Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.
Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.
Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.
Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Pagi di Qinghe datang perlahan.
Bukan pagi yang cerah, tapi cukup tenang untuk membuat orang sadar bahwa mereka masih hidup.
Penduduk mulai berani keluar rumah. Ada yang membawa air, ada yang membawa kain bersih, ada pula yang hanya berdiri memandangi jalanan yang kemarin hampir berubah jadi medan pembantaian.
Yun Ma berdiri di depan toko obat, berbicara dengan beberapa orang tua kota. “Kami tidak bisa lama,” katanya. “Tapi Qinghe harus bersiap.”
“Bersiap untuk apa, Nona?” tanya seorang pria paruh baya.
“Untuk tidak sendirian lagi,” jawab Yun Ma.
Pria itu terdiam, lalu mengangguk pelan.
—
Di dalam toko obat, Ayin mulai sadar.
Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka.
Langit-langit kayu. Bau ramuan. Suara orang berbicara pelan.
“Aku mati?” gumamnya lirih.
“Kalau mati masih bisa mengeluh, dunia ini aneh sekali,” sahut Ye dari dekat pintu sembari berbaring mengawasi luar
Ayin menoleh cepat. “Ye? Itu kau, aku tidak bermimpi?”
“Sayangnya aku nyata,” jawab Ye santai.
Ayin mencoba bangkit, tapi langsung meringis.
“Jangan bergerak,” kata Shen Yu sambil menekan bahunya kembali. “Kau kehilangan banyak tenaga.”
“Aku masih hidup,” gumam Ayin. “Itu sudah cukup.”
Yun Ma masuk ke ruangan itu.
Begitu melihat Yun Ma, mata Ayin langsung berkaca-kaca.
“Nona…” suaranya bergetar. “Maaf… aku hampir gagal.”
Yun Ma duduk di sisi ranjang. “Kau tidak gagal.”
“Tapi simbolnya...” ujar Ayin takut
“Masih berdiri,” potong Yun Ma. “Karena kau berdiri.”
Ayin menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil. “Kalau begitu… aku boleh pingsan lagi?”
“Tidak,” kata Hui cepat. “Kau belum dengar bagian terbaik.”
Ayin mengerjap. “Bagian apa?”
“Mereka lari,” jawab Hui puas. “Seperti tikus yang ketahuan.”
Ayin tertawa kecil, lalu batuk. “Bagus.”
—
Tak lama kemudian, Shen Yu memanggil semua berkumpul di halaman.
“Kita punya waktu,” katanya. “Tapi tidak banyak.”
Ye menatap ke luar. “Dewan Bayangan akan bereaksi cepat. Mereka dipermalukan.”
“Dan mereka kehilangan kontrol,” tambah Hui.
Yun Ma menatap mereka satu per satu. “Qinghe tidak bisa dibiarkan sendirian lagi.”
“Aku setuju,” kata Ayin pelan dari kursinya. “Aku bisa bertahan sekali. Tapi bukan terus-menerus.”
Shen Yu mengangguk. “Kita perlu jaringan.”
“Dan saksi,” kata Ye.
Yun Ma menoleh ke Ayin. “Kau mengenal orang-orang yang bisa dipercaya?”
Ayin berpikir sejenak. “Ada. Pedagang. Tabib keliling. Beberapa mantan penjaga yang mundur karena tidak mau tunduk.”
“Bagus,” kata Yun Ma. “Hubungi mereka.”
—
Sementara itu, jauh dari Qinghe, Dewan Bayangan berkumpul.
Ruangan batu itu dipenuhi suara napas berat.
“Qinghe gagal,” kata salah satu dengan marah.
“Bukan gagal,” sahut yang lain. “Dipukul mundur.”
“Itu lebih buruk,” bentak pria di ujung meja. “Dia datang sendiri.”
“Yun Ma,” gumam seseorang.
“Dan Xuan masih di Pasar Agung,” tambah yang lain. “Cerita sudah menyebar.”
Ruangan kembali sunyi.
Akhirnya, pria di ujung meja berdiri.“Kita ubah target.”
“Bagaimana?” tanya yang lain
“Kita tidak sentuh Yun Ma lagi,” katanya. “Kita hancurkan apa yang membuat rakyat mendengarnya.”
“Saksi?”
“Dan Pasar Agung.”
Beberapa orang terkejut. “Itu wilayah terbuka!”
“Justru itu,” jawabnya dingin. “Kalau darah tumpah di sana, cerita akan tenggelam.”
—
Di Pasar Agung, Xuan berdiri di sebuah penginapan kecil.
Lin Que masuk dengan wajah tegang. “Yang Mulia, pergerakan mencurigakan di sisi utara pasar.”
“Berapa?” tanya Xuan.
“Banyak. Terlalu rapi untuk sekadar preman.” jawab Lin Que
Xuan mengangguk. “Dewan Bayangan.”
Seorang pedagang yang menjadi saksi masuk tergesa-gesa. “Tuan Xuan! Ada orang menghasut di jalan utama!”
“Biarkan,” jawab Xuan tenang.
Pedagang itu bingung. “Biarkan?”
“Biarkan mereka bicara,” ulang Xuan. “Semakin keras mereka berteriak, semakin jelas wajah mereka.”
—
Sore itu, Pasar Agung mulai panas.
Teriakan muncul.
“Tuan Xuan hanya pura-pura baik!”
“Dia membawa bencana!”
Beberapa orang terpancing.
Namun sebelum dorongan berubah jadi pukulan, seseorang maju.
Bukan Xuan.
Seorang wanita dari Desa Batu Tua.
“Kalau dia pembunuh,” katanya lantang, “kenapa dia berdiri di sini tanpa pasukan?”
Kerumunan kembali ragu.
seorang jendral berbisik pada Lin Que, “Mereka tidak menyangka rakyat bicara.”
—
Di Qinghe, Yun Ma bersiap pergi.
Hui berdiri di sampingnya. “Kau yakin mau kembali ke Pasar Agung?”
“Xuan membutuhkan tekanan dari dua arah,” jawab Yun Ma.
Ye menyeringai. “Dan Dewan Bayangan akan bingung memilih.”
Ayin memegang tangan Yun Ma sebelum ia naik kuda. “Hati-hati.”
Yun Ma menatapnya. “Kau juga.”
Ayin tersenyum. “Qinghe tidak akan runtuh.”
—
Perjalanan kembali tidak tenang.
Beberapa pengintai muncul, lalu menghilang.
“Dipantau,” gumam Ye.
“Biarkan,” kata Yun Ma. “Aku ingin mereka tahu aku bergerak.”
—
Di Pasar Agung, malam itu, kerusuhan akhirnya pecah.
Bukan besar.
Tapi cukup untuk menarik perhatian.
Beberapa lapak dibakar.
Orang-orang berteriak.
Namun yang mengejutkan Dewan Bayangan adalah rakyat tidak langsung menyalahkan Xuan. “Ini kerjaan orang bayangan!”
“Mereka yang mulai!”
Xuan berdiri di tengah kekacauan, membantu seorang anak bangkit.
“Jangan lari ke sana,” katanya. “Ikut aku.”
Seorang pria berteriak, “Kenapa kau masih di sini?!”
Xuan menatapnya. “Karena ini bukan panggung. Ini rumah kalian.”
Kata-kata itu menyebar lebih cepat dari api.
—
Saat Yun Ma tiba di tepi Pasar Agung, ia melihat asap tipis di kejauhan.
“Sudah mulai,” kata Shen Yu.
Yun Ma mempercepat langkah.
Begitu ia memasuki pasar, tekanan itu kembali turun.
Orang-orang berhenti berteriak.
Beberapa pelaku provokasi langsung mundur.
“Ada dia…”
“Yun Ma…” Xuan menoleh.
Mata mereka bertemu.
Tidak perlu kata.
Mereka berdiri berdampingan.
Dan untuk pertama kalinya, Dewan Bayangan sadar mereka tidak lagi menghadapi satu orang.
Mereka menghadapi jaringan.
Cerita.
Dan rakyat yang mulai memilih sendiri.
—
Di ruang Dewan Bayangan, seseorang tertawa getir.
“Kita menciptakan monster.”
“Bukan,” sahut yang lain. “Kita menciptakan cermin.”
Dan mereka tidak suka dengan apa yang mereka lihat.
—
Bersambung.