Apa benar cinta tanpa restu dari kedua orang tua itu akan kandas di tengah jalan?
Pasrahkan semuanya pada Sang Maha Cinta.
Apa benar cinta akan hilang begitu saja ketika maut memisahkan?
Hanya dia dan Tuhan yang tahu jawabannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suaramu, Semangatku
Tanah masih terlihat basah. Sepertinya hujan telah mengguyur bumi khatulistiwa. Alia membuka pintu rumah siap untuk berangkat ke kampus.
Hari ini adalah hari terakhir ujian artinya tidak lama lagi libur semester. Biasanya Alia sangat antusias menyambut hari libur panjang. Namun sepertinya kali ini berbeda.
Ada rasa senang bercampur sedih. Senang karena ia akan pulang ke kampung halamannya. Melepas rindu dan menghabiskan waktu libur bersama keluarganya.
Namun disisi lain ia juga sedih. Entah mengapa perasaannya menjadi seperti itu? Apa yang membuat Alia resah saat ini? Seharusnya ia senang bukan?
***
Duduk di kamar memandang ponselnya membuat Alia mendesah. Ia baru saja pulang dari kampus. Sepertinya ada yang ia nantikan. Ya, ia menantikan seseorang menghubunginya.
"Apa aku hubungi dia terlebih dahulu ya? Iiiiih tapi gengsi dong masa' cewek duluan. Hmmmm.." Ia kembali mendesah kecil.
Melihat Alia seperti itu membuat Isni membuat memasang senyum usil di wajahnya. Gadis imut itu memang suka menggoda Alia.
"Cieee yang lagi nungguin telponnya babang Aufaaaaar.." Isni menyeletuk seenaknya.
"Iiiih apaan sih Is, siapa juga yang nungguin telepon dari dia." Alia menghunuskan hidungnya.
"Aaah ngaku aja Al, ya kan? ya kan?" Pembelaan Alia membuat Isni semakin terus dan terus menggodanya.
"Ngaku aja deh Al..Kak Aufar kan ganteng kalo aku sih ku buang aja tuh gengsi ke sungai, haha.'' Isni tergelak melihat ekspresi kesal Alia.
"Hmmmm kau ini ya..berani-beraninya bilang aku gengsi." Alia menepuk bahu Isni sehingga membuat ia meringis.
"Aw..aw..sakit Al..becanda juga. Eh, tapi beneran lho. Kau tertarik padanya ya?" Tanya Isni yang sedang membenarkan posisi duduknya sambil menatap serius wajah Alia.
Alia terlihat berpikir. Ia sendiri bingung mengartikan perasaannya. Apa iya ia menyukai Aufar? Atau mungkin ini hanya rasa kagum? Sebabnya ia masih meragukan status Aufar.
Ah...ingin rasanya ia menolak semua perdebatan logikanya. Mengikuti kata hatinya. Mengubur dalam-dalam rasa takutnya dan membenamkan mereka ke dasar lautan.
Namun ia juga masih ragu apakah Aufar benar-benar masih single? Menurut informasi yang ia dapat dari beberapa temannya, orang-orang yang bekerja di pelayaran itu biasanya mempunyai banyak pacar bahkan mempunyai istri di setiap persinggahannya.
"Tapi aku benar-benar menyukainyaaa.." Pekik Alia dalam hati. Bagaimana ini, akankah ia mengikuti kata hatinya? "Oh Tuhaaan. Aku harus bagaimana?" gumamnya sambil menundukkan kepala. Hening...
"Al..."
Suara Isni membuyarkan keheningan diantara mereka. Isni sangat memahami sahabatnya yang satu ini. Ia selalu memperhatikan Alia selama ini. Alia selalu bersikap biasa saja kepada lawan jenis.
Namun sikap Alia kepada Aufar yang menurutnya terkesan berbeda, membuatnya semakin yakin bahwa Alia memang menaruh hati kepada Aufar.
Hanya saja Isni masih penasaran tentang hubungan Alia dengan Kak Urai. Isni melihat banyak cinta di mata Kak Urai tapi sepertinya Alia tidak menyambutnya.
Terbukti dari beberapa kali Kak Urai datang berkunjung ke rumah mereka, Alia bersikap biasa saja seperti layaknya seorang teman. Padahal Kak Urai terlihat selalu antusias jika berhadapan dengan Alia.
Timbul pertanyaan di benak Isni. Mengapa Alia bisa tidak tertarik kepada Kak Urai? Apa yang kurang dari laki-laki itu? Sudah tampan, kaya, berhati mulia. "Aaaah Alia..seandainya aku menjadi Alia ia akan membalas perasaan Kak Urai dan mencintainya sepenuh hati," gumamnya dalam hati.
Uuuft..mengapa ia berpikiran begitu? Bukannya ia sedang memikirkan Alia? Kenapa pindah haluan? Menepuk pelan kepalanya. Aaaah jangan-jangaaaan Isni...🤭
"Eh Al.." Isni memulai percakapan lagi setelah berpikir panjang lebar.
"Kamu serius menyukai Kak Aufar? Aku bukannya mau ikut campur urusan pribadimu ya Al. Tapi aku hanya berpikir sepertinya Kak Urai itu menaruh perasaan padamu."
Pyaaaaaar
Alia seperti ditampar oleh kata-kata Isni. Bagaimana mungkin dia melupakan sosok Kak Urai? Yang jelas-jelas sudah melamarnya. Tapi Ah, bukannya ia juga tidak menjanjikan apapun kepada Kak Urai?
Alia ingin menanggapi pertanyaan dari Isni dan menceritakan semuanya. Namun sejurus ponselnya bergetar sebuah panggilan masuk.
Drrrrt..
Ternyata panggilan suara dari Aufar. Sepertinya hubungan mereka sudah semakin akrab. Alia permisi kepada Isni untuk menjawab panggilan suara dari Aufar.
"Assalamu'alaik, mas."
"Wa'alaiksalam Al..Kamu lagi sibuk nggak?"
"Nggak mas, nyantai aja nih kan udah selesai ujiannya."
"Kalau begitu kita bisa ngobrol dong? Kebetulan aku lagi nggak piket."
"Iya bisa, memangnya sekarang lagi dimana mas?"
"Aku masih di Jakarta nih. Kenapa? Udah kangen ya?
Mendapat pertanyaan seperti itu sejurus membuat pipi Alia merah merona. Seandainya Aufar ada didekatnya mungkin ia akan menutup wajahnya rapat-rapat agar Aufar tidak bisa melihatnya.
"Ya ampun Mas, kenapa narsismu nggak ketulungan sih?"
"Tapi kamu suka kan Al?"
Lagi-lagi pertanyaan Aufar membuat wajah. Alia memerah.
"Al.."
"I-iya Mas.."
"Kok diem? Maaf ya kalau ada kata-kataku yang nggak berkenan dihatimu. Aku hanya bercanda Al."
Aufar disengat rasa khawatir. Khawatir Alia tersinggung dan tidak suka dengan kata-katanya.
"Nggak kok mas, kapan mas berlabuh disini? Aku sepertinya tidak lama lagi mau pulang kampung Mas."
"Apa? pulang kampung? trus kamu nggak balik ke Ponti lagi Al?"
"Sssst, turunin volume suaranya Mas, ntar didenger temennya loh. Heboh banget kayaknya"
Alia terkekeh mendengar respon dari Aufar. Rasanya lucu sekali jika membayangkan bagaimana ekspresi wajah Aufar saat ini. Alia tersenyum puas. Ada kekhawatiran didalam diri Aufar.
"Haha, mas ini lucu juga ya. Aku kan belum selesai kuliahnya mas. Gimana bisa nggak balik lagi ke Ponti?"
"Eeeh kirain gitu Al, hehe."
Mereka meneruskan perbincangannya hingga berjam-jam. Bagi Alia saat ini hanya pesan singkat dan panggilan suara dari Aufar lah yang selalu menghiasi hari-harinya.
Berbicara dengan Aufar sudah lama menjadi hobi barunya. Tanpa mendengar suara Aufar serasa melewati hari dengan kebosanan. Hari-hari yang selalu dijalani dengan penantian dan penantian.
Begitu juga dengan Aufar. Suara Alia sudah bagaikan heroin untuknya. Sehari saja tidak mendengar suara Alia semangat hidupnya seperti mengendor. Alia bagaikan charger yang bisa menambah energi bagi dirinya.
Sampai tiba waktunya bertemu kembali. Kali ini pertemuan mereka yang sangat dinanti-nanti, setelah berpisah seminggu lamanya karena terhalang perbaikan Kapal.
Seperti biasa Aufar mengajak Alia bertemu di cafe yang jaraknya dekat dari Pelabuhan. Alasannya sama, pekerjaan Aufar menuntut ia agar tidak terlalu jauh meninggalkan Kapal.
Walaupun demikian Alia tidak pernah keberatan akan hal tersebut. Baginya yang terpenting adalah ia masih bisa bertemu dengan Aufar.
"Al.." Aufar membuka percakapan.
"Iya, Mas.." Alia mengangkat kepala yang awalnya tertunduk malu.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Aufar menatap manik mata Alia dengan hangat. Begitu juga sebaliknya. Entah mengapa ia merasa tatapan Aufar kali ini berbeda dengan biasanya. Jantung Alia berdetak semakin kencang. Apakah Aufar akan mengatakan sesuatu yang dia harapkan?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Penasaran ya Babang Aufar mau bilang apa? stay tune man temaaaan☺️
mampir juga ya kak 🙏😊
Mampir juga ya kak ke karya ku 🤗🤗🤗👍
Ditunggu karya terbarunya, Kak 😊