NovelToon NovelToon
What We Were Never Given

What We Were Never Given

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst
Popularitas:285
Nilai: 5
Nama Author: Oryelle

Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.

Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?

Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Perhatian

Pagi sekali Kala sudah duduk di ruangannya, kantor utama Atmasena. Pekerjaanya tidak ada yang berubah, tidak pula menyulitkannya, hanya saja dua hari jedanya membuat berkas menumpuk di meja. Belum lagi ditambah istrinya yang semalam kembali tidur pisah kamar, membuat fokusnya terbagi.

Seringai halus muncul di wajah Ardito, melihat kursi bos nya itu tidak lagi kosong. “Woy, kemana aja lo? enak-enakan libur, sedangkan gue disini kewalahan.” sindirnya.

“Enak memang,”setuju Kala. “Kurangi dulu semua, ambil yang penting-penting aja,” lanjutnya.

Kala tidak menyesali keputusan untuk tidak masuk kerja. Keributan kemarin justru membuatnya sadar kalau istri kecilnya itu sudah tidak bisa diabaikan lagi. Ada sedikit perhitungan yang meleset. Hingga Kala beralih untuk memprioritaskan urusan rumah tangga dahulu.

“Emang paling gampang itu tinggal ngomong, minimal mobil baru.”

“Mobil mana yang lo tandai di garasi?” tebak Kala.

“Sshh ada si bos” ringis Ardhito

Tepat sasaran, Ardito sudah mengincar koleksi mobil Kala yang akan dia minta untuk menjadi hak miliknya. Dia sudah membayangkan akan terlihat keren mengendarai mobil yang sudah lama dia amati. Sedikit malu karena ketahuan, pasti bosnya itu sudah tau dari cctv.

 “Boleh, tapi artinya beberapa bulan ini lo harus siap dan gak boleh ada yang kacau kaya kemarin. Pak Budi sampai nunggu lama.”

Wajah cerah Ardito dengan cepat berubah mengerut, “Beberapa bulan? Lo mau bulan madu?" tanya Ardito. “Ngaco banget seorang Kala yang gila kerja…”

“Boleh juga saran lo.” potong Kala.

Di kepala Kala langsung menyusun rencana berikutnya. Setahun itu waktu yang lama untuk kemudian hancur sia-sia. 

“Emang bisa tipe cewe kaya Nareya lo ajakin bulan madu? Dia tuh gampang luluhnya sama tipe cowo kaya si bocil Rakha.”

“Iya lebih nyambung.”

“Waduh di iya-in aja nih.”

“Lo bener gue udah gak bisa abai lagi. Sisa waktu gue cuma lima bulan, sebelum dia beneran minta cerai.”

“Ya lo juga payah, anak mandiri gitu lo anggurin ya dia pasti nyari cara bebas.”

“Justru karena dia mandiri makanya gue nikahin.” jawab Kala.

“Niat lo biar bisa ditinggal dan gak bikin ribet justru dia yang bakal pergi dari lo.”

Ardito benar, kondisi sulit pun Nareya bisa bertahan hidup. Hanya saja takdirnya mempertemukan dengan laki-laki seperti Kala. Anehnya hidup tidak selalu berpihak ke siapa yang bekerja keras. 

“Dia ngamuk karena gak mau punya anak. Habis berhubungan justru dia menguras kesabaran gue.”

“Langsung panik rencana lo gagal haha,” ledek Ardito “Kala seorang Atmasena yang paling terencana, bisa panik menghadapi cewe yang lima tahun lebih muda.” tawa Ardito semakin meledak. 

“Parah banget ternyata, gue bakal saranin dia ke psikolog. Dia banyak nyimpen trauma.”

“Kalau itu ternyata bukan karena trauma lo bakal paksa dia mengandung?”

Kala sudah sangat memahi keluarga Wijayanto. Bagaimana seorang anak perempuan tidak ingin menikah dan mempunyai anak, apalagi selain karena kondisi keluarga yang kurang harmonis. Wira satu-satunya yang tidak duduk di pemerintahan membuatnya berlarut dengan kegagalanya dan melupakan peranya kepada anak perempuan.

“Dia mana mungkin bisa menolak pesona gue. Bahkan kemarin sampai menyesali keputusan dia seharian. Hahah dia lucu juga.”

“Lo ketawa? Literally ketawa? Jangan-jangan lo udah jatuh cinta?” tanya Ardito.

Melihat Kala pertama kalinya membicarakan seorang perempuan dengan cara seperti itu. Satu lagi, ekspresi dan nada bicaranya yang berbeda itu juga mengarah ke sana. Tidak mungkin setahun tinggal bersama dengan status yang jelas, tidak melakukan hal apapun bukan?

“Cinta? Gue gak tau.” Kala mengangkat kedua pundak nya. “Aku bangga karena pilihanku tepat. Aku pertama baginya.”

”Manusia sok suci sudah menunjukan tanda-tanda kasmaran,”Ardito memutar bola matanya. “Lalu gue kapan Tuhan?”lanjut Ardito mengangkat kedua tanganya. 

“Persis seperti tanggapan dia juga seperti itu, kaget gue ketawa. Gue manusia tentu saja bisa tertawa.”

Ardito mengernyitkan dahinya,“Wah ini sih lo duluan yang jatuh cinta gue rasa” ujarnya.

Tiba-tiba telepon Kala berbunyi, menatap layar itu sekilas lalu menerima panggilan. Wajahnya tampak serius, sekali dia menjawab ‘mas ke butik’ lalu menutup panggilan itu.

“Gue harus pergi.” pamit Kala tanpa menunggu jawaban Ardito. 

Mata ardito mengikuti langkah tergesa Kala keluar ruangan. “Bisa gila gue, asisten udah kayak CEO. Punya bos seenaknya begini” gerutu Ardito.

***

Berkendara lima menit, Kala tiba di butik dengan kilat, “Dimana Nareya?” tanya Kala. 

“Udah aku bantu tiduran di sofa mas” ucap Kirana. Wajahnya tampak pucat pasi, khawatir dengan kakak iparnya itu. 

“Tadi apa yang dia keluhkan?” tanya Kala setelah duduk di samping Nareya. 

“Sakit perut mas, terus aku sempet kasih minyak angin tapi mbak Nareya gak respon, pingsan mas”

“Nghhh…”

Nareya mengernyitkan dahinya, tanganya memegangi perutnya. Meringis kesakitan, seperti diremas dari dalam perut. 

“Saya bantu ke rumah sakit ya?” izin Kala sudah ingin menggendong Nareya. 

Nareya menepis tangan Kala, belum juga menjawab tubuhnya melengkung ke samping sambil memeluk perutnya. 

“Dismenore, datang bulan.”ucap Nareya terbata-bata. 

“Owalah, aku air hangat dulu mas”

Kala menghembuskan napasnya, meskipun kerut di dahinya belum menghilang. Menyerupai kerut di dahi Nareya, seolah ikut merasakan sakit. Dengan cekatan Kala melepaskan sepatu hak yang masih Nareya kenakan. Lalu gerakan tangannya mengusap punggubg Nareya untuk sedikit meredakan ketegangan kram di perutnya. 

Kirana dengan cepat membawakan kompresan yang biasa dia pakai juga saat nyeri datang bulan. Membantu Nareya menaruh di perutnya. Lalu memberi obat ke Kala.

“Nanti bantu mbak Nareya minum obatnya mas, aku biasanya minum itu.” ucap Kirana tak lupa menyodorkan segelas air hangat. “Aku mau siapin baju ganti dulu sama pembalut.”lanjut Kirana. 

“Terima kasih dek,”

Untung saja ada Kirana kalau tidak Kala sudah mati kutu tidak tau harus apa. Kala paling tidak bisa melihat perempuan kesakitan. Apalagi itu mengingatkan momen Kala saat mommy nya kesakitan akan melahirkan Kirana. Satu-satunya yang dia ingat hanya pesan Adji untuk menelpon rumah sakit kalau bapaknya itu terlalu lama. Bahkan Kala saat umur sepuluh tahun harus menemani ibunya melahirkan, tanpa Adji di sana. Meski dokter tidak memperbolehkan Kala melihat, tapi mendengar erangan dan tangisan saja sudah membuatnya ngeri. 

Nareya bergerak berusaha duduk lalu dibantu Kala. Tak banyak bicara karena rasa sakitnya sudah menguras habis tenaganya. Meraih gelas yang Kala pegang lalu meminum obat yang Kirana berikan. 

“Makasih ya” ucap Nareya kepada Kirana. 

“Sama-sama mbak, ini baju buat ganti ya, sama sudah lengkap, heum itu sama pembalut. Itu baru kok belum aku pakai.” ucap Kirana tanpa menyebut pakaian dalam, menjaga agar kaka iparnya tidak malu. 

“Ahh iya jadi kotor semu sofa kamu ya.” Nareya secepat kilat berdiri lalu melihat sofa krem itu jadi ada jejak merah meluas. 

“Astaga bisa sebanyak ini, aduh nanti aku bersihkan, maaf ya.”

“Ya ampun mbak biasa aja aku paham kok, tunggu nyerinya reda dulu mbak”

Tapi Nareya sudah ngacir ke kamar mandi untuk sekalian membersihkan badanya. Lumayan lama, tapi ketika kembali Nareya melihat Kala sedang mengelap sofa itu. 

“Eh aku biar aku aja, itu kotor.”ucap Nareya 

“Kamu udah gak nyeri?” tanya Kala dengan tetap memastikan sofa itu sudah bersih. Untung saja sofanya berbahan kulit sehingga mudah dibersihkan. 

“Heum sedikit.”

“Kita pulang ya, kamu supaya istirahat di rumah. Kirana juga tadi pamit ada urusan ke rumah temannya” ajak Kala. 

Setelah itu Kala begitu memperhatikan Nareya. Sebelum sampai ke apartemen dia bahkan sempat membelikan coklat. Kala paling anti memegang handphone nya saat berkendara. Tapi tadi saat berhenti di lampu merah Kala berulang kali membaca panduan menangani dismenore. 

Nareya yang diperlakukan berlebihan kadang menampakan kekesalannya tapi sekaligus ada desiran aneh di dadanya. Suasana hatinya sedang kacau, apalagi efek hormonal menstruasi. Kadang refleks menggerutu, namun Kala dengan sabar menanggapi. 

‘Padahal mama aja gak pernah perhatian pas mens, tapi mereka…heumm gak boleh berharap lebih nanti kecewa’ batin Nareya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!