Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.
Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?
Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Bisnis Keutuhan Pernikahan
“Aku tidak mau ikut pokoknya.” ucap Nareya.
Kala masih sibuk packing dua koper besar. Sedangkan istrinya itu dari tadi hanya melihat Kala bolak-balik mengemasi pakaiannya
“Baju sudah, tinggal pakaian dalam. Kamu kalau tidak mau bergerak sendiri saya yang pilihkan semua.”
“Heh nggak! Jangan sentuh ya!” tunjuk Nareya “Aku gak mau ikut” ucap Nareya sambil menghentakkan kakinya. Tapi bergerak juga akhirnya, tak mau Kala menyentuh semua barangnya.
“Selesaikan sisanya. Kita tetap berangkat, jadi istri harus nurut”
“Pemaksa, kurang empat bulan lebih kan sampai cerai. Oke lah lumayan jalan-jalan gratis”
Nareya tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau pergi ke Amerika akan menggunakan pesawat jet pribadi. Interiornya tampak sangat mewah. Ketika lepas landas kami langsung disuguhi makan oleh pramugari cantik.
Nareya melirik Kala yang duduk di sebelahnya, tampak santai hanya dengan kaos putih dan celana pendek. Sangat kontras dengan nya yang mengenakan setelan lebih sopan. Pantas saja Kala sebelum berangkat bahkan menyarankan untuk tidak perlu makeup dan mencatok rambut. Tapi Nareya mengelak dengan dalih terbiasa rapi, pasti sekarang dia mulai menyesali tidak menuruti Kala.
“Habis makan kita istirahat lebih awal, karena besok mendarat pagi sekali.” ucap Kala.
Nareya tidak banyak protes hanya menurut kali ini, sepertinya sudah kapok. Nareya kira mereka akan tidur di seat yang mereka duduki semacam bisnis class. Kala menyeret Nareya kedalam kamar? Di pesawat ada kamar?
“Berapa harga sekali penerbangan pribadi seperti ini?” tanya Nareya.
Kala tidak merespon, tetap memejamkan matanya.
“Ck, punya suami gak asik banget.” Nareya langsung memunggungi Kala.
“Kenapa bertanya? Kamu mau ganti biaya penerbangan ini?” tawar Kala.
Kala akhirnya mengikuti permainan Nareya, mengobrol sampai istrinya itu habis energinya untuk menanyakan semua hal tentang pesawat itu. Saat menoleh dan tersenyum, menyadari dengkuran halus mulai terdengar dengan mulut sedikit terbuka.
Semua hal tentang pesawat itu tidak ada yang berubah. Pesawat yang berhasil dibeli dan kelola saat umur dua lima, hasil menentang eyang. Tapi lihat bagaimana satu unit pesawat yang dia punya sekarang beranak jadi lima buah.
Sepertinya orang-orang memang sekarang sangat suka mencoba hal baru dengan slogan khas ‘minimal sekali untuk seumur hidup’. Untuk keperluan yang sebenarnya tidak ada, tapi mereka rela membayar mahal pengalaman itu. Kepuasan ketika dokumentasi pengalaman langka itu menjadi ramai mendapat like dan komen di media sosial menjadi motivasi mereka. Kembali bekerja bahkan sampai beberapa orang menganggap remeh soal kesehatan. Tapi bagi Kala. itu tidak lebih sebagai bisnis yang menguntungkan.
***
Langit bandara Internasional Los Angeles begitu indah berhias sinar jingga. Nareya tak melewatkan momen itu untuk memfoto, meski sempat ragu karena merasa norak. Tapi Kala dengan santai meraih hpnya turut memotret keindahan langit itu. Tanpa Nareya sadari Kala sudah memotretnya dari belakang,
Menyewa kamar hotel yang tak jauh dari sana menikmati sisa keindahan langit ditemani kopi di balkoni hotel.
“Agenda kamu apa hari ini?” tanya Nareya
“Agenda saya sebulan kedepan adalah keliling Amerika denganmu.”ucap Kala ringan.
Nareya Mengernyit bingung, “Maksud pertanyaanku adalah aku ingin menyesuaikan jadwalmu mengurus bisnis, lalu aku akan jalan-jalan di sekitar sini. California, heum aku ingin ke pantai.” jelas Nareya.
“Bisnis yang saya maksud adalah kepentingan soal rumah tangga kita. Bukan bisnis soal pekerjaan yang kamu maksudkan.”
“Kayaknya terlalu pagi untuk aku terlalu lemot, coba jelaskan ulang dengan jelas.”
“Penjelasan yang sangat jelas adalah saya tidak mau kita cerai. Saya memilih kamu sungguhan memang saya mau kamu jadi istri saya. Bisnis Atmasena tidak ada yang di luar negeri, meski saya ingin membuatnya. Tapi Eyang masih terlalu keras dan kaku terhadap semua yang berbau asing.”
“Artinya aku kembali di tipu? Pengusaha seperti kamu jago sekali soal mengelabui ya.” ujar Nareya tak kalah santai nya.
Nareya sudah membuang jauh pernikahan dan berkeluarga sejak remaja. Sehingga apapun yang dia lakukan sekarang rasanya seperti tak ada makna sama sekali. Untuk apa, kalau semuanya Nareya bisa lakukan sendiri.
“Saya tahu hidup kamu sudah banyak sekali menghadapi soal kekecewaan. Tapi kasih saya kesempatan untuk membuktikan ke kamu kalau ada kebahagiaan saat bersama saya. Maaf karena setahun kemarin saya sungguh sibuk dengan urusan saya sendiri.” Kala menggeser kursinya mendekat, lalu menatap Nareya. “Saya tahu pernikahan ini diawali dengan cara yang salah. Tapi bagi saya pernikahan begitu sakral untuk dianggap hanya sebuah permainan yang bisa kapan saja diakhiri. Saya mau kamu selamanya, karena buat saya pernikahan hanya dilakukan sekali seumur hidup.”
Saat arahnya sudah jelas. Saat tekad nya sudah kuat. Saat hasilnya sudah semakin dekat, usaha sudah dikerahkan, sekali lagi harus meruntuhkannya, untuk mengambil arah baru. Sebenarnya Nareya bukan yang begitu membenci Kala sehingga meminta cerai. Hanya karena kehilangan makna hal yang terus dia lakukan membuatnya merasa tidak perlu untuk melanjutkan. Kebahagiaan? Sudah lama Nareya tidak mempertanyakan kepada dirinya sendiri, apakah selama itu dia benar-benar bahagia.
Tangan Nareya yang berada di atas pangkuanya tiba-tiba diraih, digenggam hangat oleh Kala. Tatapan teduh terasa seperti permohonan kesungguhan yang sampai tanpa terucap. Nareya seketika merasa tenang. Bahkan seperti dijanjikan tempat aman, rumah yang bisa melindunginya.
“Aku ingin sekali saja percaya dengan penipu ulung ini. Tapi aku…”