NovelToon NovelToon
Second Wife

Second Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / CEO / Janda / Selingkuh / Aliansi Pernikahan / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: yulia puspitaningrum

Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.

Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.

Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.

Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.

penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. secercah harapan

“Terima kasih, Kak… sudah menyelamatkanku,” ucap Bela lirih ketika mereka duduk berdampingan di ruang tunggu tepat di depan pintu ICU, tempat ibu Alyssa sedang berjuang antara hidup dan mati.

“Berhentilah mengucapkan terima kasih. Sejak tadi kamu sudah mengulanginya berkali-kali,” balas Alyssa dengan senyum tipis.

Namun matanya justru menatap kosong, seolah senyumnya hanya pajangan yang dipaksa muncul.

Bela tersenyum kecil memperlihatkan gigi putihnya, membuat Alyssa heran bagaimana gadis ini masih bisa terlihat ceria di tengah kekacauan yang baru saja dialaminya.

“Pipimu sudah tidak terlalu sakit?” tanya Alyssa, matanya tertuju pada bekas kemerahan di pipi Bela, jejak tamparan yang masih jelas.

“Sudah mendingan. Ini semua karena krim yang Kakak berikan.”

Alyssa mengangguk singkat. Tatapannya kembali terpaku pada pintu ICU yang tertutup rapat.

Pintu itu seperti tembok besar yang memisahkannya dengan sang ibu… dan dengan harapan terakhirnya.

Hatinya terasa perih. Ia tahu, suka atau tidak, ia harus bersiap merelakan perempuan yang telah melahirkannya.

Uang lima ratus juta terasa seperti jurang yang terlalu dalam untuk ia seberangi. Ia bisa saja menjual harga dirinya… tetapi ia telah berjanji pada ibunya untuk tidak pernah melakukan hal itu.

“Siapa yang ada di dalam sana? Dari tadi Kakak menatap kamar itu terus,” tanya Bela penasaran.

“Ibuku…” lirih Alyssa tanpa menoleh. Ia tidak ingin Bela melihat air matanya yang mulai menggenang.

“Apa ibu Kakak sedang sakit?”

Alyssa hanya mengangguk.

Bodoh sekali aku bertanya seperti itu, batin Bela memarahi dirinya sendiri.

“Kalau boleh tahu… Ibu kakak sakit apa?”

Alyssa terdiam. Ia benci menceritakan lukanya kepada orang lain, seolah ia sedang mengemis iba.

Namun beban itu terlalu berat untuk ia tanggung sendirian, ia harus membaginya mungkin dengan begitu hatinya sedikit lebih lega dan tidak terasa sesak lagi.

“Kamu yakin ingin mendengarnya?”

Bela mengangguk cepat.

“Ibuku harus dioperasi. Penyakit jantungnya semakin parah.” cerita Alyssa dengan nada yang begitu sedih.

Sedangkan Bela, gadis itu terdiam, ia menatap wajah Alyssa yang terlihat begitu melelahkan.

 Ia tau semua ini tidaklah mudah untuknya kalaupun ia berada diposisi wanita itu ia mungkin juga tidak akan mampu.

“ Maafkan aku, Kak. Aku tidak tahu penyakit ibu kakak separah itu, maaf sudah membuat kakak bersedih”

“Tidak apa-apa. Wajar kalau kamu bertanya.”

“Aku doakan semoga ibu Kakak segera sembuh.”

Sembuh.

Satu kata yang terdengar seperti mimpi mustahil.

Air mata Alyssa akhirnya jatuh. Ia menunduk, membiarkan tangannya basah akibat air mata yang ia tumpahkan.

“Bagaimana mungkin beliau sembuh… kalau aku bahkan tidak punya uang untuk operasinya,” ucapnya dengan bibir bergetar menahan tangis.

“Biayanya lima ratus juta. Aku tidak punya uang sebanyak itu.”

Bela tercekat. Angka itu terlalu besar, jika saja ia tidak menghambur hamburkan uang mungkin ia masih bisa membantu Alyssa.

 Ia jadi menyesal sebenarnya ia bisa saja meminta uang pada ibunya tapi ibunya pasti akan bertanya untuk apa uang itu... Apa yang harus ia jawab.

 Tidak mungkin ia mengatakan ingin meminjamkan temannya uang kan bisa bisa ibunya marah dan mengurung dirinya.

 Ia memang terlahir dari keluarga terpandang tapi ibunya tidak pernah suka jika ia meminjamkan uang kepada orang lain.

 Baginya yang harus didapatkan sendiri dengan kerja keras dan usaha.

“Lalu… Ayah Kakak ke mana? Kenapa beliau tidak membantu?”

“Dia…” Alyssa terdiam sejenak, membayangkan wajah ayahnya membuat ia muak, ia masih sakit hati dengan perlakuan laki laki itu.

“Sudah bahagia bersama keluarga barunya.”

Hati Bela mencelos. Ia baru benar-benar mengerti betapa beratnya hidup Alyssa selama ini.

Ibunya sakit, ayahnya tidak peduli, lengkaplah sudah penderitaan wanita itu.

 Ia semakin kasian kepadanya akhirnya bela memutuskan untuk membantunya.

"Tapi bagaimana caraku membantunya." batin Alyssa bingung.

Ditengah tengah kebingungannya tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. Tentang ibunya… yang sedang mati-matian mencarikan istri untuk kakaknya.

Jika Alyssa setuju menikah dengan kakaknya mungkin ibunya bisa membantu... Senyum langsung terukir dibibir bela.

“ Bagaimana kalau Kak Alyssa sudah menikah?” pertanyaan itu tiba tiba saja muncul dalam benaknya.

Rencananya bisa gagal jika itu terjadi karena penasaran akhirnya bela memutuskan untuk bertanya pada Alyssa tentang statusnya.

“Apa Kakak sudah menikah?”

“Aku baru saja bercerai.”

Senyum Bela yang sempat luntur kembali merekah sempurna. Bukan karena bahagia atas penderitaan orang lain, tetapi karena sebuah rencana mulai tersusun rapi di kepalanya.

“Mungkin aku punya solusi untuk masalah Kakak,” ucapnya penuh arti.

“Jangan bercanda, Bela,” sahut Alyssa pelan.

“Aku tidak bercanda. Tunggu di sini. Aku akan kembali dengan kabar baik.”

Bela berbalik, namun Alyssa menahan pergelangan tangannya.

“Kamu mau ke mana? kamu belum menceritakan padaku tentang laki-laki tadi? Apa dia pacarmu?”

Bela mengangguk cepat.

“Kenapa dia sampai marah begitu?”

“Aku ceritakan lain kali saja, Kak. Sekarang lepaskan aku… aku harus pergi.”

Alyssa akhirnya melepaskan genggaman itu. Ia menatap punggung Bela yang menjauh menyisakan dirinya seorang diri yang bersedih dalam kesepian.

..

..

..

Mobil Bela melaju kencang hingga akhirnya berhenti di halaman rumah. Ia berlari masuk, menatap ke sekeliling nya untuk mencari keberadaan ibunya.

“Di mana Mama, Pa?” serunya.

“Di kamar kakakmu,” jawab Lukas heran pasalnya anaknya datang dengan terburu buru bahkan sampai melupakan salamnya.

Bela tersenyum penuh makna sebelum bergegas menuju kamar sang kakak, membawa harapan yang mungkin bisa mengubah hidup Alyssa selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!