Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Di ruang rapat privat Brixton Group, keluarga itu duduk melingkar dalam keheningan yang menyesakkan. Jarum jam dinding berdetak pelan, menjadi satu-satunya suara yang terdengar di sela napas berat Junior, yang duduk di ujung meja mahoni panjang.
Rapat dengan para investor baru saja selesai. Junior kelelahan, ia yang paling banyak berbicara, memimpin dengan wibawa seperti biasa.
Di sisi kanannya duduk Maureen, berpenampilan rapi dan berusaha tenang. Namun tatapan Junior kepadanya dingin, nyaris tak sudi. Seindah apa pun Maureen hari itu, kegelisahan tak bisa ia sembunyikan. Sejak pertengkaran mereka beberapa hari lalu, Junior nyaris tak berbicara padanya.
"Sayang," panggil Maureen pelan.
Junior hanya memutar mata. Ia tak menoleh.
Baginya, Maureen seperti duri kecil yang mengganggu pandangan.
Di sisi kiri, orang tua Junior duduk berhadapan. Aura, ibunya, memegang cangkir kopi, mengamati mereka berdua dengan raut tak sabar. Lazar, ayahnya, sibuk membaca berita di laptop.
Junior menunduk, jelas ingin segera pulang. Ia memainkan kotak kecil berisi cincin pernikahan, hadiah dari ibunya yang baru saja diserahkan beberapa menit lalu.
"Apa sebenarnya masalahmu, Junior?" Aura membuka suara, nadanya tajam. "Kita sedang menyelesaikan persiapan akhir pernikahan. Kamu bahkan tidak berbicara pada Maureen seperti dulu, manis, bangga. Sekarang dia seperti tak terlihat olehmu. Tadi dia bahkan terlihat canggung di depan para VIP. Aku lihat dia berusaha menarik perhatianmu, tapi kamu sama sekali tak peduli. Kenapa?"
Junior tak langsung menjawab. Ia melirik Maureen sekilas, lalu kembali menatap meja.
Maureen pun diam. Bibirnya bergerak, tapi tak ada suara keluar. Ia takut, takut setiap kata justru akan memperburuk keadaan.
"Maureen, bicara!" perintah Aura.
"Ibu, kami hanya mengalami sedikit salah paham," jawab Maureen sopan. Ia menoleh ke Junior, matanya memohon. "Sayang…"
Tatapan Junior padanya tajam.
Dalam hati Maureen menjerit. 'Sial! Siapa pun yang mengirim foto itu, semoga karma menimpamu!'
Tak lama, Aura kembali berbicara, seolah menemukan ide. "Begini saja. Akan lebih baik kalau semua warisanmu segera dialihkan atas nama Kairo. Dia toh calon pewaris keluarga, bukan? Demi mengamankan masa depannya sebelum pernikahan."
Mata Maureen langsung berbinar. Itulah yang ia inginkan, semua aset keluarga Brixton atas nama anaknya. Sekali berpindah, tak bisa ditarik kembali. Aturan keluarga besar Brixton memang begitu.
Kening Junior mengernyit. "Apa?" Ia menatap ibunya tak percaya. "Aku masih hidup dan sehat. Kenapa harus sekarang? Seolah aku akan mati besok!"
"Bukan begitu maksudnya," jawab Aura. "Aku sudah bicara dengan pengacara. Itu memungkinkan. Kairo adalah anakmu. Perlindungan keluarga. Lagi pula, dia satu-satunya anak laki-laki dan cucu pertama. Seperti kamu dulu, tanpa pesaing."
Wajah Junior makin mengeras. "Ibu, ini terlalu cepat." Nada suaranya sarat kejengkelan. "Aku lelah. Selalu soal warisan. Kenapa tidak sekalian saja semua aset atas namaku kalian ambil? Supaya kalian saja yang pusing mengurusnya."
"Junior!" tegur Lazar, menghentikan bacaan.
"Ayah, tidakkah Ayah lelah mendengar mereka bicara soal warisan terus?" Junior menghentak meja. "Aku kaya, ya. Keluarga kita kaya. Tapi aku bahagia? tidak!" Tatapannya menusuk Maureen. "Lihat perempuan yang akan kunikahi. Satu-satunya harapanku untuk bahagia, tapi justru aku sial! Perempuan tak berguna! Tak tahu apa-apa!"
Ruangan membeku.
"Kenapa kamu sekejam itu pada tunanganmu?" tanya Aura, suaranya bergetar.
Maureen menatap Junior dengan mata berkaca. "Maksudmu apa? Kamu tak pernah bahagia denganku? Kenapa?"
Junior mengembuskan napas panjang. Ia berdiri, menatap semua orang di ruangan itu.
"Aku tidak ingin menikah," ucapnya tegas.
"Apa?" Aura bangkit setengah berdiri.
"Sayang!" Maureen nyaris menangis. 'Tidak! Aku sudah membayangkan menjadi Nyonya Brixton!'
"Aku tidak mencintainya," lanjut Junior. "Aku memaksa diriku untuk mencoba, tapi tidak bisa. Aku tak pernah mencintai Maureen. Satu-satunya perempuan yang kucintai adalah Alyssa."
Dunia Maureen seakan runtuh. Napasnya tercekat, lalu amarah menyusul.
"Junior!" suaranya bergetar. "Kamu mengatakan ini sekarang? Setelah semuanya? Bagaimana dengan anak kita? Alyssa mengkhianatimu! Kenapa namanya masih keluar dari mulutmu?"
"Hentikan dramanya," potong Junior pelan. "Aku tahu kamu berselingkuh, Maureen. Aku tak bisa mencintai pengkhianat. Aku akan menafkahi Kairo sepenuhnya, memberinya properti yang layak. Tapi tidak semua warisan keluarga."
Karena di lubuk hatinya, ia percaya masih ada satu anak lain, darah dan dagingnya.
Niko.
Kesadaran itu menghantamnya. Kenapa baru sekarang?
"Ini konyol!" Aura menggeram. "Kamu menghancurkan segalanya. Perempuan itu Alyssa, harus dihukum!"
"Tidak, Ibu," Junior menatap ibunya lurus. "Perempuan yang Ibu dukung itu tidur dengan pria lain."
Maureen tersentak, malu. Namun Aura tetap bersikeras.
Maureen berdiri, tangannya gemetar. "Aku tidak berselingkuh! Kamu akan meninggalkanku begitu saja? Menyamakan aku dengan Alyssa?"
"Jika aku membuktikan Alyssa tidak berbohong," kata Junior dingin, "aku akan melakukan apa pun untuk merebutnya kembali. Dan jika benar kamu menghancurkan perceraianku dulu, bersiaplah. Aku tidak akan berhenti sampai keluargamu jatuh."
Ia berbalik dan keluar dari ruang rapat.
Di koridor, ia berpapasan dengan Ashley tunangan Edgar.
"Tuan, Anda harus tahu sesuatu," ujar Ashley serius.
"Apa?"
"Tentang Maureen."
"Ikuti aku."
Mereka kembali ke ruang rapat. Semua orang menoleh.
"Ashley, ada apa?" tanya Maureen gelisah.
"Silakan dengarkan," kata Ashley, lalu meletakkan ponselnya di tengah meja dan memutar video.
Begitu suara Ziora dan Maureen terdengar, seluruh tubuh Maureen menegang.
Rekaman (Flashback)
Dalam video itu, suara tawa Maureen terdengar jelas.
"Aku membohonginya supaya Junior jadi milikku," katanya sambil tertawa. "Aku yang mengatur semuanya."
Ia mengaku memberi obat ke Alyssa dan Edgar, memanggil Hans, menata adegan, mengambil foto agar terlihat seolah ada perselingkuhan.
"Aku bangga," lanjut Maureen. "Aku akan memastikan Junior membencinya selamanya. Semua warisan harus atas nama Kairo. Anak Alyssa, Niko? Dilupakan saja."
Rekaman berhenti.
Akhir Flashback
Ruangan senyap.
Wajah Junior pucat. Rahangnya mengeras.
Maureen terduduk lemas.