NovelToon NovelToon
Ksatria Untuk Alisa

Ksatria Untuk Alisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.

“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.

Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”

“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: UJIAN TERAKHIR SANG KSATRIA

Udara pagi di markas batalyon terasa lebih tajam dari biasanya, membawa sisa-isanya embun yang membasahi aspal lapangan apel. Baru dua hari sejak jamuan makan malam yang menegangkan itu, Satria kembali dipanggil ke ruang kerja Mayor Cakra. Kali ini, tidak ada aroma masakan rumahan atau senyum jenaka Alisa. Yang ada hanyalah Cakra yang duduk tegak di balik meja besarnya, dengan sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel rapat di hadapannya. Tatapan Cakra kali ini tidak mengandung amarah, namun ada sebuah kedalaman yang membuat Satria secara otomatis berdiri dalam posisi sikap sempurna.

"Duduk, Satria," perintah Cakra pendek. Ia menggeser amplop itu ke tengah meja. "Ini bukan perintah operasi dari Mabes, tapi ini adalah misi paling penting yang akan aku percayakan padamu. Di dalam sini ada brosur dan formulir pendaftaran program residensi penulis muda di Jakarta, sekaligus jalur beasiswa universitas unggulan yang bekerja sama dengan kementerian. Alisa belum tahu soal ini."

Satria tertegun, tangannya yang hendak meraih amplop itu tertahan di udara. Ia menatap Cakra dengan bingung. Sebagai perwira yang cerdas, ia segera menangkap arah pembicaraan ini. Alisa akan segera lulus SMA, dan bakatnya yang besar memang seharusnya mendapat panggung yang lebih luas daripada sekadar joglo di pangkalan terpencil. Namun, Jakarta berarti jarak. Jakarta berarti perpisahan.

"Misi kamu adalah meyakinkan Alisa untuk mengambil kesempatan ini," lanjut Cakra, suaranya kini terdengar lebih sebagai seorang ayah daripada seorang komandan. "Dia anak yang sangat perasa, Satria. Aku tahu dia ragu untuk pergi karena dia mengkhawatirkanku yang sebentar lagi memasuki masa persiapan pensiun. Dan mungkin... dia juga ragu karena ada kamu di sini. Ujianmu adalah ini: apakah kamu akan menjadi jangkar yang menahannya di sini demi egomu, atau menjadi angin yang meniup layarnya agar dia bisa terbang jauh? Aku ingin tahu, ksatria macam apa kamu bagi putriku."

Pergulatan di Balik Senyum

Satria keluar dari ruang kerja Cakra dengan langkah yang terasa berat. Amplop cokelat itu terasa seperti bara api di tangannya. Ia berjalan menuju ruang transmisi, namun pikirannya melayang jauh. Di koridor, ia berpapasan dengan Damar yang sedang memeriksa inventaris kabel. Melihat wajah keponakannya yang mendadak mendung, Damar langsung menyergapnya.

"Kenapa wajahmu? Baru saja kemarin tersenyum sendiri sampai gigi kering, sekarang sudah seperti habis kena hukuman disiplin," goda Damar. Namun, saat melihat amplop cokelat itu, tawa Damar mereda. Ia mengerti beban yang sedang dipikul Satria. "Cakra memberikan 'bola panas' itu padamu, ya? Dia memang licik kalau soal menguji mental perwira muda."

"Ini bukan soal licik, Om. Ini soal masa depan Alisa," bisik Satria. "Kalau aku meyakinkannya untuk pergi, aku mungkin tidak akan melihatnya lagi untuk waktu yang lama. Tapi kalau aku diam saja, aku sama saja dengan membunuh mimpinya."

Damar menepuk pundak Satria dengan mantap. "Seorang ksatria tidak pernah memelihara burung di dalam sangkar jika dia benar-benar mencintai sayapnya, Sat. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."

Dialog di Joglo: Melepas dengan Cinta

Sore itu, Satria menemui Alisa di joglo. Gadis itu sedang asyik menandatangani beberapa eksemplar bukunya yang akan dikirim untuk pemenang giveaway di media sosial. Ia tampak begitu bahagia, begitu bercahaya di bawah sinar matahari senja. Satria menarik napas panjang, menenangkan debaran jantungnya yang tidak keruan sebelum meletakkan amplop cokelat itu di atas meja kayu.

"Kak Satria? Apa itu? Laporan teknis lagi?" tanya Alisa sambil mendongak, matanya berbinar melihat kedatangan Satria.

"Ini masa depanmu, Alisa," ujar Satria lembut. Ia duduk di hadapannya, menatap Alisa dengan tatapan paling jujur yang pernah ia miliki. "Ayahmu memintaku memberikan ini padamu. Ini program residensi di Jakarta. Kamu akan belajar langsung dari penulis-penulis besar, dan ada jalur beasiswa penuh untuk kuliahmu nanti."

Wajah Alisa yang semula ceria perlahan berubah menjadi ragu. Ia membuka amplop itu, membaca isinya dengan cepat, lalu menatap Satria dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tapi, Kak... Jakarta itu jauh. Ayah sebentar lagi pensiun, dia akan sendirian di sini. Dan... dan Kakak juga baru saja pindah ke sini. Bagaimana kalau aku pergi?"

Satria meraih tangan Alisa, menggenggamnya dengan mantap—sebuah gerakan berani yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. "Alisa, dengarkan Kakak. Pangkalan ini akan selalu ada di sini. Ayahmu adalah pria terkuat yang pernah aku kenal, dia tidak akan roboh hanya karena kamu mengejar mimpi. Dan Kakak..." Satria menjeda kalimatnya, mencoba menelan pahitnya kenyataan perpisahan. "Kakak akan tetap di sini, menjaga frekuensi agar suara kita tetap terhubung. Jangan jadikan aku atau Ayahmu alasan untuk kamu mengecilkan duniamu. Kamu ksatria di atas kertas, Alisa. Dan medan tempurmu bukan di joglo ini, tapi di luar sana."

Alisa menunduk, air matanya jatuh membasahi brosur mengkilap itu. "Kakak tidak keberatan kalau aku pergi?"

"Aku akan sangat merindukanmu, sampai rasanya mungkin lebih sakit daripada luka di pelipis ini," canda Satria sambil menyentuh bekas lukanya, berusaha mencairkan suasana. "Tapi aku akan lebih membenci diriku sendiri jika aku melihatmu kehilangan kesempatan ini hanya karena ingin menemaniku minum teh di sini setiap sore. Pergilah, Alisa. Jadilah penulis besar. Kakak akan menunggu setiap bab baru dalam hidupmu dari sini."

Restu Sang Mayor

Dari kejauhan, di balik jendela kantornya yang remang, Cakra mengamati pemandangan di joglo itu. Ia melihat Satria yang sedang menghapus air mata di pipi Alisa, dan ia melihat putrinya yang akhirnya mengangguk pelan sambil memeluk amplop cokelat itu. Tidak ada kemarahan di hati Cakra kali ini. Rasa jengah yang selama ini menghantui berganti dengan rasa hormat yang mendalam pada Satria.

Damar masuk ke ruangan Cakra, berdiri di sampingnya. "Dia lulus ujiannya, Cra. Dia tidak egois."

Cakra mengangguk, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum bangga yang sesungguhnya. "Ya. Dia ksatria sejati. Dia tahu kapan harus memegang erat, dan kapan harus melepaskan demi kebaikan yang lebih besar."

Malam itu, di bawah langit pangkalan yang luas, sebuah keputusan besar telah diambil. Alisa akan berangkat ke Jakarta, membawa bekal disiplin dari Ayahnya dan cinta yang tulus dari Satria. Perpisahan memang di depan mata, namun mereka semua tahu bahwa pangkalan yang sesungguhnya bukanlah bangunan beton di hutan ini, melainkan rasa percaya yang telah tertanam kuat di antara mereka. Satria tetap tersenyum, meski hatinya sedikit perih, karena ia tahu bahwa dengan melepaskan Alisa, ia justru telah memenangkan tempat yang abadi di hati gadis itu dan restu mutlak dari Sang Mayor.

1
panjul man09
disetiap kesulitan ada kemudahan ,disetiap kesedihan akan ada kebahagiaan , setelah hujan muncullah pelangi , author 👍👍👍👍👍
panjul man09
ujian hati dimulai
panjul man09
ceritanya sangat menyentuh hati ,kalimat yg digunakan jauh lebih berbobot daripada cerita novel yg lain ,authornya sangat pandai memainkan perasaan
panjul man09
👍😍👍😍👍😍
panjul man09
👍👍👍👍👍
panjul man09
cuman 2 pemerannya ? tdk ada pemeran ketiga ?
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
mereka memelukan sosok ibu
panjul man09
sebaiknya cakra menikah lagi
david 123
terharu Thor...ttp semangat ya ..cerita ini bisa sbg movitasi bagi anak yg berjuang mencari jadi dirix melalui bakat dan minat.
david 123
aduh baca sambil berderai air mata..alurx..keren..sangat menyentuh...hati...luar biasa Thor ..ceritamu ini...ttp semangat dg ide -ide cermelangx....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!