Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LABIRIN KARANG MAUT
Goncangan sekoci yang menghantam permukaan laut membuat tulang-tulang Keyra serasa bergeser. Di belakang mereka, kapal patroli raksasa itu melepaskan dua speedboat pengejar yang membelah ombak dengan kecepatan tinggi. Lampu suar merah menerangi langit, mengubah laut yang hitam menjadi sewarna darah.
Ghazali mencengkeram pinggiran sekoci dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya yang dibalut perban nampak gemetar menahan nyeri yang luar biasa. Adrenalinnya mulai habis, digantikan oleh rasa sakit yang menghujam.
---
"Bastian! Arahkan ke jam dua! Masuk ke celah karang Gigi Hiu!" perintah Ghazali, suaranya parau tertiup angin laut yang kencang.
"Kapten, itu wilayah bunuh diri! Arusnya terlalu liar untuk sekoci sekecil ini!" teriak Bastian panik sembari memutar kemudi dengan tenaga penuh.
"Lakukan saja! Sensor radar mereka tidak akan bisa mengunci kita di antara dinding karang setinggi sepuluh meter!"
Whuush!
Sebuah peluru dari senapan mesin speedboat musuh menghantam air hanya beberapa senti di samping lambung sekoci. Cipratan air asin menyiram luka bahu Ghazali, membuatnya mengerang tertahan.
Keyra segera merangkak, memeluk tubuh Ghazali dari belakang untuk menjaganya tetap stabil. "Ghaz, bertahanlah! Kita hampir sampai di jalur buta!"
Sekoci itu melesat masuk ke dalam celah sempit di antara dua tebing karang raksasa yang menjulang tinggi. Suara deru mesin kapal pengejar mendadak teredam oleh dinding batu, menyisakan gema air yang menghantam karang. Bastian mematikan lampu sekoci, membiarkan mereka melaju dalam kegelapan total, hanya mengandalkan insting dan cahaya bulan yang redup.
"Matikan mesin... sekarang," bisik Ghazali.
Bastian menarik tuas. Sekoci itu meluncur pelan karena sisa momentum, lalu terhenti di sebuah ceruk gelap di bawah bayangan karang yang menjorok. Mereka membeku. Di luar celah, suara mesin speedboat musuh terdengar mondar-mandir, mencari mangsa yang tiba-tiba lenyap dari radar.
Keyra menahan napasnya, tangannya menggenggam erat jemari Ghazali. Ia merasakan detak jantung pria itu yang tidak beraturan. Dalam kesunyian yang mencekam itu, hanya ada suara napas mereka yang saling beradu.
Sepuluh menit berlalu seperti selamanya hingga suara mesin musuh perlahan menjauh menuju laut lepas.
"Mereka pergi..." desah Bastian sembari menyandarkan kepalanya di kemudi.
"Jangan senang dulu," Yudha menyela, ia sedang memeriksa sisa peluru di senjatanya. "Mereka akan memblokade dermaga utama. Kita tidak bisa masuk lewat sana."
Ghazali mencoba duduk tegak, meski wajahnya kini benar-benar pucat. Ia menatap Keyra yang nampak kacau rambutnya lepek oleh air garam, wajahnya penuh lumpur, namun matanya tetap memancarkan kekuatan.
"Kita akan masuk lewat Sektor 7," ucap Ghazali lemah. "Dermaga tua yang tersambung langsung dengan jalur bawah tanah menuju barak militer rahasia Divisi Bayangan."
"Barak? Kita akan tinggal di sana?" tanya Keyra.
"Itu satu-satunya tempat di yang tidak bisa disentuh oleh Aditama secara hukum maupun militer," Ghazali menarik tangan Keyra, mencium cincin kabel di jarinya. "Dan mulai malam ini, kamu tidak lagi tinggal di apartemenmu yang nyaman, Key. Kamu akan masuk ke duniaku. Dunia yang hanya berisi tembok beton, disiplin, dan pengawasan 24 jam."
Keyra menelan ludah. Ia tahu ini adalah awal dari babak baru. Bukan lagi pelarian di hutan, tapi kehidupan "satu atap" di balik jeruji keamanan militer demi melindungi chip yang ada di jarinya.
"Selama aku bersamamu, aku tidak peduli meski harus tinggal di dalam bunker sekalipun," jawab Keyra mantap.
Bastian menyalakan mesin kembali dengan volume rendah. Mereka mulai bergerak menyusuri tepian pantai yang gelap, menuju sebuah gerbang baja tua yang tersamar di balik gudang peti kemas. Itulah pintu masuk menuju Barak Militer Sektor 7.
---
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....