Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.Rumah yang Tidak Sepenuhnya Pulang
Rumah itu tidak berubah.
Dindingnya masih berwarna netral, perabotannya masih tertata rapi, dan jam tua di ruang tengah masih berdetak dengan suara yang sama. Namun bagi Varrendra, ada sesuatu yang terasa asing—seolah ia kembali ke tempat yang dikenalnya, tapi bukan lagi miliknya sepenuhnya.
Ia meletakkan tas di sudut kamar lamanya. Ruangan itu bersih, terlalu bersih. Tidak ada aroma asrama, tidak ada tumpukan buku yang biasa ia abaikan. Semuanya terasa seperti persiapan untuk tamu, bukan kepulangan seorang anak.
Di dapur, suara piring beradu pelan. Rivena berdiri membelakanginya, mengenakan pakaian rumah yang sederhana—pemandangan yang jarang ia lihat. Biasanya ibunya selalu siap dengan dunia, bukan rumah.
“Kau lapar?” tanya Rivena tanpa menoleh.
“Tidak,” jawab Varrendra cepat. Terlalu cepat.
Rivena menoleh. Tatapannya singkat, menilai. “Kau harus makan.”
“Aku akan nanti.”
Itu konflik pertama mereka—kecil, nyaris tidak berarti. Tapi cara Rivena menghela napas pelan, dan cara Varrendra menghindari matanya, membuat udara di antara mereka mengeras.
“Kau baru sampai,” kata Rivena. “Setidaknya duduklah.”
Varrendra menarik kursi, duduk berhadapan dengannya. Jarak mereka dekat, tapi terasa jauh. Rivena mengambil piring, mendorongnya ke arah Varrendra.
“Aku tidak sakit,” katanya tiba-tiba.
Varrendra terdiam.
“Aku tidak membutuhkan pengawasan,” lanjut Rivena, nadanya terjaga. “Kepindahanmu tidak perlu dibungkus alasan lain.”
Varrendra menatap piring itu. “Aku tidak bilang kau sakit.”
“Tapi kau bertindak seperti itu.”
Sunyi jatuh di antara mereka. Jam berdetak lebih keras dari sebelumnya.
“Aku hanya ingin ada,” ucap Varrendra akhirnya. “Di rumah.”
Rivena mengangguk tipis. “Kehadiran tidak selalu berarti membantu.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang ia kira.
🐺🐺🐺
Di ruang lain, Gevano menyaksikan semuanya dari kejauhan. Ia tidak ikut campur. Tidak menyela. Tapi rahangnya mengeras setiap kali Rivena memijat pelipisnya, setiap kali ia terlihat lelah hanya setelah beberapa langkah.
Ia tahu.
Bukan tahu apa—tapi tahu ada sesuatu.
Malam itu, ketika Rivena naik ke kamar lebih dulu dengan alasan pusing, Gevano berdiri di depan wastafel, menatap bayangannya sendiri. Ada kekhawatiran di sana yang tidak bisa ia sebutkan.
Ia mendengar langkah Varrendra mendekat.
“Ayah,” panggilnya.
Gevano menoleh. “Ya?”
“Apa ibu sering seperti ini akhir-akhir ini?”
Pertanyaan itu sederhana. Tapi nada di baliknya berat.
Gevano menghela napas. “Ia sedang mengatur banyak hal.”
“Dan tidak membaginya,” sahut Varrendra.
“Itu caranya,” jawab Gevano, terlalu cepat.
Varrendra mengangguk, tapi matanya tidak sepenuhnya percaya. “Aku tidak ingin menjadi orang yang selalu terlambat tahu.”
Gevano menatapnya lama. Di sana, untuk pertama kalinya, ada perasaan yang mengusik—bukan kecemburuan, bukan marah.
Takut.
Takut bahwa rahasia ini bukan lagi milik mereka berdua.
Keesokan paginya, konflik kecil itu membesar tanpa suara.
Rivena muntah di kamar mandi.
Ia menutup mulutnya dengan handuk, berusaha tidak mengeluarkan suara. Nafasnya terengah, keringat dingin menempel di pelipis. Ia membilas wajahnya cepat, menatap cermin—pucat, rapuh.
Saat ia membuka pintu, Varrendra berdiri di sana.
“Apa—” katanya, lalu berhenti.
Wajah Rivena membeku. “Kau tidak seharusnya di sini.”
“Aku dengar suara air,” jawab Varrendra pelan. “Dan kau tidak menjawab saat kupanggil.”
“Aku baik-baik saja.”
“Kau bilang itu kemarin,” katanya. “Dan kau terlihat lebih lelah hari ini.”
Rivena menguatkan bahu. “Jangan menganalisisku.”
“Aku anakmu,” balas Varrendra. “Aku berhak khawatir.”
Kalimat itu menghantam tepat sasaran.
“Dan aku ibumu,” jawab Rivena dingin. “Aku tidak butuh izin untuk menyembunyikan sesuatu.”
Hening.
Kata itu—menyembunyikan—terucap tanpa sengaja.
Varrendra membeku. “Jadi memang ada.”
Rivena menyadari kesalahannya terlalu terlambat. Ia memalingkan wajah. “Kau terlalu banyak menafsirkan.”
“Tidak,” kata Varrendra, suaranya bergetar tipis. “Aku hanya… merasakannya.”
Ia melangkah mundur satu langkah. “Dan aku benci perasaan ini.”
Rivena menutup mata. Dadanya naik turun.
Konflik itu tidak meledak. Tidak ada teriakan. Tapi sesuatu retak—bukan hubungan mereka, melainkan ilusi bahwa rahasia ini bisa disimpan rapi.
Di sekolah, Selvina juga merasakan perubahan itu.
Varrendra datang terlambat. Wajahnya lebih tegang. Ia lebih mudah diam. Saat mereka duduk berdampingan di perpustakaan, jarak di antara mereka terasa berbeda—lebih rapuh.
“Kau baik-baik saja?” tanya Selvina.
Varrendra mengangguk, lalu menggeleng. “Aku tidak tahu.”
Jawaban itu jujur. Dan itu menakutkan.
Selvina menatapnya, lalu berkata pelan, “Aku merasa ada sesuatu yang berputar di sekeliling kita. Dan aku tidak tahu di mana posisiku.”
Varrendra menoleh. “Kau tidak di luar.”
“Tapi aku juga tidak di dalam,” balas Selvina. “Aku di tengah.”
Ia tersenyum kecil, getir. “Dan biasanya, yang di tengah paling dulu terluka.”
Varrendra ingin menyangkal. Tapi ia tidak bisa.
🐺🐺🐺
Malam kembali turun di rumah itu.
Gevano berdiri di dapur, menatap punggung Rivena yang sedang meminum air hangat. Cara ia memegang gelas—dua tangan, pelan—bukan kebiasaan lama.
“Kau menyembunyikan sesuatu,” kata Gevano akhirnya.
Rivena tidak menoleh. “Kau selalu tahu.”
“Aku tidak minta sekarang,” lanjutnya. “Aku hanya ingin kau tahu—aku melihatnya.”
Rivena memejamkan mata. Tangannya bergetar sedikit.
“Aku belum siap,” bisiknya.
Gevano mendekat, berhenti di jarak aman. “Tapi kau tidak sendiri.”
Di kamar lain, Varrendra berbaring dengan mata terbuka. Kata-kata itu berputar di kepalanya—ada yang disembunyikan.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak ingin memaksa kebenaran keluar.
Ia hanya takut—
bahwa ketika kebenaran itu akhirnya muncul,
semua orang yang ia sayangi
akan berubah
selamanya.
-bersambung-
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍