NovelToon NovelToon
CINDELOKA

CINDELOKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Dunia Lain / Action / Spiritual / Epik Petualangan / Roh Supernatural
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: teguhsamm_

Raden Cindeloka Tisna Sunda, seorang bocah laki laki berparas tampan dari Klan Sunda, sebuah klan bangsawan tua dari Sundaridwipa yang hanya meninggalkan nama karena peristiwa genosida yang menimpa klannya 12 tahun yang lalu. keberadaannya dianggap membawa sial dan bencana oleh warga Sundari karena ketampanannya. Suatu hari, seluruh warga Sundari bergotong royong menyeret tubuh kecil Cindeloka ke sebuah tebing yang dibawahnya air laut dengan ombak yang mengganas dan membuangnya dengam harapan bisa terbebas dari bencana. Tubuh kecilnya terombang ambing di lautan hingga membawanya ke sebuah pulau misterius yang dijuluki sebagai pulau 1001 pendekar bernama Suryadwipa. di sana ia bertemu dengan rekannya, Lisna Chaniago dari Swarnadwipa dan Shiva Wisesa dari Suryadwipa yang akan membawanya ke sebuah petualangan yang epik dan penuh misteri gelap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teguhsamm_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Nasional Fase Kedua: Hutan Keramat

Kabut kelabu menggantung rendah di antara pepohonan Hutan Keramat. Aroma tanah basah bercampur bau kelor liar yang menusuk hidung, membuat siapapun yang bernapas terlalu dalam merasa pusing. Inilah arena Ujian Nasional Fase Kedua—ujian yang konon hanya dapat dilewati oleh mereka yang mampu menaklukkan roh penjaga hutan.

*

Lisna berjalan paling depan, napasnya mantap, tangan siaga pada ikat rotan yang melilit pinggangnya. Shiva menyusul di sampingnya, langkahnya senyap seperti bayangan, matanya yang dingin terus menyisir sekeliling.

Sementara itu—seperti biasa—Cindeloka berada di belakang mereka sambil menggaruk-garuk kepalanya tanpa alasan jelas.

Di depan mereka terbentang ladang kelor beracun—daun-daunnya tampak biasa, namun bila disentuh bisa meluruhkan kulit dalam hitungan menit. Di suatu tempat di ladang itu tersembunyi gulungan daun lontara, kunci kelulusan fase kedua.

“Area ini… terlalu sunyi,” gumam Shiva lirih. “Biasanya roh Penjaga Kelor akan berkeliaran.”

“Bagus dong. Lebih cepat dapat gulungannya,” sahut Cindeloka dengan nada tengil sambil sesekali meringis. “Eh… tapi, kayaknya aku… aku kebelet—”

Lisna menoleh tajam. “Jangan bilang—”

“Ya… mau pipis dulu.”

Belum sempat Lisna memarahinya, Cindeloka sudah kabur ke sebuah batang jati tua. Dan tanpa malu, tanpa ragu—

“SSSSHHHHH—”

“CINDELOKA!” Lisna mendengus, wajahnya merah padam. “DI DEPAN GADIS?! Astaga!!”

Craaak!

Lisna memukul belakang kepala Cindeloka tanpa ampun.

“Aduh! Kenapa mukul?!”

“Pindah ke belakang sana! Hutan luas, kenapa harus di sini?! Dasar tengil!”

Shiva tidak berkomentar. Ia hanya melirik sekilas, lalu kembali mengamati ladang kelor di depan mereka—dingin, datar, seakan drama konyol itu hanya angin lalu.

*

Di sisi lain hutan, suara arus sungai memecah kesunyian. Namun air sungai itu bukan biasa—penuh bakteri pemakan daging yang bisa membusuk-kan kulit hanya dengan cipratan kecil.

Kiki berdiri jauh dari tepian, tubuhnya gemetaran.

“Ha-hana… apa kita harus lewat sini?” tanya Kiki nyaris menangis.

Hana mendengus sambil menepuk bahunya. “Jangan lembek, Ki. Kalau takut air, gimana mau lulus ujian hidup?”

Yoyo berdiri tidak jauh dari keduanya, bola matanya bergerak cepat ke kanan-kiri, seakan udara mengancamnya.

“Jangan terlalu berisik… aku dengar sesuatu,” gumam Yoyo.

Hana mengangkat tangan, memejamkan mata.

Insting alamnya menyerap hembusan angin, sementara sensor cakranya meluas seperti jaring halus.

“Ada tiga peserta dari padepokan lain… bergerak mendekati sungai.”

Ia membuka mata. “Dan gulungan lontara di dekat sini… ada aura penjaga.”

Ketiganya saling pandang.

Ujian ini baru akan dimulai.

*

Cindeloka selesai dengan ‘ritualnya’ dan berjalan kembali sambil cengengesan.

“Hehehe… legaaa…”

Lisna langsung meledak, “BERHENTI SENYUM-SENYUM! Kau itu memalukan!!”

Cindeloka hanya menjulurkan lidah. “Ah, Lisna, hidup itu jangan tegang—”

BRAK!

Sebuah pukulan cepat dari Shiva mendarat tepat di rahang Cindeloka.

Tubuh Cindeloka terpental, tersungkur ke tanah. Mata Lisna melebar.

“Shiva! Kenapa kamu—?!”

Shiva berjalan perlahan, aura dinginnya menebal.

“Itu bukan dia,” ucap Shiva datar. “Gerakannya… napasnya… dan aromanya berbeda.”

Cindeloka—yang tumbang di tanah—menggeram.

“A-A… apa maksudmu…?”

Shiva menunduk, menatap tajam.

“Siapa kau sebenarnya? Katakan sebelum tangan ini membuatmu lupa rupa asli.”

Lisna menelan ludah, cengkeramannya pada ikat rotan menguat.

Cindeloka palsu itu tersenyum—senyum yang terlalu lebar untuk wajah Cindeloka.

“Kau peka juga rupanya.”

Lisna mundur satu langkah.

Tubuh Cindeloka palsu itu bergetar, kulitnya seperti serpihan kertas yang terkelupas, lalu jatuh satu per satu.

Di baliknya muncul wajah lain—seorang pemuda berambut pendek dengan mata kuning tajam, mengenakan pakaian padepokan asing.

“Aku dari Padepokan Waringin Hitam,” katanya sambil menegakkan tubuh. “Dan aku butuh gulungan itu.”

“Di mana Cindeloka asli?” bentak Lisna.

Pemuda itu mencibir. “Temanmu itu? Dia sedang istirahat… terikat rapi di belakang pohon jati—tepat di tempat dia mengompol tadi.”

Lisna memucat. “APA?!”

Shiva menggeser kuda-kuda, aura cakranya mengalir dingin seperti kabut hitam.

“Lepaskan dia,” ucap Shiva. “Atau kau tak akan pulang.”

Pemuda itu tersenyum tipis. “Kalau kau bisa.”

Tanah bergetar ketika pemuda itu menekan telapak tangan ke tanah. Gulma kelor beracun di sekeliling mereka bergerak, seperti dihidupkan oleh kekuatan jahat.

Lisna mengayunkan rotannya, memecah gulma yang menyambar.

Shiva melesat ke depan, cepat dan senyap.

Pemuda itu membalas dengan jurus Bayangan Waringin, tubuhnya membelah menjadi tiga ilusi bergerak bersamaan.

Lisna memekik, “Hati-hati, Shiva!”

“Terlambat.”

Salah satu ilusi menebaskan cakra hitam.

Shiva memutar tubuh, menghindar, lalu menangkis dengan telapak tangan berlapis aura putih.

Benturan membuat kabut hutan beriak seperti gelombang.

Di belakang pohon jati, Cindeloka asli menggeliat—mulutnya disumpal kain, tubuhnya terikat.

Matanya melebar ke arah pertempuran.

“MMMPHH!!”

Ia hanya bisa memaki dalam hati.

“SAAT AKU LEPAS… ADA YANG HARUS KU TENDANG!!”

*

Jalan setapak menuju barat hutan terkenal sebagai “Lorong Arwah”—pepohonan saling menutup di atas kepala sehingga matahari pun berhenti masuk. Di sepanjang tepi jalan, angin seolah membawa bisikan samar yang membuat bulu kuduk berdiri.

Puadin berjalan paling depan, di tangannya ada laba-laba kecil berwarna perak, hewan kesayangannya yang memiliki indera penciuman luar biasa.

Puadin berbisik lirih pada laba-labanya.

“Ayo, Nak… cari bau asing. Musuh biasanya meninggalkan jejak.”

Taro menyusul di belakangnya sambil membawa ayam cemani kecil—Cemcem—di pundaknya. Ayam itu berdesis, bulunya yang hitam kehijauan berdiri seperti mendeteksi sesuatu.

Taro mengelus lehernya.

“Cemcem gelisah. Biasanya ini pertanda… ada sesuatu yang mengintai dari samping.”

Jannah menutup langkah mereka. Ia menarik napas pelan, lalu membuka matanya lebih lebar.

Sejenak iris matanya yang semula hijau zamrud berubah menjadi hitam pekat, sementara skleranya memendar hijau terang.

Aksajian Padusi—ZAMRAKSA—bangkit sepenuhnya.

Taro melirik ngeri.

“Hii… mata itu bikin merinding, Jannah.”

Puadin menjawab tanpa ekspresi,

“Lebih baik merinding daripada mati disergap. Zamraksa mendeteksi cakra dalam jarak seribu langkah.”

Taro berseru pelan,

“Seribu langkah?”

Jannah menatapnya.

“Itu versi minimal. Padusi bisa mencapai seribu kilometer kalau dalam mode penuh.”

Taro hampir tersedak napasnya.

“BUSET! Kenapa kau baru bilang sekarang?!”

Puadin menjawab dingin,

“Kau tidak bertanya.”

Cemcem tiba-tiba mematuk pundak Taro keras.

Taro melonjak.

“A’duh! Cemcem! Sakit!”

Ayam itu mengeluarkan kokokan lirih yang terdengar seperti alarm.

Puadin mengangkat laba-labanya tinggi.

“Laba-labaku juga gelisah… ada musuh. Tiga… empat… tidak, lima cakra bergerak cepat!”

Jannah menajamkan tatapannya, pupil hitamnya berdenyut seperti pusaran.

“Mereka mendekat. Sembunyilah. Mereka bukan peserta biasa… cakra mereka kasar. Seperti pemburu.”

Taro menelan ludah.

“Kita… kita tetap cari gulungan daunnya, kan?”

Jannah menarik napas dalam,

“Iya. Tapi kali ini jangan gegabah. Gulungan lontara di jalur angker pasti dijaga… bukan hanya oleh hutan, tetapi oleh mereka.”

Angin berdesir. Bayangan bergerak cepat di antara pepohonan.

Pertarungan pun tidak terhindarkan.

Pohon-pohon tumbang oleh serangan cakra liar, pusaran angin Taro mengibaskan dedaunan tajam, dan Jannah menumbangkan satu musuh hanya dengan tatapan Zamraksa yang membuat musuh kehilangan kendali atas cakranya.

Setelah clash dahsyat, Tim Nawa akhirnya memaksa para pemburu mundur.

Jannah menutup mata, warna hijau dan hitam kembali normal.

“Gulungan tidak jauh. Kita harus cepat sebelum mereka kembali.”

*

Di ujung timur hutan, medan ujian berubah drastis menjadi lereng gunung dengan celah-celah lava merah menyala. Bau belerang menyengat sampai menusuk hidung dan membuat mata berair.

Belena menghela napas tajam.

“Aduh, bau belerangnya keterlaluan. Ini ujian atau niat ngebunuh peserta sih?”

Gamar menjawab pendek dan tegas,

“Fokus.”

Belena memutar bola mata dan menjauh sedikit dari Gamar, jelas mereka sedang tidak akur.

Beben berada di tengah, menepuk jidat berulang-ulang dan bergumam dalam batinnya.

“Kenapa aku harus jadi penengah dua manusia keras kepala ini…”

Gamar berdiri di tepi batu besar, merasakan arah angin.

“Angin membawa aroma lontara dari utara. Tinggi… mungkin di celah batu.”

Belena mengangkat tangan, memperlihatkan batu akik merah di jarinya yang bergetar halus.

“Cakra batu akikku menangkap sinyal. Gulungannya… benar, dekat sumber panas besar.”

Beben mengeluarkan cakra cendrawasih, aura tipis berwarna keemasan membentuk siluet burung.

Ia menggerakkan dua jari.

“Cendrawasih mendeteksi… ada peserta lain dari lereng bawah. Mereka mendaki cepat.”

Belena mendengus.

“Dari mana pun musuhnya, kita harus duluan ambil gulungannya.”

Gamar menatapnya tajam.

“Jangan gegabah. Kalau salah langkah, kau bisa jatuh ke lava.”

Belena membalas dengan nada sinis,

“Aku nggak selemah itu.”

Beben mengangkat tangan dengan wajah semangat dan tertawa kecil

“Hei hei… kalian mau berdebat atau menghindari lava yang menggelegak?!”

Tiba-tiba lahar memercik, mengeluarkan suara mendesis keras.

Dari balik batu, muncul dua peserta dari padepokan lain menghunus cakra api.

Pertarungan pun pecah.

Mereka harus bertarung sambil menghindari semburan lava—setiap serangan memantulkan cahaya api merah yang membuat wajah mereka tampak seperti makhluk neraka.

Gamar menepis serangan dengan pusaran angin.

Belena menahan lawan dengan aura akik merah yang menciptakan benteng keras.

Beben menutup celah dengan serangan cendrawasih yang melesat seperti cahaya emas.

Akhirnya lawan tumbang, hampir terjatuh ke lahar.

Belena membungkuk ngos-ngosan.

“Hff… kalau lava ini bisa nyembur lagi, aku pulang.”

Beben menepuk punggungnya.

“Sabar, Belena. Kita tinggal ambil gulungannya lalu pergi—”

Gamar berseru,

“Ditemukan!”

Di balik batu panas itu, gulungan daun lontara terselip aman. Mereka mengambilnya dan segera meninggalkan lereng berbahaya itu.

*

Setelah pertarungan sengit melawan penyusup dari Padepokan Waringin Hitam, hutan mulai tenang kembali—setidaknya untuk beberapa detik.

Cindeloka asli meronta di balik pohon jati tempat ia diikat.

Shiva akhirnya menghampirinya, menunduk dengan ekspresi dingin seperti biasa.

Tanpa basa-basi, Shiva menarik tali ikatan dan melepaskannya.

“Berdiri. Kau bikin repot.” ujar Shiva dengan nada ketus dan ekspresi dingin.

“Hey! Hey! Bisa nggak nada suaramu agak manusiawi dikit?! Aku baru diculik loh!” bela Cindeloka dengan ekspresi tengil.

“Dan itu salahmu sendiri.” balas Shiva yang membuat Cindeloka mendengus kesal.

“APA?!” Teriak Cindeloka dengan mata melotot ke Shiva.

Lisna menghampiri sambil memeriksa sekitar. Iris matanya berubah oranye terang—Angaraksa milik Klan Chaniago bangkit penuh.

“Diam kalian berdua. Ada pergerakan cakra… entah dari peserta lain atau sisa-sisa ilusi tadi.” bentak Lisna.

Cindeloka mendekat.

“Lisnaaa tolong belain aku dong… Shiva jahat—”

Shiva menatapnya datar.

“Tetap berisik meski baru dibebaskan.”

Lisna mengabaikan keduanya, fokus pada penglihatannya yang meluas.

“Ada enam cakra bergerak ke arah utara. Jika mereka juga mencari gulungan… kita harus bergerak sekarang.”

Shiva mengangguk.

“Benar. Jangan biarkan kejadian ini terulang.”

Cindeloka mengangguk penuh percaya diri.

“Tenang. Kali ini aku nggak bakal pipis sembarangan—”

Lisna dan Shiva bersamaan berteriak,

“DIAM, CINDELOKA!!”

Cindeloka langsung tutup mulut.

Mereka bertiga lalu bergerak menembus kabut Hutan Keramat, menuju lokasi gulungan berikutnya—

Sementara bayangan lain mulai bergerak mengikuti mereka dari kejauhan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!