Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musim Semi
Dibalik jaket tebal nya, Alina berjalan membelah jalanan yang tertutupi salju. Dia bergabung dengan orang-orang yang melawan udara dingin itu. Sesekali dia mengambil napas menciptakan sensasi asap di udara.
Akhirnya, Alina melihat sebuah bangunan setelah menempuh jarak yang cukup dari rumah nya. "Selamat siang." Sapa Alina.
"Selamat siang juga." Balas wanita yang merupakan seorang resepsionis, dia menatap Alina dengan pakaian hangat nya.
"Begini, aku kemari karena ditelfon oleh Human Resources (HRD)." Jelas Alina.
"Oh, wawancara kerja?" Alina mengangguk.
"Baiklah ms. Visser, silahkan ke lantai 5." Jelas resepsionis.
"Terimakasih." Alina segera bergegas.
*********************
"Bagaimana nona?" Bibi langsung bertanya kala melihat Alina yang kembali. Dia baru saja melepas sarung tangan nya dan juga jaket tebal nya.
"Baik bibi. Semuanya lancar, aku diterima. Dan bisa bekerja, di musim semi ini!" Jelas Alina.
"Syukurlah! Bibi senang sekali. Nona pasti kedinginan, ini bibi sudah siapkan minuman." Ujar bibi.
"Terimakasih bi. Aku tidak apa." Jelas Alina sambil menerima secangkir coklat yang beruap itu.
"Bi, sebelum aku berangkat kerja nanti. Aku akan membawa bibi jalan-jalan kecil sembari menunjukkan daerah ini." Jelas Alina kembali ditengah menikmati minuman coklat nya.
"Baik nona."
Telinga bibi terasa damai sekaligus ramai. Bagaimana tidak, ada kerinduan disana dan juga sesuatu yang cukup membuat kaget. "Apakah sekeras itu nona?" Tanya bibi kala jendela terbuka.
Alina tersenyum kecil. "Itu akan menjadi alarm pagi bibi. Seperti suara ayam yang berkokok, sekarang bibi akan terbiasa dengan suara bebek dan juga burung-burung itu." Jelas Alina.
"Ayo bi, kita keluar. Sekarang bibi akan jauh lebih suka dengan tempat ini." Lanjut Alina.
"Iya nona. Ayo Rosa!"
"Akhaaaaa." Alina hanya tersenyum tipis melihat respon bayi itu. Dengan pakaian cerah nya, seolah dia menyambut musim semi yang ada didepannya.
"Nona ini! Wahhhh!" Bibi seperti anak kecil yang takjub dengan keindahan alam dihadapannya. Setelah terkurung selama hampir 3 bulan dengan kedinginan, sekarang dia melihat bunga-bunga yang bermekaran serentak. Bukan hanya itu, kanal-kanal dibawah jembatan kecil yang mengelilingi desa itu tidak lagi membeku. Justru memberikan sensasi segar dan kebersihan yang tentunya sulit ditemukan di negara asalnya.
"Rosa, lihat!"
Moo! Moooo! Suara sapi bak nyanyian di musim semi. Hewan herbivora itu akhirnya menginjakkan kaki di rerumputan yang kembali hijau setelah bewarna putih.
"Sapi Rosa! Sapi!" Rosa melihatnya dengan mata bulatnya, binar matanya begitu memukau. Sungguh, tangannya tak lupa menunjuk sambil berinjak kegirangan.
"Oh Rosa mau berjalan? Ok." Bibi menurunkan Rosa, saat kakinya yang terbuka langsung menyentuh rerumputan yang lembut, dia berlari kecil meksipun itu terlihat langkah yang tergesa-gesa dimata orang dewasa
"Nona, Rosa menyukai nya!" Ujar bibi dengan senyuman lebar.
*********************
"Mana CV karyawan yang direkrut kemarin?" Tanya suara tegas itu.
"Ini tuan." Jelas pria yang segera memberikan nya.
"Sudah terisi semua?"
"Masih ada yang kosong tuan. Tapi, kita sudah memiliki kandidat nya. Mungkin, tuan bisa melihat kualifikasinya. Ini tinggal penentuan tempat saja dengan posisi nya." Jelas HRD, dia sesekali menyeka keningnya yang tidak basah.
"Ok!" Balas pria dengan setelan rapi itu.
"Minum anda Tuan." seorang wanita masuk dengan secangkir teh yang dibawanya. Senyum di bibir merah nya begitu lebar dengan memperhatikan langkahnya yang menghasilkan suara yang khas saat berbenturan dengan lantai.
"Kau sudah beritahu mereka kapan bekerja bukan?"
"Iya tuan. Sudah saya lakukan!"
"Bagus! Aku tidak ingin ada masalah dengan disiplin!" terang nya. Mata tajamnya langsung beralih pada wanita itu.
"kenapa masih di sini? Letakkan saja, dan keluarlah! Lanjutkan pekerjaan mu!" Ujar suara itu dengan tegas dan wajah yang mengetat.
"Ba-baik Tuan."
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak 🥰🙏