Menceritakan tentang 2 gadis bersaudara dimana dia adalah seorang anak yang di hidupi oleh pengusaha yang sangat kaya raya dan setiap pesaing kalah bisnis dari orang tua nya selalu saja mereka ingin selalu menjatuh kan orang tua Cahya dan Megy....
" Cahya kamu janji ya, akan membalaskan kedua orang tua kita" kata Megy sembari mengelap air mata adik nya yang menetes di pipi.
"Oke, gue janji kak, lu juga janji ya, kak? Ucap Cahya sembari berhenti menangis.
Cahya sekarang usiamu muda, kamu bisa ikut ke medan perang! Di sana kamu bisa mempelajari ahli beladiri apa saja? Kata Megy dengan serius.
Baiklah kak, gue akan pergi dulu! Titip ayah ya? Ucap Cahya.
Apakah orang tua nya akan jatuh atas segala yang dilakukan penjahat..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebit S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Kevin Cs Tiba
Baskoro yang sudah tergeletak hingga terpental mundur dengan tangan yang terluka akibat kerikil kemudian berdiri.
Lalu Cahya menatap Baskoro yang sudah terjatuh. Kemudian Ia tidak menghiraukan Baskoro lagi. Dan segera menatap 6 orang yang masih berdiri dengan utuh.
"Dimana, kepercayaan kalian tadi, hah? Kenapa diam saja!" Kata Cahya menatap ke 6 orang dengan senyum dinginnya.
Sementara ke enam berandalan itu langsung meneguk air ludahnya setelah melihat Baskoro yang terluka kemudian menatap Cahya bagaikan melihat monster yang berdiri di tengah-tengah mereka.
Baskoro yang baru saja berdiri karena terluka kemudian berteriak kesal kepada teman-temannya yang hanya berdiri diam saja karena belum mengambil tindakan hanya menatap Cahya dengan gemetar.
"Hey, kenapa kalian diam saja! Beri pelajaran Jalang ini?" Kata Baskoro meneriaki teman-temannya.
"Dia bukan manusia bro, dia ini monster?" Kata Suryono dengan wajah panik sembari meneguk air ludah karena sudah gentar dengan melihat kemampuan Cahya.
"Dia bukan manusia, gimana? Itu dia menyerang gue karena dia curang dan dengan diam-diam menggunakan trik? Apa lu masih meragukan kemampuan gue, hah? Selama gue berkelahi dengan kalian ada nggak yang bisa menghindari serangan, gue?" Kata Baskoro memberikan semangat kepada teman-temannya.
"Ya nggak ada sih?" Kata Suryono dengan mulai sedikit bertambah keyakinan.
"Nah, nggak ada kan? Kalau dia nggak memainkan trik kecil dan melakukan curang mana mungkin dia bisa memukul gue hingga melayang!" Kata Baskoro lebih menjelaskan alasannya bisa terdorong mundur.
"Ooh pantas saja, lu bisa kalah ternyata jalang ini bermain trik licik?" Kata Yoga yang mendengar penjelasan dari Baskoro.
Lalu Yoga segera menatap kearah Cahya yang masih dikelilingi oleh mereka dan Ia hanya menggelengkan kepalanya saja karena mendengarkan lelucon dari Baskoro karena menjelaskan alasan yang tidak masuk akal.
Kemudian Yoga pun, berkata."Hei, jalang ternyata kamu berani-berani menggunakan cara licik, hah? Gue tunjukkin ke lu cara main licik yang benar?"
Cahya yang mendengarkan ucapan dari Yoga hanya menggelengkan kepala lalu tersenyum dingin mengangkat bahunya.
"Terserah kalian mau bilang, apa? Hati-hati ketika saya sudah marah, konsekuensinya tidak akan mampu kalian tahan?" Kata Cahya dengan serius menatap kearah Yoga.
"Sial*n lu, udah licik didepan gue berlagak sok' hebat lagi? Lu pikir, lu siapa, hah?" Kata Yoga memaki Cahya dengan membentak tidak senang atas ucapan Cahya.
Cahya yang terkena bentakan dari Yoga hanya menatap serius kearah Yoga.
Lalu menggelengkan kepalanya saja. Setelah itu Cahya segera menatap Edwin Kurniawan yang masih duduk dengan santai di kursi.
"Heh, lu yang menyuruh kalian menyiksa bokap gue siapa, haha? Apa bos lu, yang perintah kalian!" Kata Cahya dengan serius menatap Edwin Kurniawan dengan tajam tanpa senyuman.
Sementara di tempat lain Megy dan Pak Eko Wijaya yang mendengar Cahya berbicara masih ada yang menyuruh mereka terkejut.
Berarti Edwin Kurniawan bukan bos yang dibalik kejadian sesungguhnya.
"Tepat... Tepat sekali? Memang masih ada yang menyuruh kami, untuk menyiksa dan memaksa Eko Wijaya untuk menanda tangani dokumen ini?" Kata Edwin sembari menatap tajam kearah Cahya.
"Sudan gue duga, sebelum gue b*n* kalian semua disini? Mending lu, katakan siapa dalang dibalik semua ini?" Kata Cahya.
Edwin yang mendengar ucapan Cahya hanya tertawa dingin kemudian menatap kearah Yoga lalu Edwin Kurniawan menganggukan kepalanya.
"Banyak tanya lu?" Kata Yoga yang sudah geram.
Lalu Yoga segera membunyikan leher dan pergelangan tangan nya kemudian dengan perlahan-lahan segera mendekati Cahya dengan mantap.
Bagaikan dia tak akan terkalahkan kemudian Cahya tanpa memperdulikan Yoga tidak menganggap Yoga serius sama sekali.
" Terima ini." Kata Yoga sembari melayangkan puk*lan nya ke arah kepala Cahya.
Tetapi begitu tangan ingin menyentuh kepala Cahya.
Cahya langsung men*mp*r wajah Yoga hingga membuat Yoga segera terhemp*s dan langsung berubah menjadi Kabut dar*h.
Hingga menyebabkan ke enam orang menjadi tercengang melihat apa yang baru saja mereka saksikan.
Setelah itu Cahya tanpa banyak bicara dan menunggu lagi segera menyerang keenam yang tersiksa.
"Plaaaaaaak...buk..bak..buk..bak.. kraaaaak... Aaaaaah..aduuuuuh.. aaaaahh.."
Teriak lima orang yang sudah tergeletak ditanah hingga menyisakan Baskoro yang sedang menatap para teman-temannya yang sudah tergeletak tak berdaya hingga membuat semua teman-teman nya ada yang pat*h t*l*ng nya, ada yang patah k*ki, dan ada juga yang patah leh*r.
Hingga membuat Baskoro menjadi meneguk air ludahnya kemudian keringat mengucur deras di kening dan wajahnya hingga menyebabkan Baskoro terkencing di celana.
Cahya lalu segera menatap ke arah Baskoro yang sudah terkencing di celana hingga Ia menciut untuk melawan Cahya.
Sementara Edwin Kurniawan yang melihat Baskoro menciut dan tidak berani maju langsung berdiri kemudian segera mengeluarkan p*st*l nya dan mengarahkan moncongnya ke Baskoro.
"Dor..Dor.."
"Memalukan sekali?" Kata Edwin Kurniawan dengan dingin sembari memasukan lagi pistolnya.
Kemudian Edwin Kurniawan segera menatap tajam kearah Cahya dan segera tersenyum kearah Cahya.
"Maafkan saya, karena memanggil bawahan yang sangat memalukan?" Kata Edwin Kurniawan dengan datar.
Dengan dingin Edwin Kurniawan segera bertepuk tangan dengan cepat dengan tidak sabar.
"Proook proook proook.."
Muncul seorang pria berdua dengan berwajah sama dia adalah Tono dan Toni.
Kemudian mendarat dihadapan Cahya sembari menatap wajah Cahya.
"Ooh ternyata sudah ada disini, Megy nya Tono? Pantas saja kita tidak menemukannya di jalanan tadi?" Kata Toni menatap dengan tajam di belakang Cahya.
Kemudian mereka berdua segera melihat kearah Edwin Kurniawan dan membungkuk hormat kepada Edwin Kurniawan.
"Bos, kami berdua menghadap? "Kata Tono dengan menunduk tubuhnya.
"Hem?" Jawab Edwin Kurniawan dengan dingin menanggapi hormat Tono dan Toni.
"Mana Cahya nya Bos biar kami yang akan melipat-lipat Cahya itu, hingga menjadi kertas dan kami robek-robek!" Ucap Tono dengan penuh keyakinan dalam menghadapi Cahya.
"Itu wanita yang sedang berdiri menatap kalian." Kata Edwin Kurniawan dengan penuh senyum.
Tidak lama kemudian Tono menatap Cahya dan segera melihat Cahya dengan penampilan wanita Feminim dengan tinggi 170cm dan penuh kharisma daya tarik ketika pria melihatnya.
"Wooow.. cantik sekali, tetapi lebih cantik Megy, lihat yang nyembul itu! Jadi ingin menyentuh dan mengem*tnya?" Kata Tono dengan wajah mesumnya.
"Hahaha benar ya, kak? Kalau saja aku tahu, pepaya megy sebesar itu! Dijalanan sewaktu kita mengintai sudah pasti akan aku masukkan cangkul ku dengan paksa kepadanya?" Kata Toni yang sudah mengeluarkan air liurnya.
Lalu Tono segera menatap Megy yang berdiri di belakang Cahya kemudian langsung berteriak dan berkata." Hei Megy, cantik? Kamu lebih baik kerjasama bantu adikmu untuk menghadapi kamu! Sekalian kami ingin melihat lebih dekat dan menyentuh pepayamu, itu?"
Cahya yang mendengar ucapan dari Tono dan Toni kemudian langsung berkata dengan dingin lalu dengan tersenyum, berucap."Sangat tidak tahu, malu?"
ini seperti isi teks yang langsung up tapi mungkin lupa di edit lagi tanpa di kroscek
padahal isi ceritanya cukup oke