Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa?
Festival tahunan kota selalu dipenuhi lampu-lampu gantung berwarna hangat. Riuh rendah suara pengunjung yang datang, aroma manisan yang menguar dari setiap sudut jalan, serta musik tradisional bercampur dengan suara obrolan warga setempat, menciptakan suasana ramai yang menyenangkan.
"Ayolah hanya sebentar," ujar Emma tersenyum seraya menyerahkan segelas minuman kaleng berisi 8% alkohol, "kau perlu bersantai sebentar."
Ethan menerima minuman itu tanpa banyak bicara.Tatapannya kosong, namun garis bibirnya membentuk senyum tipis yang sopan. Senyum yang terbiasa ia gunakan untuk membuat orang lain percaya bahwa ia baik-baik saja.
Ia meneguk minuman itu dengan perlahan, rasa pahit terasa dominan, diikuti manis dan hangat setelahnya. Ethan yang baru pertama kali meminumnya sedikit sulit menelan, namun entah mengapa lama kelamaan ia mulai terbiasa dengan menyesapnya sedikit demi sedikit, sembari mendengarkan cerita Emma.
Festival yang seharusnya akan ia datangi bersama Serra kini tergantikan oleh Emma. Wanita berambut pirang itu sangat antusias ingin datang bersamanya. Entah apa yang Emma inginkan darinya, ia menyetujui hanya karena formalitas saja. Hubungan mereka tak lebih dari sekedar anak pemilik toko dan karyawan.
Lampu-lampu festival mulai tampak sedikit buram di matanya. Emma yang awalnya berbicara banyak tentang hal-hal ringan, kini mulai berani membahas topik yang lebih sensitif. Ethan mengangguk sesekali, hanya menjawab seperlunya. Seperti robot yang diprogram untuk tetap sopan di ruang publik. Efek dari minuman itu membuat kesadarannya sedikit demi sedikit runtuh.
"Ethan.." Emma memanggil pelan seraya menatapnya, "aku ingin bertanya," suara wanita itu terdengar ragu, "apa kau masih memikirkannya?."
Ethan terdiam cukup lama, musik di sekitar mereka terdengar semakin jauh, seolah teredam oleh sesuatu yang lebih berat di dalam dadanya.
"Aku?," Ethan mulai mengangkat wajahnya yang mulai kemerahan, "ah.. tentu saja," ia menatap Emma sejenak lalu kembali berpaling.
Emma terkesiap, sedikit tersipu. Tak bisa dipungkiri semenjak ia tahu jika Ethan telah bercerai, entah mengapa perasaan yang dahulu ia buang menjauh kini kembali dengan angkuh.
Padahal semenjak hari ia ditolak dan mengetahui fakta yang sebenarnya, wanita itu tampak mengeluarkan segala amarah di depan sang ayah. Tuan Robert sendiri memang sangat menyayangi puteri semata wayangnya itu, namun untuk kali ini ia hanya ingin memberi sedikit pelajaran agar Emma tidak lagi bermain-main dengan cinta. Sebagai ayah yang perhatian ia tahu betul berapa banyak pria yang menangis karena ulah puteri nya.
Ethan menatap lurus ke depan, seolah sedang melihat sesuatu yang tak ada di sana, "dia suka warna hitam."
Emma terdiam, awalnya ia mengira Ethan sedang bergumam sendiri, namun setelah melihat kaleng minuman yang tergeletak jatuh, wanita pirang itu menyadari jika Ethan mulai mabuk. Sekaleng bir itu membuatnya mabuk? batinnya heran.
Ethan mulai melanjutkan kembali kicauannya, "selalu hitam, dan aku tak pernah keberatan."
Suara Ethan saat mengatakannya terasa pelan, seperti hanya tertuju pada Emma saja. Tapi sayangnya, saat ini mereka sedang berada di tengah festival yang ramai, tanpa sadar ia menaikkan volume suara setiap kali musik mengeras, membuat beberapa orang di sekitar mulai melirik.
"Dia suka duduk di sana," lanjut Ethan, masih menatap kosong, "sambil mengamati silenthorn."
Seorang tetangga apartemennya yang kebetulan lewat langsung menoleh, mendengar suara seseorang yang cukup familiar. Emma menelan ludah, dadanya terasa sesak, tapi ia tetap diam dan mendengarkan.
"Ahaha.." Ethan mulai tertawa pelan seraya menyandarkan tubuhnya di kursi panjang dekat stan minuman tersebut. Jajaran lampu festival memantul terang, di matanya yang mulai memerah.
Beberapa orang di dekat stan minuman kini jelas-jelas mendengar. Seorang pria berbisik ke temannya, "bukankah itu tuan Lucas dari apartemen lantai dua?."
Emma ingin menghentikannya, namun entah mengapa ia enggan. Untuk pertama kalinya wanita berambut pirang itu melihat sisi Ethan yang lain. Karena selama ia mengenalnya, Ethan selalu terlihat ramah dan sopan.
"Saat berciuman, dia selalu menatapku seperti ini," Ethan menatap jari tengah dan telunjuknya sendiri, sambil menyunggingkan senyum.
Emma membeku, setengah tersipu.Beberapa orang remaja yang kebetulan duduk di belakang mereka langsung menoleh dengan ekspresi kaget.
"Tapi.. kalau dia terluka, disini juga terasa sakit."
Kini pria mabuk itu mulai memegangi dadanya sendiri. Suasana di sekitar mereka perlahan berubah canggung. Emma merasakan sesuatu menusuk di dadanya, entah itu rasa cemburu, atau sadar bahwa dirinya tak pernah benar-benar punya tempat khusus di hati pria itu.
Ethan menghela napas berat, "Hahhh.. sebenarnya apa yang sedang dia lakukan? bagaimana jika terluka lagi?."
"Justru kau yang terlihat paling terluka disini," balas Emma.
"Ahaha.. tidak, bukan. Dia sering terluka karena pekerjaan," Ethan kembali tertawa pelan.
"Memang apa pekerjaannya?," Emma mulai penasaran.
"Mmm.. dia itu, dia," kalimat Ethan terhenti, lidahnya terasa kelu, efek mabuk hampir membiarkan satu kata terlepas, "Pembu.."
"AYAAAHHH!!!."
Suara nyaring seorang gadis kecil memecah suasana ramai festival. Semua orang secara serempak menoleh bersamaan. Seorang gadis mungil berkacamata serta mengenakan jaket kebesaran, berlari dari dalam mobilnya. Rambut gelombangnya berayun tertiup hembusan angin, seiring dengan langkah kaki yang bergerak cepat menembus kerumunan, lalu berhenti tepat di depan pria yang baru saja ia panggil ayah.
"HAHHH!!!."
Emma beserta beberapa orang tetangga yang mengenal Ethan tampak terperangah sekaligus terkejut. Gadis mungil itu menatap wajah Ethan tajam, memastikan jika pria yang ditemuinya tidak salah sasaran. Bisik-bisik tetangga langsung pecah di sekitar mereka.
"Anaknya ya?!"
"Katanya baru cerai??"
"Pengantin baru tapi punya anak sebesar itu?!."
Emma menoleh cepat ke arah Ethan dengan ekspresi campur aduk antara kaget dan panik.
"E-Ethan… kau,"
"Ayah?," Ethan mulai bereaksi, "aku bahkan baru sekali…" kalimatnya terhenti seraya menutup mulutnya sendiri dengan ekspresi terkejut bercampur bingung.
Gadis cilik itu mendesah panjang, "Wahhh.. ayah mabuk lagi!," kesalnya.
"Hey, aku bukan ayahmu," bantah Ethan lemah.
Gadis itu menyipitkan mata, "jika bukan, mengapa kau terus menceritakan ibuku?!," pungkasnya.
Ethan menutup wajahnya dengan satu tangan, kali ini ia mulai merasa pusing. Emma yang masih panik menarik tangan Ethan, berusaha membujuknya untuk pergi ketempat lain. Namun tangan si gadis mungil juga menahan pergerakan Ethan dengan meraih tangan satunya. Kini situasi mereka tampak seperti drama keluarga non harmonis.
"Ayah.. hiks, ayo kita pulang," gadis itu mulai merengek dengan air mata yang menggenang, membuat siapa saja mengira jika Ethan adalah ayah yang kurang bertanggung jawab.
Ethan yang masih setengah sadar mulai berdiri, melepaskan dua tangan yang sempat menariknya. Kemudian ia melangkah gontai ke arah mobil si gadis mungil yang mengaku sebagai anaknya.
"Akan ku bantu," ujar Emma mulai mendekati Ethan.
"Tidak perlu tante, terimakasih sudah menemani ayahku.. hiks, mulai sekarang aku yang akan mengurusnya," isak si gadis mungil, membuat siapapun yang melihatnya merasa iba.
Mau tak mau Emma harus memahami situasi, sebagai wanita, ia tak ingin di cap sebagai orang yang menghalangi pertemuan haru antara anak dan ayah. Pada akhirnya ia pun mengalah, dan hanya bisa melihat bagian belakang mobil yang berjalan pelan membelah keramaian festival pada malam itu.