Franceska wanita cerdas berpendidikan tinggi, berparas cantik dan berprofesi sebagai guru matematika. Suatu kombinasi yang melengkapi penampilannya yang good looking, cemerlang dan bersinar dari keluarga sederhana.
Prestasi akademik, serta kecerdasannya mengola waktu dan kesempatan, menghentarkan dia pada kesuksesan di usia muda.
Suatu hari dia mengalami kecelakaan mobil, hingga membuatnya koma. Namun hidupnya tidak berakhir di ruang ICU. Dia menjalani penglihatan dan petualangan dengan identitas baru, yang menghatarkan dia pada arti kehidupan sesungguhnya.
》Apa yang terjadi dengan Franceska di dunia petualangannya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Petualangan Wanita Berduri."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. PWB
...~•Happy Reading•~...
Para murid yang sudah tahu siapa Jefase dan prestasinya, heran melihat cara bicara dan interaksinya dengan Hernita.
Biasanya banyak siswa yang berpapasan dengannya hanya bisa menyapa dan tidak berani mendekati Jefase. Karena dia bukan saja pendiam, tapi juga misterius. Tidak berinteraksi dengan sembarang orang, apa lagi wanita. Sehingga ketika melihat Jefase duduk tenang berbicara dengan Hernita, mereka heran.
Apa lagi murid wanita yang tertarik pada Jefase dan berusaha mendekatinya dengan berbagai cara dan alasan. Mereka melihat dari jauh dan saling berbisik menanyakan siapa wanita yang bisa berbicara tenang dengan Jefase. Mereka jadi kesal, mengetahui Hernita adalah murid yang baru masuk ke sekolah harapan.
~▪︎▪︎~
Jefase melihat wajah Hernita berubah dengar ucapannya. Dia sengaja bercanda, agar Hernita bisa lebih santai berinteraksi dengannya. "Aku hanya bercanda. Aku belum berubah jadi harimau yang bisa bertaring...." Jefase ikut berdiri.
Namun cara Jefase mengatakan candaannya hampir membuat Hernita tertawa. Ketika Hernita mau pamit, terdengar suara orang menegur. "Jefas, Gue cari ke mana-mana, malah duduk di sini." Suara seorang murid wanita menegur, membuat Hernita sontak menengok.
Hal itu membuat Jefase kesal. Dia langsung melihat ke arah para siswa yang masih olah raga untuk mengalihkan rasa kesalnya. Agar Hernita tidak terganggu dengan amarahnya. Hingga apa yang diusahakan untuk mendekati Hernita bisa buyar di awal.
Hernita yang melihat perubahan sikap Jefase, segera pamit. "Saya permisi. Terima kasih buat semuanya." Ucap Hernita sopan kepada Jefase, lalu segera menyingkir. Dia khawatir pacar Jefase salah paham padanya. Sehingga dia berjalan cepat menghindari mereka, tanpa menengok.
Setelah melihat Hernita jauh, Jefase tidak bisa menahan emosinya yang sudah naik level. Dia menatap tajam murid yang menegurnya. "Ngapain cari Gue."
"Lu bilang mau bantu lihat sepeda, malah ngilang."
"Kapan Gue bilang?"
"Kemarin waktu Gue tanya jenis sepeda yang mau Gue beli."
"Lorna, kalau orang lagi ngomong, simak. Jangan bertanya, tapi pikiranmu selancar ikuti ombak. Gue cuma jawab jenis sepeda yang Lu tanya. Ngga ada terusannya."
"Jefas, Gue ini sudah lama jadi temanmu. Tapi Lu kalau omong sama Gue seperti semburan naga. Tapi sama cewek tadi sangat..." Lorna tidak teruskan.
Lorna yang tadinya mau pulang, melihat Jefase sedang berbicara dengan Hernita. Dia tidak tahan untuk mengetahui apa yang dilakukan mereka dan sangat kesal melihat cara Jefase bersikap kepada Hernita. Sehingga dia mendekati dengan mengabaikan akibat, mungkin Jefase akan marah.
"Lorna, apa karena perbedaan waktu berteman, kau merasa berhak untuk mengatur cara bicaraku dengan seseorang?"
"Bukan begitu, Jefas." Hati Lorna jadi menciut lihat amarah di mata Jefase.
"Apa Lu tidak mengerti jenis sepeda yang Gue bilang? Apa Lu masih bocah hingga tidak bisa bicara dengan dealer?"
"Menjauh dariku, Lorna. Sanaaa..." Jefase mengambil ransel lalu berjalan meninggalkan Lorna yang mematung sambil melihat punggung Jefase dan Hernita yang menjauh, berbeda arah.
~▪︎▪︎~
Setelah Hernita keluar dari gerbang sekolah, dia berjalan cepat ke halte bus. "Huuuuu... Hampir saja jadi ribut di hari pertama." Ucap Hernita pelan sambil pegang dada dan menarik nafas panjang.
Setelah lebih tenang, Hernita pesan ojol, karena ingin lekas tiba di rumah. Namun ketika sudah pesan ojol, dia terkejut. 'Mengapa aku lupa, bisa dapat Papah?' Hernita menepuk dahinya.
Hernita tidak bisa cancel ketika melihat nama Papahnya. Karena Papahnya bisa curiga dan marah padanya. 'Mah, tolong Nita. Ini ngga sengaja, dapat Papah.' Hernita minta tolong Ceska, agar bisa menjelaskan pada Papahnya.
'Kasih tahu yang sebenarnya di rumah. Jangan di sini.' Ucap Ceska cepat, karena jantung Hernita berdetak sangat cepat dan kuat.
'Iya, Mah.' Ucap Hernita pelan sambil memakai jaket.
Ketika melihat motor Papahnya mendekat, Hernita berdiri sambil melihat Papahnya dengan wajah memelas, agar Papahnya tidak marah.
"Benarkah ini putri Papah? Mengapa ada di sini? Mengapa...?"
"Papah, bisa kita pulang dulu? Nanti di rumah baru Nita jelasin." Pinta Hernita dengan mata mulai berkaca-kaca.
Papah Hernita menahan yang mau ditanyakan dan menghembuskan nafas kuat. "Ini, pakai helm." Papahnya berikan helm.
~▪︎▪︎~
Setelah tiba di rumah, Papa Hernita parkir motor lalu ikut masuk ke dalam rumah. "Duduk di situ. Papah yang ambil air." Ucap Papahnya tegas. Hernita duduk diam sambil berpikir apa yang harus dikatakan.
"Sekarang bicara pada Papah. Mengapa tadi pagi Papah antar ke pelita, tapi tadi ada di halte itu." Papah Hernita bertanya setelah duduk di depan Hernita.
"Papah, jangan marah Nita. Tadi memang mau sekolah di pelita...." Hernita cerita yang dikatakan wakil kepala sekolah, tanpa menceritakan yang dilakukan Lenox, Niclas dan Juke. Agar Papahnya tidak marah dan akan datangi sekolah pelita untuk mencari mereka.
"Jadi sekarang kau tidak sekolah lagi di pelita?" Papah Hernita sangat terkejut.
"Iya, Pah. Tadi Nita keluar...." Hernita kembali menjelaskan.
"Papah sudah menduga, kau akan alami ini suatu waktu. Papah mau larang, tapi nanti kau kecewa." Papah Hernita menarik nafas panjang.
"Nita, walau bagaimana pun, keadaanmu tidak selevel dengan anak-anak yang sekolah di situ. Orang tua mereka bagaikan bumi dan langit dengan Papah."
"Nita tahu, Pah. Tapi Nita pingin Papah bangga, punya anak bisa sekolah di situ."
"Kau sekolah di mana pun, Papah bangga punya anak sepertimu. Prestasimu selama ini, sudah membuat Papah berjuang untuk kita."
"Sekarang, jangan pikirkan Papah. Apa gunanya Papah bangga kalau hari-harimu di sekolah tidak menyenangkan dan dihina oleh orang-orang itu."
"Jangan mencari sekolah swasta seperti itu lagi. Besok Papah antar ke sekolah negeri saja. Papah masih bisa biayai sekolahmu di sana." Papahnya memutuskan, karena berpikir Hernita sedang berusaha sekolah swasta lagi. Karena Hernita pesan ojol dari halte bus sekolah harapan.
"Nita, kalau ada apa-apa, bicara dengan Papah. Jangan berusaha selesaikan sendiri." Ucap Papahnya lagi sambil menahan haru.
"Papah, Nita sudah pindah ke sekolah harapan. Tadi langsung pindah ...." Hernita menjelaskan lagi proses dia pindah ke sekolah harapan.
Papah Hernita terdiam, mengetahui putrinya pindah ke sekolah swasta. "Papah ngga usah khawatir. Nita dapat beasiswa di sekolah harapan juga. Maafin Nita, Pak. Tadi langsung pindah ke sana."
Papa Hernita menarik nafas panjang. Tidak bisa berkata-kata menyadari tekad putri semata wayangnya. "Ya sudah, nanti malam kita bicara lagi. Sekarang makan yang ada dulu, lalu istirahat." Papah Hernita tidak bisa melarang, karena Hernita sudah diterima di sekolah harapan.
"Sore baru masak nasi, nanti Papah beli lauk buat makan malam." Ucap Papah Hernita sambil memakai jaket.
"Terima kasih, Pah." Hernita berdiri lalu memeluk erat Papahnya.
"Kau seperti Mamahmu. Kalau sudah punya mau, tidak bisa dibelokan. Sekarang yang penting, kau merasa senang dengan pilihanmu. Papah akan mendukungmu." Papah Hernita balik memeluk dan menepuk punggungnya.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~•○¤○•~...