Kisah seorang anak perempuan terakhir yang hidupnya selalu di tentukan oleh orang tuanya,dan tidak di beri kesempatan untuk memilih untuk hidupnya.
hingga akhirnya ia pergi dari rumah, dan bertemu dengan seseorang yang mampu untuk ia jadikan rumah dan tempat bersandar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUSB 24
Haris dan Raynar sudah tiba di tempat pemancingan, setelah sebelumnya mereka sholat magrib di jalan.
Kini mereka sedang menunggu umpan merek di santap oleh ikan yang berada di kolam, sambil mengobrol tetang apa yang tadi terjadi.
flashback on
Setelah menemui Indah dan menanyakan keseriusan Raynar dengan adiknya, Haris berniat untuk menjodohkan Raynar dan juga Nina.
" Maksud abang?" tanya Raynar ketika Haris bertanya perasanya pada Nina.
" Loe bener- bener serius sama Nina? kalau loe bener- bener serius, nikahin Nina secepatnya, gue akan minta izin dan ngebantu loe bilang ke ibu dan bapak, gue cuma mau Nina bahagia, dan gue yakin loe bisa membahagiakan Nina" jawab Haris.
" Tapi apa Nina nya mau Bang, gue memang kagum sama Nina saat pertama kali ketemu dan setelahnya, tapi gue juga enggak mau memiliki seseorang dengan dia yang terpaksa, menerima gue" balas Raynar.
" Untuk Nina itu masalah gampang Ray, tapi yang terpenting loe beneran serius sama Nina" sahut Haris.
" Okey kalau gitu, gue suruh Ayah dan Bunda besok ke sini, tapi sebelumnya gue minta izin dulu ke orang tua loe bang" balas Raynar.
Setelah itu Haris mencoba untuk menghubungi kedua orang tuanya, dan menceritakan berteman dirinya dan juga Nina, orang tua Nina setuju karena mereka sudah mengenal bagaimana Raynar dan keluarganya yang banyak membantu Haris.
Orang tua Nina menyarankan untuk segera menikah saja, dan wali akan di gantikan oleh Haris, bukan tanpa alasan, jika Nina memberontak ia akan kabur lagi dan mereka juga tidak tahu, sampai kapan mereka hidup di dunia.
Walau sering memarahi Nina dan berkata- kata yang membuat sakit hati, sebenarnya ibu nya begitu menyayangi Nina, tapi ia tidak bisa mengekspresikan rasa sayang itu.
Setelah meminta izin dan menyepakati lamaran Nina dan ijab qabul akan di lakukan lusa, yang dimana seharusnya mereka akan kembali ke jakarta.
Flashback off.
" Bang tapi apa loe yakin Nina bakal menerima ini semua?" tanya Raynar .
" Kalau gue inget - inget Nina sebenarnya anak yang enggak neko- neko, tapi mungkin karena dia dulu enggak di beri kesempatan memelih, dia anak yang nurut kalau gue inget lagi tapi yahh.. walau memangnya dia akan ngomel di awal"
" Dan gue yakin, kalau ini juga yang terbaik buat dirinya, pasti dia nerima, dia enggak pernah nolak apa yang kita pilihan untuk dirinya, tapi gue harap loe juga harus sabar di awal" imbuh Haris.
" Tapi kalau Nina nolak Bang?" tanya Raynar lagi.
" Gue bakal yakinin Nina lagi,sampai dia nerima loe" jawab Haris tegas.
Raynar hanya mengaguk lalu kemudian fokus pada pancingnya, namun fikirannya masih pada Nina.
Sedangkan di lain tempat Nina baru saja selesai mandi, setelah ia di omelin Wira karena telah berbohong.
Saat masuk kamar Nina melihat Zeyya yang sudah tertidur di atas sajadah, segera Nina membangunkan Zeyya untuk pindah ke kasur.
Setelah membangunkan Zeyya dan Zeyya sudah pindah ke kasur Nina kemudian menengerjakan sholat isya dan segera bersiap sebelum Arlo mengamuk karena dirinya lama.
Lima belas menit Nina bersiap, ia kini sudah siap dengan setelan, celana strip putih maroon, atasan Maroon dan juga jilbab segi empat yang hanya di ikat belakang dengan warna senada di padukan dengan kaca mata miliknya, membuat kesan manis di wajah Nina.
Nina kemudian turun,saat di tangga ia sudah mendengar suara teriakan sang sepupu, siapa lagi kalau bukan Arlo.
" Ninaaa cepetan keburu malam" teriak Arlo.
" Sutt berisik lo, samperin ke atas, Ellena udah tidur" tegur Wira yang sedang bermain Ps dengan Arga di bawah.
" Hehehe sorry kak, habis kebiasa tuh anak kalau dandan lama banget " jawab Arlo yang ikut duduk bersama Arga dan Wira.
" Marahin aja kak, sukanya kok teriak- teriak" ucap Nina ketika ia sudah berada di ruang tamu.
" Kamu juga kalau janjian tuh, jangan ngaret udah tau kalau dandan lama" omel Wira pada Nina, namun Wira masih fokus dengan Game nya.
" Ehh tadi gara- gara kakaknya, orang aku udah mau mandi,kakak malah masuk duluan, mana lama lagi mandinya" Ujar Nina membela diri.
" Udah sana pergi jangan lupa pesanan aku" Ucap Wira,mengusir sang adik.
" Dih ngusir, Ayo lo... keburu ramai, besok kan tanggal merah, pasti rame banget ini" Ucap Nina menarik tubuh Arlo yang masih terduduk di kasur yang sengaja di gelar, untuk Wira dan Arga main Ps.
".Dih kamu yang lama" sahut Arlo.
Arlo dan Nina kemudian berangkat untuk ke Cafe yang di pilih oleh Arlo, mereka banyak mengobrol di sana, apa yang Nina kerjaan saat di Jakarta, dan apa yang terjadi saat dirinya di terima kerja di tempat Kastara grup.
ting...
Satu pesan masuk dari Haris yang juga menitip coffe untuk dirinya sendiri dan juga Raynar, yang akan pulang lebih cepat.
" Siapa?" tanya Arlo.
" Bang Haris nitip kopi" jawab Nina.
Tak terasa jam menujukan pukul sebelas kurang lima menit, Nina dan Arlo memutuskan untuk pulang ke rumah, namun sebelum itu Nina membelikan pesanan kakak- kakaknya.
Setelah itu mereka pulang, bertepatan juga mereka bertemu dengan Haris dan Raynar yang batu saja pulang dengan membawa lima ikan besar,hasil mancing mereka berdua.
Nina dan Arlo boncengan menggunakan motor Arlo, yang membuat Raynar sedikit cemburu walau mereka adalah sepupu.
Haris yang melihat berubahan wajah Raynar,menepuk bahu Raynar, " tenang mereka sepersusuan jadi mahrom begitu pula dengan Arga dan Nina, jangan cemburu gitu, image loe cool kalau loe lupa" bisik Haris pada Raynar.
" Apasih bang, biasa aja kali" elak Raynar, kemudian berjalan lebih dulu mendahului Haris.
Haris tertawa melihat wajah Raynar yang memerah, dan menyusul Raynar.
Sesampainya di depan rumah, ia berpapasan dengan Arlo dan juga arga yang ingin pulang ke rumah masing- masing.
" Tumben udah mau pulang?" tanya Haris.
" Capek bang+ di usir sama ndoro putri"jawab Arlo dan Arga kompak.
" Hahaha ya udah masuk dulu" ujar Haris kemudian masuk ke dalam.
Di dalam Raynar sudah masuk ke dalam kamar yang ia tempati selama di sini, sedangkan di ruang tamu Nina dan Wira sedang menikmati martabak yang di beli oleh Nina di temani dengan kopi .
" Nduk, kopi abang mana?" tanya Haris pada sang adik.
" Di meja sama punya Pak Raynar" jawab Nina.
" okey, jangan naik dulu, ada yang mau abang dan kakak ngomongin" Ucap Haris kemudian membersikan diri dan merapikan alat pancing yang baru saja ia gunakan.
Tak lama Haris datang bersama dengan Raynar dengan wajah sedikit basah, Kemudian mereka duduk di hadapan Nina dan juga Wira.
" Ada apa sih bang?" tanya Nina penasaran karena ada Raynar di tengah- tengah mereka.
" Lusa kamu lamaran dan akad sama Raynar yaa"