Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.
Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.
Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.
Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.
Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.
Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wejangan
Weekend datang dengan caranya sendiri.
Tidak tergesa, hanya memberi jeda setelah hari-hari yang berjalan terlalu cepat.
Sabtu pagi Lala sudah siap, Ia berdiri di depan cermin kamar, memastikan tas kecilnya sudah berisi dompet, ponsel, dan lip balm. Outfit-nya sederhana celana bahan longgar, kaos yang ditutup dengan kardigan, dan sepatu kets. Tidak ada yang istimewa, tapi cukup rapi untuk nongkrong seharian.
Rendra yang sedang duduk di tepi kasur meliriknya sekilas.
“Berangkat jam berapa?”
“yuk sekarang. Mereka udah di jalan semua,” jawab Lala sambil meraih jam tangan.
“sama siapa aja?”
“semuanya Ilya, kiia, Linda sama gue ” jawab Lala sambil terkekeh.
Rendra ikut tersenyum. Ia tentu kenal mereka. Terlalu kenal, malah. Ilya yang paling cerewet, sekarang sedang hamil tiga bulan dan gampang capek. Linda, yang dulu paling kalem, sekarang menjadi ibu satu anak dengan jadwal tidur paling kacau. Dan Kia yang hidupnya selalu terlihat rapi sedang hamil lima bulan sambil mengurus anak usia tiga tahun.
Dan Lala.
Yang terakhir menyusul mereka semua.
“Lo yakin keliling mall sama mereka?” tanya Rendra sambil mengambil kunci motor.
“Justru itu tujuan kita,” jawab Lala. “Keluar sebentar healing dari kerjaan kantor yang membludak”
Rendra tertawa kecil. “Oke, ayo.”
Perjalanan menuju mall berjalan santai. Lala duduk di belakang, memeluk tas selempangnya, membiarkan pikirannya kosong sejenak. Jakarta pagi itu tidak terlalu padat. Udara masih cukup bersahabat.
Sesampainya di area drop-off mall, Lala turun dan melepas helm.
“Makasih ya,” katanya.
Rendra mengangguk. “Nanti kalo udah mau pulang kabarin.”
“Iya. Lo hati-hati.”
Rendra sempat menatapnya sebentar sebelum akhirnya mengangguk lagi dan pergi. Lala tidak memikirkan itu. Ia langsung masuk ke dalam mall, fokus pada hari yang sudah lama mereka rencanakan.
Mereka bertemu di depan sebuah toko pakaian. Empat perempuan dengan kondisi hidup yang sudah sangat berbeda, tapi masih bisa tertawa dengan nada yang sama seperti dulu.
“LALAAAA!”
Ilya yang paling dulu melihatnya langsung melambaikan tangan, perutnya yang masih kecil sudah terlihat menonjol.
“Ya ampun lo makin glowing,” sahut Linda sambil memeluk Lala.
“Ini efek sah ya?” tambahnya sambil tertawa.
“Bisa aja lo,” balas Lala.
Kia datang terakhir, mendorong stroller kecil.“sori ya gue telat, anak gue drama di parkiran tadi.”
Mereka tertawa bersama. Tertawa yang tidak dibuat-buat. Tidak perlu topik berat. Tidak perlu pembuka panjang.
Mall terasa berbeda saat dilalui bersama mereka. Tidak terburu-buru. Lebih banyak berhenti. Lebih banyak duduk. Lebih banyak cerita kecil yang sebenarnya tidak penting, tapi terasa menyenangkan.
Mereka masuk ke beberapa toko. Lebih banyak melihat daripada membeli.
Ilya cepat lelah dan duduk setiap sepuluh menit. Linda sibuk menunjukkan foto anaknya yang baru bisa menyebut “mama". Kia sibuk membandingkan harga baju anak sambil mengelus perutnya sendiri.
Dan Lala. Ia mendengarkan.
Tidak merasa tertinggal. Tidak merasa ketinggalan.
Mereka akhirnya duduk di sebuah kafe. Tempatnya tidak terlalu ramai. Pesanan datang satu per satu.
“Aduh, rasanya udah lama banget ya kita gak nongkrong kayak gini,” kata Kia sambil menghela napas lega.
“Iya,” sahut Ilya. “Sekarang nongkrong tuh harus dijadwal kayak meeting.”
Semua tertawa, lalu menoleh ke Lala hampir bersamaan.
“Lo gimana?” tanya Linda. “gimana perasaan lo setelah nikah?”
Lala mengaduk minumannya sebentar sebelum menjawab.
“Biasa aja. Gak gimana-gimana, gak banyak yang berubah juga”Jawaban itu jujur. Tidak dilebihkan, tidak dikurangi.
Tapi justru karena terlalu datar, tiga pasang mata di depannya saling pandang.
“Serius?” Kia menyandarkan punggungnya ke kursi. “Rendra tuh beneran nggak berubah sama sekali?”
“emm berubah dikit sih harusnya ada yaa” timpal Linda. “Masa udah nikah masih plek ketiplek kayak dulu.”
Ilya yang sedari tadi diam ikut nimbrung. Nadanya paling hati-hati di antara mereka.
“Dia gimana ke lo, La? Maksud gue... lebih perhatian nggak?”
Lala mengangkat bahu kecil.
“Ya gitu. Rendra ya Rendra. Masih ribet sama hal-hal kecil, masih suka ngejokes nggak jelas. Kalau soal perhatian sih iya, dia perhatian... tapi ya emang dari dulu juga gitu,” ucapnya sambil tertawa kecil.
“Iyaaa,” sahut Kia. “Dia kan emang paling perhatian sama lo dibanding kita semua.”
"ck ngga ya lo pada aja yang ngerasa ya gitu" sangkal lala.
“la, ceritalah,” Linda mencondongkan badan. “Dia romantis nggak sih?”
“Romantis versi dia, kali ya,” kata Lala sambil mikir. “Lebih sering becanda lebay. Tapi ada lah... mungkin.”
“Kayak?” kejar Ilya.
Lala terdiam sebentar, lalu menjawab seadanya.“Kayak... dia inget hal-hal kecil. Nanyain gue makan apa. Pulang lebih cepet kalau tau gue di rumah.”
“Wih,” Kia mengangguk-angguk.
“Tapi tetep aja ya,” sambung Linda, nadanya ringan.
Obrolan sempat berhenti. Bukan canggung lebih ke mencerna. Sampai akhirnya Ilya, dengan gaya blak-blakannya, menyender dan menatap Lala sambil tersenyum penuh arti.
“Terus... gimana?”
“Hm?”
“Udah mulai mikir anak belum?”
Pertanyaan itu jatuh pelan, tapi tepat sasaran. Kia refleks menatap Lala, seolah takut pertanyaannya terlalu jauh. Linda pura-pura sibuk sama minumannya, tapi jelas mendengarkan.
Lala menarik napas kecil. Ia tidak terkejut.
“Belum,” jawabnya jujur. “Belum kepikiran ke sana.”
“Karena lo belum siap?” tanya Ilya hati-hati.
“Atau karena Rendra?” tambah Kia.
“Emm... apa ya,” Lala mengerutkan kening. “Kita emang belum ngebahas serius sih.”
Linda mengangguk pelan.
“Rendra gimana nyikapinnya?”
“Biasa aja,” jawab Lala. “Dia nggak maksa. Nggak nanya apa apa juga.”
Ada jeda lagi. Bukan canggung lebih ke saling memahami.
“Yang penting lo nyaman sih, awal-awal pernikahan emang waktunya buat saling adaptasi” kata Ilya akhirnya. “Soal anak bisa belakangan.”
“Iya,” sambung Linda. “Setiap rumah tangga punya waktunya sendiri.”
Kia menyenderkan dagunya di telapak tangan, menatap Lala dengan senyum setengah nakal.“Tapi, La... lo udah itu belum?”
Kata itu diucapkan pelan, tapi penuh makna.
Lala mengernyit.
“Udah apa?”
Ilya langsung terkekeh.
“Ya ampun, pura-pura polos.”
Linda menepuk pelan tangan Lala, suaranya kalem tapi jelas.
“Maksudnya... buat anak. Masa nggak nangkep sih.”Ia menurunkan suara. “Itu loh. Kegiatan orang dewasa.”
“Oh.”Lala menghela napas pendek lalu tertawa kecil. “Kirain apa.”
“Terus?” Kia menyela tanpa basa-basi. “Udah belum?”
Lala mengaduk minumannya lebih lama dari tadi.“Belum,” ucapnya ringan, hampir tanpa beban.
Tiga orang itu bereaksi hampir bersamaan cukup kaget, tapi seperti sudah mengerti kenapa jawaban lala seperti itu.
“Dua minggu masih wajar sih,” kata Linda sambil mengangguk sok bijak.
“Apalagi kalau capek kerja.”
Ilya tersenyum kecil.“Kadang tuh bukan soal belum mau, tapi masih adaptasi. Tidur bareng aja masih aneh, kan, La?”
Lala mengangguk pelan.
“Iya... aneh.”
“Rendra gimana?” tanya Linda. “Santai?”
“Santai kok,” jawab Lala cepat. “Dia nggak nuntut. Nggak pernah bilang apa-apa juga.” Nada suaranya terdengar sedikit canggung.
Ilya mengangguk,“Cowok yang nggak maksa tuh jarang.”
Kia mengangkat alis.“Santainya dia tuh sampe nggak pernah minta apa-apa. Atau kalian diem-diem aja. Jarang banget cowok yang bisa nggak langsung ‘nyerang’ pas lagi berduaan apalagi udah nikah.”
“Dia emang nggak pernah bilang apa-apa,” lanjut Lala. “Gue sama dia juga nggak pernah bahas ke arah itu.”
Ia terdiam sebentar. “Aneh nggak sih kalo gua sama dia ngelakuin itu? Gue malah ngerasa... aneh aja.”
Mereka bertiga langsung melongo.
“Heh, Lala,” kata Ilya. “Aneh dari mana? Namanya suami istri ya pasti kayak gitu. Lo tuh yang aneh.”
“Ya gimana ya...” Lala mendengus pelan.
“Gini, La,” Linda mencoba menenangkan. “Jangan mikirin Rendra itu temen lama lo atau apa lah. Bisa jadi dia sebenernya ya pengen, tapi nggak enak minta ke lo.”
“Nah, bener tuh,” sahut Kia. “Coba deh lo yang mulai. Nggak usah frontal. Tunjukin aja lewat gestur tipis-tipis.”
“Emm... gimana ya,” Lala ragu.
“Lo jangan kelamaan mikir,” kata Kia santai. “Nanti keburu Rendra malah jajan di luar.”
“Ih, gila kali,” Lala mendengus.
Mereka tertawa bersama.
"tapi bener la, coba aja lo yang mulai duluan." obrolan tersebut masih berlanjut, "kali aja emang kalian mikirin hal yang sama. sama-sama ngerasa 'aneh' karena kalian temenan lama" lanjut kia.
"kalo kaya gitu mau sampe kapan" saut Linda
mereka pun terdiam, hanya menatap Lala yang memainkan sedotan digelas minumannya.
“Gimana, La,” kata Ilya dengan senyum jahil yang nggak bisa disembunyikan. “Lo mau nyoba mulai duluan nggak? Enak loh.”ia mencoba mencairkan suasana.
“Duh, nggak tau deh,” Lala langsung mengibas-ngibaskan tangan. “Gue takut.”
Ketiganya langsung tertawa hampir bersamaan.
“Takut apaan sih?” tanya Kia. “Sakit?” lanjutnya, setengah bercanda.
Lala mendengus.
“Ya gimana ya... lo bertiga aja dulu cerita malam pertama kalian kayak gitu semua. Gue yang waktu itu masih jomblo dengerinnya langsung jiper. Sampe sekarang masih kebawa.”
Mendengar itu, tawa mereka justru makin pecah.
“Ah itu mah awal doang, La,” kata Ilya sambil menggeleng. “Lama-lama enggak kok. Lebih ke...”
Ia sengaja menggantung kalimatnya, lalu tertawa sendiri.
“Lebih ke apaan?” Kia ikut nimbrung.
Ilya cuma mengangkat alis. “Nah, itu.”
“Nggak, nggak,” Lala langsung menggeleng cepat. “Gue nggak berani.”
“Kalo gitu,” Kia menyela sambil menyilangkan tangan, “berarti nanti Rendra yang mulai.”
Lala menatapnya.“Terus?”
“Dan lo tau kan,” lanjut Kia dengan nada sengaja dilebih-lebihkan, “kalo cowok udah pengen beh. Bisa-bisa lo yang kaget. ga sanggup ngimbanginnya”
“Apaan sih,” Lala mendengus. “Ngeri banget lo ngomongnya.”
“Bercanda,” Kia terkekeh. “Tapi serius deh, La. Rendra tuh keliatan sabar banget. Bisa jadi dia beneran nunggu lo yang mulai.”
Ilya mengangguk setuju.
“Kadang bukan nggak mau, tapi sama-sama saling nunggu. Ujung-ujungnya ya nggak ke mana-mana.”
Lala terdiam sebentar, memainkan sendok di gelasnya.
“Gue tuh bukan nolak,” katanya pelan. “Cuma... masih aneh aja. Kayak... belum kebiasa.”
“Itu wajar,” kata Linda lembut. “Lo baru nikah, La. Adaptasi itu bukan cuma soal tinggal bareng.”
“Iya,” sambung Ilya. “Semua orang punya timing sendiri.”
Kia mencondongkan badan.
“Tapi ya jangan ditutup rapet juga. Pelan-pelan aja. Pegang tangan lebih lama gitu atau peluk dikit. Nggak harus langsung yang aneh-aneh.”
Lala tersenyum tipis. “Lo ngomongnya gampang.”
“Karena kita udah lewatin fase itu.” Kia nyengir. “Makanya bisa sok bijak.”
“Intinya,” Linda menutup dengan nada tenang, “selama lo nyaman dan Rendra nggak maksa, itu udah oke sih. Sisanya tinggal waktu.”
Lala mengangguk pelan. “Iya sih...”
“Udah,” kata Ilya sambil mengangkat gelas. “Pelan-pelan aja, Bu Istri. Nggak ada lomba juga.”
Lala tertawa kecil. "enak banget emang kalo cuma ngomong".
Mereka tertawa lagi, lebih santai dari sebelumnya obrolan pun bergeser ke hal lain, meninggalkan Lala dengan pikiran yang masih penuh, tapi sedikit lebih ringan.
—
Setelah berbincang sampai lupa waktu. Sudah sore tak terasa mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing dan berjanji akan mengatur jawdal untuk pertemuan selanjutnya.
Lala tidak memberi kabar ke Rendra kalau dia ingin pulang, ia memilih memesan ojek online.
Sesampainya di rumah Rendra baru saja selesai menjemur handuk ketika suara motor berhenti di depan rumah. Ia melirik jam di dinding.
Pintu terbuka, lalu suara langkah yang ia kenal masuk ke dalam rumah.
“Ren, gue pulang.”
“Ko ga ngabarin, kan bisa gue jemput,” sahutnya berjalan ke ruang tamu.
“gapapa, naik ojol tadi”
Tidak ada yang aneh dari kalimat itu. Nada Lala terdengar sama. Tasnya diletakkan di tempat biasa. Sepatunya rapi di rak. Semuanya tampak normal terlalu normal.
Tapi entah kenapa, Rendra merasa... ada yang lain.
Lala berjalan ke ruang tengah, menjatuhkan diri ke sofa. Ia membuka ponsel, menggulir layar tanpa benar-benar fokus. Biasanya, setelah hangout sama gengnya, Lala langsung cerita.
Hari ini, tidak. Rendra duduk di ujung sofa, menjaga jarak yang biasa saja.
“Seru?” tanyanya santai.
“seru,” jawab Lala. Singkat.
Rendra mengangguk.
“Mall rame?”
“ya... Kayak biasa. apalagi weekend”
Ia menunggu. Tidak ada lanjutan.
Rendra tidak bertanya lagi. Ia bilang ke dirinya sendiri bahwa Lala mungkin capek. Nongkrong lama. Kebanyakan ngobrol. Wajar kalau ingin diam.
Tapi tetap saja... ada yang berbeda. Lebih seperti Lala sedang membawa sesuatu pulang bukan belanjaan, tapi pikiran.
Rendra bangkit, menuju dapur. Mengambil dua gelas air dingin, lalu kembali dan menyodorkan satu ke Lala.
“Minum la.”
“Thanks.”
Jari mereka bersentuhan sebentar. Biasanya itu tidak berarti apa-apa. Hari ini pun seharusnya tidak. Tapi Rendra menangkap sesuatu di cara Lala menarik tangannya bukan menghindar, hanya... cepat.
Ia duduk lagi.
“yang lain gimana?” tanyanya, nada dibuat ringan.
“si ilya masih suka mual-mual?” tanyanya “kan terakhir dia bilang tu di grup”.
“Iya. Katanya bau kopi aja bikin pusing.”
“Kia?”
“Ngidam aneh. Pengen rujak jam sepuluh malem.”
Rendra terkekeh kecil.
“Masuk akal.”
Lala tersenyum, tapi cepat menghilang. Di situ Rendra yakin. Bukan firasat berlebihan. Ada yang mengganjal.
Ia memperhatikan Lala diam-diam. Cara ia menyilangkan kaki, lalu membukanya lagi. Cara jarinya memainkan ujung tas. Cara napasnya sedikit lebih panjang dari biasanya.
Biasanya, Rendra tidak peduli hal-hal kecil seperti ini. Ia bukan tipe yang overthinking. Tapi entah sejak kapan. mungkin sejak rumah ini tidak lagi sepi ia jadi lebih peka.
“Capek ya?” tanyanya lagi.
“sedikit”
“Bukan capek badan,” kata Rendra tanpa menoleh, “capek pikiran.”
Lala menoleh cepat.
“Kelihatan.”
Hening menyelip. Rendra tidak melanjutkan. Ia tidak ingin memaksa. Ia ingat betul kesepakatan tak tertulis mereka tidak semua hal harus langsung dibahas.
Tapi di dalam kepalanya, pikirannya sudah berbelok ke satu arah. Geng ibu - ibu. (Mereka menyebutnya) Perempuan-perempuan yang hidupnya sudah jauh melangkah. Anak. Kehamilan. Rumah tangga.
Dan Lala... baru memulai kehidupan pernikahan.
Rendra menelan ludah. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
ia berdiri, mengambil remote, menyalakan TV tanpa benar-benar memperhatikan acara apa yang muncul.
“Laper ga?” tanyanya.
“Enggak.”masih banyak diam
“Gue bikin mie ya?”
“Jangan. Lo makan aja.”
Rendra tersenyum kecil.
“Gue nanya basa-basi doang.”
Lala tertawa pelan. Kali ini lebih tulus. Tapi tetap Rendra tahu, sesuatu sedang dipikirkan Lala.
Dan yang membuat dadanya agak tidak nyaman adalah satu hal sederhana. ia ingin tahu, tapi ia juga takut kalau jawabannya ada hubungannya dengan hal-hal yang belum siap ia hadapi sepenuhnya.
Malam itu, saat mereka duduk berdampingan menonton TV jarak dekat, bahu hampir bersentuhan Rendra menyadari satu hal lain.
Ia mulai peduli pada perubahan sekecil apa pun di diri Lala.
Dan itu...
bukan kebiasaan lama.
semangat kak... salam dari Edelweiss...