🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)
•••
Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.
Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.
Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Ketika Anindia cemburu
Cahaya pagi itu menyelinap masuk dari celah jendela, menerangi kamar dengan sinarnya yang hangat. Dua orang di dalamnya, sudah mulai sibuk dengan aktivitasnya hari ini.
Anindia berdiri di depan cermin, merapikan penampilannya, sesekali ia menyelipkan rambut ke belakang telinga. Lalu, tangannya bergerak memastikan semua barangnya sudah lengkap.
Di sisi lain kamar, Keanu terlihat sedang mengenakan jaketnya. Gerakannya cepat tapi rapi, sesekali ia melirik ke arah tempat tidur.
Shaka duduk di sana, terlihat lebih fresh setelah dimandikan oleh Anindia. Satu tangannya memegang robot, sementara matanya memperhatikan kedua orang tuanya yang sejak tadi mondar-mandir.
"Bu-na," panggil Shaka dengan suara kecilnya.
Anindia langsung menoleh. Ia berjalan mendekat, lalu berjongkok di depan Shaka. "Iya, sayang," ujarnya lembut, sembari mencium pipi Shaka sejenak.
Shaka hanya menatap, tangannya meraih baju Anindia seolah tidak ingin ditinggal. Keanu memperhatikan dari samping, lalu tersenyum tipis.
"Manjanya sama bunda," ujar Keanu santai.
Anindia melirik Keanu sekilas, "Dia emang lagi manja, Mas."
Keanu mendekat, lalu mengulurkan kedua tangannya. "Sini, sama ayah," ujarnya, bersiap menggendong Shaka.
Shaka justru memalingkan wajahnya sedikit, tetap bertahan pada Anindia. Keanu menghela nafas pelan, diselingi dengan senyum tipis.
"Gak mau sama ayah, ya?" Ujarnya.
Anindia menahan tawanya, tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan. Pandangannya bergantian antara Keanu dan Shaka, dua laki-laki dengan ekspresi berbeda tapi entah kenapa terasa mirip. Yang satu pura-pura pasrah, sementara yang satunya terang-terangan manja, membuat hati Anindia terasa hangat.
Anindia mengusap pelan punggung Shaka, lalu melirik Keanu yang masih berdiri di depannya. "Kayaknya ada yang kalah saing, nih," ujarnya dengan nada yang menggoda.
Keanu terkekeh, alisnya sedikit terangkat. Ekspresinya campuran antara tidak terima dan juga pasrah. "Saingan aku masih satu tahun," ujarnya.
Anindia terkekeh kecil. Tangannya masih menggenggam tubuh kecil Shaka yang belum juga mau dilepas. Di dalam hatinya, ada rasa yang sulit dijelaskan, antara gemas, haru, dan juga syukur.
Anindia tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan sampai di titik ini. Berdiri di antara dua orang yang sama-sama membutuhkan dirinya, dengan cara yang berbeda.
Anindia menghela nafas pelan, masih dengan senyuman di wajahnya. Lalu, ia menunduk sedikit, menempelkan keningnya pada kepala Shaka.
"Anak pinter... Bunda tinggal dulu, ya," ujar Anindia lembut. "Nanti bunda balik lagi."
Anindia akhirnya mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya. Tangan mungil Shaka langsung melingkar di lehernya, seolah benar-benar tidak ingin lepas.
"Shaka sama Oma ya, anak pintar," lanjut Anindia.
Keanu mengambil tasnya, lalu berjalan lebih dulu membuka pintu kamar. Keduanya melangkah keluar, menuruni tangga dengan langkah yang tidak terlalu cepat.
Di ruang tengah, ibu Keanu sudah terlihat duduk santai. Tubuhnya bersandar pada sofa, sementara tangannya memegang secangkir teh hangat. Begitu melihat mereka turun, senyumnya langsung mengembang. "Mau berangkat, ya?" Tanyanya lembut.
"Iya, Ma," jawab Anindia pelan. "Titip Shaka dulu ya, Ma."
Ibu Keanu langsung meletakkan cangkir itu di atas meja, lalu beranjak. Tangannya terulur, penuh kesiapan. "Sini sama Oma," ujarnya lembut.
Namun, Shaka justru mempererat pelukannya. Wajah kecilnya sedikit bersembunyi di balik leher Anindia, jelas tidak ingin ibunya pergi.
"Bundanya mau pergi dulu. Shaka sama Oma, ya," ujar ibu Keanu.
Butuh beberapa saat sampai akhirnya Shaka sedikit mengendur. Dengan hati-hati Anindia mengalihkan tubuh kecil itu pada mertuanya.
Shaka sempat merengek kecil tapi tidak sampai menangis. Keanu yang berdiri di samping hanya memperhatikan, lalu mengusap pelan kepala Shaka. "Nanti ayah pulang, ya."
Ibu Keanu tersenyum, "Udah, sana berangkat. Nanti telat," ujarnya.
"Iya Ma," sahut Anindia.
Setelah mencium tangan ibunya, keduanya melangkah menuju pintu. Keanu jalan lebih dulu, tangannya memegang kunci motor. Sementara Anindia mengikuti di belakang.
Setelah menghidupkan mesin, Keanu langsung melajukan motornya ke arah jalan. Ia mengendarai motor dengan kecepatan stabil, menyusuri jalan yang mulai dipenuhi dengan kendaraan lain.
Pagi itu membawa mereka menuju aktivitas seperti biasanya. Ada kampus, tugas, dan diskusi, tapi juga ada rumah yang selalu menunggu mereka kembali.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Jam kuliah berakhir. Koridor kampus mulai lengang, suara mahasiswa yang ramai mulai menghilang satu per satu. Beberapa lainnya terlihat berkumpul meski hanya untuk sekedar basa-basi.
Anindia berdiri di dekat area parkiran kampus, tangannya memegang ponsel. Matanya sesekali melirik ke arah gedung fakultas, lalu kembali ke layar.
"Lama banget," gumam Anindia pelan.
Baru saja Anindia menurunkan ponselnya, suara langkah kaki terdengar mendekat dari samping.
"Anindia," suara Ardy, refleks membuat Anindia langsung menoleh.
Ardy berdiri beberapa langkah darinya, tenang dan santai. Tangannya memegang buku catatan, seolah selalu ada alasan untuk kemunculannya.
"Iya, ada apa ya kak?" Ujar Anindia sopan.
"Masih nunggu Keanu?" Tanya Ardy, sembari melangkah mendekat sedikit.
"Iya," jawab Anindia jujur. "Katanya ada urusan sebentar."
Ardy mengangguk singkat, "Oh..."
Hening, tidak ada perbincangan lagi di antara mereka. Anindia mencengkeram sedikit lebih erat tali tasnya, seolah tidak ingin percakapan ini berlanjut tanpa tujuan yang pasti. Sementara Ardy masih berdiri di sana, seolah tidak ingin pergi.
"Gue sebenarnya udah selesai urusan di kelas, kebetulan aja lewat sini." Ujar Ardy setelah hening cukup lama.
"Oh, iya," ujar Anindia dengan anggukan kecil. Namun, matanya kembali melirik ke arah gedung fakultas, berharap Keanu segera kembali.
Anindia menggerakkan kakinya, tanda ia mulai gelisah. Ada sesuatu dari cara Ardy menatapnya, meski tidak ada pembahasan yang jelas. Anindia merasa perlu menjaga jarak, terlebih statusnya bukan lagi seorang gadis.
"Kak, aku ke kelas Mas Keanu dulu ya," ujar Anindia dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
Anindia baru saja melangkahkan kaki, niatnya hendak menyusul ke arah gedung fakultas Keanu. Namun, sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya, membuatnya terhenti.
Anindia langsung menatap ke arah tangan itu, lalu ke wajah Ardy. Ada rasa tidak nyaman yang langsung muncul, meski ia berusaha tetap tenang.
"Ah, maaf," ujar Ardy cepat, begitu sadar tindakannya terlalu tiba-tiba. "Gue refleks," lanjutnya sembari melepaskan cengkraman tangannya, digantikan dengan mengusap tengkuknya.
"Iya kak, enggak apa-apa," jawab Anindia sopan.
Ardy menghela nafas pelan, lalu buru-buru melanjutkan, seolah ingin menutup momen canggung itu. "Tadi gue cuma amu bilang soal proyek lalu," ujarnya. "Dosen minta direvisi di bagian analisis data. Kita diskusi lagi di grup nanti."
Anindia mengangguk pelan, "Oh, iya kak. Nanti aku ikut diskusi grup."
Ardy menatapnya sebentar, lalu ikut mengangguk. "Iya... Lo mau ke tempat Keanu kan?"
"Iya kak," jawab Anindia singkat.
"Yaudah," ujar Ardy, kali ini suaranya lebih pelan. "Hati-hati ya."
Anindia hanya menanggapi dengan anggukan kecil, diselingi dengan seutas senyum tipis. Lalu, ia benar-benar melangkah pergi.
Ardy masih berdiri di tempatnya, matanya mengikuti punggung Anindia yang semakin jauh. Ia menghela nafas kecil, lalu bergumam pada dirinya sendiri.
"Bodoh!" Ujarnya sembari mengacak rambutnya sedikit. "Lo bikin dia gak nyaman tadi."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Ardy berbalik arah. Ia pergi ke tempat lain tanpa mengejar Anindia lagi.
Sementara itu, Anindia melangkah cepat menyusul Keanu. Pikirannya hanya satu, yaitu cepat pulang. Tapi, langkah itu mendadak melambat saat pandangannya menangkap sosok yang familiar di ujung koridor fakultas.
Keanu berdiri di sana, di depannya ada dua mahasiswi yang sedang berbicara dengan nada ringan, seolah percakapan itu bukan hal penting. Namun, tetap saja membuat langkah Anindia terhenti. Terlebih ia tahu bagaimana pesona suaminya itu di mata wanita-wanita lain, bahkan sejak SMA.
Keanu tampak santai, satu tangan masuk ke dalam saku almamater. Sementara tangan lainnya memegang ponsel. Ekspresinya tenang, tidak terburu-buru dan juga tidak menghindar.
Salah satu mahasiswi itu tersenyum kecil, terlihat sedikit ragu tapi tetap berusaha percaya diri. "Keanu, boleh minta nomor gak? Biar kalau ada tugas bisa tanya-tanya," ujarnya.
Anindia mendengar itu, walau samar. Dadanya terasa sesak tanpa alasan yang ingin ia akui. Matanya terpaku pada Keanu, berharap Keanu menolaknya.
Namun, tanpa diduga, Keanu justru menoleh sejenak ke arah mereka. Lalu, ia mengangguk santai. "Boleh." Jawabnya singkat.
Keanu langsung mengetikkan sesuatu, sebelum akhirnya mengarahkan layarnya pada dua mahasiswi itu. Keduanya terlihat begitu antusias, lalu saling melirik, seolah berhasil mendapatkan apa yang mereka mau.
Hanya satu kata, tapi berhasil membuat jantung Anindia berdegup lebih cepat, seolah ada yang menekan dari dalam. Sesuatu dalam dirinya mulai naik perlahan. Bukan meledak, tapi seperti panas yang menyebar diam-diam dari dada ke ujung kepala.
"Serius dia ngasih nomornya?" Batin Anindia. Tanpa sadar, tangannya mencengkram tali tas lebih erat dari sebelumnya.
"Terima kasih ya, Keanu!" Ujar dua mahasiswi itu hampir bersamaan.
Keanu hanya mengangguk singkat, "Iya." Nada suaranya tetap ringan, seperti tidak ada hal yang perlu dipikirkan lebih jauh.
Dua gadis itu langsung berlalu pergi, sesekali berbisik pelan, terlihat cukup senang. Sementara Anindia masih berdiri di tempatnya. Matanya mengikuti mahasiswi itu yang menjauh, lalu kembali menatap Keanu.
Keanu yang hendak melangkah, arah pandangnya langsung tertuju pada Anindia. Ia sempat berhenti satu langkah, memperhatikan Anindia.
Alis Anindia sedikit berkerut, bibirnya sedikit manyun, dan tatapannya tidak lagi setenang tadi pagi. Ada sesuatu yang diam-diam ribut dalam wajah itu, dan Keanu langsung paham tanpa perlu ditanya.
Keanu melangkah mendekat. "Sayang." Panggilnya santai.
Anindia tidak langsung menjawab, matanya menatap ke arah lain. Sementara Keanu berhenti tepat di hadapannya.
"Kamu nunggu di sini?"
Anindia menoleh, tatapannya cepat, singkat, lalu kembali lurus. "Iya," jawabnya datar, nadanya dingin.
Keanu diam sebentar, sudut bibirnya perlahan naik. "Kenapa mukanya gitu?"
"Gitu apanya?" Balas Anindia cepat, tanpa menatap.
Keanu mengamati lagi, cukup lama. "Capek ya?" Tanyanya.
Anindia kembali menoleh, tatapannya lebih tajam kali ini. "Enggak capek," ujarnya. "Cuma heran aja."
"Heran kenapa?" Tanya Keanu heran, satu alisnya terangkat sedikit.
Anindia menghela nafas pendek, lalu mengalihkan pandangannya ke lantai. "Katanya buat tugas," gumamnya. "Tapi ternyata bisa juga ya, langsung kasih nomor."
Keanu terdiam beberapa saat, lalu paham maksud istrinya. Ekspresinya kembali santai, seolah menikmati kecemburuan istrinya. "Oh, soal itu?"
Anindia langsung mendongak, "Iya, itu."
Nada suara Anindia naik sedikit, tapi masih ditahan, seperti orang yang tidak ingin terlihat jelas sedang kesal padahal sudah telat. Dan Keanu menyadari itu.
Keanu memperhatikan Anindia lamat, seolah sedang memperhatikan sesuatu. Lalu, ia menyandarkan tubuhnya di tiang koridor, tangannya masuk ke dalam saku celana.
"Kamu cemburu?" Tanya Keanu santai.
"Enggak," jawab Anindia ketus, terlalu cepat.
"Hmm." Hanya itu yang terdengar, tapi nadanya jelas tidak percaya.
Anindia mengalihkan pandangannya lagi, pura-pura memperhatikan orang-orang di koridor. Keanu mendekat sedikit, mencondongkan kepalanya tepat di depan wajah Anindia.
"Kalau enggak cemburu, kenapa mukanya dari tadi gitu?" Tanya Keanu lagi.
"Apa sih?" Jawab Anindia setengah kesal. "Muka aku dari dulu emang gini."
Anindia langsung mengalihkan pandangannya, rona wajahnya terlihat samar. Keanu hanya tersenyum menanggapinya, ada rasa gemas yang perlahan muncul di hatinya.
"Sayang," panggil Keanu lembut.
"Apa?" Jawab Anindia singkat.
Keanu menghela nafas kecil. Lalu, ia mengangkat ponselnya sedikit, seolah menunjukkan sesuatu.
"Yang tadi itu bukan nomor aku," ujar Keanu pada akhirnya.
Anindia langsung diam, matanya bergerak sedikit. Namun, ekspresinya masih berusaha keras untuk tetap biasa saja.
"Terus?" Tanya Anindia, nada suaranya melembut tanpa sadar.
Keanu kembali berdiri tegak, tatapannya masih tertuju ke Anindia. "Aku capek dikejar-kejar cewek," ujarnya jujur. "Dari tadi pagi ada aja yang minta nomor. Alasan tugas, organisasi, apalah."
"Makanya tadi aku kasih," lanjut Keanu.
Anindia sedikit mengernyit. "Kasih apa?"
Keanu mengangkat bahu santai, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. "Kasih nomor tukang galon."
Hening, Anindia langsung terdiam, seolah mencerna perkataan suaminya. Anindia menatapnya lama, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Serius?"
"Iya, biar mereka berhenti ngejar," ujar Keanu dengan anggukan kepala. Ia melirik Anindia sekilas, suaranya lebih lembut. "Capek juga dek. Aku cuma mau pulang, bukan jadi kontak darurat orang-orang."
Anindia terdiam lagi. Wajahnya masih berusaha dingin, tapi sudut bibirnya tidak bisa berbohong. Ada senyum samar yang nyaris tak terlihat, terukir di sudut bibirnya.
Keanu menatap Anindia lagi, kali ini lebih lama. Tanpa aba-aba, ia menepuk pucuk kepala Anindia.
"Jadi... Kamu tadi beneran cemburu, ya?"
^^^Bersambung...^^^
Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁