Kisah sepuluh orang pecinta alam yang sedang melakukan wisata alam disebuah hutan untuk mengunjungi situs peninggalan purbakala di Goa Istana Alas Purwo yang dianggap sangat menantang.
Hutan Alas Purwo adalah salah satu hutan terangker di Indonesia, dimana dinyatakan sebagai salah satu gerbang menuju alam ghaib.
Akan tetapi, petualangan itu membawa mereka pada sebuah masalah, dimana tanpa sengaja, salah satu diantaranya mengambil sebuah benda purbakala dan kitab kuno yang membuat mereka harus mengalami hal mengerikan. Hal itu membuat mereka mengalami mutasi dan menjadi petaka yang mencekam.
Apakah mereka dapat terbebas dari semua itu? ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sendang Srengenge-2
******
Axel dan Alessa saling tatap, entah apa yang sedang mereka fikirkan.
Pemuda itu menatap liontin dengan batu permata berwarna hitam dan kitab kuno berwarna hitam dengan tulisan hanacaraka ditangannya. Tulisan itu menghunakan aksara yang tak dapat mereka baca dengan jelas, sebab tulisan itu berukuran sangat kecil.
"Apaan ini?" tanya Alessa, sembari ikut memegang liontin dan memperhatikannya dengan seksama.
Axel menggelengkan kepalanya. Ia juga baru pertama kali melihatnya. "Batu permatanya ini asli, bisa kita jual setelah pulang dari sini," Axel mengulas senyum sumringah, sedangkan ia ingin membuang kitab tersebut, sebab merasa tak membutuhkannya.
Akan tetapi, Alessa mencegahnya. "Tunggu, untukku saja, aku akan mempelajari isinya, ini kitab kuno, pasti ada sebuah rahasia didalamnya." gadis itu mengambilnya dari tangan Axel, lalu menyimpannya didalam saku celananya.
Saat bersamaan, kepulan asap hitam keluar dari dalam kitab kuno tersebut, meliuk-liuk diatara cela selangkanya.
Alessa kembali merasakan organ intinya berkedut, ada sesuatu yang seolah memasuki rahimnya setelah ia menyimpan kitab tersebut disaku celana pendeknya, dan berada tepat dimulut goa pribadinya.
"Xel, aku kok merasa jadi hyper banget, ya?" ucapnya dengan gelisah. Ia tidak tahu apa yang terjadi padanya. Rasanya sangat gatal, dan meminta pemuda itu kembali memuaskannya.
Axel tersenyum smirk. "Heeem, kau mau lagi?" tanya Axel dengan terkekeh, sebab ia juga merasa jika ada yang aneh pada tubunya, dan dengan ceroboh ia mengenakan liontin bermata hitam tersebut, lalu menyembunyikannya dibalik jaket.
"Iya, gak tau kenapa kok pengen terus." Alessa tanpa malu mengakuinya. Ia menggerakkan kedua kakinya hingga merapat, desakan yang tak wajar terus menyerangnya.
"Aku ingin keluar dari goa, sepertinya ditengah hutan ada sensasi berbedanya," saran Axel, lalu mengajak Alessa keluar dari goa, dan mereka menuju sebatang pohon berukuran besar yang ada disamping dinding luar goa.
Disini aman, ya sudah, buruan, aku gak tahan," desak Alessa, lalu memberikan akses masuk untuk dijamah oleh pemuda tersebut.
Sementara itu, Nathan masih merasakan pusing dikepalanya. Perutnya mual, sebab ia baru pertama kalinya berhadapan langsung dengan penampakan berbagai jenis makhluk astral dengan berbagai bentuk yang menyeramkan.
Disaat dalam kesakitannya, terlihat seorang gadis cantik berkebaya hitam dengan kain berbahan beludru menghampirinya. Wajahnya sangat teduh, mengulas senyum yang sangat ramah dan menawan.
Kehadirannya menyebarkan aroma melati yang sangat kuat, dan membuat Nathan merasakan hawa dingin yang menjalar dengan cepat keseluruh tubuhnya.
Akan tetapi, ia tak merasa takut sedikitpun, sebab aura yang dihadirkan begitu positif.
"Kemarilah." ajaknya pada Nathan yang tampak kliyengan dan merasakan denyutan dikepalanya.
Pemuda itu tak dapat menolak ajakan sang gadis jelita. Ia mengikuti langkah gadis itu yang membawanya ke tepian sendang Srengenge.
Gadis itu duduk disana, lalu diikuti oleh Nathan. Terlihat beberapa orang sedang meminum airnya, berharap mendapatkan khasiat yang diinginkan dengan ritual yang sudah mereka jalani.
"Minumlah airnya, sakit kepalamu akan mereda," titahnya dengan nada yang sangat lembut.
Nathan hanya dapat mengangguk. Wanita cantik itu sungguh menghipnotisnya, dan membuat sang pemuda berjongkok, lalu merapatkan dua telapak tangannya, dan meminum airnya.
Air tersebut terasa hangat, dan juga menyegarkan, mengalir melalui tenggorokannya.
Sesaat ia merasakan seluruh sarafnya terasa menegang, diikuti darah yang mengalir sempurna, dan benar saja, pusing dikepalanya perlahan mereda, dan ia merasakan tubuhnya cukup segar dan bugar.
Nathan menoleh ke arah sang wanita, wajah yang sama, dengan mata teduh dan rupawan. Ia terlihat seperti keturunan bangsawan pada masa kerajaan. "Terimakasih, kalau boleh tau, kamu siapa?" tanya pemuda itu dengan sopan, tak ingin membuat orang yang sudah menolongnya tersinggung.
"Namaku Rajapatni Sri Rajendra Dyah Dewi Gayatri." sahutnya dengan begitu anggun, menandakan tatakrama yang sangat begitu santun.
Nathan mengerutkan keningnya. Ia merasa jika nama itu tak asing ditelinganya. "Namamu sangat mirip.dengan tokoh puteri dari seorang Raja Kertanegara dari Singasari dan menikah dengan seorang Raja Raden Wijaya yang merupakan pendiri Kerajaan Majapahit," ucapnya dengan mengingat sebuah sejarah peradaban yang pernah ia pelajari saat semasa disekolah.
Wanita muda itu kembali mengulas senyum yang sangat indah, memancarkan pesona yang sangat luar biasa. "Setelah ini, kau akan terbiasa dengan melihat makhluk ghaib yang berbeda alam denganmu, maka belajarlah untuk tenang." Dewi Gayatri tak menanggapi ucapan Nathan yang menyinggung siapa jati dirinya.
"Tapi jawab dulu, apakah benar kamu Dewi Gayatri permaisuri Raden Wijaya?" Nathan seolah ingin tahu lebih dalam siapa wanita dihadapannya.
"Tak perlu mencari tahu siapa aku, tetapi dengarkan aku, dua sahabatmu sudah melanggar pantangan, akan ada musibah besar yang datang, cepat tinggalkan tempat ini, dan minta kedua temanmu itu segera mengembalikan dua benda yang dicuri, sebelum penghuni Alas Purwo melakukan penyerangan," ucapnya dengan nada serius.
Nathan tersentak kaget, siapa yang melanggar aturan, dan benda apa yang dicuri? Berbagai pertanyaan memenuhi benaknya. Pemuda itu ingin bertanya lebih jauh, tetapi wanita cantik itu sudah menghilang dari hadapannya, hanya aroma melati yang menguar diudara dan tertinggal sebagai jejak kehadirannya.
Pemuda itu mencari keberadaan sang wanita dengan wajah kebingungan. Ia hanya melihat para wisatawan dan juga makhluk menyeramkan dengan berbagai bentuk yang menyeramkan berbaur menjadi satu.
Sena yang melihat Nathan kebingungan, bergegas menghampirinya. Ia menyentuh pundak sang pemuda.
"Nath." panggilnya dengan suara yang mengejutkan Nathan.
"Hah!" pemuda itu tersentak kaget. "Sena! Ngagetin saja!" sungutnya dengan nafas yang tersengal, sembari memegangi dadanya yang bergemuruh.
"Kamu cari siapa?" tanyanya penuh selidik, sembari ikut mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Dewi Gayatri," sahutnya dengan cepat, sembari mencari keberadaan sosok wanita tersebut.
"Dewi Gayatri? Kamu mengigau ya?" Sena menepuk pipi Nathan, berusaha menyadarkan pemuda.
Nathan terdiam. Ia merenung sejenak, mungkin ini adalah peristiwa tak biasa, ia harus merahasiakannya dari rekannya.
"Sebaiknya kita pulang, hari sudah semakin condong ke barat, kita tidak noleh menginap digoa ini," pesannya pada Sena, ia melihat jika tatapan para penghuni goa istana mulai tak bersahabat dengan mereka.
"Iya, tetapi kemana Alessa dan Axel? Tidak terlihat sejak tadi, kita harus pulang lengkap, sebab pergi juga lengkap," pesan Sena pada Nathan. Meskipun pemuda itu pimpinan rombongan, tetapi ia berusaha mengingatkan.
Sementara itu, Alessa dan Axel sudah selesai bercocok tanam, mereka tak menyadari, jika ada banyak pasang mata yang memperhatikan perbuatan mereka, dan itu membuat bulu kuduk keduanya meremang.
"Udah, yuk. Kita kembali goa." ajak Sena, sembari membenahi celananya.
Axel menganggukkan kepalanya, dan mereka bergegas pergi meninggalkan lokasi, berniat kembali masuk ke goa, dan saat melintasi jalanan, mereka menemukan ada banyak sesaji dalam nampan yang ditinggalkan pemiliknya.
Keduanya saling pandang, dan tertawa cekikikan.
Meskipun gadis itu masih merasakan gatal dibagian organ intinya, tak membuat ia jera untuk berbuat aneh.
"Aku ada ide." Alesaa memanggil Axel agar mendekat ke arahnya, lalu gadis itu berbisik kepada sang pemuda, dan membuat mereka tertawa cekikikan, entah apa yang sedang mereka rencanakan.
Sendang Srengenge yang dipercaya dapat memberikan aura tampan dan juga cantik, terletak didalam goa istana, Alas Purwo Banyuwangi--Jawa Timur
kasihan yaa para keluarga nya yg kebingungan mencari keberadaan mereka semuanya 😔
Semoga Naura dan Kael serta Nathan bisa menemukan kitab kuno itu, sehingga mereka bisa bebas dari hutan Alas Purwo.. 🙏