NovelToon NovelToon
The Replacement Bride

The Replacement Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Pengantin Pengganti / Mafia
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Rafa Fitriaa

Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.

Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.

Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lamaran Berdarah

Kantor pusat Cantara Logistik yang berada di kawasan pelabuhan Tanjung Priok tampak kusam jika dibandingkan kemegahan Gemilar Tower. Di dalam ruang kerja yang berbau kertas tua dan cerutu murah, Bramasta Cantara duduk dengan tangan gemetar. Di depannya, setumpuk dokumen berwarna merah darah bertebaran seperti surat vonis mati.

"Bagaimana mungkin ini terjadi, Arsen?" suara Bramasta pecah. "Dua puluh kapal kargo kita tertahan di Singapura karena masalah legalitas bahan bakar? Itu tidak masuk akal! Kita selalu mengikuti prosedur."

Arsen Mahawira berdiri di depan meja itu dengan sikap sempurna, tangannya tertaut di belakang punggung. Wajahnya sedatar permukaan danau yang membeku. "Prosedur berubah, Tuan Cantara. Dan sayangnya, mitra Anda di Singapura telah mengalihkan kontrak mereka ke Gemilar Syndicate. Secara hukum, Anda gagal memenuhi kuota pengiriman. Penalti yang harus Anda bayar adalah tiga kali lipat dari nilai kontrak."

Bramasta jatuh terduduk di kursi kebesarannya. "Itu... itu berarti kebangkrutan. Semua aset kita, rumah kita... semuanya."

"Bukan hanya itu," Arsen menambahkan dengan nada yang lebih dingin, "pihak bank telah menarik dukungan mereka setelah melihat laporan kredit Anda pagi ini. Anda berhutang tiga ratus miliar rupiah yang harus dilunasi dalam empat puluh delapan jam. Jika tidak, kejaksaan akan mulai melirik dugaan penggelapan pajak yang—kebetulan—baru saja ditemukan oleh tim audit kami."

Bramasta menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia terjebak. Ia tahu ini bukan sekadar nasib buruk. Ini adalah serangan sistematis. Galen Abraar Gemilar sedang menghancurkan hidupnya inci demi inci, tanpa menyisakan ruang untuk bernapas.

"Apa yang dia inginkan?" tanya Bramasta parau. "Galen tidak akan melakukan ini hanya untuk perusahaan logistik kecil seperti milikku. Dia penguasa bursa saham. Kenapa dia turun ke lumpur untuk menghancurkanku?"

Pintu ruangan itu terbuka perlahan. Suara langkah sepatu kulit yang mahal menghantam lantai kayu dengan ritme yang lambat dan mengancam. Galen masuk, membawa hawa dingin yang seolah menyedot oksigen dari ruangan itu. Ia mengenakan kemeja hitam tanpa dasi, lengan kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan kronograf yang harganya bisa membeli seluruh gedung ini.

"Kau terlalu merendah, Tuan Cantara," suara Galen mengalun rendah. Ia berjalan menuju jendela, menatap deretan kontainer di kejauhan. "Logistik adalah urat nadi dunia. Dan aku suka menguasai urat nadi orang lain."

Galen berbalik, menatap Bramasta dengan mata yang tidak memiliki belas kasihan. "Tapi kau benar. Aku tidak menginginkan perusahaanmu. Perusahaan ini hanya sampah bagiku. Aku bisa membelinya dan membakarnya besok pagi jika aku mau."

"Lalu... apa?"

Pria itu berjalan mendekat, mencondongkan tubuhnya di atas meja Bramasta. "Aku menginginkan sesuatu yang lebih berharga. Sesuatu yang kau bawa ke pesta amal semalam."

Darah di wajah Bramasta seolah surut. "Shabiya? Kau... kau menginginkan putriku?"

"Aku tidak suka kata 'menginginkan', Tuan Cantara. Kedengarannya seolah-olah aku punya pilihan," Galen mengusap dagunya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum predator. "Aku membutuhkan Shabiya di dalam rumahku. Sebagai istriku. Dan sebagai gantinya, semua hutangmu akan lenyap dalam satu detik. Kapal-kapalku akan menarik kargomu, dan Cantara Logistik akan menjadi mitra utama Gemilar Corp selama sisa hidupmu."

"Ini gila! Shabiya bukan barang dagangan!" teriak Bramasta, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya.

Galen tertawa, suara yang pendek dan kering tanpa sedikit pun rasa humor. "Semua orang adalah barang dagangan, Bramasta. Pertanyaannya hanyalah berapa harganya. Hargamu adalah keselamatan keluarga dan nama baikmu. Jika kau menolak... besok pagi Shabiya akan melihat ayahnya diborgol di depan media nasional karena kasus korupsi dan pencucian uang yang sudah aku siapkan buktinya."

Dia menegakkan tubuhnya, merapikan kerah kemejanya yang tidak berantakan. "Kau punya waktu sampai matahari terbenam untuk bicara pada putrimu. Jangan mencoba melarikan diri. Arsen sudah menempatkan orang di setiap sudut rumahmu."

Suara derap langkah kaki yang tegas itu mulai menghilang, meninggalkan Bramasta sendirian yang sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Namun, satu hal yang pasti, Bramasta harus segera pulang ke rumah.

Malam tiba ketika Bramasta baru sampai rumah, kediaman keluarga Cantara terasa seperti rumah duka. Shabiya sedang duduk di meja makan, memandang piringnya dengan perasaan gelisah. Ayahnya tidak menyentuh makanannya sama sekali. Wajah pria itu tampak lebih tua sepuluh tahun hanya dalam satu hari.

"Ayah, ada apa sebenarnya? Sejak pulang tadi, Ayah hanya diam," tanya Shabiya lembut. Tangannya menjangkau tangan ayahnya yang dingin.

Bramasta menatap putrinya. Mata itu... mata yang sangat mirip dengan mendiang istrinya, namun di mata Galen, itu adalah mata seseorang di masa lalunya. Bramasta merasa seperti seorang pengecut. Ia harus menjual putrinya untuk menyelamatkan diri dari penjara.

"Shabiya... Ayah melakukan kesalahan besar dalam bisnis," suara Bramasta bergetar. ia menceritakan semuanya. Tentang hutang, tentang ancaman penjara, dan akhirnya, tentang tawaran Galen.

Shabiya melepaskan tangan ayahnya seolah-olah tersengat listrik. Kursinya berderit saat ia berdiri mendadak. "Menikah dengannya? Pria arogan yang kita temui semalam? Ayah, ini abad ke-21! Dia tidak bisa memaksaku!"

"Dia bisa, nak," isak Bramasta. "Dia penguasa kota ini. Dia tidak meminta, dia memerintah. Orang-orangnya sudah ada di luar. Kita dikepung."

Shabiya berlari menuju jendela ruang tamu. Benar saja, dua mobil SUV hitam terparkir tepat di depan gerbang mereka. Pria-pria berpakaian safari berdiri dengan waspada. Shabiya merasa dunianya runtuh. Ia membayangkan wajah Galen semalam, tatapan mata yang begitu gelap, seolah-olah ingin menelan Shabiya bulat-bulat.

"Kenapa aku, Ayah? Kenapa dia menginginkanku?"

Bramasta hanya menggeleng, tidak sanggup memberi tahu Shabiya bahwa dia hanyalah sebuah pengganti bagi hantu di masa lalu Galen. Bahkan jika pernikahan mereka terjadi, orang-orang akan tahu alasannya tanpa bertanya lebih jauh.

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah terdengar berhenti di depan rumah. Galen turun dari mobilnya, berjalan dengan langkah percaya diri melewati para penjaganya. Tanpa mengetuk, ia membuka pintu depan rumah Cantara. Kehadirannya seolah menyedot seluruh udara di ruangan itu.

"Selamat malam," ucap Galen dengan tenang, matanya langsung mengunci sosok Shabiya yang gemetar di dekat jendela. "Kupikir kau sudah selesai menjelaskan situasinya, Tuan Cantara."

"Kau iblis," desis Shabiya, suaranya bergetar antara amarah dan ketakutan.

Galen berjalan mendekat, mengabaikan Bramasta yang tertunduk lesu. Ia berhenti tepat di depan Shabiya, jarak mereka begitu dekat hingga Shabiya bisa mencium aroma parfum kayu cendana dan tembakau mahal dari jas pria itu.

"Iblis adalah sebutan yang menarik," Galen mengulurkan tangan, mencoba menyentuh pipi Shabiya, namun gadis itu membuang muka. Galen tidak marah, ia justru tersenyum tipis. "Tapi iblis ini adalah satu-satunya yang bisa memastikan ayahmu tidak mati di dalam sel penjara yang dingin."

"Apa yang kau inginkan dariku? Aku tidak mencintaimu. Aku bahkan tidak mengenalmu!" Shabiya berteriak, air mata mulai menggenang di matanya.

Galen meraih dagu Shabiya, memaksanya untuk menatap langsung ke dalam matanya yang kelam. "Aku tidak butuh cintamu, Shabiya. Aku punya cukup banyak orang yang mencintaiku karena uangku. Aku hanya butuh kehadiranmu. Aku ingin kau berdiri di sampingku, memakai pakaian yang aku pilihkan, dan menjadi milikku sepenuhnya."

"Kenapa aku?"

"Karena kau adalah kepingan teka-teki yang hilang dari hidupku," bisik Galen tepat di telinga Shabiya, suaranya terdengar seperti janji sekaligus ancaman. "Jadilah istriku, maka ayahmu tetap menjadi orang terhormat. Tolak aku, dan aku akan memastikan kalian berdua tidak akan punya tempat untuk bersembunyi di negeri ini."

Galen melepaskan dagu Shabiya, lalu merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berisi cincin berlian dengan karat yang begitu besar hingga tampak tidak nyata. Ia meletakkannya di atas meja makan di samping piring Shabiya yang masih penuh.

"Pernikahan akan dilaksanakan tiga hari lagi. Tanpa resepsi besar, hanya dihadiri orang-orangku. Jangan mencoba memakai gaun pengantin pilihanmu sendiri. Arsen akan mengirimkan gaun yang sudah aku siapkan besok pagi."

Shabiya menatap cincin itu dengan ngeri. Baginya, itu bukan perhiasan melainkan itu adalah borgol yang bertahtakan berlian.

"Jangan menangis, Shabiya," Galen mengusap air mata yang jatuh di pipi Shabiya dengan ibu jarinya. Gerakannya begitu lembut, namun tatapan matanya tetap dingin dan kosong. "Air mata tidak cocok untuk wajahmu. Kau harus terbiasa dengan kehidupan barumu sebagai seorang Gemilar."

Galen berbalik dan berjalan keluar dengan langkah angkuh yang sama. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak tanpa menoleh. "Oh, satu lagi. Mulai besok, kau dilarang berkomunikasi dengan siapa pun tanpa izin Arsen. Termasuk teman-temanmu."

Pintu tertutup dengan dentuman pelan namun terdengar seperti vonis mati di telinga Shabiya. Ia jatuh terduduk di lantai, terisak dalam diam, sementara ayahnya hanya bisa memeluknya dengan penuh rasa bersalah.

Di luar, di dalam mobilnya, Galen menatap ke arah jendela rumah Shabiya. Ia menyalakan cerutunya, asapnya memenuhi kabin mobil.

"Tuan," Arsen bersuara dari kursi kemudi. "Apakah Anda yakin dengan ini? Dia bukan Nona Thana. Dia terlihat sangat membenci Anda."

Galen menatap cincin perak di kelingkingnya, lalu menatap rumah Shabiya sekali lagi. "Kebencian adalah emosi yang kuat, Arsen. Lebih jujur daripada cinta. Lagipula, aku punya sisa hidupku untuk mengajarinya bagaimana menjadi Thana yang sempurna. Dia akan menyukai sangkarnya... cepat atau lambat."

Mobil itu melesat membelah kegelapan malam, meninggalkan jejak kepedihan yang baru saja dimulai. Di bawah lampu jalan yang temaram, Shabiya menyadari bahwa hidupnya sebagai Shabiya Sena Cantara telah berakhir malam ini. Esok, ia akan bangun sebagai tawanan dari seorang pria yang tidak mencintainya, melainkan mencintai hantu yang kebetulan memiliki wajahnya.

Lamaran itu memang tidak melibatkan darah yang tertumpah di lantai, namun Shabiya tahu, jiwanya baru saja disembelih tanpa ampun.

1
Kustri
qu koq benci yo ama galen, obsesi sm egois selangit
👊nggo galen🤭
Kustri
penasaran gmn cara sabyan melawan galen💪
Kustri
punya penyakit apa itu si galen, aneh☹️😤
Kustri
eh, apa ada di dunia nyata ya sifat egois ky galen
Kustri
nama'a susah diingat, ingat nama panggilan aja
baru mulai... ky'a seru
Silfanti Ike puspita
:
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!