Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kembali menggagahi..
Pagi itu, suasana di paviliun terasa sangat sunyi, namun penuh dengan ketegangan yang tersembunyi. Indira hanya bisa berbaring miring, meringkuk di bawah selimut tebalnya. Tubuhnya terasa remuk, dan setiap kali ia mencoba menggerakkan kakinya, rasa perih yang tajam di bagian bawah sana membuatnya meringis kesakitan.
Arjuna benar-benar kehilangan kendali semalam. Pria itu memperlakukannya seolah-olah ingin menghabiskan seluruh eksistensi Indira dalam satu malam.
Darsih masuk ke kamar dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Ia membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Ia sudah tahu apa yang terjadi. Sebagai seorang ibu, ia bisa melihat tanda-tanda merah di leher putrinya dan cara Indira bergerak yang sangat terbatas.
"Minum obatnya dulu, Nduk," bisik Darsih sambil membantu Indira duduk pelan-pelan. Indira merintih kecil, air matanya nyaris jatuh lagi.
"Ibu sudah bilang ke sekolah kalau kamu demam tinggi. Memang badanmu masih hangat, tapi..." Darsih menggantung kalimatnya, ia mengusap rambut Indira dengan penuh rasa bersalah. "Maafkan Ibu, Indira. Ibu tidak menyangka Tuan Arjuna akan bertindak sejauh itu."
Indira menggeleng lemah. "Ini bukan salah Ibu. Tuan Arjuna... dia bilang tubuhku ini juga miliknya sekarang,karena dia sudah membelinya dan aku menggadaikan nya ."
Mendengar itu sakit sekali hati Darsih.
namun dia tidak bisa berbuat apa apa,semuanya sudah terlanjur.
Menyesal pun sepertinya tidak ada gunanya lagi.
Sementara itu, di rumah utama, Arjuna tampak duduk di ruang kerjanya dengan setelan jas yang rapi, namun pikirannya sama sekali tidak berada pada berkas-berkas di depannya. Ia menyesap kopi hitamnya, mencoba menghilangkan sisa-sisa rasa rileks yang masih tertinggal dari "asupan" semalam.
Ingatannya kembali pada tangisan dan desahan pasrah Indira. Ada rasa puas yang gelap di dadanya, namun juga ada rasa posesif yang semakin menggila.
Arjuna sudah beberapa kali melakukannya dengan Clarissa,tapi rasanya tidak seperti tadi malam bersama Indira.
Milik Indira sangat nikmat,bahkan miliknya sampai ketagihan dengan rasa itu.
Sementara milik Clarissa biasa saja,tidak ada yang special.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruang kerja Arjuna terbuka dengan kasar. Clarissa melangkah masuk dengan sepatu hak tingginya yang berbunyi nyaring di lantai marmer.
Wajahnya merah padam, menunjukkan kemarahan yang sudah di ubun-ubun.
"Arjuna! Apa-apaan kamu?! Kenapa ponselmu mati semalam? Dan kenapa kamu tidak menjemputku di bandara?" teriak Clarissa tanpa basa-basi.
Arjuna bahkan tidak mengangkat wajahnya. Ia hanya membalik halaman dokumennya dengan tenang. "Aku lelah, Clarissa. Banyak pekerjaan."
"Lelah? Hanya mengangkat panggilan ku kamu lelah?" Clarissa mendekati meja kerja Arjuna, kedua tangannya menumpu di atas meja.
Arjuna perlahan mengangkat pandangannya. Matanya dingin, setajam silet. "Aku tidak punya waktu semalam,bahkan untuk sekedar menerima panggilan mu,. Ingat posisimu. Kita bertunangan karena bisnis, bukan karena aku memberimu izin untuk mengatur hidupku."
"Bisnis atau bukan, aku calon istrimu!!" Clarissa berteriak histeris.
"Keluar," ucap Arjuna rendah, namun penuh penekanan.
"Arjuna!"
"Keluar sebelum aku membatalkan kerja sama dengan keluarga besarmu pagi ini juga!"
Clarissa tersentak. Ia tahu Arjuna tidak pernah main-main dengan ancamannya.
Di paviliun, Indira baru saja hendak memejamkan mata saat ia mendengar suara langkah kaki yang berat mendekati kamarnya. Ia mengira itu ibunya, namun aroma parfum kayu cendana yang mahal segera memenuhi indra penciumannya.
Itu Arjuna.
Pria itu masuk dan langsung mengunci pintu kamar dari dalam. Ia berjalan mendekati ranjang, menatap Indira yang tampak mungil dan rapuh di balik selimut.
"Masih sangat sakit?" tanya Arjuna, suaranya kini melunak, ada nada penyesalan yang samar di sana.
Indira menunduk, tidak berani menatap mata pria yang telah menghancurkan kesuciannya itu. "Iya, Tuan... saya tidak bisa berjalan."
Arjuna duduk di tepi ranjang, tangannya terulur mengusap pipi Indira yang pucat. "Maafkan aku untuk semalam. Aku kehilangan kendali karena efek itu."
Ia kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya. Sebuah kalung berlian yang sangat indah berkilau di dalamnya. "Ini untukmu. Dan mulai hari ini, kau tidak perlu lagi membantu apapun dirumah ini, Fokus saja pada sekolahmu... dan padaku."
Indira menatap kalung itu dengan pandangan kosong. Baginya, berlian itu tidak lebih dari sekadar rantai yang akan mengikatnya lebih kuat lagi dalam sangkar emas ini.
"Tuan... bagaimana jika Clarissa tahu?" tanya Indira lirih.
Arjuna mendekatkan wajahnya ke telinga Indira, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Indira meremang. "Dia tidak akan pernah tahu, selama kau tetap menjadi gadis penurutku. Tapi ingat, Indira... jika kau berani melirik pria lain di sekolahmu, aku tidak akan segan-segan mengurungmu di kamar ini selamanya."
***
Hari-hari berlalu, namun keceriaan di wajah Indira seolah terkubur bersama kejadian malam itu. Ia berangkat sekolah dengan tatapan kosong, menunduk setiap kali berpapasan dengan pelayan lain, dan yang paling nyata: ia selalu menghindari kontak mata dengan Arjuna.
Indira menjadi sosok yang sangat murung. Ia tidak lagi banyak bicara, bahkan pada ibunya sendiri. Di sekolah pun, ia menarik diri dari pergaulan. Setiap kali bel pulang berbunyi, ada rasa sesak yang menghimpit dadanya, membayangkan ia harus kembali ke paviliun yang kini terasa seperti penjara bawah tanah baginya.
Ia merasa seperti sapi perah yang tidak hanya diambil susunya, tapi juga jiwanya.
Arjuna menyadari perubahan itu. Awalnya ia membiarkannya, mengira itu hanya fase sesaat. Namun, melihat Indira yang seperti mayat hidup setiap kali ia datang, lama-lama menyulut api ego dalam dirinya.
Arjuna tidak suka diabaikan, dan ia benci melihat Indira menunjukkan wajah seolah-olah dia adalah korban yang paling menderita, padahal menurutnya, ia telah memberikan segalanya: uang, perhiasan, dan perlindungan.
Malam itu, Arjuna kembali masuk ke kamar paviliun. Suasana sangat dingin. Indira sedang duduk di tepi ranjang, menatap ke arah jendela luar yang gelap. Ia bahkan tidak menoleh saat pintu dikunci dari dalam.
"Sampai kapan kau akan terus memasang wajah seperti itu, Indira?" tanya Arjuna, suaranya rendah dan sarat akan ancaman.
Indira tidak menjawab. Ia tetap diam membisu, hanya jemarinya yang saling meremas satu sama lain di pangkuannya.
"Lihat aku saat aku bicara!" Arjuna melangkah cepat, mencengkeram rahang Indira dan memaksanya untuk menatap wajahnya.
Mata Indira berkaca-kaca, namun tidak ada ketakutan yang biasanya terlihat, melainkan kehampaan. "Apa lagi yang Tuan inginkan? Cairan itu sudah keluar semua sore tadi."
"Aku tidak butuh itu sekarang," geram Arjuna. "Aku tidak tahan melihatmu terus-terusan meratap seolah-olah aku ini monster. Kau hidup nyaman di sini karena aku!"
"Tuan memang monster..." bisik Indira lirih, nyaris tak terdengar namun menusuk tepat di ulu hati Arjuna.
Rahang Arjuna mengeras. Sorot matanya berubah menjadi gelap—gelap yang sama seperti malam saat ia pertama kali merusak Indira. "Monster? Kalau begitu, biarkan aku menunjukkan padamu bagaimana monster yang sebenarnya bertindak."
Tanpa peringatan, Arjuna mendorong tubuh Indira hingga terjatuh ke atas ranjang. Ia mengabaikan rintihan gadis itu yang memohon agar ia berhenti. Rasa tidak tahan melihat kemurungan Indira justru berubah menjadi dorongan liar untuk menaklukkannya kembali, untuk memastikan bahwa gadis ini tahu siapa penguasanya.
"Tuan, jangan... di sana masih sakit..." isak Indira, mencoba mendorong dada bidang Arjuna.
"Sakit ini akan membuatmu ingat bahwa kau tidak punya pilihan lain selain menurut padaku," balas Arjuna dingin.
Malam itu, di bawah temaram lampu paviliun yang saksi bisu, Arjuna kembali "menggarap" Indira dengan lebih kasar dari sebelumnya. Ia seolah ingin menghancurkan dinding pembatas yang dibangun Indira lewat kemurungannya. Ia ingin Indira meresponsnya, entah itu dengan tangisan, jeritan, atau cengkeraman—selama itu bukan keterdiaman yang menyiksa.
Indira mulai menikmatinya,entah dia sudah kehilangan akal atau bagaimana yang pasti Indira mulai mendesah hebat,dan Arjuna sangat menyukai itu.
***
Di rumah utama, Clarissa sedang duduk di ruang tengah sembari menyesap teh. Ia memandangi pintu paviliun dari kejauhan melalui jendela besar. Meski ia percaya Arjuna tidak mungkin jatuh cinta pada anak pelayan, ada sesuatu yang mengganjal hatinya.
Ia memanggil salah satu pelayan junior yang lewat. "Kamu, kemari!"
"Ya, Nona?"
"Gadis paviliun itu... siapa namanya? Indira? Dia benar-benar sekolah atau hanya pengangguran?"
"Non Indira sekolah, Nona. Dia bersekolah di di yayasan milik tuan. Dan tuan Pratama sendiri yang memasukkan non Indira kesana." Jawab sang pelayan.
Mendengar nama calon mertuanya disebut,Clarissa langsung ciut,dia tidak berani bertindak sesuatu pada gadis itu.
Salah sedikit bisa berakibat fatal nantinya.
bersambung...