantik mau pake baju warna apapun!"

Alderza langsung menutup mulutnya yang lancang. Ucapannya tidak salah, perkataan itu dia ucapkan tulus dari lubuk hatinya. Keceplosan itu tanda kalau seseorang sedang jujur.

"Makasih." Jawab Aily sambil memalingkan pandangannya.

Alderza berusaha melupakan kejadian barusan dan langsung menunjuk sebuah patung perempuan yang mengenakan baju tebal tinggi berwarna hitam, sangat cocok untuk camping nanti.

"Udah, aku gak mau. Kan tadi udah beli jaket."

"Satu lagi please. Gue belum pernah ngeliat lo pake baju item, itu warna favorit gue. Dan lagi, duit gue masih banyak. Sayang kalo gak di keluarin."

Yang Aily tahu, dia pasti tidak bisa menolak keinginannya. Cowok itu punya seribu satu cara agar Aily melakukan apa yang dia inginkan.

Bahkan untuk membantah ucapan Aily pun dia punya cara pamungkas untuk mengalahkannya.

"Abis ini kita ke tempat rahasia." Ucap Alderza.

Aily mengangguk. Terserah apa maunya, dia sudah tidak bisa mengelak lagi.

Alderza membeli baju hangat tersebut, yang pasti sangat hangat sampai menutupi lehernya. Aily sedang sakit, saat camping nanti dka tidak boleh jatuh sakit lagi.

Ketika Alderza berada di kasir, Aily mengangkat wajahnya, tak sengaja matanya menatap Alderza. Dia tersenyum, senang rasanya Alderza sudah berubah.

Tapi, apakah rasa senangnya ini akan bertahan lama? Tidak ada yang tahu.

Hanya saja, aku berharap bisa terus mengangkat wajahku dan melihatnya seperti ini, walaupun dia mengabaikanku. Ucap Aily dalam hati.

"Ayo." Ucap Alderza.

Aily mengerjapkan matanya beberapa kali, dia benar-benar tidak sopan sudah berani menatap Alderza terlalu lama seperti itu.

Alderza tersenyum sambil berjalan perlahan. "Kenapa berhenti? Padahal terusin aja liatinnya."

Deg!

Aily melotot kaget. Dia ingin berteriak malu karena Alderza menyadarinya. Menyebalkan.

Aily kembali diam. Dia tidak mau bicara apapun lagi sampai di mobil Alderza.

Alderza menjalankan mobilnya dengan bibir yang cemberut.

Nyesel gue ngomong gitu. Ucap Alderza dalam hatinya.

"Oke, sekarang kita pergi ke tempat rahasia." Alderza mengembuskan napas kesal karena Aily tidak berkata apapun.

Setelah 15 menit kemudian dan melewati keheningan yang menyiksa, akhirnya mereka sampai di tempat itu.

Di sana, hanya ada rumah tua kosong yang luas, penuh dengan bunga-bunga yang terawat dan danau hijau yang membentang indah.

Suasananya membuat Alderza tenang, apalagi dengan semilir angin yang berembus merdu, melantun begitu saja menyapa tubuhnya.

"Ini tempat rahasianya." Ucap Alderza sambil menatap Aily.

Di sana, Alderza dapat melihat Aily yang tengah menatap bunga-bunga tersebut. Ya, bunga mawar merah yang indah.

"Bunga ini kan yang kamu kasih buat papa aku?" Tanya Aily yang berhasil membuat Alderza gugup.

"Makasih banyak udah mau ngobatin lukanya, Alderza."

Suaranya begitu lembut, sampai membuat Alderza kehilangan kata-kata. Dia melihat bunga-bunga bermekaran indah. Tempat ini terlihat tua, asing dan tak terawat, tetapi menyimpan keindahan yang tak banyak orang tahu.

"Luka gak bakal sembuh sendiri kalo gak ada yang ngobatin, Aily." Mereka berdua tersenyum dan saling menatap untuk beberapa saat.

Aily mencium bunga mawar berwarna merah segar. Matanya yang semu kembali berwarna, memantulkan warna merah dari banyaknya bunga mawar yang tumbuh di area ini.

"Lo.... suka bunga mawar?" Tanya Alderza.

"Bunga mawar memang indah, tapi di balik keindahannya ada duri yang tersembunyi." Ucap Aily membuat Alderza bingung tentu saja. Kata-kata itu begitu baku, tetapi memang benar kenyataannya demikian.

Jangan hanya melihat sesuatu dari keindahannya saja. Kita juga harus tahu bagian terdalamnya yang bisa saja membuat kita sakit atau bahkan hancur.

Alderza menatap Aily. Matanya yang indah, rambut panjangnya yang terurai, bibir yang tersenyum tulus membuat Alderza tidak bisa mengalihkan perhatiannya.

Aily memetik bunga itu, dan menciumnya sembari tersenyum kecil.

"Tapi aku suka bunga mawar, meskipun rasanya sakit."

Alderza menghampiri Aily sambil mengerutkan keningnya dengan memasang wajah tanda tanya.

"Kenapa sakit?"

"Karena dulu aku pernah dikasih bunga mawar sama cinta pertama aku."

Thank you yang udah baca, maaf ya agak lama gak upload. Kalo ada kesalahan kata, typo, atau semacamnya, tolong dikoreksi ya. Love you all guys.

1
Nhi Nguyễn
/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!