NovelToon NovelToon
Anti Myth

Anti Myth

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Perperangan / Robot AI / Spiritual / Fantasi Wanita
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Mereka bilang, dulu kami sama

Dewa dan Dewi kedudukannya setara, menciptakan dunia dengan napas yang sama. Laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bahu boleh sama tinggi

Lalu datanglah Hari Keretakan

Tak ada yang tahu pasti apa yang memicunya

Yang jelas, perang saudara para penguasa alam itu berlangsung lama tanpa henti

Yang tersisa hanya tiga Dewi. Dan sebagai tanda kemenangan abadi, mereka melakukan sesuatu pada realita

Sejak saat itu, setiap anak laki-laki yang lahir akan tumbuh lebih pendek dari saudara perempuannya. Bahu mereka tak akan selebar leluhur mereka

Suara mereka tak akan menggema seperti para Dewa dulu. Mereka hidup dalam dunia yang didominasi perempuan, bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam postur, dalam kekuatan fisik, dalam segala hal yang kasatmata

Aku Sany, tidak terlalu peduli dengan legenda itu. Yang penting adalah bagaimana caranya menghilangkan Bisikan ini, setelah itu pergi mencari kerja

Bagaimana kisah Sany selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas kedua Sany part 2

Para petualang itu mengira Sany adalah rekan seprofesi yang ingin ikut serta atau malah merebut bagian dari hadiah misi mereka. Itulah sebabnya mereka menghampiri dan menanyakan niatnya dengan sikap tak ramah.

Dalam beberapa kasus, Guild memang mengirimkan petualang tambahan untuk membantu kelompok yang kesulitan. Tapi Sany jelas bukan salah satunya.

Setelah berjalan beberapa puluh langkah menjauh, tiba-tiba dentaman, teriakan, dan gemerincing senjata menerobos kesunyian. Sumbernya jelas: pertempuran sengit di lokasi petualang tadi.

Tanpa pikir panjang, Sany berbalik arah. Langkahnya yang tadinya tenang berubah menjadi lari cepat menuju sumber suara.

Benar saja. Saat Sany tiba, beberapa petualang sudah tergeletak tak berdaya. Di tengah arena, monster humanoid dengan ekor dan tanduk berkilauan emas mencengkeram leher petualang yang tadi menegurnya, wajah perempuan itu mulai membiru.

Monster itu memiliki rambut hitam yang terurai liar, dan posturnya tegak layaknya manusia, hanya saja aura keganasannya memancar kuat.

Tiba-tiba, monster itu menoleh. Matanya yang tajam mengunci Sany yang berdiri agak jauh. Monster itu melemparkan tubuh petualang yang sudah tak bergerak ke tanah, lalu bersiap menyerang.

Akan tetapi...

Alih-alih menyerang, monster itu justru mendekat dengan langkah tenang, tidak ada kesiapan bertarung, tidak ada gerakan mengancam. Sinyal ini membuat Sany semakin waspada. Kadang, musuh yang terlihat ramah justru lebih berbahaya.

"Apakah ini tipuan?" pikir Sany, siap siaga.

Monster itu berhenti tepat di hadapannya, lalu tersenyum lebar. Ekspresi yang tak lazim bagi makhluk sejenisnya.

"Hai, Master,"

Sany terperangah. Suara itu terdengar jelas di tengah sunyi pascaperkelahian.

"Siapa kau? Apa... aku pernah memeliharamu?" tanya Sany yang bingung.

"Aku Vizz," jawab monster itu, suaranya terdengar seperti gema.

"Monster piaraanmu dulu," Ia mengangkat tangannya dengan hati-hati, menunjukkan sebuah kalung usang di lehernya.

Di sana, terukir nama yang tak asing: Sany.

Di dunia ini, setiap monster peliharaan memiliki tanda pengenal, sebuah benda yang dirajut dengan sihir atau dipasang secara fisik, seperti kalung, cincin, atau gelang. Itu adalah bukti ikatan antara sang master dan monster.

Sany meneliti kalung itu. Ukirannya masih jelas, meski logamnya sudah kusam. Benar, itu namanya sendiri.

"Aku senang akhirnya bertemu lagi, Master!" Vizz menyeringai lebar, ekor emasnya bergoyang-goyang seperti anjing yang bahagia.

"Tunggu sebentar! Ada banyak hal yang harus kau jelaskan. Mulai dari mengapa kau di sini, dan mengapa kau menyerang petualang tadi," potong Sany, suaranya tegas memotong luapan emosi Vizz.

Vizz pun mulai bercerita.

Setiap kali dia terlahir kembali, setelaah tubuh lamanya musnah. Kalung itu selalu muncul di lehernya, dan ingatan tentang sang master kembali pulih. Namun, dia tidak pernah tahu di mana masternya berada. Jadi dia berkelana tanpa arah, menjelajahi dunia hanya dengan satu tujuan: mencari Sany.

Hidupnya mirip seperti Mystera, tapi tanpa petunjuk atau firasat yang jelas. Untuk bertahan, Vizz melakukan apa saja: berburu hewan kecil, memetik buah-buahan liar, bahkan sesekali mencuri makanan dari desa.

Sebagai monster omnivora, dia bisa memakan hampir segala hal. Sampai suatu hari, ketika dia mencoba mengambil persediaan gandum dari sebuah lumbung, para petualang menyergapnya. Pertempuran pun tak terhindarkan dan dari situlah dia bertemu Sany lagi.

"Aku... benar-benar minta maaf, Master," gumam Vizz, kepala tertunduk.

"Aku sudah melukai orang, dan sekarang aku jadi buronan," lanjut Vizz.

Setelah mendengar semuanya, Sany akhirnya mengerti, rasa bersalah menggerogoti hatinya. Dia telah melupakan makhluk yang begitu setia mencarinya.

Namun, penyesalan saja tidak cukup. Sekarang, dia harus memikirkan cara menyelesaikan masalah yang diciptakan Vizz. Dan mau tidak mau, tanggung jawab itu jatuh di pundaknya.

"Tenang saja, sebagai mastermu, aku akan membantumu menyelesaikan ini," ucap Sany dengan nada yang meyakinkan, tangan kanannya menepuk pundak Vizz dengan lembut.

Vizz mengangkat kepalanya. Mata monster itu berbinar, campuran haru dan harapan.

Tapi dalam pikirannya, "Sekarang, apa yang harus kulakukan?"

-------------

Di istana, Putri Nova telah selesai meninjau laporan yang baru saja diantarkan padanya. Dia berjalan menyusuri koridor marmer yang panjang, diapit oleh Faye di sampingnya dan Rey yang mengikuti dari belakang.

Mystera, yang baru saja keluar dari kamar istirahat, berpapasan dengan rombongan itu. Dia membungkuk hormat saat sang putri lewat. Namun, begitu Nova melewatinya, tangan Mystera bergerak cepat, dia menyenggol pundak Rey dengan cukup kuat hingga membuatnya limbung dan nyaris terjatuh.

Rey, yang tak menyangka, langsung mendesis kesal. Begitu Mystera melengos seolah tak terjadi apa-apa, Rey melompat bangkit dan mengejarnya.

"Hei Tunggu!"

Setiap pukulan dan tendangan Rey dilayangkan dengan emosi, namun Mystera menghindar dengan gesit, seolah menari di antara serangan. Tidak satu pun mengenai sasaran. Bahkan saat Mystera sesekali berhenti bergerak, serangan Rey meleset begitu saja, seolah-olah ada lapisan tak kasat mata yang membelokkannya.

Sampai pada satu serangan yang membuat Rey didorong hingga nyaris menabrak Nova. Rey hampir terjatuh, tapi sebelum itu terjadi, sebuah tangan dengan cekatan menahan pundaknya.

"Hentikan!" suara Nova tegas memotong ketegangan. "Mystera, apa maksudmu dengan semua ini?"

"Maaf, Yang Mulia," kata Mystera dengan senyum yang tak terselami, "Aku hanya sedang... menguji respons pengawal barumu ini."

Rey menatap senyum itu, bibir yang melengkung tipis, mata yang berbinar puas. Bukan sekadar candaan. Itu adalah ejekan yang disamarkan. Membuat darahnya mendidih.

"Ujian seperti itu tidak perlu," tegur Nova, nadanya datar namun terasa menusuk.

"Baik, Yang Mulia," jawab Mystera, sikapnya tiba-tiba patuh.

"Satu hal lagi," Nova menahan langkah, menatap Mystera dari balik bahu, "Jangan kau ulangi,"

Mystera hanya membungkuk sedikit, senyum tipis masih tersisa di sudut bibirnya. Lalu, dengan gerakan yang lancar, ia berbalik dan melangkah pergi, menghilang di ujung koridor.

Begitu Mystera pergi, Nova menarik napas halus. "Ayo," ucapnya pada Faye dan Rey, sebelum kembali berjalan menuju kantor sekretaris istana.

-------------

Di sisi lain, Sany masih berpikir. Vizz menunggu dengan sabar di sampingnya, seperti anjing penjaga yang setia.

Tiba-tiba, sekelompok monster lain muncul di kejauhan. Mungkin tertarik oleh keributan atau sekadar ingin menjarah hasil panen yang tersisa. Melihat mereka, sebuah ide terlintas di benak Sany.

"Sini," suruh Sany, memberi isyarat pada Vizz untuk mendekat. Begitu Vizz sangat dekat, Sany membisikkan sebuah rencana ke telinganya.

Vizz mengangguk perlahan, lalu berbalik menghadapi kelompok monster itu. Pertempuran singkat terjadi. Meski monster-monster itu melawan, mereka bukan tandingan Vizz.

Ada sesuatu yang berbeda dengan caranya membunuh, sebuah kemampuan yang bisa membuat regenerasi atau "keabadian" dari imaginary tidak bekerja.

Ternyata Vizz mempunyai kemampuan untuk netralisir keabadian dari imaginary, dengan keinginan untuk membunuh kemampuan itu sudah aktif.

Di dunia ini, monster takkan mati selama imajinasi yang membentuknya masih ada. Tapi Vizz memiliki cara untuk menetralisir itu, dia bisa "memutus" hubungan imajinasi dari mereka.

Caranya sama seperti saat dia menetralisir "keabadian" dari imaginary.

Setelah semua monster tak lagi bergerak, Vizz kembali ke sisi Sany. Kali ini, Sany mengucapkan sesuatu bukan mantra, tapi serangkaian kata.

Kemudian, dia menepuk pundak Vizz.

"Ayo, kita pergi,"

Vizz mengangguk patuh, dan mengikuti langkah tuannya meninggalkan ladang.

Bersambung....

1
Dania
semangat tor
Dania: sama"kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!