Pedang Langit adalah sebuah pedang yang ditempah dari logam terkuat dari tujuh semesta oleh Sin Sai Sebelum menjadi penguasa langit ribuan tahun yang lalu.
Sin Sai hanya manusia biasa yang memiliki kesaktian yang amat dahsyat. Ia sungguh manusia tak terkalahkan. Bahkan, para Dewa pun tidak dapat menandingi kehebatannya.
Karena kekuatan besar yang dimiliki oleh Sin Sai ketika itu, Dewan Langit kemudian bersepakat untuk mengangkat Sin Sai yang hanya manusia biasa menjadi Raja Langit demi melindungi Negeri Langit dari serangan Raja Naga Merah yang hendak menghancurkan Negeri Langit dan menguasai alam semesta.
Dewan Langit tidak sia-sia mengangkat Sin Sai menjadi raja di Negeri Langit. Sin Sai berhasil menghancurkan pasukan Raja Naga Merah ketika menyerang Negeri Langit.
Walaupun Sin Sai berhasil melindungi Negeri Langit, Keluarga Yong tidak rela jika harus menjadi bawahan seorang manusia biasa. Mereka kemudian berusaha menyingkirkan Sin Sai dan semua keturunannya dari Negeri Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IE Dyozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 24 - Perkenalan
“Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?” Di lain sisi, Noguchi sangat ingin membantu Firon, namun di sisi lain ia ketakutan, baru kali ini ia menjumpai orang yang mampu berbicara melalui kepalanya.
Melihat tidak ada tanda-tanda Noguchi akan berbalik menghampirinya, Firon menghentikan upayanya dan hanya bisa terdiam memikirkan tentang kemampuan yang baru saja ia keluarkan.
“Bagaimana aku bisa berkomunikasi dengan orang lain hanya dengan berbicara dalam hati?”
Firon kemudian mengingat perkataan kakeknya, bahwa kemungkinan besar ia akan memiliki semua kemampuan yang dimiliki ayah, ibu maupun kakeknya.
“Mungkinkah ini salah satu kemampuan yang diwariskan oleh mereka?” Firon hanya bisa berspekulasi karena sebelumnya, kakeknya tidak pernah menyinggung masalah itu.
Malam panjang dilalui oleh Firon hanya dengan memandang dinding-dinding gua yang disinari dengan bias cahaya bulan yang semakin lama semakin redup.
Cahaya rembulan kini digantikan dengan cahaya mentari pagi. Ruangan dalam gua menjadi tampak terang karena cahayanya yang menembus hingga ke bagian gua yang terdalam.
Suara burung bulbul terdengar bersahut-sahutan hingga memekakkan telinga Firon. Ia masih terbaring tak berdaya. Kecuali kepalanya yang mampu ia gerakkan ke kanan dan ke kiri, bagian tubuhnya yang lain sama sekali masih belum mampu ia gerakkan.
Setelah sepanjang malam ia lalui dengan berlatih mengendalikan pendengarannya, kini ia sudah mampu mengendalikannya walaupun belum sempurna betul.
Ketajaman pendengaran yang kini ia miliki betul-betul membuatnya repot, karena ia harus memilih suara yang mana yang ingin ia dengar.
Dari sekian banyak macam suara yang ia dengar pagi itu, suara orang yang sedang melakukan percakapan menjadi perhatiannya. Meskipun orang yang sedang melakukan percakapan itu berada kurang lebih satu mil dari dirinya, ia benar-benar mampu mendengarnya dengan jelas.
“Dari mana saja kau semalam? Kenapa kau terlambat hah?” Bentak Tuan Yorinaga.
“Maaf tuan, semalam ikan-ikan di danau enggan memakan umpan. beruntung aku pindah tempat, kalau tidak, aku mungkin tak akan mendapatkan ikan!” Ucap Noguchi mencoba membohongi majikannya. Ia tidak ingin majikannya tahu apa yang sebenarnya ia lakukan.
“Ah, aku tidak mau tahu itu! Kalau lain kali kau masih begitu, maka aku akan menggantungmu di pohon kriptomeria!” Tuan Yorinaga benar-benar murka karena sudah empat malam Noguchi terus menerus terlambat pulang.
“Sekarang, kau pergi cari kayu bakar dan jangan lupa kau membawa pulang hewan buruan untuk makan siangku!” Teriak Tuan Yorinaga memberi perintah.
“Baik tuan” Noguchi tertunduk lesu. Ia tak punya keberanian untuk membantah semua perintah Tuan Yorinaga.
Firon yang mendengar percakapan anak buah dan majikan itu hanya bisa mengerutkan dahi. Ia baru mengetahui bahwa orang yang telah menolongnya diperlakukan semena-mena oleh majikannya.
Suara langkah kaki di telinga Firon semakin lama semakin terdengar mendekat ke gua tempat ia terbaring. Ia berharap semoga orang yang sebelumnya ketakutan terhadapnya, kali ini memiliki keberanian untuk menghampirinya.
Noguchi yang kini berada tinggal beberapa langkah dari mulut gua menghentikan langkahnya.
‘Bagaimana kalau orang itu ternyata bukan manusia’ Keraguan kembali menyelimuti pikiran Noguchi.
Beberapa lama Noguchi hanya berdiri terpaku di depan mulut gua. Ia bergelut antara hati nuraninya yang ingin menolong dan rasa takutnya yang menyuruhnya untuk menjauhi tempat itu.
Akhirnya Noguchi memantapkan diri melangkah memasuki gua dan segera menghampiri Firon. Jantungnya berdetak kencang, jalannya sangat pelan.
“Saudara, semoga aku tidak menyesali tindakanku karena telah menolongmu! Aku tidak tahu kamu siapa, namun entah mengapa, hatiku seakan mendorongku untuk menolongmu!” Ujar Noguchi lembut.
‘Terima kasih! Aku tak akan menyakitimu! Terima kasih karena telah menolongku!’
Kini Noguchi tidak lagi terkejut mendengar suara yang berbicara di kepalanya.
“Oyah, kenapa kamu harus berbicara melalui kepalaku? Kenapa tidak berbicara menggunakan mulut saja?” Meski pertanyaan Noguchi terdengar seperti orang kesal, namun ia melontarkannya dengan sangat hati-hati.
‘Entah kenapa, lidahku menjadi keluh dan aku sama sekali tak mampu mengeluarkan suara. Sebelumnya aku tidak begini. Oyah, anggap saja aku bisu!’ Jawab Firon.
Setelah beberapa saat Noguchi tidak lagi mengajukan pertanyaan, kini giliran Firon yang mengajukan pertanyaan.
‘Oyah saudara, sudah berapa lama aku pingsan?’
Noguchi kemudian menceritakan bahwa setelah ia menyaksikan adanya ledakan cahaya di tengah danau. Ia kemudian menemukan Firon tergelatak tak sadarkan diri di dalam cahaya yang berbentuk kubus.
Noguchi juga menceritakan bahwa setiap malam ia memeriksa kubus cahaya tersebut, hingga pada malam keempat, kubus itu menghilang dan kebetulan ia sedang berada disana yang kebetulan hendak memeriksa kubus cahaya tersebut seperti malam-malam sebelumnya.
“beruntung aku berada disana pada saat kubus cahaya itu menghilang dan aku melihat anda tenggelam di dasar danau. Jadi aku membawa anda ke tempat ini!” Ungkap Noguchi menutup ceritanya.
‘Sekali lagi terima kasih! Oyah perkenalkan namaku Firon. Aku berasal dari desa di seberang danau’
“Sama-sama. Oyah namaku Noguchi, aku tinggal tidak terlalu jauh dari sini” Ucap Noguchi membalas memperkenalkan diri.
‘Oyah saudara Noguchi, kau tidak usah sungkan terhadapku, kelihatannya kita seumuran’
“Baiklah saudara Firon. Oyah aku membawa makanan untukmu. Aku tahu kau masih belum bisa bergerak, jadi aku mohon izin untuk menyuapimu” Ucap Noguchi yang kelihatan agak malu-malu.
‘Baiklah Saudara Nogu, terima kasih’
Noguchi kemudian menyuapi Firon dengan sangat hati-hati. Mereka berdua terlihat seperti orang yang telah lama saling mengenal.
Sudah satu minggu sejak Firon tersadar dari pingsannya, dan selama itu pula Noguchi harus memperlakukan Firon seperti anak asuhnya. Ikatan yang baru saja terjalin antara mereka berdua benar-benar sebuah ikatan yang dilandasi dengan ketulusan. Itu terlihat dari kesediaan Noguchi merawat Firon tanpa keluh kesah dan Firon yang
sangat nyaman diperlakukan seperti balita oleh Noguchi.
Pada suatu malam, Firon yang sedang terbaring seorang diri di dalam gua sambil melatih pendengarannya, mendapati suara seekor ular sedang mendesis sambil merayap masuk ke dalam gua.
Firon menjadi panik menyadari ular besar itu sudah semakin mendekat dan sebentar lagi akan memangsa dirinya. Ia mencoba sekuat tenaga untuk bangkit, namun usahanya sia-sia karena tubuhnya benar-benar tak mampu ia gerakkan.
Ular yang sebesar betis orang dewasa itu terus mendekati Firon sambil mendesis dan menjulurkan lidahnya. Namun saat Ular besar itu hendak mematuk kepala Firon, tiba-tiba ular besar itu berhenti dan mematung sejenak sebelum akhirnya jatuh tak bernyawa.
Firon terperanjat. Ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
‘Ahhh’ Firon mengerang kesakitan Sesaat setelah ular itu jatuh tak bernyawa. matanya tiba-tiba merasakan perih seperti terbakar oleh api. Sekujur tubuhnya bergetar menahan sakit.