Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan di Amsterdam
Pagi itu di Amsterdam terasa tenang. Matahari muncul perlahan dibalik barisan bangunan tua bermaterial bata merah yang berjejer rapi. Ryan mengemudikan Porsche Taycan berwarna biru gelap, sebuah mobil listrik yang akhir-akhir ini menjadi favorit orang-orang untuk dibawa menyusuri sepanjang jalanan kota Amsterdam.
Suara mesinnya hampir tak terdengar, hanya ada desis halus ban yang bergesekan dengan batu bata jalanan saat mereka menyusuri kawasan Prinsengracht.
Arini menyandarkan kepalanya di jendela, matanya tak lepas memandang ke luar. Di sebelah kiri mereka, air kanal berkilau tenang, memantulkan bayangan jembatan-jembatan lengkung yang ikonik. Sepeda-sepeda yang terparkir rapi dengan keranjang bunga di depannya menjadi pemandangan yang tak bosan ia lihat.
"Pelan-pelan saja, Ryan," bisik Arini pada laki-laki itu.
"Aku ingin melihat jalanan kota lebih lama," lanjutnya.
Ryan tersenyum dan mengangguk pelan. "Bagaimana kabar Gio disana?"
Arini terkekeh, "Ya, dia baik-baik saja. Bahkan dia sekarang lebih bugar dari pada kamu,"
"Hm, pasti dia banyak olahraga sejak di Jakarta."
"Ya, selain banyak olahraga dia juga makin menyebalkan kadang-kadang," ucap Arini.
Ryan tertawa kecil. Ia Ialu membawa mobilnya melaju perlahan, melintasi kawasan Jordaan yang artistik sebelum akhirnya berhenti tepat di depan sebuah bangunan kuno yang terlihat hangat dari luar.
Mereka sampai di Café de Jaren. Meski terlihat besar dari luar, bagian dalamnya menyimpan sudut-sudut vintage yang sangat cozy, dengan lantai kayu yang sedikit berderit dan aroma kopi yang memenuhi udara.
Seorang pelayan pria dengan celemek cokelat tua menyambut mereka dengan senyum lebar yang tulus. Ryan menyebutkan namanya, dan pelayan itu segera mengangguk paham.
"Goedemorgen! Welkom bij Café de Jaren," sapa pelayan itu dengan nada ceria. (Selamat pagi! Selamat datang di Café de Jaren).
"Dank u wel," jawab Ryan singkat sambil merangkul pundak Arini. (Terima kasih).
Pelayan itu memberi isyarat agar mereka mengikutinya ke arah jendela besar yang menghadap langsung ke arah kanal.
"Loop met mij mee, alstublieft. Ik heb de beste tafel voor jullie gereserveerd," ucapnya sambil berjalan pelan. (Silakan ikut saya. Saya sudah memesankan meja terbaik untuk kalian).
Mereka berhenti di sebuah meja kayu tua di sudut ruangan. Kursinya dilapisi beludru hijau tua, terlihat sangat nyaman untuk diduduki berlama-lama.
"Alstublieft, geniet van jullie verblijf," ujar pelayan itu sebelum meletakkan buku menu di atas meja.(Silakan, nikmati kunjungan kalian)
Pelayan itu pun pergi, menyisakan Arini dan Ryan yang masih tetap duduk disana sambil melihat deretan makanan dan minuman yang tertera pada menu tersebut.
Tak berselang lama pelayan itu kembali sembari membawa buku catatan kecil serta pulpen pada tangannya. Ia menghampiri meja Ryan dan Arini dengan wajah ramah.
"Apa yang mau dipesan, kak?" tanya pria itu sopan.
Arini melirik buku menu itu. Namun ia sendiri masih bingung untuk memilih hidangan apa yang akan dimakannya. Ia beralih menatap Ryan, lalu menyentil pelan bahunya.
Ryan kemudian menatap si pelayan dan menjawab, "Dua Koffie Verkeerd, alstublieft. Dan mungkin ada saran untuk kudapan pagi ini?"
Pelayan itu tersenyum lebar, seolah sudah menyiapkan jawaban terbaiknya.
"Tentu saja! Pai apel kami dengan krim kocok sangat terkenal. Atau mungkin Anda ingin mencoba beberapa Bitterballen?"
"Klinkt goed," kata Ryan sambil mengangguk. (Kedengarannya bagus).
"Dua porsi Pai Apel, tolong."
"Komt eraan! Een momentje, alstublieft," tutup pelayan itu sebelum berlalu dengan langkah ringan. (Segera datang! Mohon tunggu sebentar)
Setelah pelayan itu pergi, Arini menyandarkan dagunya di telapak tangan, matanya menyapu keindahan interior cafe yang dipenuhi rak buku tua dan lampu gantung berwarna kekuningan.
"Koffie Verkeerd?" tanya Arini penasaran.
"Namanya unik, apa artinya?"
"Secara harfiah artinya 'kopi yang salah'," Ryan terkekeh pelan.
"Di sini, kalau kamu pesan kopi susu tapi susunya lebih banyak daripada kopinya, mereka menyebutnya begitu. Tapi rasanya sangat lembut, aku yakin kamu akan suka."
Arini mengangguk mengerti. Sudah belasan tahun ia meninggalkan kota Amsterdam, dan sekarang rasanya ia juga hampir melupakan bahasa di tempat ini.
Ryan masih menatap Arini. Ia berdehem, lalu mulai membuka suara. "Aku punya banyak pertanyaan buat kamu Arini,"
Arini tertawa kecil. Ia memandangi wajah pria dengan manik mata biru itu. "Ya, sepertinya kamu sangat merindukan aku ya? Haha,"
"tanya apa saja, silahkan. Kayak sama siapa aja, sih,"
"Are you happy there, Arini?" pertanyaan itu keluar dari mulut Ryan, membuat wanita dihadapannya itu tertegun sejenak.
Arini mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba untuk mencerna ucapan dari Ryan baru saja. Ia tersenyum tipis, berusaha untuk tetap terlihat biasa saja.
"Ya aku pikir, mungkin,"
"Semuanya terasa baik-baik saja, sampai surat itu tiba.. Dan aku melihat mereka berdua di kediaman malam itu," ucap Arini lirih.
"Omong-omong, surat itu dari kamu ya?" kini Arini yang berbalik bertanya.
Ryan mengangguk pelan, "Ya, surat itu dari aku,"
Arini mengerutkan dahinya. Bagaimana pria dihadapannya ini bisa mengetahui rahasia Adrian? Apa mereka pernah bertemu atau memiliki hubungan pertemanan sebelumnya? Arini bertanya dalam hati.
"Lalu, dari mana kamu tahu tentang kebenaran Adrian dibelakang? Apa kalian sebelumnya pernah bertemu?" tanya Arini penasaran.
"Aku pernah bertemu dengannya saat perjalanan bisnis di Thailand. Saat itu aku adalah klien dia," jawab Ryan.
"Setelah pulang dari meeting, dia mengajak pergi ke sebuah bar. Dia minum banyak sekali alkohol, dan Adrian mulai bercerita tidak jelas,"
"Namun, belum sampai disitu,"
"Di meeting kedua kami saat di Jakarta. Mungkin sekitar 2 bulan lalu, aku tidak sengaja melihat Adrian keluar dari salah satu kamar VIP bersama wanita lain." jelas Ryan.
Di tengah perbincangan keduanya, pelayan yang sebelumnya kini datang menghampiri meja mereka sembari mendorong sebuah meja dengan roda kecil di ujungnya.
Pelayan itu berhenti tepat di samping meja mereka dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah tak ingin merusak keheningan yang baru saja tercipta dari pengakuan Ryan. Aroma kayu manis yang kuat dari pai apel yang masih hangat seketika menyeruak, beradu dengan harum kopi yang lembut.
"Hier zijn jullie bestellingen," ucap pelayan itu dengan suara ramah. (Ini pesanan Anda).
Ia meletakkan dua cangkir tinggi Koffie Verkeerd yang berbusa cantik, lalu dua piring Appeltaart dengan gundukan slagroom (krim kocok) putih di sampingnya.
"Selamat menikmati makanan kalian!" tambahnya sambil tersenyum tipis sebelum akhirnya menarik kembali meja dorongnya.
Arini menatap piring di depannya, namun pikirannya masih tertinggal pada cerita Ryan. Ia mengambil garpu kecil, menusuk sedikit bagian pinggir pai apel yang renyah, tapi urung menyuapnya ke dalam mulut.
"Jadi... selama dua bulan ini kamu tahu, Ry?" tanya Arini pelan. Suaranya hampir tenggelam oleh bunyi klakson kapal wisata yang lewat di luar jendela. "Kenapa kamu baru mengirim surat itu sekarang?"
Ryan menyesap kopinya perlahan, membiarkan uap panasnya menyentuh wajahnya sejenak. Ia meletakkan cangkir itu kembali ke tatakannya tanpa suara.
"Karena aku tahu kamu tipe orang yang butuh bukti, bukan sekadar selentingan," jawab Ryan jujur.
Matanya menatap Arini dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia kenal betul sahabat lamanya ini.
"Aku butuh waktu untuk memastikan siapa wanita itu, sebelum aku benar-benar yakin bahwa Adrian memang sudah melangkah terlalu jauh."
Arini menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya. Ia memandang ke arah kanal, melihat pantulan bangunan tua di permukaan air yang bergoyang pelan.
"Dunia ini sempit ya," gumam Arini pahit.
"Aku pergi jauh-jauh ke Jakarta untuk membangun hidup dengannya, tapi malah orang dari masa laluku di Amsterdam yang menunjukkan kalau semuanya cuma sandiwara."
"Yah, tapi setidaknya aku harus mengucapkan terimakasih sama kamu. Karena berkat kamu, aku akhirnya bisa keluar dari hubungan yang tidak sehat ini,"
Diumumkan kepada khalayak bahwa akan ada seorang yg akan merasa menyesal dikemudian hari karena kesalahanya sendiri.
Demikian... ttd😁