Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.
Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.
Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.
Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyaman
Pelan-pelan, dengan gerakan hati-hati, Iago membebaskan kepalanya dari pangkuan Yuki. Pusing ringan masih menari-nari di pelipisnya. Ia melirik sekeliling ruangan sederhana itu, matanya menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang masuk melalui celah-celah tirai kain tipis, membentuk garis-garis emas di lantai kayu.
Di sampingnya, di atas kasur tipis yang sama, Yuki dan Edward terlelap nyenyak. Napas mereka naik turun dalam ritme yang bersamaan. Sebuah selimut kain kasar, sudah lusuh di beberapa bagian dan compang-camping di sudutnya, menutupi tubuh mereka hingga ke dagu Edward.
Wajah Edward yang polos setengah terkubur di lipatan selimut, hanya hidung mungil dan sebagian pipi yang terlihat.
Berusaha melepaskan sisa-sisa keanehan yang masih menempel di tubuhnya, Iago melangkah lembut menuju dapur kecil. Lantai kayu terasa dingin menusuk telapak kakinya. Setiap langkahnya sengaja dibuat hampir tak bersuara, tubuhnya bergerak dengan keseimbangan yang terlatih, menghindari derit papan yang bisa membangunkan keduanya dari mimpi indah mereka.
Di dapur, ia menuang air dari kendi tanah liat yang besar dan dingin ke dalam gelas. Suara gemericiknya kecil dan lembut. Ia meminumnya habis dalam beberapa tegukan panjang, merasakan air dingin mengalir di kerongkongannya yang kering dan serak. Air itu dingin, sedikit berbau tanah dan besi, tapi menyegarkan tenggorokannya yang kering.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Iago berbisik pada dirinya sendiri. Jari-jarinya menekan pelipisnya yang masih berdenyut dengan ritme yang tidak menentu.
Di ruangan utama, Yuki mulai bergerak. Kelopak matanya yang panjang dengan bulu mata lentik bergetar beberapa kali, lalu terbuka perlahan. Dunia masuk dalam fokus bertahap: langit-langit kayu dengan retakan memanjang di satu sudut, berkas cahaya pagi yang membentuk garis lurus sempurna di lantai, suara samar ayam berkokok dari kejauhan. Wajahnya tampak lelah, dengan lingkaran hitam samar di bawah mata.
Ia menguap lebar, meregangkan kedua tangannya di atas kepala, tubuhnya melengkung. Lalu, secara naluriah, pandangannya turun ke pangkuannya sendiri—tempat di mana kepala Iago bersandar semalam.
Kosong.
Kekosongan itu mengejutkannya seperti tamparan basah di wajah.
Mata Yuki membelalak lebar, retina-nya menangkap ketiadaan itu dengan intensitas yang menyakitkan. Jantungnya, yang tadi berdetak lambat mengikuti irama tidur yang nyenyak, langsung berdegup kencang. Ia melompat dari kasur, gerakannya kasar dan tanpa kendali, menyapu semua sisa kantuk dalam satu hembusan napas panik.
"Iago?!" teriaknya, suaranya tercekik di tenggorokan. "Iago, kau di mana?!"
"Aku di dapur," suara Iago membalas dari balik tirai kain tipis yang memisahkan ruangan.
Tubuh Yuki seketika lunglai. Kelegaan yang menyapu dirinya begitu kuat, begitu mendadak dan deras. Tanpa pikir panjang, tanpa peduli rambut merahnya yang berantakan atau napasnya yang masih tersengal-sengal, ia bergegas mendorong tirai dan masuk ke dapur dengan langkah limbung.
Iago ada di sana, bersandar di konter kayu yang usang dan penuh goresan pisau, masih memegang gelas kosong dengan kedua tangannya. Cahaya pagi yang masuk melalui jendela kecil di atas wastafel membentuk lingkaran cahaya keemasan di rambut hitamnya yang sedikit acak-acakan.
"Kenapa kau berteriak, Yuki?" tanya Iago, sedikit terkejut melihat kemunculannya yang dramatis.
Alih-alih menjawab, air mata Yuki jatuh begitu saja. Tanpa peringatan, tanpa suara. Tetesan hangat mengalir deras di pipinya yang pucat. Ia mendekati Iago dengan langkah cepat, lalu buru-buru mengusap matanya dengan punggung tangan, berusaha menahan isakannya yang sudah menggelembung di tenggorokan.
"Yuki?" panggil Iago lembut, ekspresinya berubah dari terkejut menjadi cemas dalam sekejap. Ia meletakkan gelasnya di konter dan berbalik sepenuhnya menghadapnya.
Yuki menarik napas dalam, berusaha menstabilkan gejolak di dadanya yang rasanya ingin meledak. "Tidak apa-apa," katanya dengan suara serak, patah-patah, tersendat. "Aku... aku hanya sangat khawatir padamu. Saat kau terbangun tadi... aku pikir... aku pikir kau pergi begitu saja."
Senyuman tipis dan tulus terukir perlahan di bibir Iago. Ia bangkit dari sandarannya dan melangkah mendekat, mengurangi jarak di antara mereka menjadi hanya beberapa inci. "Terima kasih, Yuki." Suaranya lembut, hampir berbisik. "Aku senang ada yang begitu peduli padaku."
Mendengar kata-kata itu, bendungan di dalam Yuki jebol seketika. Tangisannya pecah. Bukan isakan kecil yang tertahan, tapi luapan emosi yang lama tertahan. Air matanya mengalir lebih deras, membasahi seluruh wajahnya, dan suaranya kini gemetar hebat. Tiba-tiba, tanpa bisa ditahan lagi, ia memeluk Iago. Memeluknya erat hingga Iago bisa merasakan detak jantungnya yang cepat.
Jari-jari Yuki mencengkeram kain kasar di punggung Iago, menahannya. "Tentu saja, bodoh!" ia tersedu, suaranya tertahan dan teredam di bahu Iago. "Kenapa? Kenapa tiba-tiba kau pingsan seperti itu?" Napasnya tersendat-sendat, dadanya naik turun dengan cepat di antara isakan. "Siapa mereka? Siapa lelaki bertopeng kelinci itu? Dan perempuan dengan mata merah itu?"
Mata Iago membelalak, terkejut oleh luapan emosi Yuki yang biasanya begitu tenang. Perlahan, dengan gerakan yang ragu di awal tapi kemudian menjadi pasti, ia membalas pelukan itu. Satu tangannya melingkar di pinggang Yuki, yang lain naik dan membelai rambut merahnya yang terurai. "Aku tidak tahu kau bisa sekhawatir ini," gumamnya ke dalam rambut Yuki.
Yuki terus menangis dalam pelukan eratnya. Tidak ada kata-kata lagi untuk beberapa saat, hanya suara isakannya yang memecah kesunyian dapur yang diterangi cahaya pagi.
"Jangan pergi, Iago..." Yuki akhirnya berbisik. Ia mengatakannya ke dalam kain bajunya. "Aku tidak ingin ditinggalkan lagi. Tidak oleh orang yang... yang kucintai."
"Yuki?"
"Aku bilang jangan pergi." Yuki mengangkat wajahnya sedikit, matanya yang basah, dengan bulu mata masih basah oleh air mata, menatap Iago dengan intensitas yang menyakitkan. "Apa pun yang mereka katakan, apa pun yang terjadi di masa lalumu, tolong jangan tinggalkan aku dan Edward. Janji?"
Iago menatapnya lama. "Aku tidak akan meninggalkan kalian," katanya akhirnya.
"Benarkah?" bisik Yuki.
"Ya."
Untuk beberapa saat, Yuki hanya diam, membiarkan kata-kata itu meresap. Lalu ia meletakkan kepalanya kembali di dada Iago, menutup mata. Kelembapan air matanya masih basah di kulit baju Iago. Napasnya perlahan mulai teratur, mengikuti irama jantung Iago yang berdetak stabil di bawah telinganya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang penuh makna, hanya diiringi oleh detak jam dinding dan kicau burung di luar. Akhirnya, Yuki bertanya lagi, suaranya lebih tenang meski masih diselipi sisa-sisa isakan. "Siapa mereka, Iago? Aku perlu tahu. Setidaknya... sedikit."
Iago menghela napas panjang. "Mereka..." Ia berhenti sejenak. "Mereka adalah teman-temanku. Dari dulu mereka memang agak... kekanak-kanakan," ujarnya.
"Benarkah?" Yuki menarik diri sedikit, cukup untuk menatap wajah Iago dari dekat. Air matanya sudah berhenti, tapi pipinya masih basah dan merah. "Tidak terlihat seperti itu. Mereka membawa senjata sungguhan. Apalagi si pria bertopeng itu." Ia mengerutkan kening, garis halus muncul di antara alisnya. "Dan dia memanggilmu 'Master'."
Iago tersenyum kecil. "Yah, itu..." Ia menghela napas lagi, kali ini lebih dalam. "Dia pernah dilatih oleh seseorang sejak kecil. Obsesinya ingin jadi pahlawan. Jadi dia nekat mencari guru bela diri." Ia berhenti, seolah mengingat. "Dia memanggilku 'Master' karena... dulu aku sering menolongnya. Mengajarinya hal-hal kecil. Membacakan buku. Itu semacam... lelucon lama di antara kami."
Yuki menatapnya, mencari tanda-tanda kebohongan di sudut matanya. Keraguan masih berputar di hatinya, tapi di sisi lain, ada keinginan yang lebih besar untuk percaya. Untuk percaya pada pria di depannya ini. Ia memilih untuk mengabaikan keraguan itu, setidaknya untuk saat ini. Ia memilih untuk percaya pada orang yang mulai dicintainya, meski akal sehatnya berteriak waspada.
"Begitu ya," katanya pelan, suaranya hampir berbisik. Bibir Yuki perlahan sedikit melengkung ke atas. "Terima kasih penjelasannya, Iago." Ia menghela napas, melepaskan sisa-sisa ketegangan di pundaknya. "Dan juga... maaf karena aku terlalu ikut campur."
Iago menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Yuki. Aku mengerti kau khawatir."
Tiba-tiba, gerakan kecil di sudut ruangan menangkap pandangan Iago. Matanya langsung menangkap keanehan. Seberkas rambut cokelat menyembul dari balik sudut dinding pembatas menuju ruang tamu.
Jelas sekali sedang menguping percakapan mereka dengan penuh konsentrasi. Iago menoleh ke Yuki, tawa kecil meluncur dari bibirnya, mencairkan suasana yang tadinya tegang. Ia menunjuk ke arah itu dengan gerakan dagu yang halus.
Saat Yuki melihat ke arah yang ditunjuk, matanya membulat, lalu ia juga tertawa pelan. Suaranya masih sedikit serak bekas tangis. Mereka berdua, tanpa perlu berunding, tanpa perlu memberi kode, perlahan berjalan mendekati sudut ruangan dengan langkah senyap.
Edward, menyadari langkah kaki yang mendekat, dan hendak berbalik cepat. Namun ia telat.
"Edward!!!" Yuki dan Iago berseru serempak.
"Woahh..." Edward menjauh selangkah, mundur sampai punggungnya yang kecil menyentuh dinding kayu. "K-kalian tahu dari kapan?!"
Yuki dan Iago tertawa melihat reaksi lucu Edward. Suara tawa mereka mengisi rumah kecil itu dengan kehangatan yang tulus. Edward memandang mereka dengan pipi yang semakin merah.
Di pipi Edward, Iago melihat jejak air mata yang sudah mengering, meninggalkan garis-garis tipis di kulitnya yang bersih. Dadanya masih naik turun sedikit cepat karena kaget dan malu ketahuan.
"Wah, Edward, kenapa menangis?" tanya Yuki dengan senyum lembut yang sedikit menggoda. Ia mendekat dan menjepit pipi adiknya dengan lembut.
"Aku tak tahu kalau kamu bisa menangis hanya karena kaget sedikit," tambah Iago, ikut menggoda dengan nada ramah.
"A-aku tidak menangis!" Edward tergagap, menyangkal dengan sengit sambil mengusap wajahnya dengan cepat. "Itu... itu keringat! Iya, keringat!"
"Begitu? Matamu kelihatan agak basah, lho." Yuki mencondongkan tubuh, berpura-pura mengamati dengan saksama, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Edward.
"Y-yah, itu..." Edward menunduk, suaranya mengecil hingga hampir tak terdengar. Jari-jarinya yang kecil memainkan ujung bajunya yang sudah mulai longgar dan pudar. "Aku... aku menangis karena senang lihat Kak Iago baik-baik saja." Ia mengangkat wajahnya sebentar. "Aku juga khawatir padanya, Kak. Sangat khawatir..."
Yuki dan Iago saling bertukar pandang. Iago tersenyum hangat. Ia mengulurkan tangan dan meremas rambut di atas kepala Edward dengan lembut. "Terima kasih, Edward." Suaranya lembut. "Aku baik-baik saja sekarang."
Tak lama kemudian, dapur kecil itu hidup dengan aktivitas pagi yang riuh rendah. Yuki menyiapkan sarapan seperti biasa, tubuhnya bergerak dengan efisiensi yang lahir dari kebiasaan bertahun-tahun.
Hari ini, ia memasak sup ayam—kaldu yang sudah direbus sejak semalam, sekarang dipanaskan kembali hingga mendidih dan menggelegak, dengan potongan wortel oranye cerah dan sayuran hijau yang melunak sempurna di dalamnya.
Iago membantu menyiapkan teh mint. Daun mint kering ia masukkan ke dalam teko tanah liat yang sudah retak di bagian gagangnya, lalu menuang air panas dari cerek di atasnya. Aroma mint yang segar segera bangkit dan bercampur dengan wangi sup. Uapnya mengepul deras, membentuk pilin-pilin tipis yang naik ke langit-langit rendah, menari di udara sebelum menghilang.
Edward duduk manis di meja makan kayu sederhana yang sudah usang, membaca buku pelajaran yang halaman-halamannya mulai menguning dan robek di beberapa sisi. Matanya sesekali melirik ke arah dapur dengan tidak sabar.
Tak lama kemudian, hidangan terhidang di meja. Mangkuk-mangkuk tanah liat berisi sup yang mengepul panas, teko teh yang mengeluarkan uap harum, dan potongan roti sisa kemarin yang dihangatkan di atas tungku. Wajah Edward berseri-seri.
Mereka mulai makan bersama dalam keheningan yang nyaman. Di luar jendela, dunia kota mulai ramai dengan aktivitasnya, pedagang berteriak, kuda meringkik, gerobak berderit.
"Yuki," Iago memulai percakapan, "Apa yang dikatakan lelaki bertopeng kelinci itu saat aku pingsan?"
"Hm? Maksudmu Otto, kan?" Yuki menoleh, sesendok sup berhenti di tengah jalan menuju mulutnya yang sedikit terbuka.
"Iya. Jadi kau ingat namanya."
"Yah, dia memperkenalkan diri dengan sangat formal, kan? Sulit dilupakan, dengan topeng aneh seperti itu." Yuki tersenyum kecil mengingat, lalu melanjutkan, "Dia bilang kamu sering pingsan seperti itu karena kelelahan dan tekanan. Katanya itu sudah biasa terjadi sejak dulu." Ia berhenti, menyeruput tehnya sebentar. "Dia juga bilang agar kami menjagamu dulu di sini. Lalu mereka pergi. Perempuan itu dipaksa ikut, meski jelas tidak rela."
"Begitu ya." Iago menunduk dan menghela napas panjang.
"Oh iya, Iago..." Yuki memotong lamunannya, suaranya ringan. "Katamu mau mencari pria tua mencurigakan itu. Kapan kita akan melakukannya?"
"Ah, itu," Iago memegangi kepalanya. "Aku belum tahu pasti. Sekarang, aku hanya ingin istirahat dulu." Ia menghela napas. "Kepalaku masih agak sakit."
"Oh, baiklah, tidak perlu terburu-buru." Yuki mengangguk paham. "Kesehatan lebih penting dari apa pun."
Yuki lalu memperhatikan adiknya yang sedang makan dengan lahap, kuah sup menempel di sudut mulutnya yang mungil, sesekali menetes ke dagu dan jatuh ke meja. "Rasanya bagaimana, Ed?"
Edward mengunyah sebentar dengan pipi menggembung. "Enak banget! Masakan Kak Yuki memang yang terbaik!"
"Begitu? Urutan nomor berapa masakanku sekarang?" Yuki menyandarkan dagunya di telapak tangan.
Edward berpikir keras, alisnya yang tipis berkerut lucu, bibirnya manyun. Lalu dengan mantap ia menjawab, "Urutan nomor 2."
Iago menatap Edward. Sendoknya berhenti di atas mangkuk, supnya menetes kembali. "Nomor 2? Lalu siapa yang nomor 1?"
"Tentu saja Ibu," jawab Edward tanpa ragu.
Yuki tertawa pelan. "Benar juga."
Iago tersenyum, mengangguk pelan.
Di sisi lain, di area perdagangan Citywon yang sudah ramai sejak pagi buta, Otto berjalan cepat menyusuri jalan batu yang lembap oleh embun dan keringat. Kerumunan manusia bergerak di sekelilingnya. Di belakangnya, Eliana mengikuti dengan langkah cepat dan sedikit tersendat, wajahnya masih keruh.
"Lihat! Setelah kau biarkan mereka menjaga Master, sekarang kita tidak bisa menemukan Bos Eldric!" kata Eliana, nadanya tinggi. Beberapa pedagang dan pembeli yang lewat melirik mereka dengan heran, alis terangkat, tapi Otto tidak peduli sedikit pun.
"Berisik sekali," balas Otto, suaranya tetap datar.
"Berisik katamu?! Sekarang lihat apa akibatnya!" Eliana hampir berlari kecil untuk mengimbangi langkah panjang Otto. "Seharusnya kita langsung mencari Bos Eldric dan yang lain! Tapi kau? Kau malah mau tidur di taman umum!"
"Itu hakku." Otto tidak menoleh, terus berjalan dengan kecepatan yang sama, menghindari kerumunan dengan gerakan-gerakan kecil yang efisien. "Kau mencoba mengendalikan jadwal istirahatku? Apa kau ibuku sekarang? Atau pengasuhku?"
Eliana mengepalkan tangannya lebih erat hingga buku-buku jarinya memutih, wajahnya memerah hingga ke ujung telinga yang memanjang. Urat di lehernya yang jenjang menegang. "Bangsat kau, Otto! Dasar topeng kelinci gila!"
Otto tiba-tiba berhenti di tengah jalan, begitu mendadak hingga seorang pria di belakangnya hampir menabrak punggungnya. Orang-orang di sekelilingnya terpaksa memutar. Ia berbalik perlahan.
"Kalau kau tidak terima dengan keputusanku," katanya, "kenapa tidak kau tinggalkan aku saja?"
Mata Eliana membelalak. "Itu... Itu karena kau bagian dari tim! Kalau aku meninggalkanmu, Eldric pasti akan marah padaku!"
"Kalau begitu jangan mengeluh." Otto sudah berbalik dan mulai berjalan lagi. "Kau yang memilih untuk tetap bersamaku semalam."
Eliana menarik napas dalam, dadanya yang naik turun dengan cepat, berusaha menenangkan amarahnya yang mendidih. Lalu, dengan langkah yang lebih berat dan menghentak, ia cepat berjalan mengejar Otto.
Saat mereka berjalan di tengah kerumunan pasar yang semakin padat, Otto tak sengaja menabrak seorang pria tua yang sedang berjalan dari arah berlawanan.
Buk.
Benturannya ringan, hanya bahu yang bersenggolan, tapi cukup untuk membuat pria tua itu kehilangan keseimbangan sesaat.
Pria itu mengenakan pakaian elegan dari kain berkualitas tinggi yang asing di pasar ini.
"Maaf," kata Otto cepat. Ia berjongkok dengan refleks yang cepat, membantu mengumpulkan barang-barang yang jatuh.
Ada mantel abu-abu yang terlihat tua dengan tambalan kasar di siku dan punggung, beberapa potong pakaian sederhana dari bahan murah yang sudah pudar warnanya, dan peralatan mandi yang biasa. Barang-barang yang sangat tidak sesuai, bahkan bertentangan, dengan penampilan pria tua itu yang elegan dan mahal.
"Tidak apa-apa, nak." Suara pria tua itu dalam, berwibawa. Ia menutupnya rapat, mengikat tali pengikatnya dengan gerakan ahli dan cepat, terlalu cepat untuk orang seusianya.." Ia tersenyum, tapi senyumnya yang tipis tidak sampai ke mata abu-abunya yang tenang dan waspada. "Terima kasih sudah membantu, pemuda."
Otto hanya mengangguk singkat, tidak seperti orang tua kebanyakan; sorot mata abu-abunya yang tenang tapi tajam; rambut peraknya yang panjang namun ditata rapi dengan minyak; dan cara ia tersenyum yang tipis.