Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Stalker Absurd dan Perangkap Es krim
Kekacauan di lapangan basket antara Arazka dan Maura menjadi perbincangan, menguatkan citra "pasangan serasi" mereka. Namun, di balik drama power couple itu, Miko Ardiyanto sedang menciptakan kekacauan absurd sendiri di area sekolah.
🕵️ Miko Menjadi Stalker
Sejak perjanjian gencatan senjata yang memaksanya sering bertemu Fanila di tim logistik, Miko menemukan fakta baru: Fanila memang galak, tapi dia tidak pernah makan siang sendirian dan selalu menghabiskan satu jam penuh di ruang musik.
Miko memutuskan untuk stalking.
Pukul 12 siang, Fanila berjalan menuju ruang musik dengan wajah cemberut seperti biasa. Miko membuntuti dari belakang, bersembunyi di balik tiang, jaket, bahkan tong sampah.
"Loe ngapain sih, Ko? Ngumpet kayak cecak," bisik Asean yang kebetulan lewat.
"Sstt! Diem, Sean! Ini misi rahasia! Gue lagi research kenapa Fanila selalu ke ruang musik tiap jam istirahat. Jangan-jangan dia lagi latihan dance balet bar-bar!" bisik Miko antusias.
Asean menggelengkan kepala, lalu memilih pergi daripada ikut gila.
Miko sampai di depan ruang musik yang tertutup. Ia mengintip lewat jendela kecil. Di dalam, Fanila tidak sedang berlatih balet bar-bar. Dia sedang duduk di depan piano tua, memainkan melodi yang sangat lembut dan indah. Wajah galaknya hilang, digantikan ekspresi yang tenang dan sendu.
Miko terkejut. Gila. Si Nila bisa selembut ini?
Saat Fanila selesai bermain dan menutup piano, Miko buru-buru berlari menjauh, takut ketahuan. Sayangnya, karena terlalu panik, ia menabrak tumpukan kursi yang diletakkan di lorong.
GUBRAK!
Suara keras itu langsung menarik perhatian Fanila. Dia membuka pintu dan melihat Miko yang sedang meringis kesakitan, tertindih beberapa kursi lipat.
"MIKO! Loe ngapain di sini?!" Fanila langsung kembali ke mode bar-bar-nya.
"Aduh, Nila! Sumpah, gue gak ngapa-ngapain! Tadi gue cuma... nyari kucing yang nyasar! Iya! Kucingnya ke sini!" Miko mengarang alasan sambil mencoba bangkit.
Fanila melipat tangan di dada. "Kucing? Loe pikir gue bodoh? Loe ngintip gue, ya?!"
"Ngintip apaan? Muka gue terlalu ganteng buat ngintip, Nila! Gue itu... prince yang lagi cari princess yang nyasar! Gue denger suara piano loe, terus gue penasaran, siapa yang bisa main sekeren itu," kata Miko, mencoba flirting (meskipun tubuhnya masih sakit).
Wajah Fanila sedikit merona karena pujian itu, tapi ia segera menutupinya dengan ekspresi galak. "Gak usah gombal! Loe tuh tukang bikin pusing! Sebagai hukuman, loe harus beresin semua kursi ini!"
"Siap, Boss!" Miko langsung berdiri tegak.
🍦 Perangkap Es Krim
Sorenya, Miko menjalankan hukuman itu. Ia membawa kursi-kursi itu ke gudang. Saat dia kembali ke lorong, Fanila sudah menunggu, kali ini dengan tiga bungkus es krim matcha di tangannya.
"Nih. Ambil," kata Fanila, menyodorkan dua bungkus es krim. "Satu buat loe, satu buat damage control buat stalking loe tadi."
Miko mengambil es krim itu dengan senyum lebar. "Wah! Tumben loe baik, Nila? Loe pasti salah makan!"
"Diem! Gue cuma gak mau punya utang budi sama cowok aneh kayak loe. Lagian, loe udah beresin kursi. Itu tugas loe," jawab Fanila, menghindari kontak mata.
Mereka berdua berjalan di koridor sepi sambil makan es krim. Suasananya aneh—biasanya mereka berteriak, kini mereka hanya terdiam.
"Tadi... permainan piano loe bagus, Nila," puji Miko tulus.
Fanila berhenti berjalan. Dia menatap Miko, matanya sedikit melunak. "Loe denger?"
"Iya. Loe kenapa gak pernah bilang loe bisa main piano? Jauh banget sama imej bar-bar loe," goda Miko.
"Itu... rahasia. Gak ada yang perlu tahu," kata Fanila. "Kalau ada yang tahu, nanti gue gak disegani lagi."
Miko tertawa. "Loe itu galak dan jago berantem, Nila. Gak ada yang berani ngeledek loe cuma gara-gara main piano." Ia lalu menyenggol lengan Fanila. "Tapi jujur, gue suka sisi loe yang itu. Lembut."
Fanila langsung salah tingkah. "Udah, deh! Gak usah sok manis! Loe tuh balik aja ke mode absurd loe! Gue gak suka digombalin!"
Tiba-tiba, Miko menjulurkan tangannya dan mengusap sedikit krim es krim yang menempel di sudut bibir Fanila dengan ibu jarinya.
DEG!
Baik Miko maupun Fanila terdiam. Sentuhan itu singkat, tapi terasa sangat intens. Miko sendiri kaget dengan tindakannya.
Fanila menatap Miko, wajahnya benar-benar merah. Dia siap meledak, tapi kata-kata galak yang biasa ia keluarkan tertahan di tenggorokannya.
"Ada es krim," bisik Miko, matanya menatap Fanila. "Loe makannya berantakan."
"Loe... banci!" desis Fanila, suaranya lemah. Ia segera memalingkan wajah. "Udah, gue duluan! Jangan pernah lakuin itu lagi!"
Fanila langsung lari menjauh, meninggalkan Miko yang masih mematung dengan sisa es krim di jarinya.
Miko tersenyum. Senyum tulus, bukan absurd. Ternyata dia lucu juga kalau lagi salah tingkah.
Ia tahu, di balik kegalakan Fanila, ada sisi lembut yang bisa ia dekati.
Sementara itu, di mobil Range Rover Arazka, Arazka dan Maura sedang dalam perjalanan pulang. Keduanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Soal fans gue, udah gue urus. Besok gak ada yang berani nyentuh loe lagi," kata Arazka, memecah keheningan.
"Gue gak butuh perlindungan loe," jawab Maura dingin, menatap keluar jendela.
"Loe butuh. Dan jangan lupa soal perjanjian kita. Loe itu milik gue, Maura. Gue gak suka barang gue disentuh orang lain," desis Arazka.
Maura menoleh cepat. "Gue bukan barang loe! Loe pikir loe siapa?!"
Arazka meminggirkan mobilnya dan menatap Maura tajam. "Gue Arazka. Dan gue yang pegang kendali di sini. Loe bisa benci gue, loe bisa lawan gue, tapi loe gak bisa menolak kalau kita punya chemistry yang kuat. Loe udah jadi headline utama gue, Maura."
Maura menghela napas, ia merasa lelah melawan egonya dan perasaan anehnya. "Kapan perjanjian ini selesai?"
"Sampai kita berdua mutusin ini cukup. Tapi gue yakin... loe gak akan mau cepat-cepat selesai."
Arazka menyeringai, lalu kembali menjalankan mobilnya, meninggalkan Maura dengan hati yang semakin berantakan.
TO BE CONTINUED