NovelToon NovelToon
Sorry, I Love You My Enemy

Sorry, I Love You My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:92
Nilai: 5
Nama Author:

Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.

Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.

kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.

namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.

apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..

perasaan aneh

Kemunculan Devan yang membopong Rayya sontak menarik perhatian banyak orang. Beberapa anggota rombongan menghentikan aktivitas mereka, saling berbisik, bahkan ada yang terang-terangan menatap dengan raut heran. Mama dan papa Rayya yang sejak tadi menikmati suasana pantai pun langsung berdiri begitu melihat putri mereka digendong.

“Rayya kenapa?” Bu Mariana bergegas mendekat, wajahnya pucat menahan cemas.

Pak Surya menyusul di belakangnya, langkahnya cepat namun tetap berusaha tenang.

Devan tidak banyak bicara. Ia langsung mengarahkan Rayya ke arah tim medis yang memang sudah disiagakan di kapal phinisi. Cara Devan melangkah yang mantap, serta ekspresi serius di wajahnya, membuat orang-orang yang semula bertanya-tanya mulai memahami bahwa kondisi Rayya memang membutuhkan perhatian.

“Kayaknya kakinya kambuh,” terdengar seseorang berkomentar lirih.

Begitu sampai di area medis, Rayya segera dibaringkan. Tim medis dengan sigap memeriksa pergelangan kakinya, membuka perban lama, lalu memberikan penanganan tambahan. Rayya meringis pelan ketika kakinya disentuh, namun ia berusaha tersenyum agar kedua orangtuanya tidak semakin khawatir.

“Kakinya memang kembali terkilir ringan, tapi yang lebih berbahaya tadi adalah kepanikannya,” ujar dokter setelah selesai memeriksa.

“Untuk sementara Rayya harus benar-benar istirahat dan jangan banyak bergerak.”

Bu Mariana menghela napas lega, lalu menggenggam tangan putrinya.

“Syukurlah kamu nggak kenapa-kenapa.”

Pak Surya mengangguk, sorot matanya berpindah ke arah Devan.

“Terima kasih, Van. Kalau bukan kamu, entah apa yang terjadi.”

Devan menggeleng pelan.

“Saya cuma kebetulan ada di sana, Pak. Rayya panik karena bertemu ular. Dalam kondisi seperti itu, dia nggak sadar kalau kakinya belum pulih.”

Bu Mariana tampak terkejut.

“Ular?”

Rayya mengangguk kecil.

“Aku panik, Ma. Nggak kepikiran apa-apa.”

Ucapan terima kasih kembali terucap dari kedua orangtua Rayya. Devan hanya menjawab dengan senyum singkat, lalu pamit menyingkir agar tim medis bisa bekerja lebih leluasa. Ia berdiri agak jauh, menatap laut, seolah berusaha menenangkan pikirannya sendiri.

Tak lama kemudian, dari kejauhan, kepala Tommy muncul di permukaan air. Ia baru saja selesai satu sesi snorkeling. Matanya menyapu sekeliling, menangkap pemandangan orang-orang berkumpul di area medis. Sekilas ia melihat Pak Surya, Bu Mariana, dan sosok Devan.

“Rayya, dimana dia? apa dia masih mengambil foto? atau kakinya sakit lagi dan perawatan di medis” gumamnya pelan.

Tommy mencari-cari dengan pandangan yang sedikit waspada. Rayya tidak terlihat di ujung pantai. Dugaan itu semakin kuat, pasti Rayya yang sedang ditangani. Namun anehnya, bukannya langsung berlari menghampiri, Tommy justru terdiam sejenak. Ia menimbang-nimbang.

“Pasti cuma kakinya kambuh lagi,” pikirnya.

“Ada dokter, ada papa mamanya juga.”

Keyakinan itu membuat devan memutuskan kembali melakukan snorkelingnya.

“Aku lanjut sebentar lagi,” katanya pada dirinya sendiri.

“Nanti saja aku menemui rayya setelah selesai.”

Sementara itu, Rayya yang sudah mendapat perawatan tambahan berbaring dengan kaki ditinggikan. Rasa nyeri mulai berkurang, namun pikirannya justru terasa penuh. Ia sempat menoleh ke arah laut, seolah mencari seseorang di antara keramaian, lalu kembali memejamkan mata.

Devan, dari kejauhan, memperhatikan sekilas sebelum akhirnya benar-benar menjauh. Ia merasa tugasnya sudah selesai. Namun entah mengapa, langkahnya terasa lebih berat dari biasanya, seolah ada sesuatu yang tertinggal di belakang.

Beberapa saat kemudian, seluruh aktivitas di laut resmi diakhiri. Kapal phinisi perlahan bergerak kembali menuju dermaga, membawa rombongan dengan wajah-wajah lelah namun puas. Angin sore berembus lembut, membawa aroma asin laut yang masih melekat di kulit mereka.

Setibanya di hotel, semua orang bergantian membersihkan diri dan mengganti pakaian. Tommy termasuk yang bergerak cepat. Begitu selesai mandi dan berganti baju, hal pertama yang ia lakukan adalah mencari Rayya. Dadanya terasa tidak tenang sejak ia melihat kerumunan di area medis tadi siang.

Ia menemukan Rayya duduk di sofa kamar hotel, kakinya masih dibalut perban elastis. Wajah Rayya terlihat tenang, tapi sorot matanya menyimpan kelelahan.

“Ray, kamu kenapa? Aku dengar kamu sempat kenapa-kenapa?” tanya Tommy tergesa, duduk di hadapan Rayya.

Rayya mengangkat wajahnya.

“Aku nggak apa-apa sekarang,” jawabnya pelan.

“Tadi ketemu ular di pink beach. Aku panik, jalan terlalu maksa, akhirnya kaki aku kambuh.”

Wajah Tommy berubah pucat.

“Ular?”

“Iya.”

Tommy menghela napas panjang, jelas menahan rasa bersalah.

“Harusnya aku nggak ninggalin kamu sendirian.”

Rayya tersenyum tipis, berusaha menenangkan.

“Kamu juga pengin snorkeling. Aku ngerti.”

Namun kalimat berikutnya keluar begitu saja dari mulut Rayya, tanpa ia sadari akan dampaknya.

“Untung ada Devan yang nolongin aku.”

Senyum di wajah Tommy langsung memudar. Rahangnya mengeras, dan matanya menatap kosong beberapa detik sebelum kembali pada Rayya. Ada sesuatu yang mengganggu di dadanya, perasaan tidak suka yang sulit ia jelaskan.

“Oh,” hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Dalam hati, Tommy kesal. Bukan pada Rayya, melainkan pada keadaan. Ia tidak suka membayangkan pria lain berada di posisi penting saat Rayya membutuhkannya. Terlebih Devan. pria yang sejak awal ia rasakan sebagai ancaman, meski ia tak mau mengakuinya.

Namun ia sadar, ia tidak punya hak untuk marah. Fakta paling menyakitkan adalah: ia memang tidak ada di sana.

Malam itu, rombongan sepakat mengadakan acara api unggun di area pantai dekat hotel. Lampu-lampu temaram dipasang, kayu bakar disusun melingkar, dan suara ombak menjadi latar alami yang menenangkan. Musik akustik mulai dimainkan, menciptakan suasana hangat dan akrab.

Sebagian orang tertawa lepas, sebagian lain ikut bergoyang mengikuti irama. Tommy termasuk yang larut dalam suasana. Ia tertawa bersama beberapa direksi muda, sesekali ikut bernyanyi, seolah berusaha mengusir rasa tidak nyaman di dadanya.

Namun Rayya memilih tidak turun. Dengan kondisi kakinya, ia lebih nyaman duduk di balkon kamar, memandang keramaian dari kejauhan. Dari sana, ia bisa melihat api unggun, siluet orang-orang yang bergerak, dan cahaya lampu yang berpendar lembut.

Rayya memeluk dirinya sendiri, bukan karena dingin, melainkan karena pikirannya terlalu ramai. Ia merasa terasing di tengah kebahagiaan bersama itu.

Di area api unggun, Devan duduk sembarang. Ia tidak terlalu suka keramaian seperti ini, tapi ia juga tidak ingin terlihat menghindar. Tanpa ia sadari, posisi duduknya menghadap langsung ke balkon tempat Rayya berada.

Ketika Devan mengangkat kepala, pandangannya tanpa sengaja bertemu dengan mata Rayya.

Waktu seolah berhenti.

Rayya terkejut. Devan pun sama. Tatapan mereka terkunci beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Ada perasaan aneh yang mengalir, hangat, membingungkan, dan sama sekali tidak mereka pahami.

Rayya merasa dadanya berdegup lebih cepat. Devan menelan ludah, berusaha mengalihkan pandangan, tapi terlambat. Koneksi itu sudah terjadi.

Di saat itulah Wilona, yang sejak tadi memperhatikan Devan dari kejauhan, melihat kesempatan. Dengan langkah yang dibuat-buat tidak seimbang, ia mendekat lalu pura-pura tersandung tepat di depan Devan.

“Aduh!” serunya.

Refleks, Devan menangkap tubuh Wilona agar tidak jatuh. Wilona langsung mendarat di pangkuan Devan. Tangannya dengan cepat melingkar di leher Devan, terlalu erat untuk ukuran orang yang baru saja hampir jatuh.

Wilona tersenyum lebar, puas.

“Maaf ya, aku ceroboh,” katanya manja.

Devan membeku sesaat. Situasinya terlalu cepat untuk dihindari. Namun tanpa ia sadari, matanya justru kembali terarah ke balkon, ke Rayya.

Tatapan Devan terlihat kikuk. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menghantam dadanya, meski ia sendiri tidak tahu mengapa ia merasa harus bersalah.

Rayya melihat semuanya.

Melihat Wilona di pangkuan Devan. Melihat senyum puas itu. Melihat tangan yang melingkar terlalu intim.

Entah mengapa, dadanya terasa panas. Ada amarah yang muncul tiba-tiba, bercampur kecewa yang tidak bisa ia jelaskan. Tanpa berpikir panjang, Rayya berdiri, berbalik, dan masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu balkon dengan agak keras.

Di dalam kamar, Rayya bersandar di pintu. Napasnya sedikit memburu.

“Apa sih yang aku rasakan?” gumamnya pada diri sendiri.

Ia mengusap wajahnya, bingung, kesal, dan tidak mengerti pada hatinya sendiri. Ia sudah punya Tommy. Ia baru saja menerima cinta Tommy. Seharusnya tidak ada ruang untuk perasaan lain.

Namun mengapa hatinya terasa kacau?

Sementara itu, di dekat api unggun, Devan dengan cepat menyadari posisinya. Ia dengan sopan namun tegas melepaskan tangan Wilona dari lehernya.

“Wilona, duduk yang benar,” ucapnya tenang, tapi jelas ada batas yang ia pasang.

Wilona sedikit cemberut, namun memilih duduk di samping Devan. Ia mendekat, bersikap manja, seolah ingin menunjukkan kepemilikan.

Devan tidak menegur lagi, tapi tubuhnya sedikit menjauh. Pandangannya kembali ke api unggun, meski pikirannya tertinggal di balkon yang kini gelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!