NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

BAB 8: "Luka di Balik Sunyi dan Gema Penyesalan"

​Semburat fajar di ufuk timur Pesantren Al-Muammar biasanya menjadi saat yang paling dinantikan oleh para penghuninya. Suara langkah kaki santri yang bergegas menuju masjid, gemericik air wudhu, dan lantunan dzikir pagi menciptakan harmoni yang menenangkan. Namun bagi Shania, fajar kali ini terasa abu-abu. Kegelapan di kamar itu seolah enggan beranjak meskipun lampu sudah dinyalakan.

​Zain sudah bangun sejak sebelum pukul empat. Shania terbangun karena suara gesekan sajadah di lantai kayu. Ia mengintip dari balik selimut, melihat punggung kokoh suaminya yang sedang bersujud lama sekali dalam tahajudnya. Shania ingin mendekat, ingin menjadi makmum di belakangnya seperti malam-malam awal mereka yang mulai membaik, namun aura dingin yang memancar dari Zain membuatnya urung.

​Selesai shalat, Zain melipat sajadahnya tanpa menoleh sedikit pun ke arah ranjang. Ia langsung mengganti sarung shalatnya dengan sarung yang lebih rapi, mengenakan jas almamater pesantren, dan merapikan kitab-kitabnya.

​"Mas..." panggil Shania, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.

​Zain berhenti sejenak, tangannya memegang gagang pintu kamar. Namun, ia tidak berbalik.

​"Sarapan sudah disiapkan Umi di ndalem. Kamu bisa ke sana kalau sudah siap. Saya ada jadwal pengajian di desa sebelah sampai siang," ucapnya datar, lalu keluar dan menutup pintu dengan bunyi klik yang halus namun terasa seperti dentuman bagi perasaan Shania.

“​Dinding Tak Kasat Mata”

​Tiga hari telah berlalu sejak kepulangan mereka dari Jombang, dan "perang dingin" itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan mencair. Zain bertransformasi menjadi sosok yang benar-benar asing bagi Shania. Jika dulu Zain adalah guru yang galak dan tegas soal aturan, kini Zain adalah orang asing yang sopan namun berjarak ribuan kilometer.

​Di meja makan, Zain hanya bicara jika perlu. "Tolong ambilkan air," atau "Terima kasih." Tidak ada lagi pertanyaan tentang bagaimana perkembangan hafalan Shania, tidak ada lagi teguran tentang cara Shania memakai kerudung yang seringkali masih berantakan. Zain seolah membiarkan Shania melakukan apa pun, dan justru itulah yang membuat Shania tersiksa.

​"Mas, aku sudah hafal lima ayat baru," ujar Shania saat makan malam, mencoba memancing reaksi.

​"Bagus. Setorkan pada Umi besok sore. Beliau lebih fasih," jawab Zain tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya.

​"Tapi aku mau setor ke, kamu!"

Shania meletakkan sendoknya dengan kasar.

​Zain perlahan mendongak. Matanya yang biasanya teduh kini tampak seperti telaga yang membeku.

"Saya, sedang sibuk menyiapkan materi untuk seminar di Surabaya, Shania. Jangan membuang waktu saya untuk hal yang bisa dilakukan orang lain."

​Dada Shania sesak. Ia merasa seperti debu yang tidak terlihat. Strateginya untuk membuat Zain goyah di Jombang telah berbalik menjadi bumerang yang menghancurkan satu-satunya jembatan komunikasi yang baru saja terbangun di antara mereka.

“​Ujian Kesabaran di Asrama Putri”

​Sore harinya, Shania berjalan menuju kelas asrama putri dengan perasaan kalut. Di sepanjang jalan, para santriwati masih menatapnya dengan penuh kekaguman, namun Shania merasa seperti penipu. Mereka menganggapnya sebagai istri teladan dari seorang Ustadz karismatik, padahal di dalam rumah, ia bahkan tidak dianggap ada.

​Di kelas, Shania berusaha fokus menyimak penjelasan Umi Zainab tentang bab Thaharah. Namun, pikirannya melayang pada bayangan Zain yang tidur meringkuk di sofa sempit setiap malam. Zain tidak pernah mengeluh, namun Shania tahu pria setinggi itu pasti merasa sangat tidak nyaman tidur di sana.

​"Nak Shania, ada apa?" tegur Umi Zainab lembut, menyadari menantunya itu melamun.

​"Eh, maaf Umi. Saya... saya cuma terpikir soal Mas Zain. Beliau akhir-akhir ini kelihatan sangat lelah," jawab Shania mencoba mencari alasan.

​Umi Zainab tersenyum penuh arti.

"Zain, memang keras pada dirinya sendiri, Nak. Apalagi jika ada hal yang mengusik ketenangan batinnya. Dia itu seperti pohon jati; kuat, sulit tumbang, tapi kalau sudah terluka, bekasnya lama hilang. Kamu harus sabar menghadapinya, ya? Pria seperti Zain tidak butuh godaan, dia butuh ketenangan."

​Kata-kata Umi Zainab seperti pisau yang mengiris hati Shania. Ketenangan. Ia baru sadar bahwa selama ini ia hanya menjadi badai dalam hidup Zain yang tenang.

“​Gemuruh yang Memuncak”

​Malam keempat, hujan kembali mengguyur Kediri dengan deras. Shania duduk di ruang tamu, sengaja menunggu Zain pulang. Ia telah menyiapkan teh hangat dan beberapa potong kue yang ia buat bersama santri di dapur. Ia bertekad untuk meminta maaf secara serius malam ini. Ia akan membuang egonya, bahkan jika itu berarti ia harus mengakui bahwa tantangan "kebebasan" itu sudah tidak penting lagi baginya.

​Pukul sepuluh malam, Zain pulang. Bajunya sedikit basah terkena tempias hujan. Shania langsung berdiri menyambutnya.

​"Mas, ini ada teh hangat. Mas ganti baju dulu, ya?"

Shania mencoba tersenyum semanis mungkin.

​Zain menatap nampan di atas meja, lalu menatap Shania.

"Terima kasih, tapi saya sudah minum di kantor pesantren. Saya mau langsung istirahat."

​Zain berjalan melewati Shania begitu saja. Shania merasa harga dirinya jatuh ke lantai. Ia mengejar Zain ke dalam kamar.

​"Sampai kapan, Mas?" teriak Shania.

​Zain berhenti tepat di depan sofa tempatnya tidur selama ini. Ia tidak berbalik, namun bahunya tampak menegang.

​"Sampai kapan Mas mau mendiamkan aku kayak gini? Aku salah, oke! Aku minta maaf soal di Jombang. Aku cuma bercanda, aku cuma mau lihat reaksi kamu! Apa itu salah besar sampai aku nggak dimaafkan?"

​Zain memutar tubuhnya. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat sangat letih, bukan hanya fisik, tapi juga mental.

"Kamu, pikir ini soal maaf, Shania?"

​Zain melangkah mendekat, langkahnya pelan namun menekan.

"Ini soal kepercayaan. Saya sudah mencoba membuka hati saya, menganggap pernikahan ini sebagai jalan ibadah yang serius meskipun awalnya kita dipaksa. Saya mencoba membimbingmu dengan kasih sayang, bukan dengan kekerasan. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu menjadikan martabat saya sebagai bahan taruhan."

​"Aku, nggak bermaksud begitu, Mas..."

​"Lalu apa maksudmu? Mencium saya hanya untuk melihat apakah iman saya goyah? Memeluk saya hanya untuk membuktikan bahwa kamu punya kuasa atas diri, saya?"

Suara Zain mulai meninggi, meski tetap terkontrol.

"Kamu, tidak sedang bermain dengan pria biasa, Shania. Kamu sedang bermain dengan api yang sedang saya padamkan setiap hari demi menjagamu tetap mulia di mata Allah."

​Air mata Shania mulai jatuh. Ia belum pernah melihat Zain se-emosional ini.

​"Sejak awal kamu ingin bebas, kan?" lanjut Zain, suaranya kembali rendah dan dingin.

"Kamu, bilang saya adalah penjara bagimu. Maka sekarang, saya memberikanmu kebebasan itu. Saya tidak akan lagi mencampuri urusanmu, tidak akan lagi mengatur hafalanmu, tidak akan lagi peduli pada apa yang kamu lakukan. Bukankah itu yang kamu mau? Hidup satu rumah sebagai orang asing agar kamu tidak merasa tertekan oleh 'Ustadz kaku' ini?"

​"Nggak, Mas... bukan itu mauku sekarang!" Shania terisak.

​"Lalu apa maumu?" tantang Zain.

Matanya menatap tajam ke dalam manik mata Shania.

"Mau mengulangi adegan waktu itu? Mau mencoba meruntuhkan pertahanan saya lagi agar kamu bisa tertawa di atas kekalahan, saya?"

​"Aku, merindukanmu, Zain!" teriak Shania di antara tangisnya.

​Keheningan seketika menyergap kamar itu. Hanya suara rintik hujan yang terdengar memukul genting. Zain tertegun. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Shania, jujur tanpa filter.

​Zain mengepalkan tangannya. Ia merasakan dadanya berdenyut hebat. Ingin rasanya ia menarik Shania ke dalam pelukannya, menghapus air mata itu, dan mengatakan bahwa ia pun merasakan hal yang sama—bahkan mungkin lebih dalam. Namun, rasa takut akan dikhianati lagi menahannya. Ia takut Shania hanya sedang menggunakan air mata sebagai senjata baru untuk menjebaknya.

​"Tidurlah, Shania. Kamu sedang emosional," ucap Zain, memalingkan wajah.

​"Zain, lihat aku!"

Shania memegang lengan baju Zain.

"Aku, nggak bohong. Aku benci didiamkan sama kamu. Aku lebih suka kamu ceramahi aku sampai pagi daripada kamu anggap aku nggak ada. Aku minta maaf... tolong jangan tidur di sofa lagi."

​Zain perlahan melepaskan tangan Shania dari lengannya. Gerakannya sangat halus, namun terasa sangat menolak.

​"Setiap kali saya melihat wajahmu, Shania... saya teringat betapa rendahnya harga diri saya malam itu karena hampir saja saya kehilangan kendali. Saya butuh waktu untuk menenangkan diri saya sendiri, bukan hanya untuk menghukummu."

​Zain kembali merebahkan dirinya di sofa, membelakangi ranjang. Ia menarik selimutnya hingga ke bahu, menutup akses komunikasi apa pun.

​Shania berdiri mematung di tengah kamar. Ia menyadari bahwa mematahkan hati pria yang taat jauh lebih berbahaya daripada mematahkan hati pria nakal. Karena pria nakal akan membalas dengan amarah, sementara pria taat akan membalas dengan kesunyian yang membunuh.

“​Dalam Kesunyian Malam”

​Malam itu, tak satu pun dari mereka yang benar-benar tidur. Shania meringkuk di ranjang yang terasa terlalu luas, menghirup aroma sisa sandalwood dari bantal yang pernah dipakai Zain. Ia kini mengerti, kebebasan yang dulu ia agung-agungkan di Jakarta—pesta, pakaian terbuka, kehidupan tanpa aturan—ternyata tidak ada artinya dibandingkan dengan satu senyuman tulus dari suaminya yang "kaku" ini.

​Di sofa yang keras, Zain menatap dinding dengan mata berkaca-kaca. Ia berdzikir dalam hati, mencoba mengusir bayangan wajah Shania yang menangis. Ia mencintai wanita itu—sangat mencintainya—tapi ia tahu, cinta tanpa rasa hormat hanya akan menghancurkan mereka berdua. Ia harus kuat. Ia harus memastikan bahwa Shania benar-benar berubah bukan karena takut didiamkan, tapi karena ia menghargai kesucian ikatan mereka.

​"Ya Allah... jaga hatinya, dan jaga imanku," bisik Zain dalam gelap.

​Esok pagi akan menjadi babak baru. Apakah Shania akan menyerah dan kembali menjadi gadis liar yang memberontak? Ataukah ia akan bertahan dalam dinginnya sikap Zain demi membuktikan bahwa cintanya bukan sekadar permainan?

​Satu hal yang pasti, dinding di antara mereka kini semakin tinggi, dan hanya ketulusan yang luar biasalah yang mampu merobohkannya.

​BERSAMBUNG ....

1
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!