Keira Anindya memiliki rencana hidup yang sempurna. Lulus kuliah, kerja, lalu menikah dengan pria dewasa yang matang dan berwibawa. Namun rencana itu hancur lebur saat ayahnya memaksanya menikah dengan anak rekan bisnisnya demi menyelamatkan perusahaan.
Masalahnya calon suaminya adalah Arkan Zayden. Pria seumuran yang kelakuannya minus, tengil, hobi tebar pesona, dan mulutnya setajam silet. Arkan adalah musuh bebuyutan Keira sejak SMA.
"Heh Singa Betina! Jangan geer ya. Gue nikahin lo cuma biar kartu kredit gue gak dibekukan Papa!"
"Siapa juga yang mau nikah sama Buaya Darat kayak lo!"
Pernikahan yang diawali dengan 'perang dunia' dan kontrak konyol. Namun bagaimana jika di balik sikap usil dan tengil Arkan, ternyata pria itu menyimpan rahasia manis? Akankah Keira luluh atau justru darah tingginya makin kumat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluina_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Langit di atas Pulau Dewata masih gelap gulita ketika alarm di ponsel Keira berbunyi nyaring memecah keheningan villa. Pukul tiga pagi waktu setempat. Waktu yang sangat tidak manusiawi untuk bangun bagi sebagian besar orang, terutama bagi Arkan Zayden yang baru bisa tidur nyenyak beberapa jam yang lalu setelah drama lobster terbang.
Keira menggeliat pelan, mematikan alarm, lalu menyalakan lampu tidur di sisi nakas. Dia menoleh ke samping. Suaminya masih terbungkus rapat dalam selimut tebal seperti kepompong raksasa. Hanya sejumput rambut hitamnya yang terlihat menyembul keluar.
"Arkan. Bangun. Kita harus siap-siap," panggil Keira sambil mengguncang bahu Arkan yang tertutup selimut.
Tidak ada respon. Hanya dengkuran halus yang terdengar semakin berirama.
Keira menghela napas panjang. Dia tahu membangunkan Arkan di jam segini adalah misi bunuh diri, tetapi mereka sudah memesan perahu untuk melihat lumba-lumba di Pantai Lovina. Perjalanan dari Ubud ke Lovina memakan waktu cukup lama, jadi mereka tidak boleh terlambat.
"Arkan Zayden! Bangun atau gue tinggal! Lo mau liat lumba-lumba apa mau liat gue ngamuk?" ancam Keira tepat di telinga suaminya.
Kepompong raksasa itu bergerak sedikit. Suara serak dan malas terdengar dari dalam selimut.
"Lima menit lagi Ra. Lumba-lumbanya juga pasti masih tidur. Mereka kan mamalia, butuh istirahat delapan jam sehari biar kulitnya bagus," racau Arkan dengan logika ngawur khas orang mengigau.
Keira tidak menyerah. Dia menarik selimut itu dengan sekuat tenaga hingga terlepas dari tubuh Arkan. Udara dingin dari AC langsung menerpa kulit Arkan, membuat pria itu meringkuk kedinginan sambil memeluk guling.
"Dingin Ra! Tega banget sih sama suami sendiri. Ini masih malam. Matahari aja belum absen," protes Arkan dengan mata terpejam rapat.
"Matahari emang belum terbit, makanya kita berangkat sekarang buat ngejar sunrise. Ayo bangun. Gue udah siapin kopi hitam panas biar mata lo melek," bujuk Keira sambil menarik tangan Arkan agar duduk.
Dengan perjuangan berat layaknya menderek mobil mogok, akhirnya Arkan berhasil duduk di tepi ranjang dengan mata setengah terbuka dan rambut acak-acakan yang menentang gravitasi.
"Gue curiga lumba-lumba itu cuma mitos. Paling nanti yang muncul ikan tongkol," gerutu Arkan sambil berjalan sempoyongan menuju kamar mandi.
Dua jam kemudian, mobil sewaan yang disopiri oleh pemandu lokal membawa mereka sampai di Pantai Lovina. Langit timur mulai menunjukkan semburat jingga tipis, pertanda fajar segera menyingsing. Udara pantai yang segar bercampur aroma garam laut sedikit memulihkan kesadaran Arkan.
Mereka disambut oleh seorang nelayan lokal bernama Bli Wayan yang akan mengantar mereka ke tengah laut menggunakan perahu cadik tradisional atau jukung.
"Selamat pagi Pak, Bu. Cuaca hari ini sangat bagus. Ombak tenang, pasti banyak lumba-lumba yang keluar main," sapa Bli Wayan ramah.
Arkan menatap perahu kayu yang terlihat sempit dan ramping itu dengan tatapan ragu.
"Bli, ini perahunya aman kan? Enggak bakal kebalik kalau saya gerak dikit? Saya ini berat loh Bli, isinya dosa masa lalu semua," tanya Arkan cemas.
Bli Wayan tertawa. "Aman Pak. Sudah standar internasional. Silakan pakai pelampungnya."
Arkan memakai rompi pelampung berwarna oranye menyala. Rompi itu agak kekecilan di tubuhnya yang bidang, membuatnya terlihat seperti sosis yang dibungkus terlalu ketat.
"Ra, gue kelihatan keren atau kelihatan kayak jeruk bali berjalan?" tanya Arkan sambil membetulkan tali pelampungnya.
"Kelihatan kayak tim SAR nyasar. Udah ayo naik," Keira menaiki perahu dengan bantuan Bli Wayan, lalu duduk di bangku kayu paling depan. Arkan duduk di belakangnya.
Perahu mulai melaju membelah ombak yang tenang. Suara mesin motor tempel memecah kesunyian pagi. Angin laut menerpa wajah mereka. Perlahan, langit berubah warna menjadi gradasi ungu, merah muda, dan oranye yang memukau. Matahari mulai muncul malu-malu dari balik cakrawala.
"Wah, cantik banget Ra," seru Arkan.
Keira menoleh ke belakang dan tersenyum melihat wajah Arkan yang diterpa cahaya matahari pagi.
"Iya, cantik banget. Kapan lagi liat pemandangan kayak gini," jawab Keira.
Namun, keindahan itu harus dibayar mahal oleh Arkan. Sepuluh menit berlalu, perahu mulai bergoyang-goyang mengikuti alur ombak. Meski Bli Wayan bilang ombak tenang, bagi Arkan yang terbiasa hidup di daratan beton Jakarta, goyangan ini cukup untuk mengocok isi perutnya.
Wajah Arkan mulai memucat. Keringat dingin kembali muncul. Dia memegang pinggiran perahu dengan erat sampai tangannya gemetar.
"Kenapa muka lo ijo lagi Arkan? Mabuk laut?" tanya Keira khawatir.
"Enggak. Gue cuma lagi menghayati peran jadi pelaut. Nenek moyangku seorang pelaut, masa cucunya mabuk laut. Malu sama nenek," elak Arkan, padahal dia sudah menahan gejolak di perutnya sekuat tenaga.
Tiba-tiba Bli Wayan mematikan mesin. Suasana menjadi hening.
"Itu di sana! Jam dua belas!" tunjuk Bli Wayan.
Sekawanan lumba-lumba liar muncul ke permukaan. Sirip-sirip hitam mereka membelah air. Beberapa ekor melompat tinggi ke udara, melakukan atraksi alami yang menakjubkan.
"Arkan! Liat itu! Banyak banget!" pekik Keira girang. Dia menunjuk-nunjuk ke arah kawanan lumba-lumba itu.
Arkan memaksakan diri untuk melihat. Rasa mualnya sedikit teralihkan oleh pemandangan ajaib itu. Lumba-lumba itu berenang beriringan di samping perahu mereka.
"Halo ikan! Eh mamalia! Salam kenal dari Jakarta!" sapa Arkan pada lumba-lumba itu.
Seekor lumba-lumba melompat cukup dekat dengan perahu, membuat cipratan air laut mengenai wajah Arkan. Air asin masuk ke mulutnya.
Arkan meludah-ludah. "Asin! Lumba-lumbanya ngeludah sembarangan!"
Keira tertawa lepas. "Itu berkah Arkan. Disapa lumba-lumba."
Arkan mengusap wajahnya yang basah. Dia melihat Keira tertawa bahagia dengan latar belakang matahari terbit dan lumba-lumba yang melompat. Arkan tertegun. Pemandangan itu jauh lebih indah daripada lumba-lumba mana pun.
Arkan merogoh saku celananya (yang untungnya anti air) dan mengeluarkan ponselnya. Dia tidak memotret lumba-lumba, melainkan memotret Keira yang sedang tertawa.
"Kenapa foto gue? Foto lumba-lumbanya dong," protes Keira saat sadar kamera mengarah padanya.
"Lumba-lumba mah bisa liat di Google. Kalau tawa lo yang tulus kayak gini, itu momen langka. Harus diabadikan sebelum lo berubah jadi singa lagi," gombal Arkan.
Keira tersipu malu. "Dasar gombal."
Namun, momen romantis itu terganggu ketika perut Arkan tidak bisa diajak kompromi lagi. Goyangan perahu yang berhenti justru membuat rasa mualnya semakin menjadi-jadi.
"Bli ... bisa putar balik ke darat sekarang enggak? Kayaknya cacing di perut saya mau demo," pinta Arkan dengan wajah memelas sambil menutup mulutnya.
Bli Wayan mengangguk maklum. "Siap Pak. Kita kembali."
Mereka sampai kembali di bibir pantai saat matahari sudah cukup tinggi. Arkan langsung melompat turun dari perahu dan mencium pasir pantai saking leganya bisa memijak daratan lagi.
"Tanah airku! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi demi lautan yang bergoyang!" drama Arkan sambil berlutut di pasir.
Keira menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang memalukan. Dia membantu Arkan berdiri dan membersihkan pasir di lututnya.
"Lebay banget sih. Baru juga sejam di laut. Ayo kita cari sarapan, muka lo pucet banget," ajak Keira.
Saat mereka berjalan menuju area parkir mobil, mata jeli Keira menangkap sesuatu. Di balik sebuah pohon kelapa yang agak jauh dari keramaian turis, dia melihat kilatan lensa kamera.
Seseorang sedang bersembunyi di sana, mengarahkan kamera tele ke arah mereka. Orang itu memakai topi nelayan yang lebar dan masker hitam, tetapi postur tubuhnya jelas bukan nelayan lokal.
Keira teringat pesan misterius di kartu ucapan set cangkir teh. Masa lalu yang belum selesai.
"Arkan," bisik Keira sambil mencengkeram lengan Arkan.
"Kenapa Ra? Lo laper?"
"Jangan nengok langsung. Arah jam tiga. Di balik pohon kelapa yang miring itu. Ada orang ngintai kita pakai kamera," bisik Keira tegang.
Arkan langsung waspada. Rasa mualnya hilang seketika digantikan adrenalin. Dia melirik sedikit dari sudut matanya. Benar saja. Ada orang mencurigakan di sana.
"Berani-beraninya dia ganggu bulan madu gue. Gue kejar dia," kata Arkan dengan suara rendah yang berbahaya.
"Hati-hati Arkan!"
Tanpa aba-aba, Arkan langsung berlari kencang ke arah pohon kelapa itu. Pasir pantai yang berat tidak menghalangi langkah panjang kakinya.
Orang bermasker itu kaget melihat targetnya tiba-tiba menyerang. Dia panik, menurunkan kameranya, dan berbalik lari.
"Woy! Berhenti lo! Jangan lari!" teriak Arkan sambil mengejar.
Terjadilah aksi kejar-kejaran di pinggir pantai Lovina. Orang itu berlari cukup kencang, tetapi dia kesulitan karena membawa tas kamera yang berat. Arkan yang rutin gym (meski sering bolos) perlahan mulai menyusul jarak.
Orang itu tersandung akar pohon bakau dan jatuh tertelungkup di pasir. Kameranya terlempar beberapa meter.
Arkan melompat dan menindih orang itu agar tidak kabur.
"Kena lo! Siapa yang nyuruh lo hah? Ngaku!" bentak Arkan sambil mencengkeram kerah baju orang itu.
Orang itu meronta-ronta ketakutan. Maskernya terlepas. Ternyata dia adalah seorang pria muda, mungkin mahasiswa, dengan wajah penuh jerawat dan ketakutan setengah mati.
"Ampun Bang! Ampun! Saya cuma disuruh! Jangan pukul saya!" teriak pria itu.
Keira datang menyusul dengan napas terengah-engah. Dia mengambil kamera yang tergeletak di pasir.
"Siapa yang nyuruh kamu?" tanya Keira dingin sambil memeriksa isi kamera itu. Isinya ratusan foto Arkan dan Keira sejak dari bandara, di villa, makan malam (insiden lobster), sampai tadi di perahu.
"Sa-saya dibayar lewat transfer Bang. Saya enggak kenal orangnya. Dia cuma kontak lewat email. Katanya saya harus fotoin kegiatan Abang sama Kakak ini selama di Bali," aku pria itu gemetar.
"Siapa nama pengirim emailnya?" desak Arkan.
"Akun anonim Bang. ThePastIsBack@gmail.com," jawabnya.
Arkan mendengus kasar. The Past Is Back. Masa lalu kembali. Klise sekali.
"Berapa lo dibayar?" tanya Arkan.
"Lima juta Bang," jawabnya jujur.
Arkan melepaskan cengkeramannya. Dia berdiri dan membersihkan pasir di celananya.
"Denger ya. Gue bayar lo sepuluh juta sekarang. Tapi ada syaratnya," kata Arkan tiba-tiba.
Keira dan si pengintai sama-sama kaget.
"Maksud lo apa Arkan? Kok malah dibayar?" protes Keira.
"Sstt. Dengerin dulu," Arkan menatap pria itu tajam. "Sepuluh juta. Syaratnya, lo serahin kartu memori itu ke gue. Terus lo bilang ke bos lo itu kalau lo gagal dan ketahuan. Dan lo harus blokir email dia. Paham?"
Pria itu mengangguk semangat. "Paham Bang! Siap! Makasih Bang!"
Arkan mengambil dompetnya dan mengeluarkan kartu nama. "Hubungi asisten gue di nomor ini buat klaim duitnya. Sekarang pergi dari sini sebelum gue berubah pikiran dan jadiin lo umpan hiu."
Pria itu mengambil kartu nama Arkan, menyerahkan kartu memori kamera pada Keira, lalu lari terbirit-birit secepat kilat.
Keira menatap kartu memori kecil di tangannya.
"Kenapa lo lepasin dia? Kita bisa lapor polisi," tanya Keira tidak puas.
"Dia cuma kroco, Ra. Mahasiswa yang butuh duit. Kalau kita lapor polisi, prosesnya panjang. Bulan madu kita bakal abis buat urus BAP di kantor polisi. Gue enggak mau waktu gue sama lo keganggu," jelas Arkan bijak.
Keira terdiam. Arkan benar. Mereka di sini untuk liburan, bukan untuk drama hukum.
"Terus kartu memori ini diapain?" tanya Keira.
Arkan mengambil kartu memori itu dari tangan Keira. Dia menatap laut lepas di hadapan mereka.
"Kita buang. Biar jadi rahasia laut," kata Arkan. Dia melempar kartu memori kecil itu sekuat tenaga ke tengah laut. Benda kecil itu lenyap ditelan ombak.
"Udah. Sekarang enggak ada lagi yang mata-matai kita. Musuh kita kehilangan mata di Bali. Kita aman," kata Arkan merangkul bahu Keira.
Keira menyandarkan kepalanya di bahu Arkan. "Lo pinter juga kadang-kadang."
"Sering kali Ra. Lo aja yang enggak sadar," Arkan mencium puncak kepala Keira. "Sekarang ayo kita cari sarapan. Perut gue laper, dan mual gue udah ilang gara-gara olahraga lari tadi."
Mereka berjalan kembali ke mobil dengan perasaan lebih ringan. Meskipun mereka tahu 'bos' di balik pengintai itu masih ada di luar sana, setidaknya untuk hari ini mereka menang. Dan kemenangan kecil itu cukup untuk membuat sisa liburan mereka di Bali menjadi lebih berarti.
Namun, di dalam hati Arkan, dia bersumpah. Begitu sampai di Jakarta, dia akan mengerahkan seluruh tim IT Zayden Group untuk melacak pemilik email ThePastIsBack. Siapapun dia, Vanessa atau bukan, dia sudah membangunkan singa tidur. Dan singa itu tidak akan melepaskan mangsanya begitu saja.