dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ejekan Bude
Sepanjang jalan pulang, aku berusaha merapikan diri sebaik mungkin—menyapu lumpur di celana dengan tangan, membuang daun-daun yang menempel di rambut, dan menyusun kembali rotan yang berantakan ke dalam keranjang. Tapi tetap saja, penampilanku jauh dari kata rapi. Celana panjangku kotor terkena lumpur di bagian betis, baju ada sedikit sobek di siku karena tersangkut duri, dan rambutku yang biasanya terikat rapi kini berantakan dengan beberapa helai yang menempel di keringat di dahi.
Begitu melangkah masuk ke halaman rumah, aku langsung bertemu dengan Budenya yang sedang duduk di teras sambil mengupas singkong. Tatapan Budenya langsung tertuju padaku, dan alisnya langsung terangkat tinggi. Dia menatapku dari ujung kaki sampai ke ujung kepala dengan tatapan sinis yang tajam, seolah sedang melihat sesuatu yang sangat memalukan.
"Wah, ini siapa yang pulang kayak orang kepleset got begitu?" ejeknya dengan nada yang keras dan terdengar keseluruh tetangga. "Mau jadi pengemis apa gimana, sih? Pergi cari 'bahan' katanya, eh pulangnya kayak habis berantem sama hutan. Malu-maluin aja lihatnya."
Aku hanya menunduk, menggenggam pegangan keranjang lebih erat. Aku sudah terbiasa dengan ucapan-ucapan seperti itu, jadi rasanya tidak terlalu sakit, tapi tetap saja membuat hatiku sedikit perih.
"Dasar anak tidak tahu diri. Sudah miskin, tingkahnya ajaib. Membuat kerajinan tangan itu juga cuma buang-buang waktu, mana ada yang mau beli?" Budenya terus melontarkan ejekan, sambil melambaikan tangan seolah mengusir pandangannya dariku. "Cepat masuk sana! Jangan bikin malu di depan orang lewat!"
Aku tidak menjawab sepatah kata pun. Aku hanya berjalan cepat melewatinya, masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju kamarku. Aku mengunci pintu pelan, seolah mengunci juga dunia yang berisik dan pedas di luar sana.
Di dalam kamarku yang sunyi, aku meletakkan keranjang berisi rotan itu di atas meja. Aku melihat pantulanku di cermin kecil di dinding—wajah sedikit kotor, baju berantakan, tapi matanya masih tetap tenang. Aku tersenyum tipis pada diriku sendiri. Biarlah Budenya berkata apa saja, biarlah penampilanku berantakan hari ini. Itu tidak akan menghentikanku.
Aku mandi sebentar untuk membersihkan diri, mengganti pakaian dengan yang bersih, lalu kembali duduk di depan meja kerjaku. Rotan yang tadi berantakan dan sedikit kotor aku cuci bersih dan keringkan dulu. Meski ada beberapa batang yang sedikit rusak karena kejadian tadi, aku masih punya cukup bahan untuk bekerja.
Jari-jariku kembali bergerak lincah. Aku mengambil rotan-rotan itu, mulai menganyamnya dengan pola yang sudah aku bayangkan sebelumnya. Kejadian lucu dengan kucing tadi, lubang tanah yang membuat kakiku terperosok, hingga ejekan Budenya—semuanya seolah menjadi latar belakang yang perlahan memudar saat aku fokus pada karyaku.
Aku menganyam, mengikat, dan membentuknya dengan telaten. Waktu berlalu begitu cepat. Saat matahari mulai terbenam dan cahaya di kamarku mulai redup, aku meletakkan potongan rotan terakhirku.
Di hadapanku, kini berdiri sebuah keranjang rotan kecil yang indah. Pola anyamannya rapi, warnanya alami dan hangat, dan bentuknya kokoh namun cantik. Meski perjalanan mendapatkan bahannya penuh kejadian kacau dan meski ada orang yang meremehkannya, aku berhasil menyelesaikannya. Rasa bangga yang hangat memenuhi dadaku, jauh lebih kuat daripada rasa lelah atau rasa sakit hati akibat ejekan tadi. Ini milikku, hasil tanganku sendiri, dan itu sudah cukup.