Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 24.
Tanpa pikir panjang, Jenny menyentak heels nya dari kaki lalu melemparkannya tepat ke arah punggung Arga.
Bugh!
“Argh! Sial!” umpatan itu keluar dari mulut Arga, langkahnya seketika terhenti sebelum dia sempat mendekati Ethan. Tubuhnya berputar cepat, sorot mata pria itu menyala penuh kejengkelan saat menatap Jenny.
“Kau—!”
“Ga! Jangan gila!” desis Jenny tajam. “Ini tempat umum, kamu mau bikin masalah?”
Arga menoleh, rahangnya mengeras. Napasnya berat, jelas menahan amarah yang mendidih. “Dia orang yang bikin Milea nggak bisa melihat, dan sekarang dia muncul lagi seolah nggak terjadi apa-apa.”
“Justru karena itu, kita nggak boleh gegabah!” Jenny menarik tangan Arga kembali ke tempat duduk mereka.
Arga menghembuskan napas kasar, lalu duduk kembali dengan gerakan frustrasi. “Terus kita harus diam aja?”
Jenny melirik ke arah Ethan lagi. Pria itu berdiri sendirian di dekat meja tinggi, memegang gelas tanpa benar-benar meminumnya. Tatapannya berkeliling, bukan menikmati suasana klub melainkan seperti sedang mencari sesuatu atau seseorang.
“Enggak, kita akan terus awasi dia.”
“Awasi?” Arga menyeringai miring. “Kamu mau jadi detektif sekarang?”
“Aku serius,” kata Jenny, nadanya turun tapi tegas. “Dia bukan tipe mantan yang datang buat minta maaf lalu pergi. Cara dia lihat Milea tadi di mall… itu tatapan kepemilikan.”
Arga terdiam, lalu Jenny menceritakan kisah cinta Milea dan Ethan di masa lalu dan juga tentang kecelakaan yang terjadi. Setelah mendengarnya, Arga kini mempunyai keyakinan seperti Jenny, jika Ethan sepertinya masih terobsesi pada Milea.
“Rangga sudah tahu?” tanya Arga.
Jenny mengangguk. “Rangga sudah tahu, dia pasti bakal bertindak.”
Arga mengangguk pelan, tapi matanya masih menatap Ethan dengan penuh kewaspadaan. “Tapi kalau Rangga lengah?”
Jenny terdiam sesaat, lalu berdiri. “Kalau begitu, kita pastikan Milea nggak pernah sendirian.”
Di saat yang sama, Ethan bergerak. Ia berjalan melewati kerumunan, menuju pintu keluar klub. Jenny dan Arga saling berpandangan.
“Dia pergi,” gumam Arga.
“Cepat! Kita ikuti!” Jenny gegas berdiri untuk mengikuti Ethan, ada firasat buruk yang merayap di dadanya.
Namun sayangnya, mereka berdua kehilangan jejak Ethan.
“Sial!“ Jenny menendang udara dengan kesal.
Akhirnya, Jenny memutuskan untuk pulang.
Jenny tiba di rumah Milea tepat pukul sepuluh malam. Arga mengantarnya sampai ke depan pagar, mesin mobil masih menyala ketika Jenny sudah menurunkan tasnya.
“Thanks, Ga. Sana gih, cepet pulang,” usir Jenny santai.
Arga mendengus kesal. “Habis manis, sepah dibuang. Kalau nggak inget kita temenan sejak kecil, ogah aku nganterin. Cih!”
“Kamu sendiri yang maksa nganter,” balas Jenny sambil menyeringai. “Aku tahu maksud kamu. Pengen ngecek keadaan Milea, kan? Sekarang malah pura-pura jadi korban.”
Arga melirik tajam, lalu tanpa menjawab lagi ia menancap gas. Mobil itu melaju meninggalkan Jenny sebelum mulut wanita itu kembali nyerocos.
Jenny menggeleng-gelengkan kepala, lalu berbalik menuju pintu rumah. Namun, langkahnya terhenti.
Ada sesuatu.
Sebuah pergerakan samar di balik gelap, tak jauh dari pagar rumah.
“Woi! Siapa itu?!” teriak Jenny refleks, suaranya membelah keheningan malam.
Dari balik bayangan, sepasang mata dingin menatapnya tanpa emosi. Jenny menelan ludah tapi tetap melangkah mendekat, jantungnya berdetak semakin cepat.
Belum sempat ia mencapai sumber bayangan itu, pintu depan rumah mendadak terbuka.
“Jen! Masuk!”
Suara Rangga membuat Jenny tersentak, wanita itu segera berbalik dan masuk ke dalam tanpa menoleh lagi.
Setelah mengunci pintu, Rangga langsung menarik gorden sedikit, mengintip ke luar dengan ekspresi waspada.
“Ada apa? Kamu juga lihat orang mencurigakan?” Tanya Jenny.
Rangga mengangguk.
“Cuma gerakan samar. Tapi aku yakin… ada seseorang yang mengawasi rumah ini.” Pria itu lalu menurunkan gordennya perlahan. “Besok saja kita bicarakan, kamu tidur dulu.”
Jenny ingin menceritakan kejadian di klub, tentang dia melihat Ethan disana. Namun melihat wajah Rangga yang tampak kelelahan, niat itu ia urungkan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia masuk ke kamar tamu.
Keesokan paginya, Jenny terbangun oleh dering ponsel yang memekakkan. Layar menunjukkan satu panggilan tak terjawab dari ibunya, ia menghela napas pelan.
Pasti soal perjodohan lagi, pikirnya.
Namun ponsel itu kembali berdering, kali ini tanpa jeda. Jenny akhirnya mengangkat.
“Mah, ini masih pagi. Ada apa?”
Suara di seberang terdengar gemetar. “Jen… Papa kamu baru saja dipecat dari perusahaan.”
Tubuh Jenny menegang. “Dipecat? Kenapa?”
“Katanya… ini ada hubungannya sama kamu,” lanjut ibunya, nyaris berbisik. “Jen, kamu ada bikin masalah apa?”
“Aku nggak ngelakuin apa-apa,” potong Jenny cepat. “Aku cuma nolak perjodohan itu.”
“Tapi keluarga Vino nggak mungkin setega ini, Papa kamu sudah kerja belasan tahun di perusahaan mereka…”
Jenny menarik napas panjang, memaksa suaranya tetap tenang. “Mah, tenang dulu. Aku akan cari tahu, nggak mungkin Papa dipecat tanpa alasan jelas.”
“Baik… Mama tunggu kabar kamu.”
Panggilan terputus.
Jenny menatap layar ponselnya yang menghitam, kepalanya dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk.
Siapa?
Siapa yang punya dendam sebesar ini padanya?
“Apa aku menyinggung seseorang…?” gumamnya pelan.
Getaran ponsel kembali terasa di telapak tangannya.
Sebuah pesan masuk.
[Jenny, ini baru permulaan. Kalau kamu ingin keluargamu baik-baik saja dan keselamatan mereka terjamin, ikuti keinginanku. Aku ingin informasi keseharian Milea. Dan satu hal lagi... aku tahu kamu mantan kekasih suami Milea. Aku ingin kamu memisahkan mereka, dengan cara apa pun.]
Wajah Jenny memucat, jari-jarinya gemetar saat membaca ulang pesan itu.
“Aku tahu ini ulah siapa…” bisiknya lirih.
Nama itu terlintas jelas di kepalanya—Ethan.
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌