menceritakan sang pangeran bernama iglesias Lucyfer seorang pangeran yang manja dan kekanak-kanakan suatu hari dia dan kakak perempuan Lucyfer iglesias Elice ingin menjadi penyihir high magnus dan bertahun tahun berlalu di mana saat sang kakak kembali lagi ke kerajaan vantier Elice berubah pesat dan menjadi sangat dingin, perfeksionis,fokus dan tak peduli dengan siapapun bahkan Elice malah menantang sang adik dan bertarung dengan sang adik tetapi sang adik tak bisa apa apa dan kalah dalam satu teknik sihir Elice,dan Elice mulai menyadarkan Lucyfer kalau penyihir seperti nya tak akan berkembang dan membuat lucyfer tetap di sana selama nya dan sang adik tak menyerah dia ke akademi yang sama seperti kakak nya dan mulai bertekad menjadi high magnus dan ingin membuktikan kalau diri nya sendiri bisa jadi high magnus tanpa kakak nya dan Lucyfer akan berjuang menjadi yang terhebat dengan 15 teman teman nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berani nya diri mu
Hari demi hari berlalu di Akademi Agreta.
Bagi sebagian murid, waktu berjalan biasa saja—kelas, tugas, istirahat, tidur.
Namun bagi Toma, Alven, dan Klee, setiap hari terasa semakin berat.
Mereka melihatnya.
Semua.
Wajah asli Lucyfer Iglesias.
Bukan sekadar dingin atau angkuh—
melainkan kejam.
Lucyfer menindas murid-murid kelas rakyat biasa tanpa ragu.
Merampas koin emas.
Menghancurkan harga diri.
Menginjak mereka secara harfiah maupun batin.
Dan yang paling menyakitkan—tak ada yang berani melawan.
Pagi itu, sebelum kelas dimulai, halaman akademi dipenuhi murid.
Di tengah kerumunan, seorang murid terjatuh.
Dan Lucyfer—dengan wajah datar—menginjak bahunya.
Tidak ada darah.
Tidak ada jeritan keras.
Hanya rasa malu yang membunuh perlahan.
Semua orang menonton.
Tak satu pun bergerak.
Toma merasakan dadanya sesak.
Aura Lucyfer…
bukan hanya dingin.
Itu aura yang dipenuhi jeritan orang-orang tak bersalah.
Ia melangkah maju.
Namun sebuah tangan menarik lengannya dengan keras.
Alven.
Alven menggeleng pelan, wajahnya pucat.
“Jangan, Toma…”
Toma mengepalkan tangan, giginya gemeretak.
Namun… ia berhenti.
Jam istirahat tiba.
Kantin akademi ramai oleh suara murid.
Bau makanan memenuhi udara.
Namun ketenangan itu pecah saat Lucyfer masuk.
Ia berjalan santai.
Di hadapannya, seorang murid tengah makan.
Lucyfer menendang meja itu.
Makanan terjatuh.
Koin emas bintang dirampas Lucyfer.
"ini,aku ambil ya,soal nya milik ku sudah punya 4."
Lalu—
Lucyfer menginjak-injak makanan murid itu, seolah tak ada nilainya.
Sesuatu di dalam diri Toma retak.
Ia berdiri.
Langkahnya berat, tapi tekadnya bulat.
Ia maju—langsung ke depan Lucyfer.
Dan tanpa ragu, Toma memegang pergelangan tangan Lucyfer.
“Iglesias Lucyfer,” teriaknya lantang, suara bergetar oleh amarah dan empati,
“Sudah cukup,”
“Kau sudah kelewatan.”
Kantin membeku.
Klee menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Toma… jangan…” ucapnya nyaris berbisik.
Alven hanya terdiam.
Takut.
Namun tak mampu lagi menarik Toma mundur.
Lucyfer menatap tangan yang mencengkeramnya.
Lalu ia tersenyum—dingin, angkuh dan kejam.
“Kau berani melawanku?” katanya rendah.
“Kau hanya rakyat miskin.”
Ia mendekat, wajahnya penuh ejekan.
“Keluargamu dari warga biasa saja benar bukan?”
“Kenapa kau berani melawan kasta di atasmu?”
Toma tidak mundur dan menatap tajam ke Lucyfer.
Dalam hati Toma dia marah.
Sangat marah apa yang telah Lucyfer perbuat.
“Memang benar aku dari bawah,” jawabnya tegas.
“Tapi aku tidak pernah punya niat menindas orang lain seperti dirimu.”
Lucyfer tertawa pendek dan menantang Toma.
“Haaa?”
“Kau menantangku?”
Matanya merah menyala dengan mempertajam mata nya.
“Baik.”
“Kita satu lawan satu.”
“Sekarang.”
Toma mundur selangkah dan mengangkat tongkat sihirnya.
“Sihir matahari—”
“Bola matahari yang membara dalam kegelapan!”
Bola matahari muncul…
lalu mengecil.
Dan menghilang.
Lucyfer mengernyit dan terheran heran apa yang terjadi barusan.
“?”
Dalam satu gerakan cepat, Lucyfer memukul Toma, membuatnya terhuyung.
“Apa ini?” ejeknya.
“Kau mempermainkanku?”
“Atau hanya tikus gila yang menantang seekor kucing?”
Tiba-tiba—
BOOM!
Sebuah bola matahari menghantam dari belakang.
Lucyfer menatap bola matahari yang menghantam nya dari belakang, menghindar satu, dua—
namun tetap terdorong mundur.
Matanya membelalak.
“Sejak kapan…?”
Dalam hati, Lucyfer tersenyum tipis.
“Oh… begitu.”
“Saat dia merapal mantra sihir nya,” pikirnya,
“Toma mematikan bola mataharinya saat di depan ku lalu memunculkan nya kembali dari belakang.”
“Dia membatalkan sihir di depan untuk mengalihkan perhatianku ya.”
“Dan saat aku meremehkannya—”
Lucyfer menatap Toma dengan datar dan tenang.
“Kau menyerang.”
“Cerdas.”
“Kau sadar tak bisa menang dengan kekuatan.”
“Jadi kau menang dengan akal.”
Lucyfer berdiri tegak.
Ia menatap Toma lama—tatapan dingin namun tertarik.
“Tunggu kalian sedang apa.”
Seorang guru datang memperingati murid kalau sudah masuk kembali ke kelas.
“Cepat masuk kembali ke kelas, pelajaran akan segera di mulai.”
Lalu guru itu menatap para murid itu.
“Iglesias Lucyfer, Toma ansel.” kata guru itu memanggil Lucyfer dan Toma
“Segera masuk, kelas akan segera di mulai.“
Lucyfer berjalan keluar kantin dengan langkah tenang.
Namun sebelum benar-benar menjauh, ia menoleh ke arah Toma yang di bantu oleh klee dan Alven berdiri.
“Toma Ansel,” katanya.
“Kau unik.”
“Besok.”
“Tiga lawan tiga.”
“Aku akan datang sendiri.”
“Taruhannya—”
“Semua koin emas yang kita miliki.”
Lucyfer pergi.
Sorak murid memenuhi kantin.
Namun Toma tidak tersenyum.
Ia hanya menatap punggung Lucyfer.
Ia merasakan sesuatu—
bukan kejahatan murni.
Melainkan kehampaan.
Kekecewaan.
Dan rasa haus akan pengakuan.
Toma tidak tahu…
Bahwa satu-satunya orang yang ingin diakui Lucyfer—
adalah Iglesias Elice.
High Magnus es.
Penyihir terkuat di generasi sekarang.
sekali lagi saya minta maaf