Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.
Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan Tanpa Wajah
Hujan deras mengguyur jalur lintas Sumatra saat jip hitam yang dikendarai Gito membelah kegelapan hutan di perbatasan Jambi. Di dalam kabin yang sempit, suasana terasa sangat berat. Agil menatap keluar jendela, melihat kilat yang sesekali menerangi barisan pohon sawit yang tampak seperti raksasa diam. Di sampingnya, Laila tertidur karena kelelahan, namun jemarinya masih mencengkeram erat ujung jaket Agil—seolah takut jika ia melepaskannya, suaminya akan menghilang lagi.
"Kita tidak bisa terus menggunakan jalan utama, Pak," bisik Gito, matanya waspada menatap spion. "Thorne telah mengaktifkan 'Wraith'. Mereka bukan tentara sewaan biasa. Mereka adalah unit hantu yang bergerak lewat satelit dan pengenalan wajah di setiap CCTV jalanan."
Agil mengangguk pelan. Ia tahu 'Wraith' adalah legenda urban di dunia intelijen—unit yang hanya dikirim untuk menghapus sejarah, bukan hanya orangnya. "Ke mana kita sekarang, Gito?"
"Ada sebuah pelabuhan tikus di pesisir Riau. Saya punya teman lama, mantan penyelundup yang bisa membawa kita menyeberang ke semenanjung tanpa paspor. Tapi kita harus sampai di sana sebelum fajar," jawab Gito sambil memutar kemudi masuk ke jalan tanah yang berlumpur.
Teror dari Langit
Keheningan malam tiba-tiba pecah oleh suara dengungan frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga. Laila terbangun dengan tersentak.
"Suara apa itu, Mas?" tanya Laila panik.
"Drone 'Vampire'," desis Gito. "Mereka tidak butuh lampu untuk melihat kita. Mereka menggunakan sensor panas dan gelombang mikro."
Tiba-tiba, sebuah ledakan kecil menghantam bagian belakang jip. Mobil itu terpelanting, berputar di atas lumpur sebelum akhirnya terhenti dengan posisi miring di parit. Pandangan Agil menjadi gelap sesaat. Ia merasakan darah hangat mengalir dari pelipisnya.
"Laila! Gito! Keluar!" Agil berteriak sambil menendang pintu mobil yang macet.
Mereka merangkak keluar tepat sebelum drone kedua melepaskan muatan termit yang membakar jip itu menjadi bola api raksasa. Di bawah cahaya api, Agil melihat tiga sosok berpakaian taktis serba hitam turun menggunakan tali dari helikopter yang terbang rendah tanpa lampu navigasi. Inilah Tim Wraith.
Pertempuran di Rawa Gelap
"Lari ke arah rawa! Sensor panas mereka akan terganggu oleh suhu air!" perintah Gito. Ia mengeluarkan dua granat asap terakhirnya dan meledakkannya untuk menutupi jejak mereka.
Mereka berlari menembus semak berduri, masuk ke dalam air rawa yang setinggi pinggang. Dinginnya air terasa seperti menusuk tulang, namun itu adalah satu-satunya pelindung mereka dari penglihatan termal musuh.
Agil memeluk Laila, menenggelamkan tubuh mereka hingga hanya menyisakan hidung di atas permukaan air, bersembunyi di balik akar pohon bakau yang besar. Beberapa meter dari mereka, para anggota Wraith bergerak dengan sunyi. Mereka tidak berbicara, hanya berkomunikasi melalui isyarat tangan dan lampu infra merah yang hanya bisa dilihat melalui lensa khusus.
Salah satu anggota Wraith berhenti tepat di depan pohon tempat mereka bersembunyi. Ia mengeluarkan pisau taktis yang dilapisi karbon hitam agar tidak memantulkan cahaya. Laila menutup matanya, menahan napas sekuat tenaga. Detak jantungnya terasa begitu keras hingga ia takut musuh bisa mendengarnya.
DOR!
Tembakan pengalih perhatian dari Gito di sisi lain rawa membuat anggota Wraith itu berbalik dan melepaskan tembakan balasan.
"Pak Agil, bawa Ibu lewat jalur air di kiri! Saya akan memancing mereka ke arah perbukitan!" suara Gito terdengar dari radio panggil kecil yang sudah rusak.
"Gito, jangan!" Agil mencoba menjawab, namun radio itu mati total. Gito sedang melakukan misi bunuh diri untuk memberi mereka waktu.
Janji di Tengah Badai
Agil menarik Laila melewati arus air yang deras. Mereka terus bergerak hingga mencapai sebuah gubuk nelayan yang ditinggalkan di tepi sungai besar. Di sana, sebuah perahu motor kayu kecil tertambat.
"Mas... kita meninggalkan Gito lagi," isak Laila saat mereka naik ke atas perahu.
"Gito tahu apa yang dia lakukan, Laila. Dia ingin kita selamat," Agil mencoba menghidupkan mesin perahu dengan tarikan tangan yang gemetar. Setelah tiga kali percobaan, mesin itu menderu pelan.
Saat mereka mulai menjauh dari tepian, sebuah laser merah tipis muncul di dada Agil.
"Mas, awas!" Laila mendorong Agil hingga terjatuh ke dasar perahu.
Cring!
Peluru dari senapan runduk (sniper) mengenai mesin perahu, memicu percikan api. Perahu itu kini kehilangan tenaga dan hanya hanyut terbawa arus sungai yang menuju ke arah laut lepas.
Dari kegelapan di tepian sungai, Thorne muncul. Ia tidak lagi mengenakan jas abu-abu, melainkan jaket taktis hitam. Ia memegang senapan runduk dengan tenang, matanya menatap tajam ke arah perahu yang hanyut.
"Kau tidak bisa lari dari takdirmu, Agil!" teriak Thorne. "Kau memiliki sesuatu di dalam memorimu yang lebih berharga dari sekadar chip. Ayahmu menanamkan kode itu dalam bentuk hipnosis pemicu suara sejak kau kecil! Kau adalah server hidupnya!"
Agil tertegun. Kata-kata Thorne masuk ke dalam pikirannya seperti racun. Ia ingat mimpi-mimpi aneh yang sering ia alami saat kecil—deretan angka dan kata-kata dalam bahasa Jerman yang selalu dibisikkan ayahnya sebelum tidur. Selama ini ia mengira itu hanya dongeng, ternyata itu adalah data rahasia yang dikodekan ke dalam alam bawah sadarnya.
Rahasia di Dalam Jiwa
"Mas... apa yang dia bicarakan?" tanya Laila, ketakutan melihat ekspresi wajah Agil yang berubah kosong.
"Laila... jika apa yang dia katakan benar... maka aku adalah ancaman terbesar bagimu," bisik Agil. Ia mulai mengingat fragmen-fragmen kode yang terkunci di kepalanya. Pemicu suara. Jika Thorne mengetahui kata pemicunya, Agil akan menjadi budak tanpa kehendak yang akan membocorkan semua rahasia Konsorsium.
"Tidak, Mas! Kamu adalah suamiku, bukan server!" Laila memegang wajah Agil dengan kedua tangannya. "Kita akan menemukan cara untuk menghapus itu. Kita akan ke luar negeri, mencari dokter terbaik, siapa pun..."
Tiba-tiba, perahu mereka menabrak batang pohon yang hanyut dan terbalik. Agil dan Laila terlempar ke dalam air yang ganas. Dalam kekacauan itu, Agil melihat Thorne bersiap melepaskan tembakan terakhir.
Namun, sebuah ledakan besar terjadi di pinggir sungai tepat di posisi Thorne berdiri. Gito muncul dari balik semak dengan pelontar granat terakhirnya.
"Pergi, Pak Agil! Jaga Ibu!" teriak Gito sebelum ia menerjang Thorne secara fisik, keduanya jatuh bergulat masuk ke dalam arus sungai yang dalam.
Arus Takdir
Agil berhasil meraih sebatang kayu besar dan menarik Laila ke atasnya. Mereka terbawa arus menuju muara, sementara di belakang mereka, suara pertempuran antara Gito dan Thorne hilang ditelan suara gemuruh hujan dan air terjun kecil di depan mata.
Dunia menjadi putih. Dingin. Dan sunyi.
Pagi harinya, seorang nelayan di pesisir Riau menemukan seorang wanita terdampar di pasir putih. Wanita itu adalah Laila. Ia sendirian. Tidak ada tanda-tanda Agil, tidak ada tanda-tanda Gito.
Laila terbangun dengan tersengal-sengal, memanggil nama Agil hingga suaranya habis. Di tangannya, ia menemukan selembar kertas basah yang diselipkan Agil ke dalam sakunya sebelum mereka terpisah oleh arus.
“Laila, jika kau membaca ini, carilah seseorang bernama 'The Watcher' di Singapura. Dia adalah musuh bebuyutan Konsorsium. Hanya dia yang bisa membantuku... atau menghapusku dari dunia ini. Jangan mencariku, biarkan aku yang menemukanmu saat jiwaku sudah kembali menjadi milikku.”
Laila menatap laut lepas yang luas. Perang keluarga Baskoro telah berakhir, namun perang untuk jiwa Agil baru saja dimulai. Di suatu tempat di luar sana, Agil mungkin sedang diculik oleh Thorne, atau sedang berjuang melawan kode di dalam kepalanya sendiri.
Dan Laila, yang dulu hanyalah seorang istri yang tertindas, kini berdiri tegak dengan api balas dendam yang baru. Ia tidak akan lagi menjadi bidak. Ia akan menjadi pemain utama untuk menjemput suaminya kembali.