Semenjak ibunya meninggal, Sasa memilih untuk pergi mencari kakak perempuannya ke kota. Namun sayang, ia terpaksa bekerja di club malam. Itu semua ia lakukan demi bisa bertemu kakaknya.
hingga pada suatu malam, ia bertemu dengan seorang laki-laki dingin dan menakutkan. Yang memaksanya menjadi istri, untuk memenuhi permintaan orang tua laki-laki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afri Deliana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patah hati
Sedan itu berhenti tepat di depan pintu besmen.
"Terima Kasih banyak ya mas, saya gak kebayang kalau tadi gak ketemu sama ma rico, bisa-bisa sekarang saya masih kayak orang linglung di jalan." Rico mengangguk.
"iyaaa, sama-sama sasa"
"ooo iyaaa sa, nanti mau makan siang bersama tidak?"
Sasa menoleh. Ia baru saja ditawari makan siang. Ajaib. Mas rico ini adalah tipe sempurna di depan mata wanita. Sudah ganteng, mapan, romantis lagi.
"makan siang mas?"
Sasa mengulang pertanyaan untuk memastikan.
"iyaaa, kemarin saya dengar ada restoran yang baru buka di depan kantor kita, gimana? mau?"
Sasa mengangguk. Lagi-lagi keberuntungan begitu mudah datang kepadanya.
Tiba-tiba kaca mobil seperti ada yang mengetuk. Menggebu-gebu. siapa coba.
Kaca mobil diturunkan. Coba tebak? orang yang begitu aneh, berani mengganggu Rico.
"kalian pikir ini jam berapa? lupa waktu? "
Yap, si iblis. Wili berdiri di sana. Ia tampak senang ketika baru saja menangkap basah maling. Sasa memelas. Kenapa hidupnya harus dipenuhi oleh orang seperti Wili.
" Dan kau, baru beberapa hari kerja saja kau sudah berani berleha-leha."
Telunjuk wili mengacung ke arah sasa. Tingkah kekanak-kanakan apa ini.
" Wili, bukannya ini masih pagi. Kami tidak terlambat"
Nyatanya ini masih sangat pagi untu terlambat. Kantor saja masih sepi. Mana mungkin mereka bisa terlambat. Wili kikuk. Seharunya dia mencari ide lain, menggunakan waktu adalah sesuatu yang salah.
"terserah, aku bosnya!"
"Kapan kau bisa lebih dewasa wil? ini tidak lucu"
Rico turun dari mobil, melangkahkan kaki menjauhi wili. Ia juga menarik lengan sasa untuk pergi. Tidak ada gunanya. Wili heran. Dia ini seorang bos, makin hari makin menjadi saja si rico itu. Wili melayangkan tendangannya ke arah mobil rico. Bukannya terlihat keren, dia malah mengaduh sakit. Kakinya ngilu.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Lo tahu kan jer, gua udah berusaha memperbaiki hubungan gua sama Wili, cuman dia doang yang sombong. Belagu" Randi mendumal.
Sejak pertemuannya dengan Wili waktu itu ia sangat kesal. Niat baiknya malah disalah artikan. Jero meneguk minumannya. Ia baru saja putus dengan tunangannya. Seperti biasa, ketahuan selingkuh lagi. Sekarang rasanya agak berbeda. Ia benar-benar mencintai kekasihnya. Hancur sekali.
"Buset, gua lagi ngomong brehh!" Randi menoyor kepala Jero.
"Apa sih loo ah" Jero mengerang. Randi menganggu waktu galau saja.
"kenapa lo? kesambet apa?" Jero menarik napasnya dalam. Lalu menatap Randi.
"Gua putus sama Kenzi brehh"
Jero yang 11 12 nya sama kayak wili, kini menangis sesenggukan. Mereka semua memang belum bisa dewasa untuk masalah asmara.
"kan dari dulu gua udah bilang, lu sih" Randi menepis pelukan Jero.
"Geli brehh. Ntar dikira homo"
"gua cintaaaa sama Kenzii"
Makan tu cinta. Siapa suruh kelakuan kayak buaya. Sekarang aja nangis, nanti juga kayak iblis lagi.
"Pusing gua sumpah, nggak lo, gak wili, sama aja lo pada. Bikin gua puyeng"
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Wili memasuki ruangannya dengan wajah kusam. Pagi ini benar-benar kacau. Ia bahkan tidak menduga akan terjadi hal yang memalukan seperti itu. Wili merebahkan tubuhnya di kursi kerja. Kakinya diangkat ke meja. Sekarang sudah mirip seorang raja.
Wanita itu membuatnya pusing, kontrak pernikahan itu bahkan hanya tersisa hitungan hari lagi. Tapi perasaan tidak suka akan kedekatan sasa dnegan rico membuatnya panas setiap saat. Apalagi kalau mereka telah bercerai, sasa pasti akan tetap bekerja menjadi sekretaris rico, akan sering bertemu sasa dia nantinya. Wili memijit keningnya.
Suara dering telepon genggam itu membuat wili memperbaiki duduknya. Nomor itu penting. Wili menjawab panggilan suara itu.
" Benarkah, sialan!"
Itu jawaban wili ketika suara di sebrang sana memberikan informasi penting kepada wili. Tangannya mengepal.
Dengan berat hati aku akan Hiatus menulis di sini, ada beberapa hal yang aku rasa kurang untuk penulis seperti aku. Mohon pengertiannya semua, salam hangat dari aku sebagai author