Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 MENEMANI KHAY
Setelah sarapan yang hangat dan penuh tawa di balkon kamar, Khay dan Revan tidak langsung kembali. Revan sudah menyiapkan rencana lain sesuatu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan akan ia lakukan sebelumnya.
Mobil hitam miliknya melaju tenang di tengah jalanan kota.
Khay duduk di sampingnya, sesekali melirik ke arah Revan yang fokus menyetir. “Mas…” panggil Khay pelan.
“Iya?” jawab Revan tanpa menoleh.
“Kita mau ke mana sih sebenarnya?”
Revan tersenyum tipis, masih merahasiakan tujuannya. “Sebentar lagi juga sampai.”
Khay mengerucutkan bibirnya. “Ih, rahasia mulu.”
Beberapa menit kemudian, mobil mereka berhenti di depan sebuah mall besar yang megah.
Khay langsung membulatkan matanya. “Mas… ini mall terbesar di kota ini loh!”
Revan turun dari mobil, lalu membuka pintu untuk Khay seperti biasa. “Iya,” jawabnya santai.
Khay turun dengan ekspresi tidak percaya. “Kita mau… belanja?”
Revan menggeleng pelan. “Bukan.”
“Terus?”
Revan mengangguk ke arah dalam mall. “Masuk dulu.”
Begitu mereka masuk, suasana ramai langsung menyambut. Musik ceria, lampu warna-warni, dan suara tawa terdengar dari berbagai arah.
Namun langkah Khay tiba-tiba terhenti.
Matanya langsung berbinar. “Mas… itu… itu tempat bermain!”
Revan mengikuti arah pandangnya. Sebuah area permainan indoor yang besar, penuh dengan berbagai wahana dari mesin arcade, permainan basket, hingga permainan anak-anak yang penuh warna.
Revan menghela napas pelan. Inilah tujuan sebenarnya. Ia ingin melihat Khay bahagia… seperti gadis seusianya.
“Mas beneran mau temenin aku main permainan di sini?” tanya Khay dengan mata berbinar penuh harap.
Revan menoleh padanya.
Pria yang setiap hari disibukkan dengan rapat, angka, dan keputusan besar itu kini berdiri di depan tempat bermain anak-anak.
Namun entah kenapa… ia tidak merasa keberatan.
“Asalkan kamu bahagia, maka aku pun akan bahagia.”
Khay tersenyum lebar.
Senyum yang tulus, tanpa beban. “Baiklah! Kalau begitu… Mas jangan nyesel ya sudah nemenin aku main!”
“Iya,” jawab Revan singkat, tapi dengan nada yang sedikit lebih lembut dari biasanya. Beberapa menit kemudian…
Khay sudah berdiri di depan mesin permainan basket.
“Mas! Kita lomba yuk!” tantangnya semangat.
Revan melipat tangannya. “Kamu yakin mau lawan aku?”
Khay mendengus kecil. “Jangan sok jago dulu!”
Permainan dimulai.
Bola demi bola dilempar oleh Khay dengan penuh semangat. Meski beberapa meleset, ia tetap tertawa.
Sementara Revan… terlihat canggung di awal.
Namun perlahan, ia mulai mengikuti ritme permainan.
Dan hasilnya “Yeeeee! Aku menang!” teriak Khay kegirangan.
Revan menatap skor, lalu menghela napas pelan.
Ia kalah Dan anehnya… ia tidak merasa kesal. “Kamu curang,” ucapnya datar.
“Eh! Nggak ada ya itu!” balas Khay sambil tertawa.
Revan hanya menggeleng kecil, lalu tanpa sadar mengusap puncak kepala Khay Gerakan spontan.
Namun cukup membuat Khay terdiam sejenak Wajahnya memerah.
“Mas…” gumamnya pelan.
Revan pun menyadari tindakannya, lalu menari tangannya kembali. “Main lagi?” tanyanya mengalihkan suasana.
Khay tersenyum kecil. “Main!”
Mereka berpindah ke permainan lain Balapan mobil tujuan mereka.
Khay duduk di salah satu kursi, memegang setir dengan serius.b“Mas jangan kaget ya kalau aku jago,” ucapnya percaya diri.
Revan duduk di sampingnya. “Kita lihat saja.”
Permainan dimulai.
Khay benar-benar fokus, bahkan sampai sedikit memiringkan tubuhnya mengikuti arah mobil di layar.
Revan melirik ke arahnya Bibirnya tersenyum tipis Ia tidak benar-benar fokus pada permainan… melainkan pada Khay.
Dan tanpa sadar, ia sengaja memperlambat permainannya Hasilnya?
“Mas kalah lagi!” Khay tertawa puas.
Revan hanya mengangkat bahu. “Hari ini kamu beruntung.”
“Bukan beruntung, tapi emang aku jago,” jawab Khay bangga.
Revan mendekat sedikit “Kalau gitu… hadiahnya apa buat yang menang?”
Khay berpikir sejenak, lalu tersenyum nakal. “Yang kalah harus nurutin permintaan yang menang.”
Revan mengangguk. “Baik.”
Khay langsung berdiri di depannya, menatapnya penuh arti.
“Mas harus… beliin aku es krim!”
Revan terdiam lalu tertawa pelan. “Cuma itu?”
“Iya! Emangnya kurang?”
“Kurang,” jawab Revan singkat Ia lalu menarik tangan Khay “Sekalian makan siang juga.” Lanjut Revan
Khay tersenyum lebar. “Asik!”
Setelah beberapa permainan lain mulai dari tembak-tembakan hingga permainan capit boneka (yang akhirnya Revan menangkan untuk Khay) mereka berjalan santai menyusuri mall.
Khay memeluk boneka kecil hasil permainan Revan.
“Mas… ini pertama kalinya aku dapet boneka dari mesin gitu loh.”
Revan meliriknya. “Serius?”
“Iya. Biasanya gagal terus.”
Revan mengangguk pelan. “Aku akan menang lagi kalau kamu mau.”
Khay menatapnya, lalu tersenyum hangat. “Yang ini aja cukup.”
Mereka berjalan berdampingan Tangan Khay sesekali menyentuh lengan Revan, seolah tanpa sadar.
Namun bagi Revan… Sentuhan kecil itu terasa berbeda.
Tanpa mereka sadari Dari kejauhan, seseorang memperhatikan mereka.
Seorang pria berdiri sambil memegang ponselnya.
Matanya tajam menatap ke arah Khay.
Klik.
Satu foto diambil Dalam foto itu, wajah Khay terlihat jelas tersenyum bahagia sambil memeluk boneka.
Namun wajah Revan tidak terlihat jelas, hanya sebagian sisi tubuhnya.
Pria itu menyeringai kecil. “Ternyata dia suka sama om-om…” Ia menatap layar ponselnya lagi. “Cih…”
Nada suaranya penuh dengan sinis Namun identitasnya masih tersembunyi. Ia lalu menyimpan ponselnya, tetap memperhatikan mereka dari jauh.
Senyumnya tidak bersahabat Seolah… ada sesuatu yang sedang ia rencanakan.
......................
Setelah puas bermain, Khay menarik tangan Revan keluar dari area permainan dengan wajah penuh semangat.
“Mas! Sekarang kita makan!” ucapnya riang.
Revan mengangguk pelan, meski napasnya sedikit terasa berat setelah mengikuti semua permainan tadi.
“Kamu mau makan apa?” tanyanya.
Khay tersenyum lebar, lalu menunjuk ke arah salah satu restoran “Itu! Kita makan di sana ya!”
Revan mengikuti arah telunjuk Khay… dan seketika alisnya sedikit terangkat.
Restoran itu ramai, penuh dengan aroma daging panggang dan makanan berlemak yang cukup kuat Dalam hati, Revan sudah bisa menebak. Ini… bukan tipe makananku.
Namun ia tetap berjalan masuk tanpa protes sedikit pun Mereka duduk berhadapan.
Khay langsung mengambil menu dengan antusias.
“Mas! Di sini enak banget loh! Aku sering ke sini sama teman-teman.”
Revan hanya mengangguk sambil memperhatikan Khay Ia melihat bagaimana mata gadis itu berbinar saat memilih makanan Sederhana Tapi… hangat.
“Aku mau ini, ini, sama ini!” ucap Khay sambil menunjuk beberapa menu tanpa ragu.
Revan melirik daftar pesanannya Daging berlemak, saus manis, gorengan, udang, sate sosis, jamur dan beberapa menu lainnya yang jelas bukan bagian dari pola makannya selama ini.
“Mas mau apa?” tanya Khay.
Revan menutup menu pelan. “Aku ikut kamu saja.”
Khay tersenyum puas. “Asik!”