NovelToon NovelToon
Akbar Muhammad Alfattah

Akbar Muhammad Alfattah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Tamat
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: camamutts_Sall29

Bayangin kalo kamu jadi Aku?

Aku punya sepupu di pesantren namanya Fattah!? dia itu populer banget di pondok guys! tapi anehnya Aku dan Fattah begitu terikat sampai banyak mata melihat ngiranya kita adalah pasangan Sah?

penasaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon camamutts_Sall29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kursi Yang Kosong

Lantunan doa tahlil baru saja usai menggema di aula utama pesantren, Hari ke 3, Sore itu sudah terlaksanakan Tahlilan berjalan lancar.

 Suasana yang biasanya riuh dengan suara santri mengaji, tapi malam ini terasa lebih berat dan sunyi. Bau tanah basah dan sisa wangi bunga kamboja seolah masih melekat di ujung gamis yang kukenakan.

​Aku duduk di sudut ruang tamu, memperhatikan Bunda Syana yang tersandar lesu di kursi jati favorit almarhum Abi. Tangannya masih memegang tasbih, namun matanya kosong menatap ke depan. Di sampingnya, Fattah duduk dengan punggung tegak, berusaha menjadi pilar yang kuat, meski aku tahu di dalam sana ia hancur berkeping-keping.

​"Bunda mau minum?" tanyaku pelan, memecah keheningan.

​Bunda hanya menggeleng lemah. "Bunda cuma kangen suara Abi, Ri. Biasanya jam segini, Abi sudah duduk di sini sambil nungguin Fattah atau Hamdan pulang dari masjid buat bahas kitab..."

​Suara Bunda bergetar. Fattah langsung merangkul pundak Bunda, mencium pelipis wanita yang paling ia cintai itu.

 "Abi sudah tenang, Bun. Sekarang tugas Fattah yang jagain Bunda. Fattah nggak akan kemana-mana."

​Di ambang pintu, kulihat Nisa sedang menggendong Abror yang sudah terlelap. Wajahnya nampak lelah. Bagaimanapun, Nisa harus membagi fokus antara duka ini dan usaha pecel lelenya yang sedang naik daun. Sebenarnya, ada ganjalan di hatiku melihat Nisa. Dia istri seorang anak kiai besar, tapi tetap memilih berjualan di pinggir jalan demi membantu ekonomi keluarga kecil mereka. Sesuatu yang dulu sempat membuat beberapa orang di pesantren berbisik mencibir.

​"Ri," panggil Hamdan lembut dari arah belakang. Ia baru saja meletakkan Rasyid yang juga sudah tertidur di kamar.

​"Iya, Mas?"

​"Pengurus pesantren baru saja bicara sama aku. Mereka tanya soal wasiat terakhir Abi. Tentang siapa yang akan memimpin pondok secara resmi besok pagi saat subuh," bisik Hamdan. Wajahnya nampak terbebani.

​Aku tertegun. Amanat Abi sebelum meninggal memang jatuh kepada Hamdan, suamiku. Namun, posisi Fattah adalah putra tunggal. Secara tradisi, Fattah yang seharusnya maju. Tapi Fattah punya jalannya sendiri, dan Abi tahu itu.

​Tiba-tiba, seorang pengurus senior pesantren, Ustaz Maman, masuk ke ruang tamu dengan wajah tegang.

​"Maaf mengganggu suasana duka ini, Gus Fattah, Ning Riana," ucapnya tak enak hati. "Tapi ada hal mendesak. Keluarga besar dari pihak saudara jauh almarhum Abi baru saja datang. Mereka... mereka mempertanyakan soal pengelolaan aset lahan belakang pesantren."

​Fattah langsung mendongak. Sorot matanya yang tadi lembut berubah tajam. "Lahan belakang itu wakaf untuk pembangunan asrama putri, Ustaz. Kenapa dipertanyakan?"

​"Katanya, surat wakafnya tidak ditemukan di lemari kerja Abi," jawab Ustaz Maman pelan.

​Aku melirik Hamdan. Kami saling berpandangan. Ternyata, kepergian Abi bukan hanya meninggalkan luka, tapi juga membuka pintu badai yang selama ini tertutup rapat. Nisa yang mendengar itu dari kejauhan tampak meremas ujung jilbabnya, terlihat cemas.

​"Biarkan mereka bicara besok," sahut Fattah dingin. "Malam ini, biarkan Abi istirahat dengan tenang tanpa ada yang meributkan harta."

​Namun aku tahu, ini hanyalah awal dari perjalanan panjang kami yang sebenarnya. Perjalanan yang tidak berakhir di pemakaman ini, melainkan baru saja dimulai.

"Ustadz Maman pulang dulu saja,"

Tanpa berpikir panjang, Fattah tidak mau berdebat soal apapun dulu, Keluarganya baru saja mendapatkan musibah kehilangan.

Ustadz Maman berpamitan dengan senyum tipisnya, membungkuk.

 tapi Fattah tidak memerdulikannya.

Aku masih tidak percaya, Beliau kesini menanyakan tanah wakaf?

Walau Aku masih Aneh, Hamdan menoleh dan menggeleng ( kode ) agar Aku tidak boleh ikut campur.

 

TBC.

1
LEECHAGYN
sama2🤭
Dania
kayak dah nikah tapi yg tau cuma sebelah pihak aja ,cuma perasaan ku aja yak .
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!