NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Wartawan diculik

Hujan turun deras di Kota Sagara, membasuh jalanan yang lengang dan dingin. Di balik tirai air itu, sebuah mobil hitam tanpa plat melaju perlahan di kawasan industri tua. Lampunya temaram, nyaris menyatu dengan kegelapan malam.

Di dalam mobil itu, Kirana duduk dengan tangan terikat dan mata tertutup kain hitam. Napasnya tersengal, jantungnya berdegup liar. Semua terjadi terlalu cepat. Ia baru saja keluar dari gedung televisi nasional setelah rapat redaksi, ketika seseorang menyergap dari belakang.

Aroma kain basah dan oli memenuhi inderanya.

“Tenang saja,” suara lelaki berat terdengar dingin. “Kalau kau kooperatif, kau akan pulang.”

Kirana menggigit bibir. Ia tahu itu kebohongan.

Sementara itu, di markas darurat, ponsel Bima bergetar keras. Pesan masuk dari nomor tak dikenal, disertai sebuah foto.

Wajah Kirana terpampang, mata tertutup, mulut terikat lakban.

Tubuh Bima seketika lemas.

“Kenapa?” tanya Naya cemas.

Bima menyerahkan ponsel itu tanpa kata. Raka mengumpat keras.

“Mereka mulai menculik,” desisnya. “Ini sudah perang terbuka.”

Tak lama, pesan kedua masuk.

Hentikan semua aktivitas kalian. Tarik seluruh laporan. Jika tidak, wartawan itu akan menghilang selamanya.

Sinta memejamkan mata, menahan gemetar. “Mereka memanfaatkan kelemahan kita.”

Bima mengepalkan tangan hingga kuku menancap di telapak. “Ini salahku. Kirana terlibat karena aku.”

“Bukan,” sanggah Naya tegas. “Ini karena ia memilih berpihak pada kebenaran.”

Keheningan berat menyelimuti ruangan. Tak ada pilihan mudah. Menyerah berarti membiarkan kejahatan menang. Melawan berarti mempertaruhkan nyawa seseorang.

“Apa rencana mereka?” tanya Raka.

“Memutus kita dari media nasional,” jawab Sinta pelan. “Membuat semua wartawan takut.”

Di tengah kepanikan, ponsel Amran berdering. Ia mengangkatnya dengan wajah menegang.

“Nomor lama… dari jaringan bawah tanah media,” katanya. “Mereka punya informasi tentang lokasi penahanan.”

Harapan kecil menyala.

Mereka bergerak cepat. Dengan bantuan seorang mantan sopir perusahaan milik kroni wali kota, mereka melacak sinyal ponsel Kirana yang sesekali aktif. Jejaknya mengarah ke gudang tua di kawasan pelabuhan lama.

Tempat itu terkenal sebagai wilayah abu-abu jarang patroli, penuh bangunan kosong, dan sering dijadikan lokasi transaksi ilegal.

“Kalau kita datang ke sana, kita mungkin tidak pulang,” kata Raka.

Bima menatap ke arah pelabuhan yang gelap di kejauhan. “Kalau kita tidak datang, Kirana pasti tidak pulang.”

Malam semakin pekat saat mereka tiba. Gudang itu tampak seperti bangkai raksasa, berkarat dan ditelan semak liar. Tak ada cahaya, kecuali satu lampu kecil di sisi bangunan.

Mereka bergerak perlahan. Raka mengendap lebih dulu, memeriksa pintu samping yang sedikit terbuka.

Di dalam, suara air menetes dan derit rantai terdengar samar.

Kirana terikat pada kursi besi di tengah ruangan. Wajahnya pucat, bibirnya pecah-pecah. Di sekelilingnya berdiri tiga pria bertubuh besar.

“Waktunya hampir habis,” salah satu pria berkata sambil menepuk-nepuk tongkat besi ke telapak tangannya.

Sementara itu, dari balik peti kemas, Bima menahan napas. Jaraknya tak lebih dari sepuluh meter.

Raka memberi isyarat: dua penjaga di kiri, satu di kanan.

Dengan gerakan cepat, Raka melempar besi ke arah lampu. Ruangan seketika gelap. Teriakan kaget memecah keheningan.

Bima dan Sinta menerjang. Suara benturan, jeritan, dan langkah kaki bercampur kacau.

Salah satu penculik mencoba melarikan diri, tapi Naya menghadangnya dengan menyemprotkan cairan cabai ke wajahnya.

Kirana menjerit saat kursinya terguncang.

“Bima!” teriaknya.

Suara itu memandu langkahnya. Dengan tangan gemetar, Bima melepaskan ikatan Kirana.

“Kau selamat,” katanya lirih.

Namun belum sempat mereka bernapas lega, suara sirene terdengar dari kejauhan.

“Polisi?” tanya Sinta.

“Belum tentu,” jawab Raka pahit.

Mereka tak menunggu kepastian. Dengan cepat, mereka membawa Kirana keluar melalui pintu belakang, menyelinap di antara kontainer dan kegelapan.

Hujan kembali turun ketika mereka akhirnya berhasil meloloskan diri.

Di dalam mobil, Kirana menangis terisak, tubuhnya gemetar hebat. Naya memeluknya erat.

“Mereka mengancam akan membunuhku kalau kalian tidak berhenti,” katanya terbata.

Bima menatap jalanan basah di depan. Dadanya terasa perih.

“Mereka tidak akan berhenti,” ucapnya pelan. “Dan sekarang, mereka sudah menunjukkan batas terjauh yang akan mereka tempuh.”

Kirana mengusap air matanya. “Kalau begitu, kita harus melangkah lebih jauh.”

Raka menoleh. “Kau yakin?”

Kirana mengangguk. “Aku sudah kehilangan rasa takut.”

Di kejauhan, kilat menyambar langit Kota Sagara.

Dan di tengah gemuruh itu, satu hal menjadi jelas: perang melawan kekuasaan kini telah berubah menjadi pertarungan hidup dan mati.

Kata-kata itu terpatri dalam benak Bima sepanjang perjalanan pulang. Hujan mengguyur kaca mobil tanpa henti, seolah langit pun ikut menumpahkan amarah dan ketakutan. Di kursi belakang, Kirana tertidur dengan napas tersengal, tubuhnya masih gemetar akibat trauma.

Sesekali ia mengigau, menyebut nama Bima dan ibunya.

Naya memegang tangannya erat, berusaha menenangkan. “Kamu aman sekarang,” bisiknya berulang-ulang, meski ia sendiri tidak sepenuhnya yakin.

Raka menyetir dengan wajah tegang. Matanya waspada pada setiap kendaraan yang melintas. Sejak keluar dari kawasan pelabuhan, mereka merasa terus dibuntuti.

“Kalau mereka mengikuti kita, kita harus siap,” katanya pelan.

Tak ada yang menjawab. Semua sibuk bergulat dengan ketakutan masing-masing.

Sesampainya di tempat persembunyian baru, sebuah rumah kosong di pinggir kota, mereka langsung memindahkan Kirana ke kamar belakang. Sinta membersihkan luka-lukanya, sementara Arman menghubungi jaringan relawan medis untuk memastikan kondisinya stabil.

Di ruang depan, Bima terduduk lemas. Tangannya masih gemetar.

“Ini sudah terlalu jauh,” gumamnya.

“Justru karena terlalu jauh, kita tak boleh berhenti,” sahut Naya lembut namun tegas.

Bima menatapnya. “Aku hampir kehilangan seseorang lagi.”

Naya terdiam sejenak. “Dan kalau kita berhenti, akan lebih banyak orang yang hilang.”

Keheningan menyelimuti mereka. Hanya suara hujan dan detak jam dinding yang terdengar.

Beberapa jam kemudian, Kirana terbangun. Wajahnya masih pucat, tapi sorot matanya menyimpan keteguhan yang baru.

“Aku ingat sebagian percakapan mereka,” katanya lirih.

Semua langsung mendekat.

“Mereka menyebut satu nama… Pak Darma.”

Amran membeku. “Darma Pranoto?”

Kirana mengangguk. “Mereka memanggilnya ‘Koordinator’. Katanya, selama dia mengendalikan media dan aparat, tak ada yang bisa menembus tembok kekuasaan.”

Raka mengumpat. “Dia mantan pejabat pusat yang sekarang jadi konsultan politik. Pengaruhnya luas.”

Sinta menyalakan laptop, mencari data. “Kalau Darma terlibat, berarti jaringan ini lebih besar dari yang kita kira.”

Bima mengepalkan tangan. Nama itu seperti membuka pintu menuju labirin gelap yang jauh lebih dalam.

“Kita butuh bukti langsung,” katanya. “Bukan sekadar dugaan.”

Namun di saat yang sama, ancaman semakin nyata. Ponsel mereka kembali dibanjiri pesan intimidasi. Salah satu berisi alamat rumah ibu Bima.

Napasnya tercekat.

“Mereka tahu segalanya,” bisiknya.

Raka berdiri. “Kita harus memindahkan keluargamu.”

Malam itu, dengan segala risiko, mereka mengevakuasi keluarga Bima ke rumah aman milik seorang relawan lama. Ibunya menahan tangis, ayahnya yang masih lemah hanya menggenggam tangan Bima erat.

“Lanjutkan, Nak,” katanya lirih. “Ayah tidak menyesal.”

Kata-kata itu menjadi beban sekaligus kekuatan.

Hari-hari berikutnya berubah menjadi rangkaian ketegangan tanpa henti. Mereka berpindah tempat, bekerja dalam diam, dan menyusun potongan demi potongan informasi tentang Darma Pranoto.

Amran menghubungi jurnalis lama yang dulu pernah disingkirkan. Sinta meretas arsip keuangan perusahaan cangkang. Raka melacak koneksi lapangan. Naya menulis laporan investigasi dengan sangat hati-hati, memastikan setiap kata bisa dipertanggungjawabkan.

Di tengah kesibukan itu, Kirana memaksa ikut bekerja.

“Aku tidak mau hanya jadi korban,” katanya. “Aku ingin jadi saksi.”

Suatu malam, sebuah terobosan besar terjadi.

Sinta berhasil menemukan rekaman transaksi rahasia antara Darma dan pemilik jaringan media terbesar di Sagara. Di dalamnya, terdengar jelas instruksi untuk memutarbalikkan fakta, menekan redaksi, dan menutup kasus aliran dana.

“Itu dia,” bisik Raka. “Pintu neraka.”

Namun mereka sadar, mempublikasikan ini berarti memancing badai yang lebih besar.

“Kita harus memilih waktu yang tepat,” ujar Naya. “Kalau terlalu cepat, mereka bisa menghilangkan bukti.”

Bima menatap layar, menatap wajah Darma di rekaman itu.

“Selama ini, aku berpikir melawan fitnah adalah soal membersihkan nama baik keluargaku,” katanya pelan. “Tapi sekarang… ini tentang menyelamatkan kota ini.”

Mereka semua terdiam.

Di luar, angin malam bertiup kencang. Kota Sagara terlelap, tak tahu bahwa di balik ketenangan itu, sekelompok kecil orang sedang mempertaruhkan segalanya.

Dan di tengah pertarungan hidup dan mati ini, mereka menyadari satu hal bahwa Kebenaran bukan hanya harus ditemukan.

Ia harus diperjuangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!