NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24 Bukit, Air terjun dan Harapan

Air terjun deras yang mengalir dari mata air puncak bukit, menjadi saksi kalau hari ini aku sedang gundah.

Gudang telah bapak sulap menjadi seperti baru. Rak rak panjang bertingkat kini bapak siapkan untuk aku memulai projek jamur yang aku namakan sebagai "langit dalam lemari".

Namun sampai saat ini, bapak masih belum berbicara kepadaku. Entah soal setuju dengan rencanaku untuk festival nanti, atau maaf yang tidak kunjung aku dengarkan.

Air terjun yang jatuh turun menghantam, menciptakan percikan air halus yang selanjutnya membentuk pelangi indah. Hanya saja tetap, hatiku masih memikirkan bapak.

Aku duduk di sebuah batu, memeluk lutut menenangkan diri. Sampai akhirnya aku lihat dari balik semak, Raka datang membawa botol kaca kosong, langkahnya ringan di antara bebatuan basah dekat air terjun.

Suara deras air membuat kata‑katanya harus sedikit lebih keras.

"Kamu kesini cari jamur, Mir?" tanyanya, matanya menyipit karena percikan air.

Aku menoleh, masih duduk di batu, lutut dalam pelukan. "Enggak… bukan itu," jawabku lirih, hampir tenggelam oleh gemuruh air.

Raka berhenti sejenak, menatapku penuh tanda tanya. "Masih belum ngobrol sama bapakmu?"

"Belum."

Raka mengisi botolnya dengan air jernih yang memercik dari aliran kecil di tepi batu. Tangannya cekatan, tapi matanya tetap sesekali menatapku.

"Mir, kadang orang tua emang begitu. Mereka enggak bilang, tapi mereka kerja. Kalo menurut aku, kamu mendingan kamu mulai tanam jamur nggak sih?"

Aku terdiam, suara air terjun seperti mengisi ruang kosong di dadaku. Kata‑kata Raka bergema, bercampur dengan pelangi tipis yang masih tampak di udara.

Aku menatap pelangi tipis yang menggantung di udara, warnanya samar tapi nyata. Seperti harapan yang belum sepenuhnya berani aku genggam.

"Langit dalam lemari..." aku bergumam, lebih kepada diriku sendiri.

Nama itu terasa semakin tepat, sesuatu yang luas, tapi tersembunyi, sesuatu yang ingin aku rawat meski di ruang sempit.

Raka menutup botol kaca, lalu berdiri. "Kalau kamu mulai sekarang, festival nanti masih sempat."

Aku mengangguk pelan, lutut masih terpeluk. Suara air terjun menelan kata‑kata kami, tapi di dalam hati, aku tahu, meski bapak belum bicara, gudang yang ia sulap sudah cukup menjadi jawaban.

Aku bangkit perlahan, menatap jalan pulang yang basah oleh percikan air. Langkahku terasa ringan, meski dadaku masih penuh gundah.

Hmm~, pak...

Aku hanya ingin berguna untuk bapak, untuk ibu, namun sepertinya itu sukar, ya? Kalau dipikir-pikir pun, untuk apa aku menanam jamur, seperti kata kalian.

Hanya saja, meski usahaku sekarang payah, meski aku tahu jamur itu hanya akan menghasilkan sedikit uang. Aku ingin mengulang kembali masa lalu yang pernah kita jalin bersama.

Aku tahu aku bukan anak yang bisa membawa kebanggaan besar. Di kota aku jatuh, gagal bertahan, dan pulang dengan tangan kosong. Tapi di sini, aku ingin mencoba lagi, meski kecil, meski sederhana.

Jamur ini mungkin hanya cukup untuk sekadar ikut meramaikan festival. Tapi aku ingin bapak tahu, aku tidak menyerah. Aku ingin memberi sesuatu, walau hanya sedikit.

Aku ingin membuktikan bahwa aku masih bisa berguna. Untuk bapak, untuk ibu, untuk desa. Biarpun tangan ini pernah bapak tampar, aku tetap ingin menanam lagi.

Karena yang aku cari bukan hanya uang. Yang aku cari adalah rasa ketika kita bertiga masih bisa duduk bersama, merasa cukup hanya dengan hasil kecil dari tanah ini.

Langit dalam lemari… mungkin terdengar aneh. Tapi bagiku, itu adalah cara untuk menyimpan harapan. Harapan bahwa di ruang sempit sekalipun, sesuatu bisa tumbuh.

Dan aku ingin tumbuh bersama bapak, meski bapak tidak pernah berkata apa‑apa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!